
Dewa kemudian menebus resep tersebut dan memberikan nya kepada Sheila. "Buruan kamu minum!" Dewa yang memberikan air mineral dalam botol dan obat yang baru saja dia tebus di apotik.
Sheila masih diam dan akan sangat dia sayangkan rencananya yang dalam hitungan menit akan berakhir gagal. Padahal dia sangat yakin jika benih Dewa berproses di rahimnya. "Bukankah katanya perut ku akan sakit? Biar aku minum di rumah saja."
"Enggak!" tegas Dewa. "Maaf Sheila, bukan aku tidak percaya kepada kamu. Tapi aku masih sangat yakin, jika kamu memberikan sesuatu di minuman hangat ku kemarin malam. Sehingga terjadi lah... Sudah lah, percuma di bahas lagi. Sekarang kamu minum."
Tangan Sheila gemetar saat meraih obat dan air mineral dari Dewa. Kepalanya berpikir keras mencari cara supaya dia gagal minum obat yang diberikan kepadanya. Namun cara tersebut tak jua dia temukan. Dan mau tidak mau, dia harus meminum obat itu.
"Tunggu apa lagi Sheila?" Lagi-lagi Dewa berjuang keras supaya wanita yang duduk di kursi penumpang sebelahnya ini tidak mengandung anaknya kelak.
Runyam.
Berantakan.
Sheila tidak bisa menolak lagi. Dia akhirnya memasukkan obat tersebut ke dalam mulutnya. Ingin tidak menelan nya.
Mustahil.
Dewa begitu sangat memperhatikan nya. Tidak ada kesempatan sekedar ingin berpura-pura meminumnya dan membuang obat tersebut. Karena jika Dewa mengetahui rencana kotor nya.Yang ada Dewa akan membencinya dan memutus komunikasi dengan nya. Kemarahan nya akan bertambah menjadi murka yang tidak bisa dia kendalikan lagi. Dan akan semakin sulit dia mendapatkan pria yang dia cintai dalam diam itu.
"Aku antar kamu pulang dan kamu tidak perlu bekerja hari ini."
"Aku tidak di pecat kan?" tanya nya ragu dan takut. Karena jika dirinya di pecat, tidak ada alasan lagi untuk sekedar menatap pria yang dicintainya dalam diam itu dari kejauhan.
"Kamu boleh bekerja di hotel. Tapi ingat, kamu harus rahasiakan semuanya dari Mega, istri saya."
Sheila hanya mengangguk.
Dewa kemudian mengantar Sheila untuk pulang hari ini. Dan benar saja, mobil Dewa sudah menjauh pergi dari rumahnya. Perut Sheila sakitnya luar biasa. Dia sampai meringis menahan rasa sakit pada perut nya. Teringat dokter Farhan mengatakan jika hal ini adalah reaksi dari obat yang diresepkan tadi. Jadi dia hanya bisa menahan rasa sakit itu dengan menangisi kegagalan dari rencana matangnya.
"Arrrgh..." teriak Sheila marah dan terisak tangis sembari memegangi perutnya.
Beberapa jam sakit pada perutnya tidak kunjung reda yang akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Dewa.
Dewa yang hampir sampai rumah cukup geram dengan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dia kemudian memutar roda empatnya untuk menuju ke rumah Sheila.
Namun sesaat dia tersadar, jika tadi dia janji kepada Rania dan Mega untuk mengajak mereka jalan-jalan sebagai ganti tadi pagi tidak bisa mengantar putri nya ke sekolah.
Dewa kemudian telepon Farhan. Dokter yang memebri saran meminum obat tersebut.
"Dewa, jangan gila kamu. Saya sedang banyak pasien." sentaknya marah kepada teman yang sudah dia hafal betul sifatnya itu.
"Please Han, siapa lagi yang mau menolong aku? Akan aku bayar sepuluh kali lipat berikut saya ganti uang pasien-pasien yang sedang antri di sana. Sepuluh kali lipat. Kalau perlu saya naik kan lagi dua puluh kali lipat."
Namun bukan nya menyetujui, dokter Farhan hanya geleng-geleng kepala dan menahan emosi nya. "Aku tidak butuh uang mu Dewa."
"Berarti kamu mau datang? Kalau begitu sebentar lagi akan aku kirim alamat nya ke kamu."
"Dewa!"
Tut... Tut... Tut...
Suara ponsel Dewa yang sudah dimatikan.
Sementara dokter Farhan hanya bisa berteriak dalam hati dan meremas ponsel nya kuat-kuat. "Dewa..." geramnya.
Tidak ada pilihan, papa Dewa adalah pemilik dari tempat praktek nya sekarang. Mau tidak mau, dia harus berangkat ke rumah Sheila dan melakoni segala titah baginda raja Dewa.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di rumah Sheila.
"Dokter Farhan?"
"Bagaimana keadaan kamu Sheila?"
"Perutku masih sakit. Em, dokter Farhan sendirian?"
"Menurut mu? Kamu mencari orang sinting seperti Dewa? Jangan harap! Dia super bucin dan sangat mencintai keluarga kecilnya. Apa kita akan berdiri terus diambang pintu?"
"Eh, iya silahkan masuk dok." Sheila yang kemudian memepersilahkan dokter Farhan masuk. Namun karena perut Sheila sakit, dokter Farhan membantu Sheila menuntun nya untuk merebahkan tubuhnya di kamarnya.
"Saya akan beri suntikan antibiotik untuk kamu. Dan setelah itu, kamu baru akan bisa istirahat dan tidak merasakan nlnyeri hebat seperti ini lagi."
"Terimakasih dok."
"Ngomong-ngomong, kamu kenal pria seperti Dewa dimana?" tanya dokter Farhan.
"Em, Dewa adalah teman kuliah ku."
"Oh ya? Berarti kita satu kampus? Tapi kenapa aku tidak pernah lihat kamu di kampus waktu dulu?"
"Lebih tepatnya, aku teman nya Arumi, kekasih dewa saat itu. Itu pun aku tidak selalu bersama dengan Arumi. Karena Arumi banyak menghabiskan waktunya dengan Dewa."
"Jadi kamu mengikuti perjalanan cinta mereka?"
Sheila tersenyum mengangguk.
"Iya Dok."
"Panggil saya Farhan saja. Bukan kah kita seumuran?"
Sheila tersenyum malu.
"Ya udah Sheila, kalau begitu kamu istirahat dan aku harus kembali memeriksa pasien ku."
"Terimakasih dok, eh Farhan," ucap Sheila canggung.
Dokter Farhan tersenyum dan berlalu dari hadapan Sheila.
Sedangkan di lain tempat.
Dewa sudah siap-siap untuk mengajak putri dan istrinya jalan-jalan malam santai keliling mall untuk menyenangkan Rania.
"Sudah siap semua?" tanya Dewa yang melihat dua bidadarinya tampil cantik.
"Sudah dong papa," jawab Rania dengan senyum bahagia tentunya.
"Okay... kalau begitu Let's go..." ujar Dewa dengan sangat semangat nya.
"Yeay... Hole..." Rania yang lompat-lompat kecil dengan kedua tangan yang dia berdirikan. Ketiganya kemudian menuruni anak tangga.
"Kalian mau kemana?" tanya ibu Rahma.
__ADS_1
"Rania minta jalan-jalan ma," jawab Dewa kepada mamanya.
"Wah... seru dong nanti jalan-jalan nya. Oma boleh ikut nggak sih?" Ibu Rahma yang menggoda cucu perempuan nya.
"Boleh dong Oma," jawab gemas dari Rania. "Boleh kan pa?" imbuhnya yang melihati papa nya.
"Oma bercanda sayang, ya udah... met happy-happy ya," ucap ibu Rahma mengelus gemas pipi kanan cucu nya.
"Dada Oma..."
"Dada... hati-hati ya."
Tidak lama Satrio masuk ke dalam rumah dan berpapasan kepada mereka. Namun Satrio terlihat sangat sibuk dengan menempelkan benda pipih persegi panjang di telinga nya sembari berjalan menuju ke kamar nya.
Dewa yang ingin menyapa adik nya, urung karena melihat jika Satrio sibuk melakukan panggilan lewat sambungan seluler nya.
"Tadi kita di antal om Catlio lho pa," ucap Rania.
"Oh ya?"
"Hem," jawabnya diikuti manggut-manggut.
Dewa langsung melirik ke arah Mega. Bernafas entah apa yang dirasakan nya. Ingin cemburu saja rasanya tidak mampu.
Ketiganya kemudian pergi meninggalkan rumah dan menuju Mall terbesar di kota itu. Di sepanjang perjalanan pun, Dewa tidak membahas terkait apa yang dikatakan oleh putrinya.
Dapat dirasakan oleh Dewa, jika adiknya memang sulit move on dari wanita yang kini menjadi istrinya.
Apalagi?
Kalau bukan itu alasan nya.
Buktinya, baru saja pagi ini dia tidak bisa mengantar Rania dan Mega ke sekolah putrinya. Nyatanya, Satrio simpati dan tidak tega.
"Kita makan malam dulu aja ya sayang, baru kita main di play ground."
"Iya papa."
"Rania mau makan apa?"
"Sushi pa," jawabnya cepat.
"Okay, kalau begitu kita ke restoran Jepang."
Namun entah mengapa, Sheila menghubungi Dewa. Sedangkan ponselnya lupa dan dia letakkan begitu saja di atas meja restoran.
Dert ... dert
Ponsel Dewa bergetar, Mega bahkan sangat jelas membaca jika nama Sheila lah yang melakukan panggilan di ponsel suaminya.
Dewa memilih mematikan ponsel nya. Karena jujur, dia cukup kesal dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan Sheila. Lama-lama, Sheila bahkan berani menghubungi nya tidak tahu waktu, bahkan benar kata istrinya. Alangkah lebih baiknya, untuk dia tidak ikut campur lagi urusan Sheila dan Gaston atau apapun itu perihal Sheila.
"Kenapa dimatikan?" tanya Mega heran.
"Enggak penting." Dewa yang memasukkan sushi ke dalam mulutnya dengan raut wajah kesal dan Mega tahu itu.
"Ada masalah apa? Biasanya kamu peduli sama dia."
__ADS_1
"Sayang... Please! Jangan mulai deh. Aku ingin menikmati malam ini dengan kalian tanpa gangguan."
BERSAMBUNG