Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Satrio & Dewi


__ADS_3

"Waw... ini sih amazing. Apa namanya?" tanya Dewi yang diajak Satrio ke telaga biru.


"Telaga biru."


"Iya, telaga biru ini sejuk banget. Anginnya sejak tadi berhembus pelan namun dinginnya sampai ke bagian terdalam tulang."


Satrio yang meraih sepuluh jari Dewi. Tanpa ada kata permintaan Will you marry me. Karena Satrio tahu betul perasaan Dewi sejak dulu yang mencintainya, namun keberadaan Mega yang sejak dulu tersimpan di hatinya. Membuat Dewi tersisihkan dan dirinya abai akan cinta Dewi kepada nya. Namun sekarang, bertolak belakang dan hatinya menginginkan Dewi menetap untuk tetap tinggal dengan waktu yang lama mengarungi bahtera rumah tangga.


Cincin cantik itu dia sematkan di jari manis milik Dewi.


Melihat perlakuan manis yang tidak pernah di dapatnya dari sosok laki-laki yang diidamkan sejak lama. Membuat Dewi benar-benar seperti seorang sang Dewi yang pada akhirnya benar-benar mendapatkan pangeran pujaan nya. Perasaan terharu dari Dewi, hingga tak kuasa pelupuk matanya mengeluarkan buliran jernih barang setetes dua tetes karena bahagia dan tidak sangka Satrio melakukan hal manis yang kini dia rasakan dalam sampai menyentuh bagian dasar relung hatinya.


Dewi langsung memeluk Satrio. Pria itu merengkuh dan cukup sedih sekaligus sakit. Karena jujur, entah bisa di artikan pelampiasan atau bukan. Setidak nya dia akan coba mencintai Dewi karena tidak mungkin dia akan bersatu kembali dengan Mega.


Dengan menikahi Dewi, itulah puncak dari akhirnya melepas komitmen antara dia dan Mega. Dan itu sangat sakit.


"Aku tidak menyangka, jika akhirnya kamu memilih ku untuk menjadi pendamping hidup mu," lirih Dewi yang belum usai juga melepaskan pelukan nya kepada pangeran idaman nya.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Satrio. Karena dia sendiri juga cukup sedih, pelupuk matanya mengeluarkan sedikit buliran jernih. Penggalan peristiwa kedatangan nya pertama kali dari Inggris dan menemui Mega menyeruak menyiksa ingatan nya. Tidak bisa dia putus paksa. Yang ada dia resapi rasa sakit itu dengan memeluk dan menikahi wanita yang mungkin bisa menjadi penyembuh rasa sakit hatinya. Dewi siap untuk itu. Karena Dewi secara garis besar tahu ceritanya. Dirinya yang tersakiti oleh Mega. Namun Satrio belum memberi tahu pada Dewi jika Mega adalah orang yang selama ini tidak tergantikan. Istri dari kakaknya, Dewi juga belum tahu itu.


Dari kejauhan, Mega menyaksikan Dewi dan Satrio. Tidak tahu ada apa dengan nya. Mega berlari dengan terisak tangis menyaksikan Satrio memeluk wanita yang akan dinikahi nya.


Mega yang menyembunyikan diri di toilet restoran pinggir telaga. Membasuh jejak basah pada wajahnya. Buliran jernih terus mengalir deras tanpa tahu apa sebabnya. Yang awalnya hanya karena ucapan Satrio tadi pagi, mengapa rasanya sudah tidak sama lagi. Rasanya berubah seperti masih ada kata tidak rela, namun terdengar egois jika tidak membiarkan Satrio bahagia bersama wanita pilihan nya.

__ADS_1


"Apa-apa an ini?" gumam pelan Mega merutuki apa yang dia lakukan. Mengapa dia harus menangis menyaksikan cinta Satrio berpindah tempat ke wanita lain. Padahal jelas, dia dan Dewa sudah meremukkan hati Satrio sedemikian rupa. "Apa yang kamu lakukan Mega?" tanya nya pada diri sendiri, menerjemahkan dirinya saat itu.


Mega mendengus kasar. Membuka pintu toilet dan tercengang karena Satrio berjalan menuju toilet. Mega masuk kembali ke toilet dan menutup cepat pintunya hingga terdengar bagai terbanting.


Membuat Satrio berhenti di depan pintu yang terbanting keras saat menutup. Terlihat sekali jika baju yang dikenakan wanita di dalam toilet tersebut terjepit oleh pintu toilet.


Itu menandakan jika wanita itu hanya di dalam tanpa bergerak. Satrio kemudian ingat betul motif baju yang terjepit itu. Dia mengingat keras, satu jawaban ada di kepalanya. "Kenapa seperti baju yang dikenakan Mega tadi pagi?" gumam nya pelan bahkan Satrio menyentuh kain baju tersebut yang sebagian terjepit pintu.


Satrio dengan sengaja pergi dari toilet tersebut dan mengintip siapa yang berada di dalam toilet tersebut. Dan benar saja, sekitar lima menit, wanita itu keluar dari toilet dengan celingukan. Satrio dengan sangat jelas melihat, jika ternyata Mega lah yang keluar dari toilet tersebut. "Mega..." lirihnya.


Mega dengan cepat sudah berlari keluar restoran. Satrio tidak mungkin mengejarnya.


Ya, Mega sengaja ke telaga biru karena ingin meluapkan rasa sedihnya karena ucapan Satrio tadi pagi. Namun baru keluar dari taksi online, sepasang matanya melihat jelas, mantan kekasihnya dan calon istri nya tengah berpelukan mesra di tempat biasa dimana dulu dia dan dirinya sering menghabiskan waktu bersama.


Ya, dulu.


Saat mereka masih bersama.


Saat belum kenal Dewa, yang sekarang menjadi suaminya. Dan belum ada Rania apalagi kehadiran wanita yang kini akan menjadi istri Satrio dan satu rumah dengan nya nanti.


Ya, mertuanya tidak akan membolehkan putra nya tinggal di luar rumah. Itu karena mertuanya tidak ingin rumahnya sepi. Dan ingin selalu dekat dengan cucu-cucunya nanti.


"Apa-apa an sih Mega?" kata-kata yang selalu dia ulang, saat air matanya deras mengalir membanjiri wajahnya.

__ADS_1


Membuat supir taksi online sesekali melihati Mega dari kaca spion yang tergantung di atas dashboard. Tisu di bawah kaki Mega sudah menggunung dan itu tidak luput dari pantauan sang supir taksi online.


Berbeda dengan Satrio dan Dewi. Kembalinya Satrio dari toilet. Satrio sesekali melamun memikirkan Mega yang aneh menurutnya. Kedatangan nya ke telaga biru yang mengapa.


"Sat.."


"Hem..."


"Aku masih berasa ini mimpi," ungkap Dewi yang masih belum pulih dari apa yang diputuskan Satrio.


"Sayang nya ini nggak mimpi Han."


"Han?" tanya heran Dewi.


"Honey..." Satrio yang membelai berulang pipi Dewi dengan ibu jarinya.


Membuat Dewi tersipu malu, karena ini adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Pipi nya merona, karena ternyata Satrio tidak sedingin dulu. Dia benar-benar merasakan perubahan sifat yang berbanding terbalik dari Satrio yang dia kenal di Stanford. Satrio yang kini di depannya adalah pria yang hangat dan menawarkan impian hidup bahagia pada nya.


Dewi tidak berhenti untuk tersenyum haru. Bibirnya masih tidak akan dia kunci, karena sejak tadi Satrio memperlakukan nya manis dan mengajaknya menjelajah terbang ke angkasa bahkan menembus cakrawala.


Inilah kiasan tepat untuknya akan ada pelangi setelah hujan. Dimana lima tahun hanya bisa bertahan pada rasa sebatas suka dan penolakan dari sosok pria di depannya, Karena adanya sosok wanita yang bertahta dan menunggu kedatangan nya untuk pulang ke Indonesia. Namun sekarang, semua seakan sirna dan kebahagiaan berpihak padanya, rasa itu berubah dapat memiliki nya, dapat menyentuhnya dan sebentar lagi, akan menjadi seutuhnya dan halal baginya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2