Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Jujur amat?


__ADS_3

Dewa merasakan jika Mega nyaman duduk berdua dengan Satrio. Dewa merasa jika hubungan mereka terlihat membaik dan dekat.


"Apa yang mereka bicarakan? Apa yang membuat kamu berubah Mega? Apa kamu akan meninggalkan aku dan Rania lalu memilih kembali ke Satrio?" Dewa yang menerka-nerka apa yang mereka bicarakan. Karena terlihat sekali jika keeratan mereka terjalin kembali.


Dengan dada bergejolak, Dewa lantas meninggalkan telaga biru dengan wajah lesu dan tatapan sendu.


Satu jam berlalu. Dimana Dewa memilih kembali ke rumah sakit terlebih dahulu. "Kenapa pa?" Dewa yang kemudian menggendong Rania yang sedang menangis memanggil mama nya.


"Mega izin keluar sebentar. Tadi Rania pas tidur. Sekarang bangun dia mencari mama nya."


"Cup sayang, ada papa." Dewa yang menenangkan putrinya tengah menangis. Menghubungi Mega istrinya dan meminta nya kembali ke rumah sakit.


Namun cukup lama, Mega tidak mengangkat panggilannya. Berulang kali dia coba kembali untuk menghubungi istrinya, Mega tidak kunjung mengangkat nya. Membuat Dewa geram, karena dia yakin sekali jika Mega larut dalam kebersamaannya dengan Satrio. "Keterlaluan sekali kamu sayang," lirihnya dengan dengus keras yang coba dia suarakan. "Apa kamu lupa sama Rania?" imbuhnya seraya menatap putrinya yang tengah menangis sesenggukan dan belum berhenti juga.


Selang tiga puluh menit, Mega kembali ke rumah sakit. Dimana Dewa sengaja pulang lebih dulu dan tidak menghiraukan istrinya. Mega bertemu dengan papa mertuanya dan mengatakan jika Rania tadi menangis mencarinya. Membuat Dewa pulang terlebih dahulu karena Rania rewel. Membuat Mega merasa bersalah dengan putrinya dan juga Dewa.


Namun saat Mega sedang berjalan ke pangkalan ojek online yang berjejer. Satrio membuka jendela mobilnya. "Mau ngapain?"


"Mau pulang."


"Bareng aja. Ngapain naik ojek? Lagian juga satu rumah kan?" bujuk Satrio supaya Mega masuk ke dalam mobilnya.


Namun Mega tidak kunjung masuk malah mematung.


"Buruan..."


"Aku naik ojek online aja." Mega yang kemudian menuju ke pangkalan ojek online.


"Mega... Mega..." teriak Satrio yang mengharuskan untuk dia segera turun dan membujuk Mega.


Dan apa yang dilakukan?


Karena Mega bersikeras untuk tidak mau masuk mobil Satrio dan satu mobil dengan pria itu. Satrio langsung menggendong wanita itu di atas bahunya untuk dia bawa paksa masuk mobilnya.


"Lepaskan aku Sat! Malu dilihat orang," seru Mega dengan pukulan yang dia layangkan ke punggung Satrio bertubi-tubi. Namun Satrio tidak menggubris dan membuat Mega sudah terduduk di jok mobilnya. "Kamu apa-apa an sih?" kesalnya Mega. "Aku ini istri orang tahu."


"Iya aku tahu. Makanya, karena kamu istrinya kakak ku dan kita satu rumah. Bukankah idealnya begini? Satu mobil." Satrio tidak kurang cara membuat Mega tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Mega sudah tidak dapat menolak. Dia lantas diam saja sepanjang perjalanan Satrio mengemudikan kendaraan nya.


Hingga dua puluh menit bersama mereka dalam satu mobil.


"Astagfirullah..." Mega yang melihat pemberitahuan pada ponselnya. Jika ternyata Dewa beberapa kali melakukan panggilan dan berkirim pesan.


"Kenapa?" tanya Satrio yang menoleh ke Mega.


"Suami ku ternyata telepon sejak tadi. Harus jawab apa coba? Kalau kita ternyata habis dari telaga biru karena kamu mengancam bunuh diri," keluh Mega yang dibuat bingung sendiri gara-gara manusia bucin akut disebelahnya.


"Biar aku aja yang hadapi. Dia pasti diam."


"Nggak usah. Biar aku katakan dengan jujur aja, kalau kamu memang menyuruhku kesana dan aku sudah menolaknya, lantas kalau aku tidak datang kamu mengancam bunuh diri."


"Jujur amat?" Satrio yang terkaget sambil nyetir mobil.


"Emang kamu pikir aku senang berbohong? Terlebih sama suami ku."


"Nyatanya begitu. Kamu aja membohongiku selama lima tahun."


"Iya, iya." Satrio yang tidak lama memasukkan mobilnya masuk ke dalam garasi rumah nya.


Mega dengan cepat keluar dan menuju kamar Rania.


Sedangkan Dewa yang keluar kamarnya melihat jika Dewa tengah berjalan masuk ke dalam rumah. "Kalian dari mana?" tanya Dewa dengan wajah datar memendam luka.


"Aku tadi yang ajak Mega. Aku yang paksa dia. Kenapa? Nggak suka." Satrio tanpa takut mengatakan hal demikian pada kakaknya. Dia tetap memandang Mega sebagai kekasihnya dan Dewa adalah perebut cinta nya.


Dewa mendengus halus. Butuh hati berlapis-lapis untuk menghadapi adik laki-lakinya itu. "Berapa kali harus aku bilang? Jika Mega bukan kekasih mu lagi," ucap Dewa pelan karena tidak ingin ada kemurkaan pada adiknya.


"Dan berapa kali juga harus aku bilang. Kalau aku tidak serta merta memberikannya dia begitu saja pada mu." Satrio yang melirik kakaknya itu dengan sudut mata penuh benci.


Satrio yang kemudian pergi dari Dewa tanpa ada kata lagi yang dia sampaikan, kecuali tatapan perang yang setiap hari mereka gaungkan terkait perihal kata perebutan.


Dewa hanya mengambil nafas panjang, mendongak dan melepaskan sesak pada dadanya yang sulit untuk dia tahan.


.

__ADS_1


.


Di kamar.


"Aku minta maaf ya sayang, tadi itu Satrio..." Mega yang belum selesai bicara namun Dewa dengan cepat memangkas nya.


"Aku tahu."


"Tahu?" satu garis di dahi Mega terbentuk. "Tahu apa?" Mega ingin jawaban lebih dari sekedar kata tahu.


"Kamu pergi dengan Satrio ke telaga biru."


Deg.


Mega langsung menyentuh dadanya. Terkejut dengan apa yang dikatakan suami nya. "Kamu jangan salah paham dulu sayang. Aku hanya membujuk Satrio yang mau bunuh diri dengan lompat ke bawah telaga biru." Mega dengan wajah ragu. Melihat tatapan Dewa yang sendu. "Kamu marah?" tanya nya agak takut.


Dewa mendengus kasar. "Sepertinya kita harus tinggal sendiri. Karena jika terus begini, tidak baik untuk rumah tangga kita."


"Begini sayang, kedekatan aku dengan Satrio, itu murni karena aku ingin hubungan aku, kamu dan Satrio tetap harmonis. Perang dingin diantara kita bertiga berakhir. Dan rumah tangga kita berjalan seperti lima tahun yang lalu. Bahagia."


"Tapi sayangnya pemikiran Satrio tidak seperti kamu. Satrio tetap ingin merebut kamu dari aku. Dia pasti akan cari cara untuk terus berdua bersama kamu seperti tadi di telaga biru."


"Apa kabar dengan kamu dan Arumi waktu dulu?"


"Oh, balas dendam?"


"Bukan begitu sayang. Aku hanya ingin melepas komitmen dengan Satrio baik-baik seperti yang kamu lakukan ke Arumi."


Seketika jantung Dewa bergetar. Karena Mega tidak sepenuhnya tahu apa yang dilakukan nya dulu dengan Arumi. Jika yang dilihat Mega saja, sudah merobek hati istrinya dan membuatnya menangis. Apalagi yang tak terlihat, semakin mencabik-cabik dan menyayat hati Mega pastinya.


"Up to you," lirih Dewa yang akhirnya luluh dengan kata-kata Mega.


Mega kemudian menyandarkan kepalanya pada dada suaminya. Dipeluknya supaya Dewa redam amarahnya. "Thank you mau handsome," godanya kepada Dewa supaya tidak cemberut melihat istrinya dipeluk mantan kekasihnya tadi di telaga biru.


Tidak berhenti disitu saja, Mega masih melayangkan ciuman bibiir penuh cinta kepada Dewa yang seharian ini sudah dia kecewakan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2