Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Mengancam


__ADS_3

"Sat, aku mohon kamu jangan seperti anak kecil. Dengan kamu berbicara seperti itu. Itu tandanya kamu akan menghancurkan hati Rania." Mega yang berusaha memberi pengertian ke Satrio.


"Aku tidak bisa berkorban hati untuk Rania. Aku ... maunya kita sama-sama lagi. Seperti dulu Mega. Seperti dulu." Perlahan jemari yang penuh perban itu berusaha meraih jemari Mega.


Mega dapat merasakan kesedihan Satrio.


"Aku tunggu di telaga biru setelah ini," ucapnya berbisik tidak jauh dari telinga Mega.


"Aku tidak bisa."


"Bisa."


"Aku bukan gadis lagi, aku punya Rania dan tanggung jawab sebagai istri."


"Sebentar saja, kamu titipkan Rania pada papa."


"Enggak bisa Sat."


"Come on Mega. Aku ingin kita bicara banyak disana," pinta Satrio mengiba yang terlihat jelas diwajahnya.


"Nanti suami ku mencari ku," kilah Mega yang tidak ada hentinya menolak ajakan Satrio.


"Sebentar saja. Aku berangkat." Satrio yang kemudian enyah dari hadapan Mega untuk berangkat lebih dulu ke telaga biru.


Sementara Mega, dia jujur bingung dan tidak mungkin akan menitipkan Rania kepada papa mertuanya.


Menantu macam apa dia? kalau dengan seenaknya meninggalkan putrinya dan main titip aja ke papa mertuanya demi Satrio.


Mega kemudian kembali ke ruang rawat ibu mertuanya. Di susul Dewa yang baru masuk tidak lama setelah istrinya dan memberikan tas milik Mega. Namun dilihatnya jika Rania tertidur di sofa.


lima belas menit kemudian, ponsel Mega berdering dan ternyata panggilan video dari Satrio.


"Pa, Mega keluar sebentar ya. Mega titip Rania."


Pak Hendarto mengangguk.


Alangkah terkejutnya Mega, melihat layar ponselnya dimana Satrio tengah berdiri di pinggir telaga dan terlihat sekali membahayakan jiwanya.


"Mega..." teriak keras Satrio di layar ponselnya. "Kalau kamu tidak datang kesini. Aku mau mencebur ke telaga ini," ancam nya yang tidak main-main.


Mega seketika panik. Nafasnya menggebu. "Satrio... Satrio kamu sinting. Apa yang kamu lakukan," panik Mega.


"Iya, aku sinting karena kamu. Mending aku mati aja, dari pada lihat kamu bermesraan terus menerus dengan kakak ku."


"Satrio, aku mohon Satrio. Iya aku akan kesana." Mega langsung menutup ponselnya dan berlari tanpa pikir panjang.


Karena apa?


Dia tidak mau jadi orang yang akan disalahkan jika Satrio kenapa-napa. Dengan terjun ke telaga biru, mana mungkin dia akan ditemukan. Yang ada juga berakhir jadi mayat dan namanya tersemat kata almarhum.


Dewa yang sudah menunda pertemuan terkait kerjasama nya dengan salah satu universitas, sengaja melihati istrinya dan jujur kecewa saat menyaksikan Mega panik dengan ancaman Satrio yang terdengar jelas.

__ADS_1


Mega kemudian naik ojek online dengan sangat buru-buru karena takut jika Satrio nekat melakukan hal buruk yang akan membuat nyawanya melayang.


"Pak, tolong cepat ya jalannya." Mega yang meminta tukang ojek online untuk menambah kecepatan berkendara nya.


"Baik mbak." Tukang ojek pun akhirnya menambah kecepatan hingga membuat Mega takut. "Mbak, pegangan yang kuat ya!" perintah tukang ojek kepada Mega.


Mega yang takut akhirnya berpegangan yang kuat tanpa memperdulikan lagi pundak siapa yang dicengkeram nya erat.


Sedangkan Dewa yang mengejar istrinya hanya bisa beristigfar sembari mengelus dada. "Astaghfirullah... sayang. Demi Satrio kamu rela begitu. Terlalu bahaya tahu nggak sih, naik ojek online ngebut kayak begitu." Dewa yang berdecak pelan. Tidak habis pikir dengan istrinya. Dia hanya bisa berdoa supaya Mega selamat sampai tujuan.


"Masih kurang kenceng nggak sih mbak?" tanya tukang ojek online itu kepada Mega.


Mega bahkan sangat takut hingga dua matanya terpejam tidak mau melihat jalan.


"Pak, pelan-pelan aja deh pak," pintanya Mega.


"Gimana sih mbak? katanya tadi minta ngebut, sekarang minta pelan," ujar tukang ojek itu.


"Iya pak, maaf. Aku takut." Mega yang berusaha memelas supaya tidak dapat omelan.


"Ya udah, kita jalan dengan kecepatan sedang-sedang saja mbak." Keputusan tukang ojek online yang sudah tidak bisa ditawar.


"Iya pak." Mega yang perlahan mengendurkan tangan nya yang mencengkeram kuat jaket milik tukang ojek online itu.


Sesampainya di telaga biru.


Saking paniknya Mega, dia sampai melupakan helm milik tukang ojek online itu dan masih membungkus kepala nya.


Mega yang mendengar jika tukang ojek online itu memanggilnya. "Iya pak," teriaknya karena sudah agak jauh.


"Helm nya..." balas teriakan dari tukang ojek online tersebut.


"Astaghfirullah..." Mega kemudian kembali berlari untuk mengembalikan helm dan kemudian kembali mencari keberadaan Satrio.


"Satrio ... Satrio..." teriakan Mega yang didengar oleh Satrio.


"Mega," lirih Satrio yang menghampiri wanita itu dan memeluknya erat. "Aku tahu kamu bakal datang."


Mega hanya diam saat dipeluk oleh Satrio.


"Aku ingin kita seperti dulu lagi Mega," ucap laki-laki itu meresapi setiap sentuhan pada pelukannya ke Mega.


Mega melepas perlahan pelukan itu. Jika dulu pelukan itu dia rindukan, lain halnya sekarang. Semua nya berubah seiring berjalan nya jam berdentang. Tidak dipungkiri, Satrio benar. Nama nya memang masih tersimpan di hati paling dasar. Mega cukup mengenang nya dan tidak ingin menyeriusi nya lebih lanjut. Demi Rania. Lagi pula cinta Dewa kepadanya juga berbalas imbang. Dimana suaminya berani berjuang melepas Arumi yang notabenenya lebih segalanya dari dirinya saat itu. Itu tandanya, dia juga harus melakukan hal yang sama dengan Satrio. Bukan malah terjebak lagi dengan cinta yang Satrio bawa kembali.


"Apa kamu akan selalu mengancam bunuh diri?" tanya Mega kepada Satrio. Dimana angin cukup besar membuat semua pakaian mereka berkibar tak terkecuali rambut keduanya terutama rambut Mega yang cukup berantakan.


Dengan lembut dua tangan penuh perban yang tidak dihiraukan sakitnya itu, terus berusaha merapikan rambut Mega dan menyelipkannya pada belakang telinga. "Entahlah," jawab Satrio terdengar apatis.


"Please... jangan seperti anak kecil. Kamu sudah dewasa. Apa kamu tahu? Dengan kamu terjun ke telaga biru ini. Badan Search and Rescue Nasional pun belum tentu bisa nemuin kamu. Itu tandanya apa? Kamu akan pergi selama-selamanya."


"Lebih baik begitu," jawab Satrio tak lepas dari rasa putus asa.

__ADS_1


"Ssst..." Mega yang menaruh telunjuk nya pada bibir dan ujung hidung pria itu. "Kamu tahu? Kalau kamu pergi, semua orang akan kehilangan kamu. Tak terkecuali aku." Mega berusaha menyentuh perasaan Satrio perlahan. Karena jika tidak begitu, yang ada Satrio akan terus mengancam nya. Jadi Mega harus menggunakan cara menempatkan dirinya sebagai teman.


"Ini yang aku rindu dari kamu. Dan itu tidak aku dapatkan di wanita lain," puji Satrio dimana obrolan keduanya begitu hangat dan Satrio lebih tenang.


"Kamu mau janji?"


"Janji apa?" Dahi Satrio terdapat dua garis kerutan.


"Janji untuk tidak melakukan hal konyol lagi."


"Apa kamu juga janji akan kembali padaku? Dengan melepas komitmen kamu dengan kakak ku?"


Mega yang kemudian berjalan, duduk di kursi kayu panjang dibawah pohon trembesi. "Kita bisa berteman bukan? Itu jauh lebih menyenangkan. Ketimbang kamu, aku dan kakak mu saling beradu tegang hampir setiap waktu."


Satrio terdiam sesaat. Mendengus kasar yang kemudian dia duduk di samping Mega. Wanita dimana sejauh ini tidak pernah lepas dari pikirannya.


"Kalau aku tidak mau?"


"Ya udah, wasalam. Lain kali juga aku nggak mau datang setiap kamu mengancam aku. Mau itu kamu akan terjun ke dasar samudra Antartika pun. Jangan salahkan aku kalau aku tidak peduli."


Satrio menoleh dengan rasa tidak percaya nya. "Tapi kita bisa pergi berdua kan?"


"Kamu lupa? kamu itu udah punya keponakan. Suka nggak suka, Rania itu keponakan kamu. Dan aku nggak mungkin tinggalin dia sendiri demi kamu seperti hari ini."


"Itu tandanya kita akan pergi bertiga?" tanya Satrio yang menyimpulkan pernyataan Mega.


"Itu juga harus atas izin suami ku."


"Hah...? Mana mungkin dia mau mengizinkan?"


"Ya udah, sampai dapat izin nya."


"Enggak, enggak, enggak bisa. Ya udah kita pergi aja bertiga. Tanpa izin dari Dewa."


Membuat Mega tertawa kecil, geleng-geleng kepala dan menepuk bahu laki-laki di sampingnya.


"Kenapa tertawa?" tanya Satrio yang mulai cair kebekuan hati nya. Tidak lagi membatu seperti satu dua jam yang lalu.


"Kamu lucu kalau cemburu," ujarnya lirih membuat mereka terbawa untuk saling melempar canda.


Satrio mencubit gemas perut Mega, menggelitik wanita itu hingga tercipta suasana yang berbeda. Tidak seperti kemarin dan kemarin lusa. Yang kesemuanya penuh dengan amarah hingga membuat kedua tangan Satrio terluka parah.


Sementara dari kejauhan, sudah dapat dipastikan jika hati Dewa terbakar.


Panas.


Melihat istrinya dan adiknya duduk berdua tanpa jarak yang menjeda.


Sakit.


Dewa tidak bisa berbuat apa-apa. Selain kata percaya kepada Mega yang harus dia tanamkan kuat. Meskipun perlahan, rasa itu pudar seiring penglihatannya menangkap sendiri kebersamaan mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2