Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Mega menemui Sheila


__ADS_3

Sheila kemudian segera menghubungi pria itu. Namun tidak kunjung juga diangkat oleh Dewa. Sheila kemudian berangkat ke hotel, dimana Dewa biasanya juga sudah datang, namun berkali-kali dia mengecek parkiran dan ruang kerja milik atasan sekaligus temannya itu, Dewa tak tampak juga batang hidungnya sampai jam istirahat.


Sedangkan setelah Mega dan ibu Rahma pergi ke kantin rumah sakit. Dewa mengajak Satrio berbicara serius terkait peristiwa yang menimpanya semalam.


"Tolong kamu jangan bicara ke Mega, aku yakin dia akan bertambah rasa khawatirnya," pinta Dewa kepada Satrio setelah menjelaskan siapa sebenarnya yang melakukan penganiayaan kepada nya tadi malam.


"Tapi ini masalah serius kak, apa tidak sebaiknya kakak tidak perlu ikut campur lagi urusan resepsionis kakak itu?"


"Kamu benar Satrio, tapi kakak sudah terlanjur membantu dia melunasi hutang-hutang ayahnya. Itulah mengapa pria itu marah karena merasa tidak ada lagi kesempatan untuk dekat dengan Sheila. Kasarnya dia tidak bisa mengancam Sheila lagi."


"Berarti dia dendam ke kakak sekarang. Dan kakak harus lebih waspada dengan orang macam dia."


"Kasihan Sheila, setiap hari dia dikasari oleh pria itu. Dia benar-benar pria biadab yang dengan tega menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau dengan cara yang kotor dan licik. Termasuk mendapatkan hati nya Sheila. Aku hanya kasihan sama dia Sat, bagaimana pun dia adalah teman kuliah ku. Rasanya berdosa saja, kalau aku yang tahu permasalahannya tapi tidak bisa membantu."


Satrio dapat mengerti apa yang diungkapkan kakaknya. "Trus rencana kakak apa?"


"Aku masih belum tahu. Aku hanya yakin jika peristiwa semalam bukan akan jadi yang pertama dan terakhir. Melainkan, dia akan mengulangnya dengan kelicikan yang berbeda. Dia akan terus ganggu aku dan Sheila."


"Berarti kakak harus waspada."


Sedangkan di kantin. Ibu Rahma yang baru ingat jika ponselnya Dewa di dalam tasnya dan akan memberikannya ke Dewa. Namun karena Mega istrinya, Ibu Rahma memberikan nya ke Mega.


Betapa terkejutnya Mega melihat pemberitahuan pada ponsel suaminya. Dimana nama Sheila mendominasi layar panggilan tak terjawab milik Dewa. Belum lagi chat yang dikirimkan oleh Sheila adalah rasa khawatir yang berlebihan dan berkaitan dengan uang seratus juta dan sosok nama Gaston dalam pesan tersebut.


Jadi semua bermula dari perempuan itu?


Pria itu tidak terima karena suamiku membantu wanita itu?


Sheila ... Sheila.


Gara-gara kamu suamiku jadi babak belur begini.

__ADS_1


geram Mega dalam hati kepada wanita yang bernama Sheila.


Mega meminta izin untuk keluar sebentar, dimana dia akan pergi ke hotel dan membicarakan semuanya dengan Sheila.


Tidak lama setelah memesan taksi online dan sampai di hotel Mediterania, Mega langsung menemui Sheila dan mengajak nya berbicara empat mata.


"Kamu pasti tahu mengapa aku menemui kamu?" tanya Mega kepada Sheila. "Ternyata semua gara-gara dia menolong kamu hingga sekarang dia terbaring di rumah sakit gara-gara dikeroyok sama pacar kamu yang preman itu," ucap Mega dengan nada kesal.


Sheila kemudian tertunduk. "Saya mohon maaf," jawab Sheila setelahnya.


"Hanya itu? Apa kamu tidak bisa membuat pacar kamu yang preman itu untuk tidak main hakim sendiri?"


"Dia bukan pacar saya."


"Tapi teman pria mu itu sudah membahayakan nyawa suami saya," sentak Mega yang tidak terima.


"Saya benar-benar minta maaf. Tapi saya juga tidak tahu harus berbuat apa? Saya sudah berusaha melarang Dewa untuk tidak menolong saya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Saya juga kaget dia melakukan hal itu," jawab Sheila yang membuat dia bertambah sebal dengan suaminya. Karena sudah pernah dia katakan untuk tidak terlalu dekat dengan Sheila. Namun Dewa tidak menggubrisnya dan alhasil, seperti peristiwa semalam yang terjadi.


Sheila tertunduk. Sadar, dengan hanya menerima cinta dari Gaston lah, semua akan selesai. Tapi rasanya akan sia-sia, jika kemarin saja, Dewa sudah membantunya melunasi hutang ayah nya. Padahal sejak awal penawaran dengan menerima cinta Gaston yang berakhir pada pernikahan secara paksa lah, semuanya selesai. Baik dirinya dan Gaston tidak perlu saling beradu selama ini jika pada akhirnya dia harus menyerah dan cuma gara-gara perempuan di depannya.


"Akan aku usahakan, untuk dia tidak berusaha menyakiti suami kamu seperti semalam."


"Aku harap begitu Sheila." Mega yang kemudian pergi dari hadapan Sheila dan kembali ke rumah sakit.


.


.


Setelahnya Mega selesai berbicara dengan Sheila dan masuk ke ruang rawat suaminya. Dimana ibu mertuanya dan Satrio sudah tidak ada di dalam ruang rawat suaminya.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Dewa lirih setelah cukup lama dia menunggu Mega.

__ADS_1


"Menemui resepsionis mu." jawab Mega kesal karena suaminya telah berbohong kepadanya dan semua.


Wajah Dewa berubah serius. "Bu-buat apa kau menemui Sheila?" jawab Dewa setengah tergagap sekaligus tercengang.


"Buat apa lagi kalau bukan untuk meminta dia menyentuh kamu dari teman pria nya yang kasar itu," tatap Mega tajam.


"Ja-jadi kamu sudah tahu?"


"Awalnya tidak. Aku tidak tahu. Tapi setelah aku baca pesan dari Sheila yang dikirim ke ponsel kamu. Terlihat jelas sekali, jika teman pria Sheila yang sudah membuat kamu seperti ini," ketus Mega yang kemudian memberikan ponsel milik suaminya.


Dewa menerima ponselnya setengah takut. Melihat wajah istrinya marah, ngeri. "Bukan salah Sheila sayang," jawab Dewa.


"Apa kamu bilang? Dia nggak salah? Salah ngga salah, tetap aja mengapa semenjak ada kehadiran dia, kita sering bertengkar dimana semua berkaitan dengan Sheila dan Sheila," ucap Mega cepat tanpa titik koma.


"Sayang..." Dewa berusaha meraih jemari istrinya. "Aku murni menolong dia karena dia diperlakukan kasar oleh teman pria nya."


"Tapi itu bukan urusan kamu?"


"Apa kamu tega?"


"Ketimbang harus melihat wajah suami aku seperti ini, aku tega tidak peduli sesama wanita, biarpun yang lainnya nama Sheila. Demi kamu. Ingat Rania masih kecil," kata Mega di mana dapat ditangkap oleh Dewa, jika istrinya terlampau mengkhawatirkan keadaan nya.


Dewa lantas menyandarkan kepala istrinya pada bagian dada nya. Dimana Mega kemudian memeluk suaminya, bersyukur karena masih melihat Dewa baik-baik saja.


Satrio yang sudah berdiri di ambang pintu ruang rawat dan melihat kemesraan mereka berdua pun urung. Dia memilih pergi dengan entah keberapa kali, mereka berdua seolah lagi-lagi tidak perduli terhadap hati yang telah mereka sakiti.


Hatinya.


Meskipun dia berusaha menerima, tapi rasanya belum sepenuhnya. Merasa tidak ingin wanita pujaannya itu mempertontonkan kemesraan rumah tangganya di depan matanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2