Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Sheila


__ADS_3

Keesokan pagi.


Satrio yang usai bangun tidur dan keluar kamar. Namun harus menyaksikan Dewa yang tengah merangkul Mega dari belakang saat Mega tengah menyiapkan sarapan di dapur.


Keduanya seakan tidak pernah berhenti mencambuk hatinya. "Nggak tahu malu, kan ada bibi. Nggak bisa apa? Sayang-sayangannya itu di kamar," singgungnya dengan tatapan sinis kepada Mega dan Dewa.


Dewa dan Mega yang tahu jika Satrio tengah cemburu. "Iya maaf, kakak pikir kamu bangunnya siang. Lagi pula sebenarnya sah aja sih, Mega kan istri kakak." Dewa yang memasukkan potongan buah pir ke dalam mulutnya. "Ya nggak sah itu main paksa istri orang dan mengancam bunuh diri kalau tidak di turuti," bisiknya Dewa tepat pada telinga Satrio yang kemudian dia pergi.


Sementara Satrio, hendak mengepalkan tangan namun seketika sadar jika seluruh jari-jarinya sakit akibat luka kemarin yang belum sembuh. Dia lantas mengeratkan seluruh gigi dalam rongga mulutnya hingga batas pipinya menguat. Satrio tidak ingin kalah. Tidak ingin menyerah seolah dia yang salah padahal genah-genah Dewa yang melakukan kesalahan itu. "Harusnya kakak nggak bilang seperti itu?"


Dewa kemudian kembali dan sekarang tepat berada di hadapan adiknya. "Harusnya aku bilang apa? Menyerahkan istri ku begitu saja kepada mantan kekasihnya? Membuat Rania bingung harus milih antara mama papa nya. Begitu? Itu mau kamu?" tanya Dewa dengan wajah serius kepada Satrio.


"Tapi ini nggak adil buat aku kak," lirih Satrio dengan menahan marah dan sedihnya.


"Sat, kamu kurang percaya takdir. Mungkin memang begini garisnya," imbuh Dewa memberi pengertian kepada adiknya.


Dimana keduanya kemudian berbincang di taman belakang.


"Asal kamu tahu, lima tahun lalu kakak juga dihadapkan pilihan sulit antara harus memilih Mega dan Arumi. Pertunangan dan pernikahan kakak gagal. Padahal jelas sekali kakak mencintai Arumi melebihi apapun. Tapi nyatanya apa? Takdir menyatukan aku dan Mega demi Rania. Semua keluarga juga mendukung. Lalu mengapa? mengapa aku harus menolak garis takdir yang sudah ditentukan untuk ku. Ayolah! kamu pasti bisa move on dan melupakan Mega." Panjang lebar Dewa bernostalgia apa yang dia alami dulu kepada adiknya.


"Itu butuh waktu juga kan kak?" Satrio menoleh ke Dewa.


"Iya," jawab Dewa.


"Sama, aku juga butuh waktu kak. Dan aku yakin setelah mendengar apa yang kakak sampaikan. Bukan cuma hitungan satu hari satu minggu dan satu bulan. Kakak pasti membutuhkan waktu lebih dari itu." Satrio yang bangkit dan pergi dari obrolan pagi itu bersama kakaknya.


Lagi-lagi, kokohnya cinta Satrio untuk Dewa mengakar kuat dan tidak mudah goyah. Meskipun Dewa dan Mega berusaha untuk membuka mata Satrio dan menyuruh dia move on, namun Satrio enggan dan memilih bertahan dengan apa yang dia pikirkan.


.


.


Di hotel Mediterania.


Dimana saat mobil Dewa hendak masuk hotel. Seorang wanita tengah melintas dan hampir tertabrak oleh mobil Dewa.


"Aaaaa..." teriak wanita yang memakai atasan kemeja putih dan rok sepan sedang duduk jongkok menutup wajahnya karena takut.


Meskipun tidak berkendara dengan kecepatan cepat. Namun misal wanita itu terkena body mobilnya, sudah dapat dipastikan jika lecet-lecet bagian betis atau bagian sikutnya sudah tentu berjejak merah dan berujung lebam.


Dewa kemudian keluar dari mobil dan menolong wanita itu. "Sorry... sorry. Apa ada yang lecet?" tanya Dewa pada wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu kemudian mendongak dengan wajah takut. "Enggak, aku nggak apa-apa," jawab wanita itu dengan belum pulih dari rasa terkejutnya.


Dewa merasa tidak asing dengan wajah wanita itu. Sama halnya dengan yang di rasa oleh wanita itu saat kedua mata mereka bertemu untuk bertatap.


"De ... Dewa," ucapnya terheran.


"Sheila bukan?" tanya Dewa antara ingat dan tidak.


"Iya, aku Sheila."


"Oh, kamu ngapain di sini?" tanya Dewa kepada Sheila. Dimana Sheila adalah wanita yang dulu satu kampus dengannya.


"Aku mau ngelamar kerja di hotel ini," tunjuk Sheila ke arah hotel yang sudah ada di depannya.


"Oh, gitu. Ya udah kamu masuk aja ngelamar," ujar Dewa yang menyuruh teman kampusnya untuk masuk ke dalam hotel.


Percakapan mereka berakhir. Dimana Sheila dibuat heran oleh mobil Dewa yang masuk hotel tersebut. Hotel dimana dia akan melamarnya.


Lima belas menit kemudian.


Sheila yang disuruh masuk ke ruang kerja Dewa sangat terkejut. Karena ternyata Dewa lah pemilik dari Hotel Mediterania.


"Kenapa?" tanya Dewa kepada Sheila karena Sheila tidak kunjung duduk.


"Oh, enggak. Saya masih nggak percaya aja. Bertemu dengan kamu. Jadi hotel ini milik kamu?"


"Lebih tepatnya hotel keluarga yang coba saya kelola."


"Bagaimana kabar Arumi?"


Dewa terdiam sebentar. "Aku tidak menikah dengan Arumi."


"Apa? Maaf, aku terkejut. Bukankah sejak kuliah kalian sama-sama? Dan kuliah di Melbourne pun kalian juga sama-sama kan?"


"Iya Sheila, tapi kita tidak berjodoh." Dewa sedikit risih jika ditanya dengan Arumi. Lagi pula, dia juga lama sekali tidak berkomunikasi dengan mantan kekasihnya itu.


Singkat cerita, Dewa sudah menerima Sheila jadi resepsionis hotelnya. Dimana Sheila juga bercerita jika dirinya bahkan belum menikah karena ditinggal tunangan nya. Membuat mereka bernostalgia saat keduanya kuliah bersama. Bahkan Dewa melupakan janji bersama putrinya untuk pergi makan siang bersama karena keasyikan ngobrol dengan Sheila di sudut utara hotelnya, dimana tersaji panorama yang menawan untuk memanjakan mata.


"Papa..." teriak Rania yang mengagetkan Dewa.


Ya, Rania dan Mega pergi ke hotel Mediterania karena Dewa tidak kunjung mengangkat sambungan telepon dari nya. Membuat Mega harus menuruti rengekan putrinya, karena Rania terlanjur menanyakan papa nya yang sudah membuat janji pada putrinya.

__ADS_1


Dewa menoleh ke Rania yang berlari ke arahnya. Dimana Mega berdiri dengan tatapan tidak nyaman melihat suaminya yang tengah duduk berdua dengan seorang perempuan cantik melihat pemandangan gemericik air dibawah sana.


"Sayang..." Dewa yang kemudian menggendong putrinya dan mengecup keningnya.


"Papa kok nggak angkat telepon mama? Katana mau ajak Lania pelgi makan ciang? Kok papa nggak dateng-dateng?" ujar bocah manis itu dengan polos.


Dewa menyingkap kemeja panjangnya dan melihat arloji di pergelangan tangannya. "Astaghfirullah... maafin papa sayang. Okay, sekarang kita pergi makan siang ya." Dewa yang kemudian menurunkan Rania dari gendongan nya.


"Eh, ini putri kamu Dewa?" tanya Sheila kepada Dewa dengan memandang Rania. "Halo anak manis," sapa Sheila ramah dengan senyum.


"Iya, ini putri ku. Nama nya Rania."


"Halo tante... lain kali jangan ajak ngoblol papa ku sampai melupakan janjinya pada ku ya tante," balas Rania cukup menusuk telinga Sheila.


Sheila tersenyum ragu.


"Oh ya, kenalkan ini Mega, istri aku. Sayang, ini Sheila. Sheila teman kuliah ku di kota ini."


Keduanya kemudian berkenalan dan saling berjabat tangan menyebut nama mereka masing-masing.


"Sheila, maaf ya, aku harus pergi dulu."


"Oh, iya Dewa. By the way thanks."


"Sama-sama." Dewa yang kemudian berjalan menggendong Rania dan Mega di sampingnya. Dimana sesekali baik Mega dan Sheila saling berlirik pandang dari kejauhan.


.


.


Di mobil.


"Tadi itu beneran teman kuliah?" tanya Mega yang asal lepas saja dari mulutnya.


"Iya, dia teman kuliah ku dan Arumi di kota ini. Arumi yang kenal banyak sama dia. Kenapa?"


"Owh, nggak apa-apa."


"Kamu cemburu? Tenang aja, Arumi aja lewat sama kamu. Apa lagi dia? Dia bukan tipe aku. Tipe aku cuma kamu seorang sayang." Gombalan Dewa yang membuat Mega tersenyum malu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2