
Satrio kemudian terbang menemui Dewi. Perjalanan darat dan udara pun ditempuh demi mengobati rindu Dewi kepadanya.
Ya, laki-laki itu bisa merasa, jika wanita nya terserang rindu yang menggebu. Telah lama juga mereka tidak bertemu.
Satrio yang sudah berdiri di depan kantor calon istri nya bekerja. Menempelkan benda pipih persegi panjang itu di telinga nya. "Hallo..."
Dewi yang terkejut sekaligus tersenyum bahagia, mendapat kabar yang tidak dia sangka, Satrio terbang ke kota nya dan sekarang tengah berdiri di depan kantor nya. Dewi menutup ponselnya. Segera berlari menuju lift dengan perasaan tidak sabar menuju lantai dasar.
Dia langsung melingkarkan kedua tangan nya dari belakang memeluk perut laki-laki itu. Dewi bergelayut manja, menaruh kepalanya di punggung pria nya. "Aku rindu sama kamu," ucapnya tersipu malu.
Satrio langsung berbalik badan. Memeluk wanita nya. Membelai rambut Dewi yang dia letakkan di bawah janggutnya. "Sama, aku juga rindu," balas nya menentramkan hati Dewi.
Keduanya kemudian memutuskan untuk pergi makan. Di restoran Dewi tampak senyum-senyum sendiri memandangi Satrio yang semakin menawan.
"Kamu kenapa?" tanya Satrio yang menatap calon istrinya.
"Nggak apa-apa. Aku pingin pandangi wajah calon suami aku aja," diikuti senyum lebar.
"Hem..." Satrio yang sibuk memilih menu makanan yang ditawarkan restoran tersebut. Setelah mereka memesan makanan dan kemudian menikmatinya. Barulah Satrio mengeluarkan kalimat dari mulut nya. "Ada yang mau aku bicarakan, setelah kita makan."
"Tentang?" tanya Dewi yang memperlambat kunyahan makanan di mulutnya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri."
Dewi mulai risau, Satrio terlihat serius dan dia sungguh bertanya-tanya tentang apa yang akan dibicarakan Satrio kepadanya.
Setelah makan berdua mereka usai. Perlahan Satrio jujur semuanya. Semua hal tentang Mega yang dia rahasiakan dari wanita yang duduk di samping nya. Panjang lebar Satrio mengungkapkan semuanya kepada Dewi, tanpa ada lagi yang ditutupi.
Dan apa yang dilakukan Dewi? kecuali menjadi pendengar baik saat Satrio menceritakan semuanya. Dewi cukup terkejut, ternyata Mega lah wanita itu. Wanita dimana menjadi tertutupnya hati Satrio saat Dewi mengutarakan perasaan nya kepada laki-laki itu dulu.
"Mega... Mega istri kakak kamu?"
Satrio mengangguk pelan.
Dewi menghamburkan nafasnya. Jutaan kali dia bertanya dan mencari informasi apapun terkait wanita yang dicintai Satrio. Semua tertutup dan tidak ada prasangka nya mengarah ke Mega.
"Tapi semua sudah berakhir. Karena aku sudah putuskan memilih kamu. Sudah tidak ada lagi nama Mega yang akan menjadi bayang-bayang di rumah tangga kita nanti. Aku janji untuk itu." Satrio yang menggenggam sepuluh jemari Dewi.
Dewi mengangguk mengerti.
"Aku minta maaf. Jika nanti satu rumah dengan nya. Aku harap kamu biasa saja. Kak Dewa sudah memperingati aku untuk cerita ini semua, itu karena dia tidak ingin kamu salah paham dengan istrinya, apalagi sampai ribut dengan nya nanti."
__ADS_1
Meskipun Dewi teringat, jika Satrio pernah menyelamatkan Mega hingga dua sikut nya berdarah waktu di telaga biru. Namun Dewi mengangguk mengerti. Lagi pula, bersandingnya Satrio dengan nya adalah hal yang paling berarti, apalagi itu menyangkut masa lalu. Buatnya tidak perlu.
"Jadi kamu berkorban untuk pernikahan mereka?" tanya Dewi yang bisa menyimpulkan jika calon suaminya berkorban hati untuk kebahagiaan rumah tangga kakak nya dan Mega.
"Bisa diartikan seperti itu. Demi Rania."
"Kamu pasti hancur?"
"Sangat."
"Aku akan bantu kamu menyembuhkan luka mu."
Satrio tidak percaya, Dewi tabah dan berlapang dada mendengar apalagi menerima dirinya yang jujur pria banyak luka.
"Kamu tenang aja, aku tidak akan cemburu kepada Mega. Aku akan berteman dengan nya. Gila saja, lima tahun aku tidak bisa menaklukkan hati kamu seperti dia dengan mudah nya membius mata dan hati kamu hingga kamu tidak mau dekat dengan wanita, salah satu nya aku."
Satrio tertawa kecil.
Dewi pun begitu. Hingga suasana menghangat dengan sendiri nya tanpa perlu keduanya ciptakan.
Hingga pada sebuah perpisahan sebelum hari pernikahan. Dimana Dewi memeluk erat dan menitikkan air mata saat tengah mengantar Satrio ke Bandara.
"Sabar, tinggal menghitung hari."
Sampai sebuah announcement dari staf bandara terdengar, bila pesawat yang akan ditumpangi Satrio akan persiapan terbang. Barulah Dewi melepas pelan pelukannya.
Namun baru saja Satrio mendapat beberapa langkah, Dewi kembali mengejar calon suaminya dan memeluknya kembali. "Aku mau ikut," rengek nya.
Membuat Satrio tertawa tanpa suara, geleng-geleng kepala menghadapi calon istrinya yang bucin akut kepadanya. Merasa beruntung, Satrio berpikir demikian. Dewi dapat menerimanya saat hatinya luluh lantah karena pengkhianatan Mega dan Dewa.
Satrio kemudian mengecup puncak kepala Dewi untuk pertama kalinya. Singkat namun bermakna. "Aku bisa ketinggalan pesawat, kalau kamu terus menahan ku."
Dewi tersipu malu dan melepaskan kedua tangan nya. Melambaikan tangan dengan perasaan berbeda dari yang pertama. Lebih bahagia.
.
.
Keesokan harinya.
Dewa menemui dokter Farhan teman nya.
__ADS_1
"Kamu lagi." tidak sukanya Farhan melihat Dewa. Namun pria itu lebih rileks menanggapinya. Karena Dewa datang lebih pagi saat jam praktek nya belum dia buka.
"Aku butuh bantuan kamu."
"Aku nggak mau bantu kamu lagi. Kamu tempramen dan tukang pukul," ketusnya masih sakit hati karena jejak biru ungu masih betah menghiasi pipi kanan nya dekat sudut bibir.
"Aku minta maaf Farhan. Tapi hanya kamu yang bisa aku andalkan. Siapa lagi teman kita? Mereka semuanya sibuk."
"Sama aku juga sibuk. Memang nya kamu nggak lihat pasien-pasien aku. Kamu bahkan yang merusak reputasi karir aku karena kamu bersikap layaknya preman kemarin dan kemarin nya lagi. Apa kamu lupa?"
"Kan aku udah minta maaf Farhan, apalagi? Akan aku ganti semuanya berlipat ganda. Kamu tenang aja."
"Masalahnya adalah, ibu-ibu hamil yang sudah langganan periksa di sini, kabur semua gara-gara takut dengan keributan yang kamu buat."
"Iya aku minta maaf Farhan."
"Aku nggak mau terlibat lebih jauh tentang urusan kamu dan wanita yang kamu buntingi itu, Dewa."
"Aku mohon Farhan. Ini masalah nya antara hidup dan mati aku. Rumah tangga aku terancam karam misal Sheila menang."
Farhan mendengus kasar. "Memang nya kamu meminta tolong apa?"
"Aku mau kamu dekati Sheila."
"No..." jawabnya cepat dan panjang.
"Please Farhan," mohon Dewa merapatkan kedua telapak tangan nya.
"Ck, dekati bagaimana maksud kamu?" Farhan sangat ketus menanggapinya. Tidak perduli pak Hendarto adalah pemilik dari gedung yang dipakainya menjadi klinik tempat praktek nya kini.
"Terserah, aku yakin Sheila tidak hamil. Maka dari itu kamu ikuti dia, kemanapun dia pergi, kalau perlu lebih dari itu."
"Gila kamu."
"Pastikan kita mendapatkan informasi sekecil apa pun tentang nya. Kalau perlu pasang penyadap di rumah nya. Jadi kita bisa tahu semuanya tentang rencana busuk Sheila."
"Misal keyakinan kamu salah dan dia hamil?"
Dewa terdiam. Sepertinya memang dia tidak siap menerima kenyataan itu. "Entahlah, yang penting kita usaha dulu. Lagi pula wanita itu punya seribu cara untuk menyembunyikan kebohongan nya. Aku yakin sekali itu."
BERSAMBUNG
__ADS_1