Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Dewi sakit


__ADS_3

"Pa, mama jadi bingung. Waktu mama tanya apa Satrio masih cinta Mega. Satrio main pergi saja dan enggan menjawabnya. Apa memang Satrio masih cinta sama Mega? Sampai-sampai menunda semuanya. Bahkan rela tidak menikahi Dewi. Mama merinding deh pa." Ibu Rahma takut-takut membicarakannya kepada pak Hendarto saat mereka tengah bersiap untuk istirahat.


"Apa an sih ma? Jangan ngarang. Satrio menginginkan semuanya merasakan kebahagiaan atas pernikahannya dengan Dewi tak terkecuali Mega. Itu artinya, papa bisa simpulkan. Jika keduanya sudah benar-benar melepas komitmen. Di sini masalahnya ada pada pak David. Hanya kurang sabar."


"Papa ini gimana sih. Mama aja banyak pesan masuk yang sudah diumumkan oleh saudara-saudara kita. Semuanya bertanya ada apa pernikahan Satrio di tunda. Ya wajar aja, pak David malu kalau pernikahan putrinya di tunda."


"Kan hanya di tunda ma, beda lagi kalau batal."


"Sama aja pa. Hari yang sudah ditentukan gagal total. Meraka tidak jadi menikah ... hari itu."


"Tapi, Mereka akan menikah di hari lain. Papa yakin itu. Baru saja Dewa memberi kabar jika pernah ada pasien yang kondisinya hampir sama dengan Mega, belasan hari baru terbangun dari koma nya."


"Benarkah?"


"Iya, mudah-mudahan saja Mega begitu. Tidak lama lagi dia terbangun dari koma nya. Jadi Satrio tidak akan berpisah dengan Dewi."


"Kalau mama sudah jatuh hati sejak pertama bertemu dengan Dewi. Tapi mau bagaimana lagi jika keputusan Satrio seperti itu. Satrio keras kepala. Papa saja nggak bisa menggoyahkan pendirian nya. Apalagi mama."


"Iya, kita berdoa saja ma."


"Iya pa."


Sedangkan di kamar Rania. Satrio tengah membacakan cerita untuk keponakan nya itu. Baru dua hari ini dia dekat dengan anak dari mantan kekasihnya. Sebelumnya, Satrio acuh bahkan kesal dengan Rania. Karena Rania lah jembatan Mega dan Dewa bersama. Hadirnya Rania lah yang membuat Mega tidak ingin meninggalkan Dewa dan kembali pada nya.


Namun hatinya luluh, mendengar tangis Rania memanggil Mega dan menangis di sisi tempat tidur Mega di rumah sakit tadi. Rania memang patut di sayangi. Menyesal, karena pernah benci dan abai terhadap bocah manis tidak berdosa ini.


Satrio kemudian melanjutkan membaca ceritanya, hingga membuat keponakan nya sedikit terhibur dengan perhatian kecil yang dilakukan nya.


"Om Catlio, Lania mau telepon papa. Lania mau tanya sama papa apa mama sudah bangun? Boleh ya om."


Lagi-lagi Satrio bernafas berat. Dadanya terasa sesak mendengar rengekan Rania yang selalu mempertanyakan Mega. "Iya, sekarang kita video call papa ya.". Satrio yang kemudian meletakkan ponsel di depan nya. Melakukan panggilan video kepada Dewa.


"Hallo papa..." Rania yang melambaikan tangan nya pada layar ponsel dimana terlihat sosok papa nya yang tengah duduk di samping mama nya yang masih belum bangun juga.


"Hallo sayang..." jawab Dewa dari seberang. "Anak papa sudah makan?"


"Sudah papa?"


"Sayangnya papa sedang apa?"


"Sedang dibacakan celita sama om Catlio pa."


"Jangan nyusahin om Catlio ya sayang."


"Siap papa. Papa, mama belum bangun ya pa?" tanya Rania yang lagi-lagi membuat bibirnya beku.


"Iya sayang, mama masih tidur. Kasihan mama kalau dibangunin. Rania tidur ya, sudah malam sayang," pinta Dewa supaya Rania tidak banyak tanya terkait mama nya.


"Iya papa. Besok Lania pelgi ke lumah sakit lagi ya, sama om Catlio."

__ADS_1


"Iya sayang. Good night sayangnya papa."


"Good night pa," jawab keduanya dengan berbalas lambaian tangan lewat layar ponsel masing-masing.


Satrio kemudian menutup panggilan nya. Dimana wajah Dewi terlintas saat dia tidak sengaja menatap foto Dewi yang dia jadikan wallpaper di layar ponselnya.


Begitu juga dengan Dewi. Tengah memegang ponselnya dan ingin menelpon Satrio. Namun lagi-lagi urung, berharap Satrio yang menghubungi nya malam itu dan meralat kata tunda yang sempat keluar dari mulutnya.


Di tempat berbeda, mereka saling rindu. Sama-sama keduanya ingin bicara tanpa ada kata keegoisan di dalam nya. Memutuskan bagaimana baiknya tanpa melukai perasaan keduanya. Namun apa yang dilakukan Satrio malah sebaliknya.


"Rania sekarang bobok ya." Satrio yang menyudahi menatap foto Dewi di wallpaper layar ponsel nya.


Rania mengangguk.


Setelah mata Rania terpejam saat Satrio menina bobokkan keponakan nya. Satrio kembali ke kamar nya. Menatap langit yang penuh bintang berkilau malam itu dari jendela.


Sementara Dewi. Berulang kali mengetik kata Han... panggilannya ke pria itu yakni Honey. Namun berulang kali di hapus nya. Dan tidak jadi dikirimnya. Dewi benar-benar takut, karena dua puluh empat jam telah berlalu. Satrio tidak ada tanda-tanda memberatkan nya dan terkesan ringan melepas komitmen yang baru saja mereka buat sebelumnya.


Dewi terduduk di atas ranjang dengan tangis yang dia sembunyikan. Melipat kedua lutut dan deras air matanya meleleh.


.


.


Tiga puluh dua jam berlalu.


Tepat pukul 08.00 WIB.


"Dewi kamu sakit sayang," panik dari mama Giani setelah menempelkan telapak tangan nya pada dahi putri nya. Semua tubuh Dewi demam tinggi. "Sekarang kita ke rumah sakit ya sayang, kamu pucat," imbuhnya.


Mama Giani kemudian memanggil suaminya dan membawa Dewi ke rumah sakit. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Dewi mengingau memanggil lemah nama Satrio terus menerus.


"Satrio..." lirih Dewi berulang kali dengan satu nama yaitu nama pria yang tidak lepas dari pikirannya.


Mobil yang mereka tumpangi tidak lama sampai di area parkiran rumah sakit. Dimana mama Giani berinsiatif menghubungi Satrio supaya bisa menjenguk Dewi.


"Hallo Sat..." Mama Giani yang berkomunikasi via telepon seluler dengan Satrio.


"Iya ma."


"Dewi sakit Satrio. Apa kamu bisa terbang kesini? Mama tidak tega. Dia terus merintih memnaggil nama kamu."


"Dewi sakit apa ma?"


"Tubuhnya demam tinggi. Mama sudah bawa ke rumah sakit. Dia sekarang sedang di observasi. Jika memang masih demam tinggi, Dewi terpaksa di rawat."


"Iya ma, Satrio usahakan cari penerbangan pagi ini. Semoga saja ada dan nggak sampai menunggu sore hari."


"Terimakasih ya Sat."

__ADS_1


"Sama-sama ma." Satrio kemudian menutup panggilan komunikasinya dengan calon mertuanya. "Rania sama Oma ya ke rumah sakitnya?"


"Iya om."


"Ma, pa, Satrio pamit pergi ke kotanya Dewi."


"Jadi kamu akan bicara ke keluarga nya Dewi untuk tetap melangsungkan pernikahan?" tanya senang ibu Rahma.


"Satrio tidak bicara seperti itu ma. Satrio pamit ya. Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam. Hati-hati!" seru nya.


Satrio melajukan cepat mobilnya menuju Bandara.


.


.


Di rumah sakit dimana Dewi sedang di rawat.


Satrio yang sudah sampai dan tengah bertanya pada bagian pelayanan rumah sakit untuk ruang VVIP.


Staf rumah sakit kemudian menunjukkan arah kamar dimana pasien atas nama Dewi Kartika Sari tengah di rawat di ruang bougenvil, ruang VVIP.


Tok... tok


Ketukan Satrio pada pintu ruang rawat Dewi.


"Satrio..."


"Siang ma, pa." Satrio yang mencium punggung tangan keduanya. "Satrio ke Dewi dulu."


"Silahkan, mama sama papa keluar dulu ya. Jika kamu ada perlu, kamu hubungi mama aja."


"Iya ma."


Dewi yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


Satrio kemudian melangkah lebih dekat di sisi tempat tidur Dewi. "Kamu sakit apa?" tanya nya pelan dan sangat damai untuk di dengar. Gambaran hangat seketika tercipta dengan tidak disangka sebelumnya.


Bagaimana tidak? Satrio mengelus keningnya dan menatap bola matanya dengan penuh cinta.


"Sakit karena memikirkan kamu," jawabnya pelan dengan diikuti senyum yang tidak pernah terbayang. Dapat tercipta gurau tanpa dia rencanakan.


Satrio tersenyum.


"Han... dengan kamu datang menemui aku, apa itu berarti pernikahan kita akan tetap di gelar?" tanya nya ingin mendapat jawaban memuaskan.


Namun tangan kanan Satrio beralih. Dari dahi yang kemudian menggenggam jemari Dewi yang tak terpasang cairan infus.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2