Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Kebohongan Sheila terkait kehamilannya


__ADS_3

Dewa berhasil membujuk dokter Farhan. Hari pertama, dia mengintai rumah Sheila dan mengikuti kemana pun wanita itu pergi. Namun seperti nya tidak ada tanda-tanda mencurigakan untuk hari itu. Sheila pergi bersama teman nya dan tidak ada hal yang mencurigakan hari itu.


Farhan langsung memberi tahu ke Dewa. Berharap upaya di hari selanjutnya membuahkan hasil.


Belum sampai pada esok harinya. Malam-malam Sheila pergi bersama teman wanita nya. Dan alangkah terkejutnya Farhan, Sheila ternyata pergi ke sebuah club malam. Farhan terus menguntit nya, kemana pun wanita itu berjalan.


Farhan juga terkejut, karena Sheila ternyata memesan alkohol dan meneguk nya. "Hah? Apa dia gila? Katanya dia hamil muda. Apa benar firasat Dewa? Jika wanita itu hanya berbohong dan memanfaatkan Dewa," gumam nya pelan.


"Sheila, nanti kamu mabuk," larang wanita yang mungkin itu adalah teman Sheila.


Sheila malah tertawa. "Kamu tenang aja. Aku masih oke kok."


"Sheila?" Farhan menghampiri Sheila.


"Dokter Farhan?" Sheila terkejut mengapa bisa seorang dokter Farhan ada di tempat seperti itu.


"Bukan nya kamu hamil?"


Sheila beranjak pergi sembari memegangi pelipis kanan nya.


"Sheila ... Sheila ..." panggil dokter Farhan mengejar Sheila yang menghindar. Mencoba meraih pergelangan tangan Sheila, namun berulang kali lepas dan Sheila berhasil pergi. Namun sayangnya itu untuk sementara. Pada akhirnya, Farhan berhasil mengagetkan Sheila dan sudah berdiri di hadapan wanita itu. "Mau kemana kamu Sheila?"


"Dokter Farhan," ucapnya dengan nafas sengal.


"Kenapa kamu berlari Sheila? Apa yang kamu takutkan?"


Sheila mengalihkan pandangan. Enggan menatap pria di depannya itu karena takut matanya ketahuan berbohong.


"Bukan urusan dokter. Sekarang biarkan saya pergi."


"Menjadi urusan saya. Apa kamu tidak hamil?"


"Sekali lagi aku katakan pada dokter Farhan. Hamil atau tidak nya saya, bukan urusan dokter," cetus Sheila dengan kilatan murka di dua bola mata nya.


Dokter Farhan lalu mencengkeram kuat pergelangan tangan Sheila. "Sekali lagi juga aku katakan kepada kamu Sheila. Urusan hamilnya kamu adalah urusan saya juga. Karena apa? Dewa begitu murka kepada saya. Jadi tolong kamu jujur, apakah kamu hamil atau tidak dengan Dewa?" Wajah mereka saling beradu tegang.


"Lepaskan!" Sheila yang berhasil menghempas kasar tangan dokter Farhan.


Sheila kemudian berhasil pergi dari hadapan dokter Farhan.


"Sheila ... Sheila ..." panggilnya berlari mengejar Sheila yang sudah masuk ke dalam taksi online.

__ADS_1


Dokter Fajar kemudian menghubungi Dewa dan mereka membuat janji untuk bertemu.


"Bagaimana?" tanya Dewa dengan antusias nya.


"Sheila berhasil lolos."


Dewa mendengus kasar. Mengacak pula rambutnya karena rasa frustasi yang menguasai.


"Sepertinya kamu benar, dia tidak hamil. Karena tidak mungkin wanita hamil muda pergi ke club malam dan meneguk alkohol tanpa beban."


"Apa benar yang kamu katakan?"


Dokter Farhan mengangguk.


Dewa berkacak pinggang, berjalan mondar-mandir sembari memikirkan cara bagaimana membuat Sheila mengaku.


"Serahkan semuanya padaku. Aku akan selesaikan semuanya. Dan kamu harus bayar mahal aku untuk ini."


"Caranya?"


"Nanti kamu akan tahu?"


"Tidak berbahaya dan tidak mengarah ke ranah hukum kan?"


"Okay ... Aku percaya pada mu." Dewa menepuk pundak teman nya itu. Lalu berlalu dari hadapan dokter Farhan.


.


.


Keesokan harinya.


Dokter Farhan menjalankan misi nya seorang diri. Mendatangi rumah Sheila lengkap dengan obat bius yang akan dia gunakan untuk membekap Sheila.


Tok ... tok


Dokter Farhan yang sudah berdiri di depan pintu rumah Sheila, setelah memastikan jika Sheila memang berada di dalam rumah seorang diri.


Tanpa sahutan dari dalam, Sheila langsung membuka pintu utama rumah nya. Tanpa curiga sedikitpun siapa yang bertamu ke rumahnya dan berlaku seperti biasa.


Setengah terkejut, setelah membuka pintu ternyata dokter Farhan yang sudah berdiri di hadapan nya. Sheila langsung tidak sadarkan diri, karena dokter Farhan langsung membekapnya dengan kain yang diberi obat bius. Tubuh Sheila ambruk dan ditangkap oleh dokter Farhan yang kemudian dia papah dan masukkan ke dalam mobil untuk dibawa di tempat praktek nya.

__ADS_1


Sesampainya di tempat praktek. Mega dan Dewa dibuat terkejut atas apa yang dilihat nya.


Ya, dokter Farhan sudah menghubungi Dewa untuk datang ke tempat praktek nya. Melihat sendiri hasil USG Sheila di dalam ruang kerja nya. Apakah janin Sheila benar-benar ada dalam perutnya, atau hanya sebuah dusta yang sengaja Sheila ciptakan guna carut marutnya rumah tangga Mega dan Dewa.


"Apa yang kamu lakukan Farhan?" tanya Dewa tergopoh melihat Farhan teman nya tengah membawa Sheila dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Kalian akan tahu sendiri nanti."


Mega dan Dewa juga berjalan cepat menyusul dokter Farhan masuk ke ruang kerja nya.


Dengan cepat pula dan sangat cekatan seolah sudah memperkirakan kapan obat bius itu akan menyadarkan Sheila. Dokter Farhan bahkan tidak sungkan mengoles gel di perut Sheila, seperti apa yang dikerjakan sebagai seorang dokter spesialis kandungan pada umumnya, memeriksa janin ibu hamil adalah tugas sehari-harinya.


Dokter Farhan sangat serius mengecek janin dalam perut Mega. Namun pada layar ultrasonografi, sama sekali tidak ada tanda-tanda janin yang sedang berkembang di perutnya.


Baik Mega dan Dewa juga memandangi layar tersebut. Namun lagi-lagi mereka tidak mengerti dan menunggu dokter Farhan mengatakan sesuatu.


"Sheila tidak hamil," ucapnya dua rius. Lebih dari kata serius.


Membuat Dewa dan Mega saling bertukar tatap.


"Benar kan apa kata ku. Sheila tidak hamil," ucap Dewa.


"Jadi dia bohong?" tanya Mega pelan.


"Iya, kalau dia mengaku hamil. Itu berarti dia bohong," jawab dokter Farhan.


Dewa sudah geram dan ingin membunuh saja wanita seperti Sheila. Licik dan penuh dengan intrik, menghalalkan segala cara guna tercapainya keinginan nya semata tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Sheila perlahan sadar dan membuka mata nya. Sheila dibuat terkejut lagi, karena melihat sosok Mega, dokter Farhan dan Dewa. "Kalian?" lirih Sheila yang tidak terima karena ingatannya tentang dokter Farhan yang membiusnya. "Apa yang kalian lakukan pada saya?" Sheila kemudian memeriksa perutnya, bergeser menatap layar ultrasonografi dan bisa menyimpulkan jika mereka sudah tahu tentang kebohongannya terkait kehamilan nya.


"Berani-beraninya kamu berbohong Sheila," cetus Dewa dengan tingkat kegeraman akut. Menatap wanita itu penuh murka dan ingin membunuhnya jika penjara tidak menghukumnya.


Sheila hanya bisa tertunduk.


"Kenapa kamu diam Sheila?" sahut Mega yang tak kalah geram dari suami nya. Mega bahkan mendongakkan dagu wanita itu untuk berani menatap nya. "Jahat sekali apa yang kamu lakukan itu Sheila! Aku tidak akan memaafkan kamu. Kamu menjebak suami ku untuk tidur dengan mu. Hanya karena kamu ingin menuruti hati kamu yang menginginkan Dewa. Apa kamu sudah gila, Sheila?" Mega yang semakin mendekatkan wajahnya tepat dihadapan wajah Sheila. "Hah?" pekik Mega dengan keratan pada seluruh gigi dalam rongga mulutnya. Yang kemudian dagu tersebut dihempas kasar oleh Mega. Rasanya sama seperti Dewa. Jika penjara tidak akan menjadi tempat baginya setelah membunuh Sheila. Mungkin akan di lakukan nya. Bahkan dengan cepat Mega akan menghabisi perempuan di depan nya.


"Aku mencintai Dewa, Mega. Bahkan sebelum kamu datang dan menjadi istrinya."


Plak


Mega menampar keras pipi mulus Sheila.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2