Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Sheila memohon untuk tidak di pecat


__ADS_3

"Harusnya kamu tidak melarang aku menegur adik ku," protes Dewa kepada istrinya.


"Lalu apa untungnya?"


"Tidak ada. Tapi aku tidak terima. Kalau dia dengan sengaja menghina kakak mu seperti itu."


"Aku nggak apa-apa," jawab Mega tidak bersemangat, karena jujur sakit mendengar sendiri ucapan tersebut dari mulut orang yang pernah dia sanjung setengah mati. Minimal, Satrio tidak harus mengeluarkan perkataan seperti demikian.


Dewa langsung memeluk istrinya. Sadar jika Mega cukup sedih dan itu terlihat dari raut wajahnya. "Bagiku, kamu dan Rania adalah segalanya. Aku tidak perduli seberapa hebat, Satrio menyanjung calon istrinya yang sedikit banyak, membandingkan kamu dengan Dewi. Jadi kamu jangan masukkan ke hati ya."


Mega mengangguk sedih.


"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu."


"Dada papa..." Rania yang melambaikan tangan nya sampai mobil Dewa melaju dan menjauh hingga lenyap dari pandangan nya. "Mama kenapa cedih?"


"Enggak, mama nggak sedih kok sayang?"


"Itu, mata mama kelual ail mata," imbuh Rania menunjuk mata mama nya.


"Mama hanya kelilipan Rania," kilahnya Mega dengan mengusap kasar pipinya yang basah sedikit.


"Oh, kelilipan."


"Hem..."


.


.


Dewa yang sudah hampir sampai di hotel nya. Melihat Sheila baru datang juga dan di tarik oleh Gaston, Sheila. diperlakukan kasar oleh Gaston dan Dewa melihat itu di dekat pintu masuk hotel nya. Namun Dewa tegas untuk tidak menolong Sheila, membiarkan Sheila menyelesaikan kekisruhan nya dengan Gaston tanpa campur tangan nya.


Dewa tetap melajukan mobilnya memasuki pintu masuk hotel Mediterania. Padahal jelas-jelas dia melihat Gaston mencengkeram kasar batas pipi Sheila. Namun Dewa acuh dan tidak perduli. Memilih berlalu, meskipun kaca jendela mobilnya dia buka lebar dan melihat perlakuan kasar Gaston pada Sheila.


Setelah memarkir mobilnya. Dewa memasuki ruang kerja nya dan berpesan pada staf hotel lain nya untuk menyuruh Sheila ke ruang kerja nya, saat dia sudah memasuki hotel.


Tidak lama Sheila mengetuk pintu ruang kerja Dewa.

__ADS_1


"Masuk!" seru Dewa dari dalam ruangan nya. "Duduk Sheila," imbuhnya.


Sheila kemudian duduk. Dewa menggeser kertas putih yang berisi kesimpulan pada pemecatan Sheila.


"Apa ini?"


"Kamu bisa baca kan? Baca!" Perintah pelan namun menakutkan bagi Sheila. Karena marahnya Dewa adalah siksaan baginya.


Sheila kemudian membaca isi dari kertas tersebut. Namun belum selesai dia baca semuanya, dia sudah bisa menyimpulkan jika kertas tersebut berisi pemecatan kerja untuk nya. "Apa salah saya? Mengapa saya di pecat?" protes Mega dengan nafas tidak karuan ritmenya.


"Aku tidak suka bertele-tele. Langsung saja ... Jujur, kamu terlibat masalah dengan preman seperti Gaston dan itu sudah menyangkut kriminalitas. Terlebih pernah membahayakan nyawa saya. Dan semua itu bermula dari kamu. Itu saja sudah fatal Sheila."


"Kenapa baru sekarang?" protesnya lagi.


"Karena ternyata, Gaston masih saja menganggu kamu sampai sekarang. Maka dari itu, aku harus ambil keputusan sulit ini untuk kebaikan bersama."


"Ini pasti ada sangkut pautnya dengan kekhilafan kamu malam itu."


"Terserah kamu Sheila. Tapi tolong, untuk kamu jangan buat aku naik darah mengingat semua hal tentang malam itu. Karena aku tidak ingin sedikit pun mengingat nya," ucapnya dengan penuh penekanan, membuat Sheila menahan jerit dalam hatinya. Terang betul, perkataan Dewa sungguh menyakitkan. Karena satu persatu penolakan di utarakan Dewa secara terang-terangan.


Sheila masih bergeming. Tertunduk lesu.


Sheila masih terdiam. Karena sebenarnya bukan ini yang dia harapkan. Bukan uang dan bukan apapun yang melekat pada Dewa. Namun cinta, ya cinta Dewa yang dia impikan dan dia inginkan sangat selama ini. Ingin berteriak memberi tahu Dewa, jika dia mencintai dalam diam selama ini.


Takut.


Tidak punya kekuatan untuk itu.


Ingin menjerit dan berteriak tepat ditelinga Dewa dan mengutarakan semua perasaan nya yang lama dia pendam.


Sulit.


Bibirnya beku dan terasa kaku.


Yang ada Sheila masih bergeming dan tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir nya. Yang ada hanya tarikan nafas yang terdengar berat untuk di dengar Dewa sebagian lawan bicara.


Dewa bangkit dan menyimpan dua tangan nya pada saku celana melipis nya. Menunggu kata apa yang keluar dari mulut Sheila, meskipun baginya, antara penting dan tidak penting untuk dia dengar. Dia tetap akan memecat Sheila. Karena jika terus melihat Sheila menjadi resepsionis hotel nya. Dewa akan sangat merasa berdosa kepada istrinya.

__ADS_1


Sheila kemudian bersimpuh di kaki Dewa. Memohon untuk tidak dipecat, karena dengan dia dipecat dan tidak bekerja di hotel ini, akan semakin jauh Sheila dengan Dewa. Tidak bisa memantau pergerakan Dewa.


"Maafkan aku Sheila, kamu tetap saya rumahkan. Dan kamu boleh pulang dan tidak bekerja mulai hari ini."


"Aku mohon Dewa, beri aku kesempatan untuk tetap bekerja di sini. Aku mohon," pintanya dengan sangat anmun Dewa tetap pada pendirian awalnya dan tidak berubah.


"Sebaiknya kamu keluar Sheila." perintah pelan itu terdengar bagai sambaran petir untuknya. Tidak dia kira dan tiba-tiba tanpa dia ancang-ancang sebelumnya.


"Bagaimana kalau sampai akhir bulan ini?Izinkan aku bekerja di sini," ulangnya dengan permohonan yang sama.


Membuat Dewa bertambah tidak mengerti mengapa Sheila begitu inginnya bekerja di hotel ini. Padahal dengan uang yang dia berikan, dia bisa buka usaha dan mendapatkan penghasilan lebih dari gaji sebagai resepsionis hotel. Semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepala Dewa. Terlebih jika merunut dari awal sejak pertemuan nya dengan Sheila. Yang awalnya dia tidak mencium ada gelagat aneh pada Sheila, perlahan banyak tanda tanya dari what and why?


Ya.


What?


Apa yang mendasari Sheila ingin tetap bekerja? Hutang ayahnya pada Gaston sudah dia bantu lunasi. Lalu apa?


Why?


Mengapa Sheila tidak memilih opsi mengambil uang darinya saja jika dia butuh untuk menghidupi dirinya sendiri? Dia bisa usaha. Dan jawaban nya pasti hanya satu. Tapi apa?


"Okay... Sampai bulan ini saja." Dewa yang perlahan akan menyelidiki nya.


"Benarkah?"


"Sekarang kamu kembali ke tempat kamu," perintah Dewa kepada Sheila.


Sheila mengangguk lega. Dia keluar dari ruang kerja Dewa dan kembali ke tempat nya.


Perasaan nya campur aduk. Antara harus memikirkan cara bagaimana supaya Dewa tidak akan pernah memberhentikan nya bekerja dari hotel ini.


Dengan cara apa lagi?


Aku harus berbuat apa?


batin Sheila.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2