Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Sheila dan laki-laki itu


__ADS_3

Satrio merasa dunianya hancur. Dan sepertinya tidak ada lagi orang yang sejalan dengannya, orang yang mengerti akan perasaannya yang dikhianati oleh cinta.


Keluarga besarnya bersatu padu menghancurkan benteng kokoh yang dibangunnya dengan susah payah selama masa kuliah.


Cintanya kepada Mega yang tak kunjung surut pun membuat dia terjebak pada nostalgia-nostalgia saat mereka bersama. Potongan demi potongan peristiwa bersama Mega, menyeruak memintanya untuk bertahan di kepalanya.


Satrio yang berdiri di pinggir telaga. Memandang jauh matahari yang pulang ke peraduan dan berganti dengan petang. Masih bergeming dan belum beranjak, padahal angin cukup kencang menusuk lapisan pori-pori hingga menembus seluruh tulang.


Namun saat dia memutuskan kembali ke rumah. Tubuhnya membeku melihat sepasang suami istri yang lazimnya making love. Tidak ada yang salah dengan Dewa dan Mega yang melakukan hal tersebut.


Baik Dewa dan Mega saling menuntut kepuasan, dimana bibiir mereka menyatu tanpa paksaan. Aksi nakal kakaknya yang perlahan menyentuh area terlarang milik Mega membuat tulang rahangnya mengeras.


Kenapa dia bisa melihatnya?


Dia pulang malam dan mendengar senda gurau mereka. Rintihan Mega yang membuat nya menghentikan langkah. Dimana kamar mereka tidak sepenuhnya rapat dan Rania sedang tertidur lelap.


Dua bola mata Satrio tidak tahan. Terdapat genangan di dalamnya yang dia paksa untuk tidak kecewa. Dadanya yang awal melihat nya berdetak hebat dan terasa sesak. Perlahan melambat dan lebih teratur ritmenya. Meskipun tidak menyangka, jika kekasihnya sanggup menyakitinya sedemikan rupa.


Satrio menjatuhkan air matanya deras di kamar. Mengambil bingkai foto di atas nakas dimana tercetak foto Mega dan dirinya, namun di beberapa menit berikutnya, foto tersebut dia keluarkan dari bingkai dan dia robek-robek hingga tak berbentuk lagi.


.


.


Keesokan pagi.


Dimana Satrio tidak biasanya tidak sarapan pagi bersama. Dia memilih mengurung diri di kamar karena tontonan film hitam secara live yang dia saksikan semalam. Tanpa streaming, tanpa mengeluarkan biaya dan tanpa mengetik nama judul film, semuanya sudah tersaji di depan mata.


Ther


Terdengar pecahan piring yang sengaja dilempar Satrio saat bibi mengambilkan bubur untuk nya.


Sejak subuh tadi, Satrio menggigil dan bibi masuk ke kamar nya dan menyentuh badannya. Satrio terlihat demam dan sakit. Maka dari itu bibi berinisiatif membuatkan bubur khusus untuk anak majikannya itu.


"Aku nggak mau makan bi," teriaknya arogan dan tidak berperasaan.


"Mas Satrio sakit mas, harus makan. Tadi saya sudah telepon ibu. Dan semua yang bibi lakukan itu atas perintah ibu."


"Bibi nggak usah repot-repot."


"Tapi mas..."


"Sekarang bibi keluar."


Suara Satrio tidak luput dari pendengaran Mega dan Dewa yang sedang menyantap sarapan.


Mendengar suara mereka dari kamar Satrio, Dewa naik ke atas dan berpapasan dengan bibi. Perlahan Dewa masuk dan matanya tertuju pada lantai yang di atas nya berserak beling dari bingkai foto dan kepingan-kepingan kertas.


"Ngapain kamu kesini?" Satrio jelas tidak suka Dewa masuk ke kamarnya.


"Kamu sakit?" tanya Dewa yang memperhatikan wajah adiknya yang kusut dan kamar yang berantakan.

__ADS_1


"Jangan sok peduli dengan ku. Urus saja itu istri kamu yang sudah kamu rebut dari aku," ketusnya tanpa basa-basi.


Dewa berdecak, geleng-geleng kepala lelah menghadapi Satrio yang terus menerus seperti ini sikapnya. Dewa berusaha menyentuh bahu adiknya, namun dengan cepat Satrio menghempasnya.


"Tahu pintu keluar kan?" usirnya terang-terangan.


Dewa hanya menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Dia kemudian keluar tanpa ada satu patah kata pun.


Sementara Satrio. Masih dengan kesedihannya yang belum sanggup dia timbun dalam-dalam.


Dewa yang mengantar Mega dan Rania pergi ke sekolah. Dewa terlihat murung pagi itu.


"Kamu lagi nggak melamun kan sayang?" tanya Mega.


"Enggak, aku hanya bertanya sampai kapan Satrio akan seperti itu? Akan membenci pernikahan kita." Dewa yang menoleh singkat menatap wajah istrinya lalu kembali fokus menyetir.


"Aku juga nggak tahu," jawab Mega singkat.


Tidak lama mobil mereka sampai di sekolah Rania. Seperti biasa Dewa mengecup kening dia bidadarinya dan melanjutkan untuk pergi ke hotel Mediterania.


Sesampainya Dewa di hotel nya, dia sudah disambut oleh Sheila yang tersenyum ramah pagi itu.


Dimana Dewa sedang sibuk berkeliling dengan salah seorang arsitek. Karena dia berniat akan memberi nuansa alam dan terlihat beberapa bebatuan di dekat restoran hotel nya.


"Kalau menurut pak Dewa bagaimana?" tanya seorang arsitek itu kepada Dewa.


"Entahlah, apa kita mengusung nuansa alam itu di indoor hotel, atau restoran nya yang dipindah di ruang terbuka namun tetap aman dari panas dan hujan, sehingga tamu hotel bisa menikmati makan pagi dengan sajian hidangan yang nikmat ditambah dengan termanjakan oleh keindahan nuansa alam itu sendiri," jawab Dewa yang menyampaikan keinginan nya pada seorang arsitek tersebut.


"Baiklah pak Dewa kalau begitu. Saya bisa menangkap permintaan anda. Dan akan saya coba realisasikan sesuai keinginan anda."


"Kalau begitu saya permisi, untuk hari selanjutnya, kita akan banyak janji bertemu untuk membahas proyek ini."


"Ya, saya setuju." Keduanya berjabat tangan. Dimana seorang arsitek itu keluar dari restoran hotel yang tidak jauh dari loby.


Dimana Dewa melihat Sheila di ujung pintu masuk hotel. "Hentikan! Siapa anda? Jangan berani-berani nya memukul perempuan," ujar Dewa dengan tatapan tajam dan tangan yang menangkis pria kekar di depannya yang hendak menampar Sheila.


"Jangan ikut campur anda," jawab pria itu yang kemudian menghempas cengkraman tangan Dewa.


Bugh


Pria itu memukul pipi kanan Dewa hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar, bersamaan dengan teriakan Sheila yang mengundang petugas keamanan hotel.


"Ada apa pak?" tanya petugas keamanan yang mendengar teriakan.


Pria itu tidak ingin urusan bertambah panjang dan memutuskan pergi dengan mengendarai sepeda motor.


"Enggak, nggak apa-apa. Kalian boleh kembali bekerja," jawab Dewa kepada dua petugas keamanan nya.


Petugas keamanan lalu kembali, tersisa Sheila dan dirinya. Terlihat jika Sheila sudah berantakan. Lipstik di bibirnya tidak beraturan dan memudar. Dewa sangat paham jika laki-laki tadi memaksa Sheila untuk berciuman. Namun Sheila berontak tidak mau hingga membuat pergelutan diantara mereka berdua.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dewa kepada Sheila.

__ADS_1


Sheila menggeleng dengan terlihat jejak basah yang tertinggal di sudut mata.


"Sebentar aku ambil mobil." Dewa yang kemudian mengambil mobilnya yang terparkir. Menyuruh Sheila masuk mobilnya dan membawa Sheila makan siang bersama.


Namun di dalam perjalanan mereka, tidak serta merta mereka saling diam begitu saja. Melainkan sebaliknya.


"Siapa tadi Sheila?" tanya Dewa dengan cepat.


Sheila menoleh ke Dewa. "Maaf, karena dia pipi kamu jadi sasarannya."


"Nggak apa-apa Sheila. Kita kan teman, apalagi kamu pegawai hotel aku. Jadi siapa pun berhak mendapatkan perlindungan, apalagi masih di lingkungan hotel. Oh ya, itu tadi siapa? Berani-beraninya bersikap kasar seperti itu."


Membuat Sheila ragu mengatakan nya. "Itu adalah anak dari rentenir."


Dewa mengerutkan keningnya dan menepikan mobilnya. Karena sepertinya ada masalah yang serius menyangkut Sheila. "Maksud kamu?"


"Ceritanya panjang Dewa," jawab Sheila kepada Dewa. Namun karena Dewa memaksa supaya Sheila bercerita. Membuat mau tidak mau Sheila harus menceritakan kepada Dewa.


Setelah mendengar panjang lebar pernyataan Sheila kepada nya. Dewa mendadak kasihan dengan Sheila karena harus menanggung beban itu sendirian.


Dikejar-kejar anak rentenir dan mendapatkan kekerasan fisik hanya untuk melampiaskan hasrat dari laki-laki tadi.


"Kenapa kamu tidak lapor polisi? Akan saya antar, kalau kamu mau laporkan tindakan nya yang sudah menyeleweng. Dan itu ada pasalnya," ucap Dewa kepada Sheila.


"Jangan! Jangan Dewa! Aku yakin papanya tidak tersentuh oleh hukum. Jadi tolong, jangan buat laporan ke polisi." Sheila yang masih dengan wajahnya yang ketakutan.


"Tapi kamu tidak boleh diam saja, kalau kamu dapat perlakuan kasar dari orang itu. Karena bisa-bisa, dia akan terus melakukannya kepada kamu."


"Terimakasih perhatiannya Dewa."


"Aku akan bantu kamu menyelesaikan semua hutang-hutang ayah kamu."


"Jangan! Jangan Dewa! Karena nominal nya tidak lah sedikit. Jumlah hutang ayah aku cukup besar dan aku tidak sanggup nanti membayar nya ke kamu."


"Kamu tenang aja, aku tulus bantu kamu. Ketimbang kamu harus menjadi pelampiasan pria model begitu."


"Kamu serius Dewa?" tanya Sheila yang tidak enak dengan teman kampusnya itu.


Hingga mobil Dewa masuk ke sebuah restoran mall. Dimana Dewa menyuruh Sheila merapikan penampilannya terlebih dahulu ke toilet. Membuat mereka pergi ke toilet bersama. Dimana Dewa juga akan buang air kecil terlebih dahulu.


Dimana Mega yang menemani Rania makan di restoran cepat saji di mall tersebut melihat suaminya yang baru datang dengan perempuan yang tidak asing baginya.


"Itu kan Sheila," gumam pelan Mega. Dimana Mega menyuruh putrinya untuk duduk sebentar dan jangan kemana-


mana, sementara dia pamit untuk pergi ke toilet.


Mega kemudian menghampiri mereka. Dimana keduanya sama-sama masuk toilet namun suaminya lebih dulu usai dan setia menunggu Sheila.


Membuat Mega tidak suka dengan sikap suaminya.


Tidak lama Sheila keluar dari toilet. Mega menghampiri keduanya. "Kalian ngapain disini?" tanya Mega tanpa basa basi memperlihatkan wajah tidak suka nya kepada Sheila.

__ADS_1


"Sayang..." Dewa yang terkejut melihat Mega.


BERSAMBUNG


__ADS_2