
Mega terlihat sekali jika raut wajahnya sedih karena peristiwa yang baru saja dialami Rania.
Membuat Satrio yang tengah turun dan berjalan di anak tangga bisa menangkap jika sepasang suami istri yang semalam memadu kasih itu tengah bertengkar atau minimal berdebat mulut.
Karena jika dilihatnya, Mega yang setengah berlari naik ke kamarnya dan berpapasan dengan nya. Sedangkan kakak nya tengah membopong putrinya yang tengah tertidur. Terlihat sekali dari gelagat mereka yang tidak baik-baik saja.
Dan benar, pendengaran Satrio menjaring jika mereka tengah bertikai.
"Sayang aku minta maaf, aku hanya mau kamu lebih menjaga Rania dan jangan ditinggal-tinggal." Dewa yang tahu jika bentakan nya sejak tadi di mall membuat Mega sedih.
Mega masih membisu. Dia berjalan menjauhi suaminya yang sejak tadi mengekorinya kemanapun dia melangkah.
"Ayolah sayang, marahnya udahan," pinta Dewa dengan wajah memelas setengah kesal supaya Mega tidak mendiamkan nya sejak tadi.
Mega yang kemudian keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum.
Sedangkan Dewa pasrah dengan berkacak pinggang melihat istrinya yang sudah menghilang di balik pintu.
Satrio hanya bisa melirik keduanya. Dimana terlihat kakaknya pamit kembali ke hotel dan ingin mengecup pipi Mega, namun Mega melengos dan tidak mau di kecup oleh pria itu.
Dapat disimpulkan, jika antar keduanya tengah terjadi perang dingin yang Satrio tidak tahu apa masalahnya.
Namun terlihat sekali, jika wajah Mega sedih dan selesai menangis. Membuat nya yang sudah memutuskan untuk membenci perempuan itu sejak semalam. Mendadak berubah menjadi tidak tega untuk tidak peduli.
Karena jujur, meski dia sudah merobek foto mereka berdua yang bertengger lama di nakas kamarnya, Satrio tidak bisa begitu saja acuh terhadap wanita yang hitungan tahun tinggal di hatinya.
"Kamu diapain suami kamu?" Satrio yang tidak ingin melihat Mega sedih terlebih karena kakaknya.
Mega diam tidak menjawab dan hendak pergi, namun pergelangan tangan Mega dengan cepat diraih oleh Satrio. "Lepaskan," lirihnya yang tidak mau menatap pria itu. Pandangan Mega tetap lurus ke depan.
"Kamu kenapa?" Satrio yang tidak pernah bisa benci terhadap wanita di hadapannya. Perlakuannya tetap lembut. Meraih dagu Mega supaya wajah wanita itu menatapnya pula. Namun Setelahnya Mega menunduk dan menyembunyikan matanya yang sedikit memerah karena selesai menangis. "Ada apa? Dewa ngapain kamu?"
"Sudahlah lah Sat, nggak semua urusan rumah tangga aku dan kakakmu, kamu harus tahu. Kamu itu bukan siapa-siapa aku lagi." Mega yang melepas tangan Satrio yang masih menggenggam nya.
Lagi-lagi kata-kata Mega selalu mematahkan hatinya yang sudah rapuh. Mencoba untuk membenci wanita itu setiap dia mengelak diperlakukan lembut olehnya, namun sial, rasa benci berubah seketika menjadi peduli saat bertemu wanita itu.
Satrio hanya bisa memandangi punggung wanita itu yang menaiki anak tangga menuju kamarnya.
.
.
Di rumah sakit.
Dimana sore hari itu ibu Rahma sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
"Mana istri kamu? kok nggak ikut?" tanya ibu Rahma saat Dewa pulang kantor langsung ke rumah sakit untuk membawa mama nya pulang.
"Dewa kan habis pulang kerja, sekalian ma."
"Oh, aku pikir kamu sedang bertengkar dengan Mega."
"Nggak kok ma," jawab Dewa melirik adiknya yang sejak tadi diam tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Tiga puluh menit perjalanan dari rumah sakit menuju rumah mereka. Dimana mobil satu persatu sudah masuk ke garasi rumah mereka. Namun teriakan Rania yang menyambut Omanya yang baru saja masuk rumah membuat semua bahagia, kecuali Satrio.
Biasa saja.
"Oma..." panggil Rania yang langsung memeluk Oma nya.
"Halo sayang, cucu Oma," balas ibu Rahma yang mensejajarkan tinggi cucunya dan memeluk Rania.
"Lania tadi ilang, mau di tabak mobil Oma," kata bocah manis itu yang mengejutkan semua orang dewasa, tak terkecuali Mega dan Dewa.
Ibu Rahma langsung melirik ke arah putra nya, yaitu papa nya Rania. Dan kembali lagi menatap cucunya. "Apa benar begitu? Kan Rania selalu sama mama? Kok bisa?" Yang tadinya terkejut, perlahan santai saat mempertanyakan ke bocah manis itu.
"Mama..." Belum selesai bicara. Dewa langsung memangkasnya.
"Udah, udah ma, nanti aku ceritain," ujar Dewa kepada mama nya. Dimana pak Hendarto dan Satrio memperhatikan betul apa yang disampaikan Dewa.
"Ya udah kita masuk yuk," sahut ibu Rahma setelahnya dengan terlihat semangat.
"Mama, maafin Mega ya ma, Mega nggak ikut jemput mama ke rumah sakit," ucap Mega setelah memeluk ibu mertuanya.
"Iya nggak apa-apa. Yang penting sekarang kan mama sudah ada di rumah." Ibu Rahma yang kemudian mencium aroma berbagai masakan di atas meja makan. "Hem yummy... Mama mendadak lapar nih. Kamu yang masak Mega?"
"Bantuin bibi aja ma," jawab Mega tersenyum.
Mereka semua kemudian makan malam bersama. Dimana bibi mengatakan jika semuanya adalah masakan Mega.
Membuat Dewa tersedak, karena tidak percaya jika istrinya ternyata bisa memasak makanan seenak yang dia makan.
"Kamu ini bagaimana sih? Kayak nggak percaya amat kalau istri kamu ini jago masak?" ledek ibu Rahma kepada Dewa saat tahu putranya tersedak gara-gara mendengar apa yang disampaikan bibi.
"Enggak ma, bukannya Dewa nggak percaya. Dewa nggak pernah lihat aja, Mega masak makanan kayak begini." Dewa yang mengedarkan dua matanya ke atas meja. Dimana Mega masak rendang, opor ayam dan rica-rica mentok. Dan semuanya enak dan pas dilidahnya.
Semuanya tergelak tawa, kecuali pria di meja paling sudut yaitu Satrio yang sekali lagi.
Biasa saja.
"Oh ya ma, Dewa udah atur untuk kita pergi liburan keluarga. Mama setuju nggak? Kalo kita semua pergi ke Bali?" tanya Dewa yang kemudian memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Em, mama sih setuju-setuju aja. Papa mu ini ditanya, sibuk nggak orang nya?" jawab ibu Rahma.
"Kalau papa sih yes," jawab pak Hendarto dengan alat makan dalam tangan kanan dan kirinya. Pak Hendarto kemudian menoleh ke arah Satrio. Belum sampai Satrio dimintai jawaban. Dia sudah mengatakannya.
"Satrio nggak ikut. Kalian pergi aja," jawabnya datar.
"Nggak seru dong sayang, kakak mu ini bermaksud mengajak kita liburan. Senang-senang. Lihat pantai di Bali. Berjemur di pinggir pantai sambil menghirup angin semilirnya uh lala... belum lagi minum air kelapa di bawah pohon kelapa pula. Otak menjadi dingin seketika." Ibu Rahma yang mencoba menghibur Satrio dengan gaya bicara nya yang sambil tersenyum demi melenturkan syaraf Satrio yang menegang.
"Sekali Satrio bilang nggak ikut, Satrio nggak ikut ma," imbuhnya tetap sama. Datar dan kekeh dengan pendiriannya.
"Yah... Om Catlio nggak asyik ya Oma. Padahal kan papa ngajak libulan," sahut Rania.
"Ya udah kalau begitu liburan nya ditunda aja," ujar Dewa kemudian.
"Jangan dong, kalau kamu mau berangkat sama Mega nggak apa-apa."
__ADS_1
"Aku permisi ke kamar dulu ma." Satrio yang kemudian bangkit setelah menggeser kursi makan yang diduduki nya.
Sadar betul, jika liburan itu akal-akalan dari kakaknya yang mau mencetak adik untuk Rania. Makanya dia memutuskan tidak ingin menjadi penonton mereka berdua disana.
"Kamu belum selesaikan makannya sayang," sahut ibu Rahma dimana Satrio sudah berada di anak tangga.
"Aku udah kenyang ma," sahut Satrio.
Dimana dia langsung melempar tubuhnya ke ranjang dengan perasaan sakit. Mamanya sangat mengutamakan dan menjaga perasaan Dewa ketimbang perasaannya. Termasuk Mega, jelas sekali jika wanita itu tidak setia kepada janji mereka dulu.
Malam semakin larut.
Dimana Satrio tidak bisa tidur dan sedang duduk di taman belakang seorang diri sembari menggulir layar ponsel nya.
"Temenin papa main catur ya?" Pak Hendarto yang sudah mambawa papan catur ditangannya.
Satrio mengangguk dan mereka memulai permainan.
Dimana sengaja pak Hendarto ingin bicara terkait Dewa dan Mega kepada Satrio.
"Apa kamu masih marah sama kita? Karena menyembunyikan pernikahan kakakmu dengan Mega." tanya pak Hendarto sembari menggeser pion catur.
"Aku udah ikhlas kok pa, aku hanya butuh waktu."
"Baguslah, kalau kamu cepat pulih dari apa yang terjadi dalam percintaan kamu. Meskipun jujur, papa ikut sedih juga. Tapi, papa hanya pikirkan masalah Rania. Papa nggak mau dia bingung terkait permasalahan orang dewasa."
"Semua demi Rania ya pa, nggak ada yang ngerti perasaan Satrio sama sekali di rumah ini."
"Hei, bukan begitu. Bersikaplah dewasa, anggaplah Mega bukan jodoh kamu. Kamu bisa cari pengganti Mega, berbeda dengan Rania, jika kamu hancurkan mereka berdua dan Mega kamu paksa kembali, bagaimana dengan Rania? Apa kamu mau? Apa Mega juga mau? belum tentu kan. Semua sudah berbeda, seiring berjalannya waktu. Jadi papa harap kamu bisa legowo menerima pernikahan mereka. Papa kenalkan dengan anak sahabat papa?"
"Nggak, nggak, nggak. Satrio masih tidak mau buru-buru nikah pa. Satrio mau kerja di kantor papa."
"Okay, papa akan dukung kamu, jika kamu mau punya usaha baru seperti kakak mu. Papa suport."
Permainan catur keduanya pun berakhir dengan menangnya pak Hendarto. Dimana pak Hendarto lanjut untuk beristirahat yang beberapa saat Satrio juga menyusulnya. Namun setiap dia melewati kamar kakak nya.
Satrio terhenti karena mendengar samar-samar jika Mega seperti nya tengah merajuk malam itu.
"Siapa? Sheila?" tanya Mega dengan wajah tidak suka.
"Kamu ini kenapa sih? Bukan malah berterimakasih dengan Sheila yang menolong Rania dari kecerobohan kamu. Kamu malah marah-marah."
"Siapa yang marah-marah?"
"Itu?"
"Aku nggak marah, aku tanya. Benar kan itu Sheila?" Mega dengan sangat yakin jika yang berkirim pesan barusan adalah resepsionis barunya.
Sedangkan Dewa tidak ingin menambah deretan masalah lagi padahal baru saja mereka berbaikan. Dewa memilih diam, karena jika dia menjawab benar adanya Sheila yang berkirim pesan. Dapat dipastikan Mega lebih marah dari yang sekarang.
"Hehm," sinis Mega yang kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. "Benar kan?" Mega yang kemudian keluar kamar. Namun seketika terkejut karena melihat Satrio yang berdiri di depan pintu nya.
BERSAMBUNG
__ADS_1