Mask

Mask
Bagian 26


__ADS_3

“Brengsek! Sakit banget.” Arsy dan Catty sudah berteriak sejak satu jam yang tadi. Keduanya langsung mengamuk begitu sadar dan mengingat semua kejadian gila yang sudah Axelle dan Nicolas lakukan pada keduanya.


“Tunggu pembalasan gue, manusia sialan. Jangan panggil gue Catty kalau gue nggak bisa bikin lu sawan sampek mampus,” sumpah Catty. Nyeri di punggung gadis itu bahkan masih begitu terasa sampai sekarang.


“Lu bener, Catt. Gue juga nggak bakalan pernah ngelepasin Axelle sampai kapanpun. Gue bakalan buat dia ngebayar semua yang udah dia lakuin ke kita,” ucap Arsy sambil meremas kaleng minuman di tangannya hingga penyok.


“Kalau dari awal kalian jujur, mungkin nasib kalian nggak bakalan semengerikan ini. Kalau saja....”


“Sakit, Devan bangsat!” teriak Arsy karena Devan menekan lukanya terlalu dalam.


Mungkin kalau cuma beberapa luka cambukan mereka tidak akan sampai seperti sekarang. Luka akibat cambukan dua manusia tidak punya otak itu benar-benar menyakitkan, ditambah lagi jumlahnya yang sangat banyak membuat rasa sakitnya terasa hingga berkali-kali lipat.


“Ya sorry. Lagian kenapa juga elu nggak ngomong aja ke mereka yang sebenarnya aja sih, biar nggak repot.”


Benar memang apa yang dikatakan Devan. Kalau saja dari awal Arsy dan Catty jujur pada Axelle dan Nic mungkin endingnya nggak akan separah ini. Tapi kalau mereka nggak bohong di awal author nggak bakalan ada ide buat lanjutin cerita, dong. Devan gimana sih, nggak pengertian banget sama author. Heran deh.


“Kalian kenapa?” tanya Margareth yang kaget melihat kedua anaknya tengah terbaring di sofa dengan baju tersingkap di bagian belakangnya. Tidak sampai di situ, terdapat banyak sampah kapas yang sudah berubah warna di sekitar keduanya.


“Mama!” seru keduanya. Catty dan Arsy langsung merubah posisinya menjadi duduk, dan hal itu membuat luka yang belum sempat tertutup bergesekan dengan pakaian yang membuat mereka seketika berteriak kesakitan.


“Kalian kenapa?” Margareth menghampiri keduanya putrinya. Matanya membola saat melihat luka yang begitu parah di punggung kedua putrinya. “Devan, apa yang terjadi?”


“Axelle sama Nicolas cemburu dengan kedekatan saya dengan kedua anak Tante. Mereka marah dan melampiaskan kekesalan mereka pada Aileen dan Clarissa, dan luka di punggung mereka karena Axelle dan Nicolas mencambuk mereka dengan sabuk berulang kali.” Devan agak takut waktu menjelaskan apa yang terjadi pada Margareth, tapi demi kelangsungan hidupnya ia harus menceritakan semua yang terjadi kepada Margareth dan berdoa dalam hati semoga wanita itu punya solusi untuk masalah anak-anaknya yang tidak akan pernah usai.


“Kenapa tidak membawa mereka ke rumah sakit?” tanya Margareth sembari membantu Devan mengobati Catty.


“Sebenarnya tadi sudah saya bawa ke rumah sakit, tapi mereka ngotot ingin pulang. Katanya sih mereka nggak suka bau rumah sakit.” Margareth mengangguk paham mendengar penjelasan Devan. Wanita itu sedikit bersyukur karena Devan selalu ada di samping kedua putrinya yang tidak pernah jauh dari yang namanya bahaya.


“Kalian berdua kenapa harus bohong segala soal identitas kalian? Kalau sudah seperti ini kan kalian juga yang repot,” ucap Margareth yang hanya diangguki oleh kedua putrinya sebagai jawaban.

__ADS_1


“Jangan lupa gue juga kena imbasnya gara-gara lu berdua bohong. Ditambah lagi....”


“Kalian lagi ngapain?” tanya Axelle dan Nic yang baru saja masuk ke dalam rumah Catty.


“Lagi kerokan. Lu berdua udah gila, ya. Masuk ke rumah orang nggak pake permisi,” semprot Arsy. Untung saja tadi Devan dan Margareth langsung menutupi punggung mereka begitu mendengar suara Axelle, semoga saja kedua pemuda itu tidak curiga.


“Kenapa minta Devan kerokin? Kan dia bukan siapa-siapa kalian? Dia juga cowok yang punya napsu. Bisa aja kan kalian di....”


“Mau kami minta dikerokin, dinikahin atau bahkan kami minta dibuntingin sama Devan bukan urusan kalian. Pergi sana, ganggu orang lagi enak aja.”


Axelle dan Nicolas memandang Devan kecewa. Keduanya langsung pergi begitu saja tanpa pamit, mereka bahkan tidak segan membanting pintu utama rumah Catty untuk melampiaskan kekesalan mereka.


“Lu bisa nggak kalau ngomong dipikir dulu? Habis deh gue.” Devan memijat kepalanya yang mendadak pusing setelah mendengar penuturan Arsy beberapa detik yang lalu.


“Emang kenapa sih?” tanya Catty yang masih setia berbaring tertelungkup di depan Margareth.


“Axelle sama Nicolas tu suka sama lu berdua. Astaga!” seru Devan yang membuat Margareth terlonjak kaget karena pemuda itu berteriak di dekatnya.


***


“Hai semuanya,” sapa Devan begitu sampai di basecamp. Axelle dan Nicolas langsung membuang muka begitu melihat Devan datang. “Lu berdua masih marah sama gue?”


“Sorry, situ siapa? Kita nggak kenal.”


Devan bersama duo Haidar menepuk kepala mereka pelan. Heran dengan sikap ketua dan wakil dead dragon yang berubah jadi melankolis gara-gara cinta.


“Yakin nggak kenal sama gue? Padahal tadinya gue ke sini mau ngasih tau kabar soal Catty sama Arsy. Tapi kalau kita nggak saling kenal, ya udah deh. Gue mau balik aja,” ucap Devan sembari berjalan kembali ke arah pintu basecamp dead dragon.


“Tunggu! Berita apa yang lu bawa?” tanya Axelle tanpa mengalihkan pandangannya dari suasana luar yang terlihat dari jendela basecamp.

__ADS_1


“Sorry, tapi kita nggak saling kenal.” Sejujurnya Devan ingin tertawa melihat kelakuan dia sahabatnya yang seperti anak kecil.


“Devan ah. Ngambek lagi ni gue!” ancam Axelle yang terlibat sangat lucu.


“Yakin emang mau ngambek lagi? Nggak penasaran sama kabar yang gue bawa?”


Axelle dan Nicolas terdiam. Sejujurnya mereka masih marah sama Devan, tapi mereka juga penasaran soal berita apa yang dibawa pemuda itu.


“Ok, kita baikan kali ini. Tapi kalau lu bawa berita duka bagi perasaan kita, gue bakalan ngambek setahun. Biar mampus lu,” ucap Axelle dengan bibir maju satu senti.


Dalam hati Devan bersumpah jika saat ini kedua sahabatnya terlihat sangat menggemaskan. Pemuda itu bahkan sudah mempunyai rencana licik untuk kedua sahabatnya begitu mereka tau segalanya.


“Gue sama mereka nggak ada hubungan apa-apa. Gue sama mereka....”


“Heleh tai. Catty sendiri yang bilang kalau elu sama dia pacaran,” sela Axelle yang membuat Devan ingin membungkam mulut pemuda itu dengan ****** ***** bekas mimi peri.


“Ya orang lagi sedih lu tanyain begitu, udah pasti dijawab ngasal sama yang bersangkutan. Bego,” ejek Devan yang membuat Axelle memajukan bibirnya.


“Jadi lu nggak ada hubungan apa pun sama Catty?” tanya Nicolas sembari mendoronh jauh Axelle dari hadapan Devan. Axelle yang malang.


“Nggak ada.”


“Tapi lu pasti suka kan sama mereka? Atau salah satu dari mereka.” Axelle masih belum menyerah, pemuda itu tetap kekeh mengatakan kalau Devan ada hubungan dengan dua gadis cantik yang jadi incarannya dan Nicolas.


“Kalau lu tanya soal suka, memang gue suka sama mereka. Tapi kalau lu tanya soal cinta, gue masih belum bisa lupa sama Febby dan gue nggak ada niatan buat gantiin posisi dia di hati gue. Jelas para Tuan Muda?” tanya Devan yang membuat Axelle dan Nicolas diam seribu bahasa. “Gue lebih tua dari mereka berdua. Lebih tepatnya sembilan bulan lebih tua, dan gue anggap mereka kayak adik gue sendiri. Kalau lu nggak percaya lu bisa tanya ke nyokap lu soal ini.”


“Trus kenapa lu boleh nginep di rumah mereka, sementara gue nggak boleh?” tanya Axelle. Pemuda itu masih tidak Terima karena Margareth terlihat begitu percaya pada Devan tapi tidak dengan dirinya.


“Kalau untuk yang itu lu bisa nanya langsung ke mereka, atau Mama Margareth.”

__ADS_1


“Mama Margareth? Sejak kapan lu manggil nyokap gue pake sebutan Mama?”


“Rahasia,” ucap Devan sembari berlari ke duo Haidar yang sedang sibuk bermain salah satu game yang cukup menarik.


__ADS_2