
Keesokan harinya.
Sheila dengan sengaja menemui Gaston, dimana dia berusaha untuk membujuk Gaston tidak mengganggu Dewa.
"Asal kamu menikah dengan ku , sayang... hahaha..." seringai licik dan tawa terbahak-bahak dari mulut Gaston. Dimana dia membelai pipi mulus Sheila dan wajahnya tepat berada di depan wajah Sheila.
"Aku mohon, carilah wanita lain yang lebih dari saya. Kamu pasti bisa dapatkan itu Gaston."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak mau menikah dengan ku? Aku maunya kamu sayang..." belai Gaston lagi pada pipi bagian kiri Sheila, yang membuat wanita itu memejam kan mata saking tidak ada pilihan nya.
Sheila hanya diam. Batinnya memaki itu laki-laki yang tidak sadar diri. Bagaimana bisa? Jangan kan menjadi istri, jelas Sheila tidak sudi. Beberapa bulan terakhir saja, perkara hutang ayahnya, dia sudah diperlakukan kasar layaknya binatang dengan Gaston. Bagaimana terpikirkan untuk menikah dengan nya.
Cih.
Tidak akan.
"Apa kamu menyukai pria itu?" tanya Gaston.
"Tidak, tidak. Kamu salah besar. Dewa hanya teman kuliah ku dulu. Tolong, kamu jangan ganggu lagi dia. Aku mohon," pinta Sheila dengan merapatkan kedua telapak tangannya. Meminta Gaston untuk tidak mengulangi perbuatan nya semalam kepada Dewa.
"Maafkan aku Sheila. Tidak semudah itu. Dia harus menanggung apa yang dilakukan nya karena telah ikut campur urusan ku. Melunasi hutang-hutang ayahmu yang padahal itu akan aku jadikan senjata mendapatkan kamu, tidak semudah itu." Gaston yang kemudian pergi dengan menginstruksi dua teman begajulan nya dengan jari yang dia bunyikan ke udara sembari memberi titah, cabut.
Sementara Sheila, dia hanya bisa pasrah, melihati punggung laki-laki bajingan itu pergi dari hadapan nya.
Sheila kemudian memutuskan untuk menemui Dewa di rumah sakit. Dimana dia akan bercerita tentang Gaston yang mungkin akan menyerangnya kembali.
.
.
Sesampainya Sheila berkunjung ke rumah sakit dan menemukan kamar Dewa setelah bertanya kepada petugas pelayanan.
"Permisi..." Sheila yang membuka pintu ruang rawat Dewa yang tidak ada siapa-siapa.
Satrio dan mama nya pulang, karena hari sudah petang.
Sedangkan Mega sedang berada di luar ruangan karena sedang membeli sesuatu di minimarket.
Langkah kaki Sheila perlahan masuk, menatap dalam wajah Dewa, pria yang sejak dulu ketika di kampus adalah pria yang dicintainya, namun sayang Dewa lebih memilih dengan Arumi.
Namun setelah tahu jika Dewa tidak lah menikah dengan Arumi, Sheila merasa senang dalam hati. Meskipun cinta dalam diamnya selama ini pun, harus kandas lagi karena Dewa sudah memiliki istri dan anak.
__ADS_1
"Demi aku, kamu rela seperti ini Dewa," lirih Sheila merasa jika Dewa secara tidak langsung telah mengorbankan dirinya sendiri demi dia. "Apapun alasannya, minimal kamu tidak acuh dan bahkan lebih peduli dari yang aku duga," imbuh Sheila memandangi lekat-lekat wajah Dewa.
Sheila lebih mendekatkan dirinya. Menatap Dewa semakin dekat dan ingin membelai wajah pria itu mumpung Dewa terlelap tidur. Jemarinya hampir terulur namun dia urungkan karena takut Dewa akan terbangun.
Dewa.
Sudah lama aku menyembunyikan rasa cinta ini baik-baik dalam diam.
Sekalipun Arumi adalah teman dekat ku, dia tidak tahu jika aku menyukai mu bahkan lebih dari itu.
Meskipun kamu pergi ke Melbourne bersama Arumi, melanjutkan studi.
Aku tetap menunggu mu Dewa.
Sampai sekarang aku masih mencintaimu dalam diam.
batin Sheila.
Tidak lama setelahnya, Mega membuka pintu. "Sheila," lirihnya Mega yang kemudian mendekat.
"Mega."
"Ngapain kamu kesini?"
Mega tidak bisa menjawab apa-apa selain diam dan mengambil nafas geram.
"Sheila." Dewa terbangun dari tidurnya.
"Dewa, bagaimana keadaan kamu?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Aku minta maaf Dewa, semua ini salah saya. Itu karena kamu telah membantu melunasi hutang-hutang ayah saya. Makanya, Gaston tidak suka dan melakukan ini semua. Aku minta maaf," ucap Sheila setelah tertunduk.
"Nggak apa-apa Sheila. Lagi pula, ini bukan salah kamu kok."
"Bukan salah Sheila? Lalu salah siapa?" tanya Mega heran sekaligus sebal dengan suaminya. Tatapan Mega kepada Dewa pun tidak nyaman karena masih saja membela Sheila.
Dewa hanya diam, karena dia tidak ingin Mega semakin geram.
"Mega, Dewa, saya permisi ya. Semoga kamu cepat sembuh Dewa. Sekali lagi saya mohon maaf."
__ADS_1
"Terimakasih Sheila," jawab Dewa yang membuat mata Mega tidak berhenti menatap keduanya dengan tatapan tidak nyaman nya.
Mega kemudian melangkah menuju pintu keluar. Namun belum sampai dia menutup pintu ruang rawat Dewa, sepasang matanya terluka menyaksikan Dewa menarik lengan istrinya lalu dia berikan kecupan singkat karena Dewa sadar jika Mega tidak begitu suka dengan kedatangan Sheila.
Semakin tidak kuat untuk menahan lebih lama lagi, Sheila kemudian menghubungi salah satu teman nya untuk mengirim sebuah video ke nomor ponsel Dewa dimana video tersebut berisi rekaman nya dengan Gaston terkait pertemuan mereka.
Ting
Bunyi suara ponsel Dewa dimana satu pesan singgah dengan deretan nomor yang tidak dia kenal.
Dewa tercengang setelah membuka pesan tersebut. Dia masih tidak percaya mengapa Gaston masih saja memaksa Sheila yang jelas-jelas tidak mau dengan nya.
"Siapa?" tanya Mega.
Dewa memperlihatkan rekaman video tersebut kepada Mega. Mega juga cukup kaget dengan kiriman video tersebut.
"Itulah mengapa aku menolong Sheila, kasihan aja sama dia, bajingan seperti Gaston itu tidak pantas mendapatkan Sheila," ucap Dewa yang membuat telinga Mega tidak ingin mendengarnya.
"Kenapa kamu begitu sangat perduli padanya? Apa kamu tidak jera? Wajah kamu babak belur dan tulang kamu untung tidak patah-patah digebukin teman-temannya Gaston."
"Sheila itu hanya teman aku. Kebetulan aku kenal, why not aku menolong dia?"
"Hanya itu?"
"Please sayang, bukan waktunya kamu cemburu dengan Sheila, bukan kah kita mau liburan ke Bali dan mencetak adik buat Rania?"
"Tapi aku nggak suka kamu terlalu ikut campur urusan Sheila dengan Gaston. Karena semenjak kamu mengenal perempuan itu. Semenjak itu pula kamu mengenal Gaston dan antek-antek tidak berperikemanusiaan nya." Mega yang benar-benar jengkel dengan Dewa yang tidak mendengar nasehat nya.
"Kamu tenang aja ya," ucap Dewa santai padahal wajahnya sudah banyak lebam keunguan akibat berbagai pukulan yang dilayangkan oleh Gaston.
Mega memilih diam. Melipat tangan di dada dengan kasar karena saking tidak tahunya harus berkata seperti apa supaya suaminya menjauhi makhluk hidup bernama Sheila yang kini menjadi resepsionis baru di hotelnya.
Berbeda di lain tempat.
"Bagaimana? Apa semua sudah beres?" tanya Sheila kepada teman nya.
"Sudah bos. Apa sih rencana kamu?" jawab teman Sheila dari panggilan telepon yang dilakukan mereka.
"Sudah diam aja, kamu tidak perlu tahu. By the way thanks ya."
"Okay deh." Teman Sheila yang menutup percakapan keduanya. "Buat apa sih dia menyuruh ini semua?" gumam teman Sheila pelan.
__ADS_1
BERSAMBUNG