
“WOI, GUE MASIH HIDUP!” teriak Arsy dengan suaranya yang membahana, membuat semua orang yang ada di dalam rumahnya menoleh seketika.
“Calon pacar,”
“Hm!”
Axelle senang sekali saat mendengar Arsy menjawab panggilannya meski hanya dengan gumaman.
Catty yang tengah menangis tersedu seketika mengusap air matanya. Bibir gadis itu terus menggumamkan nama sang sahabat yang saat ini ada di depan matanya. Dengan tubuh sehat tanpa luka atau bahkan goresan seukuran kuku.
“Arsy! Lu Arsy.”
“Ya iyalah ini gue. Emang siapa lagi di sini yang punya nama Arsy selain gue?”
“Arsy!” Catty berlari bersama dengan Axelle dan yang lainnya. Mereka semua langsung menubruk tubuh gadis yang sangat mereka rindukan.
“Sesek anjir. Kalau begini gue bisa mati beneran,” gerutu Arsy yang tidak dipedulikan oleh para sahabatnya.
“Lu masih hidup?” tanya Catty sambil mengusap wajah sahabat yang sudah menemaninya lebih dari sepuluh tahun.
“Iya ini gue. Lu pada gila apa ngadain acara penghormatan, mana acaranya kecil banget lagi. Trus itu siapa yang baring di situ?” tunjuk Arsy pada seorang jenazah yang berada di paling depan di dalam sebuah peti mati dengan ukiran yang sangat indah. “Lu dapet jasad dari mana anjir? Serem gitu.”
“Lu dari mana aja, bangsat. Gue capek nyariin elu!” seru Catty tanpa melepaskan pelukannya pada Arsy. “Lu tau nggak, kita khawatir banget pas lu hilang! Apalagi pas mereka bilang kalau mereka nemuin jasad lu,” ucap Catty dengan air mata yang kembali mengalir.
“Oh itu! Sebenarnya gue mau ke LA, tapi karena gue ketemu Aksara di bandara gue jadi ikut dia,” jawab Arsy yang langsung mendapat hadiah pukulan dari Catty. “Aduh, sakit!”
“Kenapa kau pergi tanpa berpamitan padaku? Apa kau begitu marah sampai tidak memberitahuku!” Air mata yang sejak beberapa hari yang lalu Margareth tahan kini lolos dari mata indahnya. Wanita tua itu langsung memeluk sangat anak yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
“Kau terlalu sibuk dengan suamimu jadi aku pikir kau tidak peduli,” jawab Arsy yang langsung digeplak oleh Margareth.
“Anak kurang ajar. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Aku tetap Mama kalian dan kalian bertiga tetaplah anak ku.”
“Lalu bagaimana dengan suamimu? Eh, ngomong-ngomong soal suamimu, kenapa aku tidak melihatnya? Apa kalian bercerai?” Tanya Arsy beruntun tanpa mempedulikan teman-temannya yang masih bingung dengan keadaan.
“Aku sudah tidak punya suami lagi. Kami resmi bercerai hari ini dan pertunangan Axelle dan Adelia dibatalkan. Kau puas sekarang?”
“Bisa tidak kalian hentikan dulu acara temu kangennya? Dan pikirkan apa yang akan kita lakukan pada jasad ini.” Devan menginterupsi agar Margareth dan Catty mengakhiri acara lepas rindunya. Bukannya dia berniat kurang ajar, hanya saja ia ingin memberi waktu pada sahabat baiknya untuk melepas rindu juga bersama dengan seseorang yang sering ia panggil dengan sebutan “calon pacar”.
Margareth menerima isyarat mata Devan dengan sangat baik. Wanita tua itu meminta Axelle mengantar Arsy ke kamarnya, yang langsung diangguki oleh putra semata wayangnya.
“Nggak usah repot-repot, gue bisa sendiri.”
“Gue lagi tuli, jadi nggak denger lu ngomong apaan.”
Axelle menyeret tangan Arsy dan membawa gadis itu ke dalam kamarnya.
Axelle tidak berhenti memandang Arsy, membuat yang dipandang merasa risih.
“Mata lu mau di colok, apa gimana?”
“Thanks. Terima kasih karena lu udah balik dan membuktikan sama diri gue sendiri kalau keyakinan gue nggak salah. Thanks, karena lu udah pulang.”
Air mata yang ditahan Axelle sejak beberapa hari yang lalu akhirnya lolos juga. Pemuda itu langsung memeluk tubuh Arsy yang membuat keduanya terhuyung dan hampir terjatuh.
“Gue nggak ngerti lu ngomong apaan, tapi yang perlu lu inget, gue nggak bakalan mati semudah itu. Lagian kalau gue mati yang mau lu bully siapa?”
__ADS_1
“Bully? Emang kapan gue pernah nge-bully elu?” tanya Axelle sambil melepas pelukannya.
“Ah itu, kan siapa tau lu mau nge-bully gue suatu saat nanti. Kalau gue mati duluan lu mau bully siapa,” ucap Arsy dengan keringat dingin yang mengalir di wajahnya. Dalam hati gadis itu merutuki kebodohannya karena mengatakan soal pembullyan yang dilakukan Axelle di sekolah pada Aileen.
“Ah gitu. Btw gue seneng banget lu pulang, Sy. Tapi ada sesuatu yang ganjal banget di hati gue,” ucap Axelle yang membuat Arsy mengerutkan keningnya seolah bertanya hal apa yang mengganjal dihati pemuda yang sudah resmi menjadi keluarganya beberapa bulan yang lalu. “Gue punya satu kenalan cewek di sekolah, namanya Aileen. Nah, dia katanya juga belum pulang sampai sekarang. Waktu gue tanya Clarissa katanya dia naik pesawat ke LA di hari pesawat itu kecelakaan. Gue khawatir sama dia,”
“Lu khawatir sebagai temen? Atau lebih dari temen?” tanya Arsy.
“Bukan dua-duanya. Gue kangen dia karena nggak ada yg gue bully kalau dia nggak ada, bully yang lain udah seseru bully dia. Kalau soal suka sama dia, gue masih waras Arsy. Nggak mungkin gue suka sama cewek modelan dia, udah pendek, jelek, bertompel, kusem banget mukanya. Bukan tipe gue banget deh,” terang Axelle yang membuat Arsy terdiam. “Lu kenapa kek nya marah gitu?”
“Cowok brengsek!”
Arsy berjalan lebih dulu keluar dari kamarnya. Kaki gadis itu menghentak keras seolah berkata kalau moodnya sedang tidak dalam keadaan baik saat ini, dan ia butuh pelampiasan.
“Lu kenapa, Sy?” tanya Devan saat melihat Arsy berjalan ke arah dirinya dengan wajah yang ditekuk lucu. Namun Arsy hanya diam dan memiliki duduk di dekat Margareth, jujur saja gadis itu rindu dengan sentuhan hangat Mamanya.
“Lu habis digebukin siapa, Xelle?” tanya Catty saat melihat lebam di wajah Axelle saat pemuda itu berjalan di belakang Arsy.
“Lu tanya tu sama temen lu,” ucap Axelle sembari menunjuk ke arah Arsy menggunakan dagunya. Pukulan Arsy di wajahnya bahkan masih terasa sakit sampai sekarang, berbeda dengan pukulan anak-anak lain.
“Coba kamu jelasin ada apa?” suruh Margareth yang masih sibuk mengusap kepala sangat anak perempuan.
“Kami sedang berbicara soal teman sekolah gue si Alien, eh maksudnya Aileen. Gue cerita ke dia kalau gue khawatir sama si Alien karena lama nggak sekolah trus katanya naik pesawat ke LA yang hilang itu. Trus dia nanya, lu suka sama dia? Ya gue jawab enggak dong. Gila aja gue suka sama cewek kucel, dekil, terus bertompel kayak si Alien. Eh gue langsung ngambek trus gue ditonjok. Salah gue apa coba? Kan gue cuma jujur.”
Devan, Catty dan Margareth hanya diam menahan tawa yang ingin meledak. Bukankah pantas jika Arsy memukul Axelle? Malang sekali nasib Axelle karena harus menerima amukan Arsy.
“Lu tu cowok, harusnya mulut lu nggak usah lemes begitu!” seru Arsy yang masih nyaman dalam pelukan sang mama.
__ADS_1
“Reaksi lu berlebihan! Liat tu! Catty, Mama, mereka nggak bereaksi kek elu pas gue cerita soal si Alien. Nggak kayak elu,” ucap Axelle yang masih gondok karena Arsy memukul wajahnya tanpa alasan.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Arsy melakukannya, hanya Axelle saja yang nggak tau alasan ia sampai ditonjok. Malang nian nasibmu wahai anak muda.