
"Sheila..." terkejutnya Dewa melihat wanita yang tidur bersama nya adalah Sheila. Jika Sheila diam, lain halnya dengan Dewa yang langsung panik dan melihat jika dirinya polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya kecuali selimut tebal milik Sheila yang menutupi terong hijau sayurnya. Belum pulih dari keterkejutannya, terong hijaunya masih meminta jatah tambah dan tidak bisa dikendalikan. "Sheila bagaimana bisa aku tidur dengan mu?" pekik Dewa yang langsung menyambar satu persatu kemeja berikut double celana pembungkus terong hijau sayur miliknya.
Sheila diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Takut jika Dewa ingat dan malah akan runyam rencananya.
"Jawab Sheila!" pekik Dewa dengan wajah frustasinya. "Ah... sudahlah. Ingat! Kita akan bahas besok lagi," imbuhnya dengan meringis karena ternyata efek obat dari Sheila tak terkendali dan mengharap tertancap kembali. Namun Dewa tidak akan mengulang kesalahan yang entah baru saja dia lakukan seperti apa kepada Sheila. Karena sekarang yang terpenting adalah pulang dan menancapkan nya kepada orang yang tepat yaitu Mega. "Aku tidak mau tahu, kita harus benar-benar bahas kekeliruan malam ini," imbuhnya beserta jari telunjuk yang dia tujukan pada Sheila sembari berjalan keluar kamar Sheila dan membanting pintu kamar.
Brak.
Membuat kedua bahu Sheila terangkat.
Berbeda dengan Dewa yang yang sedari tadi mengerang menahan sakit di bawah sana sembari menyetir mobil untuk cepat sampai rumah.
Tiga puluh menit sampai di depan rumah. Dewa langsung menuju kamarnya dan membuka pintu kamar pelan. Tanpa basa-basi Dewa langsung memaksa Mega untuk melumasi.
Perdebatan kecil sempat terjadi, Mega yang tidak ada persiapan dan dibuat heran dengan perilaku suaminya malam itu.
"Apa-apaan sih?" tanya Mega dimana kedua matanya sudah terbuka penuh disela-sela penyatuan setengah memaksa malam itu.
"Em, bukankah kita mau memberikan adik untuk Rania?" jawab Dewa setengah bingung harus menjelaskan kepada Mega bagaimana runutan nya.
"Bukankah kita mau liburan ke Bali untuk melakukan itu?" imbuhnya berisik bagi telinga Dewa.
"Sstt... jangan banyak tanya sayang," jawab Dewa lelah sembari melaksanakan ritual penyatuan pelan.
.
.
Pagi harinya.
Dimana Mega sudah bangun terlebih dahulu dan menyiapkan Rania yang akan berangkat ke sekolah.
Sedangkan Dewa terduduk di atas ranjang nya. Termenung dan memutar kilasan cerita semalam yang terjadi dengan Sheila. Hingga dia bisa merasakan jika kepalanya sakit dan sedikit berkurang pandangan nya setelah meminum teh hangat dari Sheila.
Apa jangan-jangan?
batin Dewa.
Ceklek
Mega membuka pintu kamar, melihat suaminya mematung melamun. "Kamu kenapa?"
"Eh, nggak apa-apa kok sayang." Dewa yang kemudian bangkit untuk menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke hotel dan membahas kejadian semalam dengan Sheila.
Setelah Dewa selesai berpakaian kerja, dia turun ke bawah dan melihat pemandangan Satrio sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana kain melipis nya. "Wao ... kamu kerja?" tanya Dewa kepada Satrio.
__ADS_1
"Iya kak, aku akan meninjau proyek pembangunan hotel langsung."
Dewa langsung terbatuk-batuk mendengarnya. "Kamu bangun hotel juga?"
"Iya, kenapa?"
"Oh, enggak, enggak apa-apa sih."
"Kakak tenang aja, Hotel Mediterania milik kakak kan mengusung tema nuansa alam dan seperti kebanyakan hotel di Bali. Hotel ku bertaraf internasional dan mengusung tema modern minimalis dari keseluruhan nya. Jadi setiap pengunjung pasti punya selera. Tidak masalah kan?"
"Ya ... ya, kamu benar. Tidak masalah. Tante kita juga punya hotel Semenanjung kan. Kamu berhak kok memilih usaha apapun." Dewa yang kemudian pamit dan minta maaf karena dia harus buru-buru dan tidak bisa mengantar Mega dan Rania ke sekolah play group nya.
"Yah papa..." Rania yang cemberut setelah mendengar jika papa nya tidak bisa mengantarnya ke sekolah.
"Maafkan papa ya sayang. Papa ada urusan dengan arsitek papa dan kebetulan sekali harus sepagi ini." Dewa yang mengelus pipi kanan putrinya. "Udah dong jangan cemberut," imbuhnya yang kemudian mencium kedua pipi putrinya sembari membisikkan jika Rania akan punya adik.
"Hah? Yang benel pa? Lania mau punya adik?" tanya Rania dengan sangat antusias.
Dewa mengangguk senyum. Namun tidak pada Mega yang tercengang dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Karena membuat sepasang mata semua yang ada di meja makan tertuju kepadanya.
"Kamu hamil Mega?" tanya ibu Rahma kemudian.
"Enggak ma," jawab Mega malu yang kemudian mencubit lengan suaminya yang membuat Dewa meringis.
"Itu kata suami kamu, katanya Rania mau punya adik?"
"Iya hati-hati," jawab ibu Rahma.
"Iya."
Dewa dengan cepat melajukan mobilnya menuju hotel Mediterania. Dimana dia sudah menyuruh Sheila untuk datang lebih awal dan membahas perkara semalam.
Berbeda dengan Mega dan Rania yang selesai sarapan masih menunggu taksi online yang baru saja dia pesan.
"Masih lama nggak taksi nya?" tanya Satrio kepada Mega.
"Ini masih menunggu," jawab Mega sembari terus mengecek taksi online yang dipesan nya.
"Batalin aja, kita berangkat sama-sama."
"Nggak usah Sat," jawab cepat Mega yang tidak ingin satu mobil dengan Satrio.
"Nggak apa-apa ma, nanti apu tellambat," ujar Rania sembari menarik pergelangan tangan mama nya supaya Mega mau naik satu mobil dengan Satrio.
"Nggak apa-apa sayang, kita tunggu taksi nya sebentar ya," bujuk Mega ke putrinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Rania bisa terlambat nanti. Alergi? Satu mobil dengan aku?"
"Ayo ma..." sahut Rania yang tidak berhenti menarik-narik pergelangan tangan mama nya sedari tadi.
Satrio dan Mega saling bertukar tatap. "Iya sayang."
Satrio masih saja lembut sikapnya. Dengan membukakan pintu untuk wanita yang masih tetap tidak bisa dia hilangkan begitu saja dari benaknya. Segala tindak tanduknya tidak ada yang berubah meskipun dia mencoba keras membenci Mega dengan semua hal menyakitkan yang mereka berdua lakukan secara berkala.
Satrio kemudian melajukan mobilnya menuju sekolah play group Rania.
Untuk lima sampai sepuluh menit tidak ada suara yang keluar dari mulut Satrio dan Mega.
Hanya suara musik dengan lagu berjudul Separuh Jiwaku Pergi yang dipopulerkan oleh penyanyi kawakan Anang Hermansyah mantan suami dari diva tanah air yang memenuhi sudut mobil.
Separuh jiwa ku
Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka
Kau main hati
dengan sadar mu
Kau tinggal aku
Benar ku mencintai mu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Hingga lagu itu selesai Satrio putar, barulah satu pertanyaan yang membuat penasaran Satrio lolos dari mulutnya, mungkin juga membutuhkan jawaban langsung dari mulut Mega sendiri. "Kamu hamil lagi?"
Mega cukup canggung mendengar pertanyaan mantan kekasihnya itu. "Bukan kah tadi Dewa bilang itu hanya bercanda," jawab nya.
"Oh, jadi itu benar. Aku pikir memang kamu tengah hamil lagi?"
"Misal iya kenapa?"
Satrio menatap Mega sesaat. "Ya, nggak apa-apa," jawabnya ya g kemudian fokus dengan menyetirnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG