Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Pernikahan Satrio & Dewi


__ADS_3

Tiga hari kemudian, bukan tanpa hambatan. Gaston sesekali mengusik dengan melakukan keonaran kecil di hotel Mediterania.


Kejadian-kejadian yang tidak pernah menenangkan itu selalu meresahkan Dewa. Hingga dimana rentetan acara akad nikah Dewi dan Satrio yang di gelar di kota nya Dewi tak luput dari serangan Gaston yang tidak menginginkan hidup Dewa tenang.


Akad nikah sempat tertunda, karena ada gangguan dimana bapak penghulu yang hendak menikahkan mereka dihadang oleh dua orang tidak di kenal.


"Ada apa ini?" tanya bapak penghulu yang keluar dari mobil.


"Jangan banyak tanya, ikut!" Pria tua yang hendak menikahkan Satrio dan Dewi dibawa oleh salah satu kawanan Gaston.


Pria itu hanya terus berucap ampun untuk tidak dilukai. Sadar betul, jika mereka adalah preman kota yang sangat bengis bisa menyayat dengan belati tajam tanpa berperasaan.


"Saya mau dibawa kemana?" tanya nya takut-takut.


Sayangnya, anak buah Gaston tidak cukup pintar untuk sekedar menyelesaikan tugas dari bos nya. Berulang kali melakukan kebodohan yang sama. Bagaimana bisa dua orang anak buah Gaston itu hanya membawa bapak penghulu. Sementara ada seorang supir di dalam mobil tersebut. Yang bisa menghubungi pemilik acara lebih tepatnya pak David.


Supir itu memberi tahu tuan nya. Dan betapa terkejutnya pak David setelah mendapati kabar jika dua orang mencegat mobil mereka dan membawa paksa bapak penghulu yang akan menuju ke masjid guna menikahkan Satrio dan Dewi.


Tidak berpikir jauh ke situ. Padahal pengamanan berlapis di masjid yang saat ini akan di adakan akad nikah dan hotel yang akan di gelar resepsi sudah sangat sulit jika anak buah ingin Gaston berusaha menembus nya. Namun justru tidak dipersiapkan untuk masalah penghulunya. Pak David benar-benar kecolongan.


Pak David berbisik dan menyuruh orang untuk membawa bapak penghulu lainnya kehadapan pasangan pengantin yang sudah siap.


Dewi bahkan terlihat tegang dan hampir pingsan. Mencium aroma tidak beres, mengapa ikrar janji ijab qabul tidak segera berlangsung. Dan membuat mereka semua menunggu lama.


"Ada apa pa?" tanya Dewi berbisik ke telinga papa nya.


"Kamu tenang saja. Kita tunggu sebentar lagi kedatangan bapak penghulu nya. Pihak MC juga tengah mengumumkan jika terjadi sedikit kendala dan memohon untuk semua para tamu undangan bersabar.


Satrio mulai menggenggam jemari Dewi yang terasa dingin dan mulai berkeringat. Menatap nya dengan tatapan yang mencoba menenangkan wanita itu, namun sayang, hati Dewi terlalu rapuh dan terdengarlah sengguk pelan yang menyuara.


Dewa yang sedari tadi mencari keberadaan istrinya. Namun belum juga menemukan Mega berada dimana. "Kenapa dia selalu begitu sih? Apa dia tidak tahu? Jika anak buah Gaston berkeliaran dan bisa menculiknya sewaktu-waktu." Dewa yang berdecak dan menyusuri setiap bagian masjid yang menurutnya akan sangat mudah mencari istrinya dimana. Ternyata sebaliknya, karena dia sudah berjalan ke setiap sudut, namun Mega tidak terlihat batang hidungnya. "Kamu kemana sih sayang?" Dewa yang tidak berhenti berjalan dan semakin cemas kepada istrinya.

__ADS_1


Sementara Mega tengah berada di dalam toilet wanita. Entah perasaan apa dan mengapa seakan Satrio tengah balas dendam kepadanya. Biar pun rasa cinta itu sudah tidak ada. Tapi kenangan bersama mendadak hadir dan cukup membuat air matanya jatuh. Maka dari itu Mega memilih pergi.


Tidak bisa dibantah. Keputusan melepas komitmen antara dirinya dan Satrio adalah karena dia yang terjebak, terperangkap oleh ikatan pernikahan nya dengan Dewa dan hadirnya Rania.


"Percayalah aku bahagia Sat," ucapnya sedih dengan lelehan air mata yang sejak tadi coba dia basuh dengan air keran. "Kamu berhak bahagia dengan Dewi," lirihnya terus meracau memantapkan kata ikhlas terus-menerus.


Mega yang sadar sudah lama dia meninggalkan Dewa. Dia akhirnya keluar dan sudah ada Dewa berdiri dan terlihat punggungnya. "Sayang, kamu kenapa berdiri di sini?"


Dewa bernafas lega. "Syukurlah kamu di toilet. Kamu tahu kan keadaan belum aman? Anak buah Gaston membawa penghulu Mega dan Satrio. Dan akad masih menunggu penghulu lainnya untuk dibawa oleh supir pak David dengan salah seorang anggota kepolisian."


"Hah?" Mega saking kagetnya.


"Iya, makanya aku khawatir sama kamu. Aku takut mereka bertindak lebih dan apapun akan mereka lakukan guna terbalasnya dendam."


"Lalu bagaimana?" Mega merasa bersalah, mengapa dia harus menangisi Satrio yang hendak berikrar janji suci dengan Dewi. Terharu dengan keputusan berani mantan kekasihnya itu guna menata hati Satrio kembali.


Dewa yang membawa kembali istrinya ke dalam masjid.


Sementara suasana sedikit riuh dengan keadaan Dewi yang seluruh tubuhnya mulai berkeringat dan terasa lemas. Meskipun Satrio berusaha menggenggam jemari calon istrinya. Namun Dewi belum terasa lebih tenang apabila seorang penghulu yang baru belum juga datang.


Tubuh Dewi tumbang, pandangan nya buram merambat ke pingsan.


"Dewi ... Dewi." Satrio yang menepuk pelan pipi Dewi namun Dewi sudah hilang kesadaran.


Semua orang mengerubuti nya dan memapahnya untuk dibaringkan dan di oles-oles dengan minyak kayu putih. Sedikit terjadi kepanikan, mama Giani hafal betul dengan kerapuhan hati putri nya.


Banyak kecemasan yang terjadi. Namun mereka juga tidak tinggal diam dan tetap berikhtiar.


"Semua gara-gara aku," lirih Dewa yang kemudian berinisiatif menghubungi Sheila dan ingin berbicara dengan Gaston. Dewa yang hendak pergi ke depan, ke tempat parkir di depan masjid.


"Mau kemana?" tanya Mega meraih pergelangan tangan suaminya.

__ADS_1


"Menghubungi Gaston dan memintanya berhenti melakukan semuanya."


"Sayang, semua bisa di atasi, kamu nggak perlu lakukan itu. Kita hanya kecolongan pengamanan pada pihak penghulu. Kamu nggak boleh lakukan itu. Aku tidak setuju kamu hubungi Sheila dan berbicara dengan Gaston."


"Mega benar," sahut Akhyar. "Yakinlah, jika sebentar lagi Dewi bangun dan penghulu yang baru akan tiba. Jangan gegabah. Aku yakin mereka akan tetap melangsungkan akad ini. Kejadian ini sepertinya memang disengaja oleh Gaston. Dia hanya tidak ingin membuat hidup mu damai. Percayalah, ini hanya gangguan kecil dan mungkin ada yang lebih besar yang sedang dia rencanakan dan akan dia jalan kan nanti. Saat resepsi."


"Tapi kasihan Satrio dan Dewi yang jadi ikut merasakan getah dari perbuatan ku. Gaston sudah keterlaluan."


"Sengaja dia akan menyerang siapa pun yang berhubungan dengan mu," jawab Akhyar.


Beberapa saat Dewi tersadar. "Bagaimana pa, ma?" tanya nya sendu dan tidak ingin mendengar berita buruk setelah dia tidak sadarkan diri.


"Tunggu sebentar sayang, mama yakin untuk bapak penghulu yang ini aman. Karena dikawal langsung oleh bapak polisi."


Tidak lama benar, suara pembuka salam sudah terdengar. Bapak penghulu akhirnya telah siap menikahkan Satrio dan Dewi.


Seketika wajah redup Dewi berganti dengan cepat nya. Tatapan nya yang masih sendu sekaligus haru pun terbit saat itu.


Mereka kemudian bersiap. Tentunya dengan buliran jernih yang sedari tadi tanpa mau berhenti karena Dewi begitu bahagia walau jalannya berliku.


"Saya nikahkan putri kami yang bernama, Dewi Kartika Sari binti David Permana dengan Satrio Dirgantara dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh rupiah di bayar tunai."


"Sah?"


"Sah," sahut semua orang yang berada di dalam masjid tersebut.


Dewi tersenyum lega meskipun buliran jernih terus dia sapu dengan selembar tisu di tangan nya.


Satrio yang ikut berperan mengusap jejak basah tersebut dengan ibu jarinya. Melingkarkan cincin di jari manis kanan Dewi begitu sebaliknya.


Satrio kemudian mengecup kening Dewi dengan lembut.

__ADS_1


Semua pasang mata bahkan bisa merasakan keharuan yang sama. Beberapa pasang mata dari keluarga juga tak hentinya menitikkan air mata.


BERSAMBUNG


__ADS_2