
Arsy bersama dengan Devan, Catty, Margareth dan juga Axelle tengah duduk di balkon rumah Arsy. Melepas rindu sekaligus berbagi cerita tentang apa saja yang terjadi saat Arsy tidak ada di samping mereka.
"Axelle, boleh Mama minta tolong padamu untuk menemui para tamu di bawah? katakan pada mereka kalau Mama akan segera turun."
"Kenapa harus aku?" tanya Axelle namun tetap berdiri dari posisi awalnya dan berjalan menuruni tangga.
"Hah, sepertinya aku harus mengulang tahun depan untuk sekolah." Arsy menggerutu. Gadis itu sedikit kesal karena harus mengulang tahun depan, karena tidak mengikuti tour sekolah karena harus mencari Tyo. Ya meskipun dia tidak bertemu dengan Tyo, tapi setidaknya tujuan awalnya itu.
"Kenapa harus ngulang?" tanya Devan sembari memakan camilan yang dia bawa dari lantai satu beberapa menit yang lalu.
"Bukannya lu bilang kalau nggak ikut tour harus ngulang tahun depan? ya karena gue nggak ikut tour berarti gue harus ngulang dong."
"Oalah itu. Tour ditunda sampai Aileen ketemu dan kembali ke sekolah. Dan tadi Clarissa udah hubungi pihak sekolah kalau Aileen udah ditemuin dalam keadaan sehat wal afiat," terang Devan panjang lebar yang hanya dijawab anggukan oleh Catty yang masih sibuk memeluk tubuh sang sahabat. Gadis itu masih sedikit tidak percaya jika ia bisa kembali melihat sang sahabat di depan matanya.
"Oalah begitu. Oiya Ma, kok bisa Mama cerai sama papanya Axelle? trus, kok bisa dia sekarang nurut banget sama Mama? kek orang kena pelet."
"Astaga mulut!" seru Margareth sembari melemparkan cemilan yang dia pegang ke arah putri keduanya. "Anak yang dikandung Adelia, bukan anak Axelle maupun Tyo tapi anak Marcell."
"WHAT!!"
"Alasan kenapa Marcell kekeh ingin Axelle bertanggung jawab karena Tyo sudah kabur lebih dulu," terang Margareth yang membuat kedua anaknya dan Devan mengangguk paham. "Alasan kenapa Axelle jadi penurut sama Mama, karena sekarang hak asuh Axelle ada ditangan Mama."
"Hah! kok bisa?"
"Mama memberikan penawaran pada Marcel, kalau dia mau memberikan hak asuh Axelle kepada Mama, Mama akan memberikan AM Corporation padanya. Dan dia setuju," ucap Margareth.
"Dasar orang gila. Menukarkan anak demi harta padahal kan harta bisa di cari, kalau anak mana bisa dicari." Arsy benar-benar kesal mendengar penuturan Margareth.
__ADS_1
"Sebagai ganti dari kebaikan Mama yang sempat ditentang oleh Axelle sendiri. Dia mau berbakti pada Mama dan menganggap Mama sebagai Mama kandungnya. Senangnya punya anak laki-laki," ucap Margareth yang membuat Arsy dan Catty geli.
"Inget, Bu. Ibu itu udah tua, nggak pantes bersikap kayak begitu." Arsy mencibir sang mama membuat Margareth mencebikkan bibirnya. "Astaga, bibir nya minta dilakban."
"Anak kurang ajar. Ma...."
"Ma, yang lain udah nungguin Mama di bawah." Mendengar ucapan Axelle, ketiga wanita yang tengah beradu mulut itu terdiam. Margareth mengangguk sebagai jawaban dan berjalan menuruni tangga. Wanita itu tidak lupa memberikan senyum terbaiknya serta ucapan terima kasih karena Axelle sudah membantu dirinya.
***
Pagi yang begitu cerah, sinar matahari yang terang namun tidak begitu menyilaukan membangunkan seorang gadis remaja dari tidurnya yang nyenyak.
“Selamat pagi dunia tipu-tipu,” sapa Arsy pada dunia begitu ia membuka mata. Gadis cantik itu langsung merapikan tempat tidurnya yang nyaman, melipat selimut yang sudah menghangatkan tubuhnya dari dinginnya udara malam dan ac, serta bantal dan guling yang setia menjadi sandaran saat ia lelah. “Dah siap. Tinggal cuci muka trus sarapan deh, baru mandi trus bersiap sekolah. Nggak sabar banget pengen sekolah lagi setelah hampir dua minggu nggak masuk karena dikira mati.”
Arsy menuruni tangga dengan wajahnya berseri. Rambut panjangnya tergerai indah, senyum di bibirnya tidak pernah hilang sejak ia membuka mata.
“Pagi juga, Pacar.” Axelle terkejut bukan main saat Arsy menjawab panggilannya, sementara Arsy tetap melanjutkan langkahnya menuju ruang makan, ia sudah tidak sabar ingin menikmati makanan yang di masak oleh teman barunya. Namun gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu yang aneh.
Arsy membolakan matanya saat melihat Axelle yang sudah tapi dengan seragam sekolah miliknya tengah berdiri di ruang tamu rumahnya. “Lu ngapain di sini pagi-pagi?”
“Mau ketemu pacar dulu sebelum berangkat sekolah, biar semangat belajarnya.”
“Ngaco lu! Pergi sono! Ganggu hidup orang aja pagi-pagi.” Arsy mengusir Axelle yang baru saja sampai. Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju ruang makan, namun ia kembali menghentikan langkahnya saat Axelle mengikutinya. “Lu mau ngapain sih? Pergi nggak!” ancam Arsy yang hanya dibalas senyuman dan flying kiss oleh Axelle.
“Gue ke sini mau ngambil ponsel gue yang ketinggalan di ruang atas. Semalam pas pulang gue lupa bawa, Sayang. Jangan marah-marah gitu dong, ntar makin cantik.”
“Bodo amat. Gue nggak denger,” ucap Arsy sambil menutup kedua telinganya dan berjalan ke arah ruang makan, dan Axelle tetap mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Arsy menghampiri Devan yang tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan dua malaikat cantik yang beberapa bulan terakhir mengisi kehidupannya yang sepi. “Pagi Devan ganteng kesayangan Arsy,” sapa Arsy yang dibalas senyum tampan oleh sang pemilik nama.
“Lho Dev, lu ngapain pagi-pagi buta udah di sini?” tanya Axelle saat melihat Devan berada di rumah calon pacarnya.
“Ngaca tolong,” sindir Arsy yang membuat Axelle memberenggut kesal.
“Gue semalam tidur di sini, dan gue udah izin kok sama Mama kalian. Tanya aja kalau nggak percaya,” jelas Devan.
“Kok lu boleh? Sedangkan gue nggak boleh nginep di sini?”
“Derita lu,” ejek Arsy sembari menjulurkan lidahnya ke arah Axelle yang mencebikkan bibirnya lucu.
Mereka menikmati sarapan pagi dengan damai, meski tidak benar-benar damai seperti yang semua orang harapkan. Karena Axelle dan Arsy yang terus beradu mulut, bahkan beberapa kali gadis itu kehilangan kesabaran dan hampir membunuh Axelle dengan pisau pemotong yang ia gunakan untuk menikmati roti panggang buatan Devan.
“Bisa nggak lu berdua diem bentaran? Gue mau menikmati sarapan gue dengan hikmat!” seru Catty yang sudah cukup lelah melihat pertengkaran antara Arsy dan Axelle yang tidak juga berakhir.
“Sumpah, gue masih gedeg banget sama elu. Pengen rasanya gue tenggelemin elu ke sumur belakang sekolah, biar mampus sekalian.”
“Lu sebenarnya kenapa sih? Kalau soal Alien kan gue udah bilang kalau gue bakalan minta maaf sama kalau dia udah balik.”
Arsy memang masih kesal setengah mati karena Axelle menghina dirinya yang berada dalam wujud Aileen, dan kini gadis itu makin meradang karena Axelle mengganti namanya menjadi Alien.
“Bodo amat. Gue mau tidur!”
Arsy menghabiskan makanannya agar bisa segera menjauh dari Axelle. Berdekatan dengan pemuda gila seperti Axelle akan membuat Arsy terkena tekanan darah tinggi karena terus marah.
“Lhah, pacar gue kok masuk kamar? Doi nggak sekolah?”
__ADS_1
“Kami homeschooling kalau lu lupa. Guru biasanya dateng jam 14.00 sampai jam 17.00 jadi kami punya waktu banyak buat istirahat, ditambah lagi Arsy baru pulang kemarin jadi dia pasti butuh banyak istirahat.” Catty berucap tanpa memandang Axelle yang ada di depannya, gadis itu hanya ingin fokus dengan makanan yang sudah di masak sahabat barunya dengan sepenuh hati.