Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Bukan salah kamu, bukan salah Dewa dan bukan salah Mega


__ADS_3

Berbeda dengan Dewa yang mengajak istrinya dan putrinya untuk makan siang bersama sambil bermain dia play ground. Satrio sedang duduk di sisi tempat tidur pasien. Dimana mama nya tengah bersandar.


"Sudah sembuh belum tangan mu?" tanya ibu Rahma kepada putra nomor dua nya.


"Udah lumayan ma," jawab Satrio yang ingin langsung melanjutkan pembicaraan terkait tiga hati dalam satu rasa. "Mama kenapa sembunyikan semua dari Satrio?" Tatapan Satrio yang terlihat sedih dapat ditangkap oleh ibu Rahma.


Mendengar hal itu, ibu Rahma ikut sedih dengan apa yang di rasa oleh Satrio. Ingin menutup buku perihal itu dulu. Namun sayangnya, Satrio menuntut balas jawab yang lama mama nya sudah bungkam. "Maafkan mama Sat," lirihnya.


"Apa dengan begitu bisa mengembalikan Mega?"


Ibu Rahma tersenyum sakit. "Apa kamu sangat mencintai dia?" Lebih dekat ibu Rahma menatap putranya.


"Apa cinta ku terhadap Mega terlihat meragukan dimata mama?" balas Satrio cepat menyuarakan tidak terima.


Ibu Rahma mendengus halus. Mengalihkan pandangan berlawanan dimana wajah putranya berada. "Bukan salah kamu, bukan salah Dewa ... Dan bukan salah Mega."


"Mama masih membela kakak? Yang jelas-jelas dia bersalah atas semua ini," tukas Satrio sedikit lantang diikuti bangkit dari duduknya. Hingga kursi tunggal dimana setengah jam lalu terasa nyaman bagi pantatnya namun seiring jawaban mama nya, tidak lagi.


Ibu Rahma yang kemudian menatap putranya kembali. "Dimana letak kesalahan nya? Apa kamu akan menganggap kakak mu salah jika dia memperjuangkan rumah tangganya dan akan bertanggung jawab menghidupi istri dan putrinya?"


Sepasang mata mereka beradu cukup tegang. Tersirat jika mama nya berat sebelah dalam memperlakukan nya dan Dewa. Jelas sekali, jika semua hal yang dilakukan Dewa, baik itu salah sekalipun, mama dan papa nya tidak pernah marah apalagi murka. Sebaliknya, mendukung nya. "Dengan kakak mabuk berat, apa itu tidak salah ma? Andai saja kakak..." Satrio yang belum menyelesaikan untaian kata nya, namun dengan cepat ibu Rahma berbicara.


"Cukup! Apa kamu akan terus membahasnya?" tanya ibu Rahma dengan dahi penuh dengan kerutan.


"Ma..." Satrio hampir tidak percaya, mama nya begitu tidak tersentuh dengan perasaan cinta nya kepada Mega. Dia melengos dengan dada bergemuruh. Terdapat rasa sakit yang tidak bisa dia lukiskan. "Ini nggak adil buat aku ma," imbuhnya dengan gumam pelan, dengan tatapan yang tidak mampu untuk melawan.


"Kamu lihat sendiri kan? Mega juga bahagia bersama Dewa? Apa kamu yakin? Jika kamu memaksakan cinta kamu yang dulu dan kamu bawa kembali untuknya diwaktu sekarang, apakah akan sama?" Kata-kata ibu Rahma yang ditangkap Satrio ada benarnya.


Jika dilihat sekarang, Mega memang menyisihkan nama nya dari hatinya. Nama Dewa dan Rania lah yang sepanjang hari akan terlintas dipikirannya.


Bagaimana tidak?


Setiap hari mereka satu atap terlebih satu ranjang dan tidur bersama, mana mungkin akan sama? Jelas benar apa kata mama.


"Akan sama jika kakak tidak mencurangi ku." Satrio masih saja menyangkal semuanya.

__ADS_1


Membuat hati ibu Rahma lelah. Memberi pengertian kepada Satrio yang terus meronta inginkan cinta Mega.


"Trus apa yang akan kamu lakukan? Akan terus cemburu dan menyakiti dirimu sendiri? Dengan yang katanya Dewa kamu akan lompat ke telaga biru?"


Satrio menoleh terkejut. Dua matanya membola seketika.


Mega...


Ternyata kamu antek-antek nya mereka.


Kamu lebih setia kepada Dewa ketimbang harus menjaga rahasia.


batin Satrio dalam hati.


"Kenapa? Kaget?" tanya ibu Rahma dengan wajah rileks nya.


Satrio menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kayak anak kecil kamu. Coba kalau Mega tidak datang ... Tinggal nama kamu. Lain kali dipikir panjang, jangan asal main bunuh diri aja. Njegur ke telaga biru, besoknya tinggal nama. Memang nya kamu mau? Nama kamu dan wajah kamu terpampang istimewa di harian surat kabar dengan berita hal yang menyedihkan. Anak dari keluarga Bambang Hendarto Rasmono menceburkan diri ke telaga biru gara-gara kekasihnya menikah dengan kakaknya. Eish...ngeri mama." Panjang, panjang sekali mengalahkan jurusan Bandung Jakarta ibu Rahma menjabarkan. Ditambah sedikit bongkahan amarah yang sejak tadi dia tahan.


"Kita bicara dulu sampai selesai. Jangan main asal pergi saja karena itu tidak sopan," tegas ibu Rahma.


"Apalagi ma? Sudah jelas kalau mama bela mereka berdua? Dan Satrio sepertinya bukan anak mama," ucap Satrio pelan di akhir kalimat nya.


"Apa kamu bilang? Kamu ... bukan ... anak ... mama. Ngawur kamu," kesalnya. "Kalau kamu bukan anak mama, ngapain mama berkorban nyawa, jika kamu nggak datang, mama nggak mau operasi."


"Habisnya mama selalu bela mereka."


"Itu karena sudah ada Rania. Sulitkah? Bagi kamu ikhlaskan mereka bertiga bahagia?"


Sorot mata penuh dengan harap itu dapat ditangkap oleh Satrio. Mamanya, adalah satu diantara semua keluarga yang merestui rumah tangga Dewa dan Mega. Dan baginya, itu adalah segalanya. Restu mama nya, jelas-jelas menutup tindakan yang akan dia lakukan kedepannya.


Namun sayang, hatinya masih tidak ingin mundur.


"Sulit ma," jawab Satrio apa adanya.

__ADS_1


"Okay, kalau begitu terserah kamu. Mama angkat tangan," ucap ibu Rahma yang jujur dia cukup marah dengan Satrio yang susah untuk legowo.


Meskipun dilain sisi, ibu Rahma bisa mengerti bagaimana perasaanya Satrio yang luar biasa pedih. Sadar betul, jika semuanya tidak mudah untuk dia lalui. Namun sengaja dia harus berbicara seperti itu supaya Satrio cepat berbelok arah dan mengejar cinta lain selain Mega.


.


.


Berbeda tempat.


Mega, Dewa dan Rania tengah asyik menikmati makan siang mereka. Dimana setelah mereka makan, Rania masih menjajal banyak permainan yang mereka inginkan.


Dimana terik matahari berganti. Sengatan panasnya berubah redup dengan awan yang yang tidak lagi memutih namun membiru gelap.


Dewa dan Mega menyempatkan menjenguk mamanya. Dimana ada Satrio yang sejak tadi memainkan ponsel di tangan nya. Satrio tengah duduk di sofa untuk mengusir rasa bosannya setelah debat argumen dengan mama nya.


"Oma..." teriak Rania yang hatinya terlihat sekali berbunga-bunga karena bahagia.


Dewa langsung mendudukkan putrinya di atas tempat tidur pasien mama nya.


"Seneng banget sih cucu Oma," balas ibu Rahma dengan mencubit gemas pipi Rania.


"Iya Oma, papa tepatin janjina mengajak Lania makan dan main di play glond," serunya antusias.


"Wah... seru dong," imbuhnya.


Dimana Dewa dan Mega hanya bisa tertawa melihat putrinya yang semakin pintar.


"Papa juga belikan mainan Lania banyak anet Oma," imbuhnya lagi dengan belum sirna dari kata antusias. Terlebih Rania menunjukkan berbagai mainan yang berada dalam paper bag ke Oma nya.


"Wah... banyak sekali ya papa beli mainan nya. Bilang apa ke papa?"


"Telimakasih papa," diikuti senyum gemas dari Rania, dimana deretan gigi susunya terdapat satu dua gigisnya.


Satrio yang mulai gerah dengan semua hal tentang mereka pun pergi tanpa permisi. Hingga semua melihat ke arah Satrio yang menghilang di balik pintu ruang rawat mama nya, dengan membanting pintu agak keras.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2