
"Astagfirullah Zahrin..." Zahrin yang menyesal karena tidak memperhatikan jika ada palang pintu parkiran.
Tidak lama suara ketukan Akhyar pada jendela mobilnya terdengar. "Rin..."
"Nggak apa-apa kok mas. Aku hanya lupa kalau ada palang pintu," ketusnya saat setelah dia membuka kaca jendela. Menutupi rasa malu.Karena tidak mungkin dia mengaku jika Akhyar lah penyebab dia menerobos palang pintu keluar dan harusnya membayar karcis.
Zahrin memundurkan mobilnya dibantu petugas parkir. Lalu kembali melaju meninggalkan Akhyar yang masih geleng-geleng kepala dengan memperhatikan kecerobohan mantan istrinya. "Kamu tidak berubah Rin." Akhyar yang mengusap tengkuk leher nya, memutar langkah nya lalu kembali masuk ke dalam ruang rawat Mega.
Benar saja, pemandangan romantis tersaji di depan mata. Adiknya seribu persen memberi cinta nya kepada Dewa. Buktinya, jelas terlihat nyata. Mega dengan lembut dan begitu perhatian dengan Dewa, mengobati memar yang di derita suami nya, padahal bisa perawat yang membersihkan luka Dewa dan dia bisa memilih diam karena perutnya belum pulih benar seusai koma.
Entahlah, seperti ada setitik kata tidak rela dengan perilaku Dewa yang care terhadap setiap wanita. Terlebih apapun alasan nya terkait Sheila, baginya Dewa pria tidak setia. Namun sayangnya, Mega buta dan memilih menutup mata.
"Kak ... Sini aku obati juga luka mu," tawaran Mega kepada Akhyar.
"Nggak usah, kamu istirahat saja. Kakak bisa sendiri," tolak Akhyar.
"Mega nggak apa-apa. Malah kata dokter besok Mega sudah boleh pulang," jawab Mega bersikeras menarik lengan kakaknya dan mendudukkan nya di dekat tempat tidur nya.
"Aw..." ringis Akhyar kesakitan saat adiknya menekan-nekan pelan luka robek pada sudut bibir nya.
"Maaf, maaf. Ini sudah pelan," protes Mega.
"Lebih pelan lagi berarti," pintanya pada Mega. Akhyar begitu tidak tega saat menatap wajah adiknya. Ada perasaan iba seketika, setelah cerita Dewa padanya terngiang mengusik kepala nya.
Dewa banyak memberinya luka. Dulu Arumi dan sekarang Sheila.
"Mama..." teriak Rania memanggil mama nya diikuti langkah Satrio.
"Sayang, sudah pulang sekolah?"
"He em," jawab Rania manggut-manggut tersenyum ceria. "Pipi papa kenapa? Papa berantem?" tanya Rania kaget melihat pipi papanya memar.
"Em, papa jatuh sayang."
"Lain kali papa hati-hati ya, kalau jalan pelan-pelan pa."
"Iya sayang." Dewa bangkit dari posisi yang mengimbangi tinggi putrinya. "Terimakasih ya Sat, sudah jemput Rania."
"Sama-sama kak."
"Ini Satrio," sahut Akhyar.
"Iya kak, apa kabar?" Satrio yang menempelkan jotosan pelan kepada Akhyar.
"Kabar baik."
__ADS_1
"Mana istri kamu?" Akhyar yang mencari keberadaan sosok wanita namun tidak ada.
"Aku balik sekarang, mana istri kakak?" tanya Mega bercanda. "Lima hari lagi Satrio baru akan menikah dengan Dewi," jawab Mega yang gantian mempertanyakan wanita nya namun juga tidak ada.
"Bukan begitu, aku pikir Satrio sudah menikah," kilah Akhyar.
"Belum kak, benar kata Mega lima hari lagi. Kakak akan tahu nanti, Dewi nama nya. Dia tidak tinggal di kota ini. Jadi aku tidak bisa main bawa kesini."
Akhyar manggut-manggut.
"Sekarang aku tanya kakak, masak tidak ada wanita yang berseliweran di hati mu? Lima tahun di Jerman, apa tidak ada yang membuat mu kesengsem?" Mega dengan sengaja melayangkan canda pada kakaknya.
Membuat semua yang ada tersenyum simpul.
.
.
Sedangkan di markas Gaston.
Satu persatu kawanan nya mulai tersadar. Meringis kesakitan dan berbagai rintihan terdengar.
Termasuk Gaston yang perlahan berdiri di bantu anak buahnya. Berkacak pinggang dengan seringai licik tidak terima atas kekalahan nya.
"Keparat! Siapa laki-laki tadi?" teriak beserta bentak yang keluar dari mulut Gaston.
"Periksa CCTV!" perintah Gaston sembari menggebrak meja kayu dan membuat semua bahu anak buah di depannya terangkat serempak.
"Mengapa kita bisa dikalahkan hanya dengan dua orang? Kita berjumlah belasan dan mereka hanya dua, tapi kita bisa kalah dan mereka yang menang?" Suara lantang Gaston mempertanyakan kepada anak buah nya dengan murka tak terbendung.
Semua anak buahnya tertunduk bisu. Ketakutan tertimbun seketika di benak mereka. "Bagaimana?" teriak Gaston mempertanyakan hasil dari pengecekan CCTV.
"Ini dia bos. Laki-laki itu ternyata membuntuti Jupri. Berarti dia dari rumah sakit," kata salah satu anak buah Gaston yang memperlihat kan rekaman CCTV.
"Brengsek! Siapa laki-laki itu!" Murka Gaston dengan nafas memburu setelah memperhatikan layar di depan nya. "Cari tahu laki-laki itu dan beri pelajaran kepada dia!" pekik Gaston hingga muncrat air liurnya.
"Baik bos!" jawab serempak.
"Tunggu apa lagi? Mengapa kalian masih berdiri di sini!" pekiknya lagi dengan kemarahan di ubun-ubun.
"Siap bos." Bersamaan dengan serempak nya anak buah Gaston memutar punggung dan berlari ke motor trail mereka.
Gaston mendengkus kesal. "Siapa pria itu?" lirihnya bertanya dan terus memandangi punggung Akhyar karena tidak begitu jelas wajah nya.
Sore hari nya. Anak buah Gaston sudah mengumpulkan informasi dan dengan mudah menemukan pria itu karena berada di ruang rawat Mega bersama Dewa.
__ADS_1
Gaston menyuruh kawanan anak buah nya untuk menginformasikan apapun terkait pria yang mengobrak-abrik markas nya. Menolong Dewa padahal dia ingin memberi pelajaran Dewa dengan kekapokan yang sama di alami oleh Sheila.
Akhyar bisa merasakan, jika sedang ada seseorang mengintai mereka. Dia kemudian keluar ruangan karena seperti melihat orang. Benar saja, dia melihat satu orang berlari dan bersembunyi di balik dinding. Namun dia memilih masuk kembali dan memberi tahu Dewa, Mega dan Satrio.
"Aku takut kak," ucap Mega dengan dada deg-degan.
"Kamu tenang aja, ada kakak. Sepertinya Gaston tidak terima dia kalah tadi pagi. Makanya dia menyuruh anak buah nya membalas perbuatan kita."
"Kenapa jadi runyam begini sih?" Mega yang mulai tidak tenang duduknya.
"Jangan takut, mulai besok Dewa, kamu harus belajar bela diri."
Dewa mengangguk.
"Dan kamu Mega. Mulai besok kamu pulang bersama kakak dan tinggal bersama kakak dengan Rania."
"Kak Dewa juga kan kak?" tanya Mega yang tidak mau berpisah dengan suaminya.
"Terserah, suami mu mau apa nggak?"
Membuat Dewa, Akhyar dan Mega saling bertukar pandang. Belum ada jawaban.
"Apa selamanya kita akan terus berhubungan dengan Gaston?" Mega yang masih menyuarakan keengganan nya membahas pria satu itu. Pria dimana hadirnya semua gara-gara Sheila.
Dewa menggeleng.
"Sepertinya kita harus atur rencana. Kakak ikut masuk urusan kalian, karena kakak tidak mau pria itu seujung kuku pun menyentuh apa lagi melukai kamu, Mega. Rania juga."
Nafas Mega ikut serta tidak tenang. Naik turun tidak menentu aturan tempo nya. Kadang cepat dan berubah melambat dalam jarak dekat.
"Ssst!" Akhyar yang menaruh jari telunjuk nya untuk semua diam. Dia kemudian membuka pintu dan langsung membekuk pria yang berdiri di depan pintu memata-matai mereka. Perkelahian singkat pun terjadi.
Hiak des hiak des.
Membuat anak buah Gaston kalah dan lari terbirit-birit tanpa Akhyar kejar. Pria itu sudah melarikan diri karena ketakutan.
Semua yang berada di dalam ruangan seketika bernafas lega. Akhyar kembali tanpa ada jejak memar dan hanya berantakan di rambut dan pakaian nya.
"Ternyata ada gunanya juga sikap kakak yang temperamen dan mahir dalam hal pukul memukul," ujar Mega yang mengusap keringat kakaknya dengan tisu saat dia mendekatinya.
"Sepertinya kalian dalam bahaya," ujar Akhyar yang mengedarkan pandangan ke Dewa dan Satrio.
"Apa dia berani bertindak melampau batas?" sahut Satrio.
"Entahlah, namanya juga dia tidak terima. Takutnya gelap mata seperti yang dilakukan Sheila," jawab Dewa. "Semua salah ku," sesal Dewa yang mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Mega yang meraih suaminya dan memeluknya. Mengusap berulang punggung yang membungkuk merengkuh dirinya yang terduduk di tempat tidur pasien.
BERSAMBUNG