Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Kecemburuan Mega


__ADS_3

Setelah terhenyak, melihat sosok pria di depan nya. Mega terus saja menuruni anak tangga menuju ke dapur.


Tidak lama Dewa keluar, menatap Satrio yang masih bergeming dari depan pintu kamarnya.


Dewa menyusul Mega dan berusaha membuat wanitanya luluh dengan penjelasan nya. Namun bukannya malah mereda amarah Mega. Mega malah menjadi dan enyah begitu saja tanpa peduli.


Ceklek


Pintu agak keras dibanting Mega. Tidak lama bantal dan guling terbang dari dalam kamar dan membentur tubuh suaminya.


Disaksikan Satrio secara nyata-nyata. Sadar jika kakaknya mengetahui aksi mengintipnya. Satrio langsung mengunci kamarnya.


"Sayang..." lirihnya suara Dewa saat tengah malam dan hanya Mega, Satrio dan Dewa yang mengetahui perkara gara-gara wanita bernama Sheila.


Dewa masih bergeming dan berdiri satu langkah di depan pintu kamarnya. Menyentuhkan pipi kanannya lebih dekat ke pintu, mana tahu Mega mendengar panggilan sayang untuknya. Mengiba untuk tetap tidur di dalam bersamanya. Namun sayang, pintu tetap terkunci dan Mega tetap pada keras hatinya. Berakhir menyuruhnya untuk tidur dikamar Rania tanpa bisa memeluknya, mendekapnya erat, mengecup semua area wajahnya dan menyes@p aroma goat milk soap andalan nya.


Dewa kemudian ke kamar Rania, mendekap bantal guling yang diberikan Mega. Terlihat sekali jika Rania tengah tertidur lelap. Dewa kemudian mengecup putrinya yang kemudian membaringkan tubuhnya di samping putrinya.


.


.


Keesokan hari.


Pagi sekali Dewa sudah bangun dan mengendap-endap bilamana pintu kamarnya sudah dibuka oleh Mega.


Dan benar saja, pintu kamarnya sudah tidak terkunci, senyum lega itu tidak lama, karena setelah dia masuk, Dewa sudah melihat Mega duduk di atas ranjang menatapnya intens.


Mengulurkan ponselnya dan perang dunia ketiga dimulai. Raut wajah Mega terlihat kecewa dengan suaminya. Ternyata Sheila berbalas pesan cukup sering dan kemarin suaminya transfer uang kepada resepsionis baru nya itu dengan nilai yang fantastis.


End kamu Dewa.


Mega pasti tahu kamu transfer uang ke Sheila.


batin Dewa dengan ekspresi pasrah.


"Buat apa uang sebanyak itu kamu kirim ke Sheila?" tanya Mega kepada suaminya yang masih berdiri terpaku memeluk bantal guling.


"Aku bisa jelasin, tolong kamu dengerin. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," tandas Dewa.


"Sudah jelas disitu. Kamu bantu dia tulus. Uang itu untuk membebaskan dia dari pria yang suka main kasar kepadanya. Sejak kapan kamu peduli dengan dia?" tanya Mega dengan wajah lebih dekat ke wajah dan telinga suaminya. Supaya Dewa paham, jika istrinya terserang ketakutan kalau Sheila hanya memanfaatkan suaminya saja.


"Aku bisa jelasin sayang," ucap Dewa dengan melempar pelan bantal guling di atas ranjang.


"Kamu suka sama dia? Perhatian sekali sampai tidak ingin Sheila dikasari sama pria yang bisa jadi itu kekasihnya sendiri, sekasar apa sih pria itu?"


"Tidak begitu sayang ceritanya. Jadi begini..." Dewa yang menjelaskan seperti apa penuturan Sheila kepada nya kemarin.


"Trus kamu main percaya begitu saja? Kalau dia dengan sengaja berbohong dengan kamu bagaimana?"

__ADS_1


"Sheila nggak mungkin seperti itu," jawabnya yakin.


"Seyakin itu kamu sama dia?"


Dewa mengangguk.


"Okay... terserah kamu. Tapi boleh nggak? Kalau aku minta untuk kamu menjaga jarak dengan perempuan itu," pinta Mega secara terang-terangan.


"Sayang, dia itu resepsionis aku. Mana mungkin aku harus jaga jarak sama dia. Mana bisa? Kita bekerja dalam satu tempat, does not make sense. Dewa berusaha membuat Mega mengerti. Namun sepertinya Dewa tahu jika istrinya punya alasan sendiri, terlebih tidak dipungkiri jika Sheila memang perempuan yang cantik dan memiliki tinggi semampai dan rambut indah yang tergerai.


"Ya udah, terserah kamu." Mega yang tidak mau melanjutkan debat mulut dengan suaminya.


Dewa yang perlahan memeluk istrinya dari belakang. "Percayalah, aku hanya kasihan sama dia. Kan sudah panjang lebar aku jelasin, kalau pria itu anak dari rentenir dimana ayah Sheila yang suka pinjam uang ke mereka. Alhasil Sheila yang harus menjadi korban dari pria itu dan menanggung semua hutang-hutang ayahnya," imbuh Dewa berharap Mega tidak salah paham.


"Does not make sense," jawab Mega yang dengan sengaja mengembalikan kata per kata yang tadi sempat suaminya katakan.


"Ya masuk akal dong sayang."


"Perhatian kamu ke Sheila yang nggak masuk akal," celetuk Mega.


"Jadi kamu menganggap aku suka sama Sheila?"


"May be." Dengan mengangkat di bahu Mega mengatakan.


"Oh my God..." Dewa yang memutar tubuh istrinya, menyuruh Mega untuk menatap dalam bola matanya. "Only you in my heart, my sweety." Dewa yang mengecup sepuluh jemari istrinya dan menjalar memeluk Mega dimana riak-riak permusuhan keduanya tentang Sheila bisa dikatakan selesai.


.


.


Dimana semua sudah terlihat baik-baik saja. Dewa juga mengantar Mega dan Rania ke sekolahnya. Dan itu semua tak luput dari penglihatan Satrio.


Dewa yang selesai mengantar Mega dan Rania. Dia berlanjut menuju hotel Mediterania, namun ketika mobilnya kurang dari seratus sampai dua ratus meter dari hotel. Dia kembali dikejutkan oleh Sheila yang lagi-lagi di ganggu oleh pria yang sebelumnya dia pernah temui juga.


Dewa langsung menepikan mobilnya. "Heh! masih coba-coba ya kamu ganggu dia!" Dewa dengan lantangnya setelah menutup pintu mobilnya.


Laki-laki bertubuh kekar itu langsung pergi begitu saja karena tidak mau ribut dengan Dewa.


"Sheila kamu nggak apa-apa?" tanya Dewa yang melihat Sheila tampak ketakutan.


Sheila hanya menggeleng dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya.


"Masuk mobil, ada yang aku mau bicarakan ke kamu."


Sheila kemudian naik mobil Dewa dimana mobil mereka berdua menuju hotel Mediterania.


"Sheila, bukankah harusnya sudah selesai urusan kamu dengan dia?" Dewa bertanya serius, karena kemarin sudah dia transfer uang senilai hutang dari ayahnya Sheila.


Sheila tidak menjawab dan malah menangis.

__ADS_1


Dewa bertambah bingung, kenapa Sheila malah menangis dan tidak menjawab pertanyaannya.


Setelahnya Sheila menjawab, jika pria itu memang suka terhadap Sheila, namun Sheila tidak mau menerima cintanya. Meskipun hutang ayahnya kepada papa nya pria itu sudah lunas, namun pria itu akan tetap mengejar Sheila karena ingin mendapatkan nya.


"What?" Dewa yang tidak bisa berkata-kata setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sheila. "Kamu harus laporkan dia ke polisi. Kalau tidak begitu, kamu akan terus di ganggu oleh dia. Aku akan bantu kamu melaporkan dia ke polisi. Lihat itu lengan kamu sudah banyak lebam-lebam, aku yakin kamu di cengkeram kuat oleh pria itu lebih tepatnya dianiaya." Dewa dengan sangat antusias mengatakan hal demikian.


"Aku takut Dewa."


"Kamu nggak usah takut, aku antar kamu ke kantor polisi untuk membuat laporan," ujar Dewa yang kemudian memutar roda empat yang dikendarai nya untuk menuju kantor polisi.


Tiga puluh menit perjalanan untuk sampai ke kantor polisi. Dimana Dewa baru sadar jika kantor polisi tersebut tidak jauh jaraknya dari sekolah Rania.


Dimana Dewa sesekali menoleh ke arah sekolah putri nya, sedikit khawatir jika Mega mungkin keluar dari sekolah saat tengah menunggu Rania hingga membuat mereka bertemu atau istrinya melihatnya yang akan menambah kecemburuan Mega dan mengira jika dia terlampau perhatian dengan Sheila.


Setelah tiga puluh menit berada di dalam kantor polisi, dimana Sheila banyak ditanya oleh seorang petugas penyidik untuk memberikan keterangan terkait penganiayaan yang dia terima.


"Bagaimana?" tanya Dewa saat Sheila sudah keluar dari ruang dimana dia banyak diinterogasi.


"Sudah," jawab Sheila yang kemudian menunduk.


"Kamu nggak usah takut. Pria seperti itu harus di laporkan. Karena kalau tidak, dia tidak akan jera terhadap perilaku kasarnya yang sudah dilakukan terus menerus kepada kamu," imbuh Dewa dimana dia harus membuat Sheila merasa aman.


Sheila mengangguk.


Keduanya kemudian keluar dari kantor polisi. Namun alangkah terkejutnya Dewa, karena ternyata Mega sudah berdiri di depannya.


"Sayang." Dewa yang terkejut mengapa istrinya jug berada di sana.


"Kenapa? kaget?" Mega dengan santai dengan raut wajah datar berdiri di depan suaminya.


"Kamu ngapain di sini sayang?"


"Lihat kamu masuk kesini sama dia," sinis Mega dengan sengaja supaya Sheila mendengarnya.


Dewa kemudian menarik lengan istrinya dan mengajak nya berbicara berdua agak jauh dari Sheila.


"Apa-apa an sih? takut Sheila mendengarnya?" protes Mega karena Dewa tampaknya tidak suka dia berbicara begitu di depan Sheila.


"Sayang kamu jangan salah paham, aku cuma antar Sheila melaporkan pria yang suka berbuat kasar sama dia," papar Dewa kepada istrinya yang terlihat sebal.


"Begitu perhatiannya ya kamu sama dia? setiap kali aku lihat, pasti kamu sedang sama Sheila," ucap Mega dengan cepat dan terlihat sekali jika cemburu tengah menguasai dirinya.


Dewa kemudian berdecak dan menghamburkan nafasnya ke udara. Tidak tahu lagi harus memberi pengertian seperti apa kepada Mega. "Aku nggak bisa ngomong lagi. Nanti kita bahas di rumah." Dewa yang hendak pergi dan kembali ke hotel. Namun Mega berkata-kata.


"Oh, jadi kamu sekarang pilih wanita itu dan mengabaikan ku?"


Dewa berhenti dan menoleh. Menatap istrinya dengan lelah karena sikap Mega. "Mengabaikan bagaimana sih sayang? Ini aku mau kembali kerja lho, bukan kencan atau pergi berduaan trus mesra-mesra an sama Sheila. Trus aku harus apa? Bukannya kamu juga masih nunggu Rania?" agak keras intonasi Dewa membalas kata-kata istrinya.


Mega dengan kesalnya, pergi dari hadapan Dewa dan menuju sekolah Rania.

__ADS_1


Sementara Dewa. Menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan, melihati punggung wanitanya sambil geleng-geleng kepala.


BERSAMBUNG


__ADS_2