Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Kenapa nggak bisa?


__ADS_3

"Kenapa nggak bisa?"


"Aku tidak ingin mengecewakan dia."


"Dengan kamu menyembunyikan semuanya, kamu sudah mengecewakan dia." Nasehat Dewa yang sebenarnya menampar dirinya sendiri.


Bagaimana tidak?


Dia saja menyimpan rahasia kekhilafannya dengan Sheila dari Mega. Sekarang sok-sok an menasihati Satrio.


"Jangan paksa aku untuk cerita perjalanan cinta aku dengan Mega. Dan Pengkhianatan kalian yang membuat aku memutuskan Dewi sebagai penyembuhnya. Ini semua juga gara-gara kakak kan."


"Kok aku?"


"Kenapa kakak nggak balik aja sama Arumi. Cari dia! Biarkan aku hidup bahagia dengan Mega."


"Lalu Rania?"


"Itu bukan perkara sulit sebenarnya, kakak saja yang sudah jatuh cinta dengan Mega dan membuat semuanya bertambah pelik seperti ini. Ah sudahlah!" Satrio yang tampak frustasi jika harus mendengarkan apa kata kakaknya.


Dua orang pria dewasa itu tampak tegang. Perlahan mengatur ritme nafas yang sama-sama terdengar berantakan.


"Di detik seperti ini saja, kamu bahkan masih berharap bersatu dengan Mega, apa pernikahan mu akan bahagia?"


"Bukan urusan kakak!" Pelan namun menghujam.


"Kenapa kamu buru-buru? Itu aja yang ingin kakak tahu."


"Bukan urusan kakak!" Intonasi bicara Satrio bertambah.


Dewa berdecak. Mendengus kasar setelah tahu tanggapan adiknya yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"Okay... up to you. Kakak sudah pernah nasehati kamu." Dewa yang sudah melangkah ingin bergabung dengan dua wanita dewasa di dalam restoran, namun baru dua langkah, dia berhenti. "Satu lagi yang mengganjal, kamu terkesan buru-buru dan hanya ingin balas dendam kepada Mega lebih tepatnya." Dewa melanjutkan langkahnya. Namun berhenti kembali, setelah Satrio membalas apa yang baru saja kakak nya katakan.


"Kenapa kakak nggak sekalian bunuh aku aja. Kakak sudah ambil Mega, sekarang aku akan menikah dengan Dewi, kakak bicara seperti ini," ucapnya pasrah seolah serba salah.


Dewa kembali mendekat tidak jauh dari posisi adiknya berdiri. "Okay, maafkan kakak. Asal kamu tahu. Kamu berhasil membuat istri kakak sedikit cemburu. Kamu juga berhasil membuatnya kacau bahkan sakit dengan keputusan kamu menikahi Dewi. Kakak mungkin bisa mengerti. Karena sebelumnya kalian adalah sepasang kekasih. Tapi Dewi?"


Satrio terdiam. Hanya hembusan nafas kasarnya yang coba Dewa artikan.


"Apa menurutmu kakak buta dengan apapun yang kalian lakukan di belakang kakak? Terutama kamu."


Satrio menoleh dan menatap ke arah kakaknya. Sangat mudah mencerna dan menafsirkan apa yang dimaksudkan oleh kakaknya. "Maksud kakak?" Satrio yang pura-pura bodoh.


"It' s okay... waktu itu masih awal. Dimana hati kamu mungkin belum terima. Kakak tahu semuanya, apa yang kamu lakukan ke Mega. Kakak tahu," ucapnya pada kata semuanya, terdengar ada kemarahan yang tertahan. "Apa perlu kakak jabarkan satu persatu. Dari kamu yang mengecup bibir istri kakak di rumah sakit dan itu terhitung lebih dari satu kali. Apa menurut kamu itu biasa? Bisa di simpulkan kalian main hati, tapi kakak paham dan bisa mengerti. Tapi tidak pada Dewi. Dan apa yang kakak takutkan? Pertengkaran Dewi dan Mega kelak gara-gara kamu," kata Dewa tidak lagi setengah marah namun benar-benar marah.


Satrio tertunduk. Sesaat merasa bersalah, tapi hati kecilnya enggan mengakui jika dia bersalah waktu itu. "Sudah aku putuskan, aku akan jaga jarak dengan Mega. Biar Dewi tahu dengan sendiri nya. Dengan begitu saya yakin, Dewi dan Mega kelak tidak akan bertengkar. Dan aku akan berusaha mencintai Dewi."


"Yakin bisa?"


Satrio mengangguk. Meyakinkan Dewa.


"Kalian dari mana?" tanya Dewi.


"Oh, kita melihat telaga biru sebentar," sahut Dewa yang kemudian duduk di samping istrinya.


Mereka semua kemudian menikmati hidangan andalan di restoran tersebut. Tidak lupa setelah nya, mereka masih berbincang santai untuk menambah kedekatan, karena sebentar lagi Dewi akan menjadi bagian dari keluarga besar mereka.


Setelahnya usai. Dewa sengaja membawa Rania terlebih dahulu dan menuju area khusus parkiran mobil. Jarak dengan restoran sekitar belasan meter. Barulah disusul Mega yang berjalan menuju parkiran. Namun terlihat ada sebuah sepeda motor yang sengaja melaju kencang dan Mega seperti nya tidak memperhatikan. Membuat Satrio berlari dan teriak memanggil Mega.


"Mega..." Satrio berhasil menarik lengan Mega dan mereka berdua jatuh di aspal. Tubuh Satrio tertindih Mega, hingga membuat kedua sikut Satrio lecet-lecet dan mengeluarkan darah.


Dewa lari mendekat ke posisi keduanya. Begitu juga dengan Dewi. "Kalian nggak apa-apa?"

__ADS_1


Mega geleng-geleng kepala dan masih terkaget.


"Honey, sikut kamu. Kamu tunggu di sini dulu, biar aku ambilkan obat merah dan kain kasa di dalam mobil." Dewi segera menyeberang jalan dan menuju parkiran mobil.


Mega juga berjalan ke arah mobil yang terparkir.


"Baru dua jam yang lalu kamu berkata, tapi nyatanya kamu tidak bisa kan?"


Satrio yang tengah memperhatikan dua sikut nya, langsung menatap kakak nya. "Tapi istri mu itu hampir ketabrak motor kak," kesal Satrio yang terus dituding Dewa seakan masih peduli kepada Mega. "Lagian semua orang juga akan melakukan hal yang sama. Jika tahu Mega hampir ketabrak sepeda motor tadi. Aku aja yang tahu," imbuhnya.


"Kakak juga tidak bodoh, Satrio," jawab Dewa tidak kalah menatap tajam adiknya.


Satrio dengan cepat menangkap apa maksud kakak nya. "Dasar gila, mana ada suami mau mencelakai istrinya sendiri?" ucapnya


"Lebih tepatnya, ingin tahu reaksi kamu. Peduli atau sudah tidak peduli padahal nyata-nyata ada sosok Dewi di samping kamu," jawab Dewa.


Ya, Dewa sengaja menyuruh orang, untuk melakukan tindakan tadi. Disini adalah kecerobohan Mega, dimana dia tidak lihat jalan dan sibuk dengan ponsel dan tas di bahu nya. Sengaja dia lakukan bukan bermaksud untuk membahayakan istrinya, namun ingin melihat reaksi Satrio. Dan ternyata hasilnya, sudah dapat dia prediksi, Satrio berlari menolong istrinya dan rela sikutnya lecet-lecet, padahal dia bisa diam saja dan pemotor suruhannya tidak benar-benar akan menabrak Mega.


"Terserah kakak!" jawab kesal Satrio yang tidak peduli apa anggapan Dewa terkait tindakan nya menolong Mega.


"Sini honey," sahut Dewi yang sudah datang akan memberi obat merah pada kedua sikut Satrio.


"Thanks ya Sat, kamu sudah menyelamatkan istri saya," ucap Dewa dan setelah nya pergi.


Sementara Dewi masih belum sadar, meskipun Dewa banyak memberi tanda-tanda kepada nya, untuk bisa paham jika calon suaminya begitu peduli dengan istri dari kakak nya.


"Kamu ceroboh sekali sih," omel Dewa kepada Mega setelahnya dia sampai di mobil.


Mega hanya diam.


"Lain kali kalau lagi di jalan, kamu fokus pada jalan, bukannya sibuk dengan pemikiran kamu yang mbelandang kemana-mana," imbuhnya.

__ADS_1


Mega tetap diam. Pandangan nya bahkan tertuju pada dua sosok di seberang jalan. Dewi yang sedang mengobati luka Satrio. Seolah seperti itu gambaran situasi hati mereka. Gara-gara dia, Satrio terluka dan Dewi lah yang memberikan obat nya.


BERSAMBUNG


__ADS_2