
Malam hari telah tiba.
"Gimana?" tanya Dewi tentang penampilannya malam itu kepada Satrio.
"Very beautiful."
"Aaaa..." balasnya manja. Dewi yang merasa terbang berulang-berulang dengan semua hal yang keluar dari mulut pangeran nya.
"Ya udah yuk, kita jemput mama, papa dulu. Ntar keburu malam."
Dewi mengangguk. Perempuan itu sungguh merasa malam itu adalah malam terbahagia nya. Isi kepalanya bahkan sudah berkelana jauh tentang hari pernikahan nya nanti.
"Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Satrio yang heran dengan wanita yang duduk di samping nya.
Dewi nyengir, malu, karena lamunan nya terputus tiba-tiba dan belum dia selesaikan dengan lamunan yang berakhir dengan pernikahan yang terbahagia.
"Aku hanya bayangin aja, sebentar lagi kita akan menikah dan akan aku peluk terus kamu. Tidak akan aku lepaskan, Aku akan ikut kemana pun kamu pergi."
Dahi Satrio mengernyit. "Itu berlebihan, sweety."
"Biarin aja."
"Okay... up to you."
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya berhenti di rumah Oma nya Dewi.
"Malam Tante, Om." Satrio yang mencium punggung tangan mama dan papa nya Dewi. Mereka semua kemudian masuk ke dalam mobil. Satrio kemudian membawa mereka semua untuk makan malam bersama di rumah nya.
Kurang dari tiga puluh menit, mereka semua akhirnya sampai di rumah Satrio. Dimana kedatangan Dewi beserta mama dan papa nya sudah dinantikan oleh keluarga Satrio.
Satrio sudah memperkenalkan mama Giani dan papa David kepada mama dan papa nya. Mereka semua di sambut baik. Mereka masih berbincang sebentar di ruang tamu.
Sedangkan di bagian lain dari rumah tersebut.
"Sayang, kamu kok belum dandan?" tanya Dewa kepada Mega yang masih belum berganti pakaian dan memoles wajahnya dengan satu pun piranti make-up.
"Aku nggak ikut makan malam bersama," jawab Mega tidak bersemangat.
"Kenapa?"
"Kepala ku pusing dan butuh istirahat."
Dewa yang kemudian hendak memijit pelipis Mega, namun sudah tersengat suhu tubuh Mega yang tinggi. "Kamu sakit?"
Mega mengangguk.
"Ya udah kalau begitu, aku ambilkan obat dulu ya." Dewa yang kemudian mengambil obat terlebih dahulu, sebelum acara makan malam di mulai.
Setelahnya dia turun ke bawah dan ikut bergabung menyambut tamu yaitu calon istri berikut keluarga dari adiknya.
"Mana istri kamu?" tanya ibu Rahma berbisik di telinga Dewa.
"Sakit ma, badannya demam. Tapi udah minum obat dan sekarang istirahat."
Mereka semua kemudian makan malam. Obrolan panjang pendek mewarnai acara makan malam bersama. Satrio juga mencari keberadaan Mega. Namun sejak awal acara, Mega tidak menampakkan diri yang dia tidak tahu Mega kenapa dan dimana.
__ADS_1
"Mega kemana ma?" tanya Satrio pelan saat acara makan malam berlangsung.
"Kata Dewa sakit, badan nya demam dan sekarang istirahat."
"Oh..." Satrio melanjutkan menikmati hidangan makan malam nya.
Satu jam, dua jam, hingga tiga jam berlalu. Malam semakin bertambah dan terasa larut begitu juga sunyi. Acara makan malam usai. Dapat dirasakan jika semua tercipta kehangatan antar keluarga. Ibu Rahma menyukai sosok Dewi yang bisa disimpulkan adalah perempuan cerdas dan berkelas. Namun Dewi juga memiliki tata krama ketimuran, terbukti Dewi sangat ramah dan murah senyum kepada ibu Rahma dan sama sekali tidak terlihat arogan seperti kebanyakan perempuan berkelas lainnya.
"Kalau begitu aku antar Dewi, mama Giani dan papa David dulu ya ma," pamit Satrio setelah makan malam usai.
"Iya sayang hati-hati ya."
"Iya ma. Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
.
.
Satrio kemudian mengantar mama Giani, papa David dan Dewi pulang. Setibanya di rumah mereka. Dewi masih enggan turun dan masih bergelayut manja meminta peluk calon suaminya.
"Aku sudah tidak sabar, ingin begini terus sepanjang hari bersama kamu," godanya tentu dengan ekspresi yang keseluruhan rasanya adalah bahagia. Dewi sangat senang dengan hari itu. Hari dimana siangnya Satrio menyematkan cincin dengan ajakan menikah yang berlanjut acara makan malam pertemuan keluarga dan membahas pernikahan mereka.
"Sebentar lagi, keinginan kamu itu akan terwujud. Sekarang kamu masuk ya, istirahat dan besok kita mulai hunting persiapan pernikahan.
"Okay..." Dewi yang kemudian melepas pelukannya dari Satrio. Keluar mobil dan melambaikan tangan kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi calon imam nya.
.
.
Semua sedang berkumpul untuk sarapan. Kecuali Mega yang masih absen di meja makan.
Dewa sibuk membawa bubur untuk istrinya ke kamar.
"Mega masih sakit?" tanya ibu Rahma saat Dewa melintas membawa nampan bubur ayam menuju kamar.
"Iya ma "
"Kenapa kamu nggak bawa ke rumah sakit saja?" imbuhnya.
"Mega nggak mau ma, hanya demam dan sudah minum obat. Dia hanya butuh istirahat," jawab Dewa yang kemudian melanjutkan naik tangga menuju kamar nya.
Satrio kemudian pamit menuju proyek. Dewa juga pamit bekerja setelah menyuapi Mega istrinya. Disusul pak Hendarto juga pergi ke kantor seperti hari-hari biasa.
Tinggallah ibu Rahma yang membicarakan sosok Dewi dengan bibi di dapur. Ibu Rahma sangat bangga dan bahagia, Satrio akhirnya memutuskan menikah dengan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu.
Banyak sanjungan yang keluar dari mulut ibu Rahma, dari menyanjung jika Dewi adalah wanita berkelas, elegan bak model internasional namun terlihat sekali sopan dan sangat ramah kepada nya.
Semua sanjungan setinggi langit dari ibu mertua nya itu sampai terdengar di telinga Mega. Saat Mega menuruni anak tangga, telinga nya jelas sekali jika ibu Rahma begitu berharap banyak jika rumah tangga Dewi dan Satrio kelak bahagia.
Ibu Rahma juga sudah tidak sabar menanti pernikahan keduanya. Dimana kurang dari dua bulan acara keduanya akan siap di gelar.
"Rumah ini akan ramai bi, karena sebentar lagi ada istrinya Satrio yang tinggal disini," celetuk ibu Rahma setelah panjang lebar cerita acara makan malam dengan calon besan nya dan calon menantunya.
__ADS_1
"Iya Nya," jawab bibi.
"Kamu sudah baikan Mega?" tanya ibu Rahma yang tahu jika Mega sedang mendekat ke arah nya.
"Sayang sekali kamu tidak ikut acara makan malam. Kamu jadi tidak tahu calon istrinya Satrio."
"Mega sudah tahu kok ma, kita pernah bertemu di restoran Jepang sebelumnya."
"Oh iya, iya mama ingat. Dewa pernah mengatakan hal itu. Mama bersyukur sekali, Satrio akhirnya bisa move on dari kamu. Rumah tangga kamu dan Dewa akan jauh lebih tenang. Dan kalian tidak terus merasa berdosa seolah Satrio tersakiti dengan pernikahan kalian. Dia sudah memutuskan memilih Dewi dan mama bahagia akan hal itu."
"Mega juga ma," jawab nya berat namun harus dia katakan.
"Rumah ini akan ramai, mama senang."
"Iya ma."
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke dokter sebentar ma. Aku ingin cek tensi ku. Aku pikir dengan obat biasa, kepala ku yang pusing akan sembuh. Nyatanya malah bertambah pusing."
"Telepon Dewa saja, suruh pulang dan suruh antar ke rumah sakit."
"Nggak usah ma, Mega naik taksi online saja. Lagi pula, kak Dewa tadi juga sudah menawari Mega untuk pergi ke rumah sakit, namun Mega tidak mau."
"Ya udah tapi hati-hati ya, serius mama khawatir lho ini."
"Nggak akan kenapa-napa ma. Mega berangkat ya," pamitnya dengan mencium punggung tangan ibu Rahma.
"Hati-hati sayang."
"Iya ma, assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Mega kemudian naik taksi online menuju rumah sakit. Dimana saat tengah di dalam di dalam perjalanan. Dia melihat Satrio dan Dewi di perempatan jalan tepatnya di lampu merah.
Kaca jendela mobil Satrio terbuka lebar. Mobilnya berhenti tepat di samping taksi online nya saat menunggu lampu merah berganti hijau. Ada perasaan yang sulit dia terjemahkan apa namanya. Yang jelas cukup tersiksa, apalagi Dewi begitu terlihat manja saat bersama Satrio. Satrio juga begitu, memperlakukan Dewi dengan manis dan lembut membelai rambut wanita itu. Mega hanya melihati mereka tanpa ingin berusaha mengalihkan dua bola matanya. Sedari tadi dia dibuat takjub oleh pemandangan di samping nya. Sampai-sampai buliran jernih jatuh tanpa disadarinya.
"Kita ikuti mobil itu ya pak," kata Mega kepada supir taksi online nya.
"Baik mbak."
Mega memutuskan menguntit mereka berdua. Walau batinnya melarangnya, namun rasa penasaran sungguh menguasai jalan pikiran nya.
Dimana akhirnya mobil Satrio berhenti di sebuah butik ternama di kota itu. Satrio berlaku manis dengan membukakan pintu mobil untuk wanita nya. Disambut Dewi yang langsung melingkarkan kedua tangan nya pada perut Satrio. Begitu juga kepalanya yang bergelayut manja di bahu Satrio, berbalas sama dengan Satrio yang merengkuh pundak wanitanya berjalan memasuki butik.
Isak samar Mega bersuara, tidak cukup satu lembar tisu untuk menyapu bulir-bulir jernih silih berganti menetes tanpa ingin berhenti.
Melihat keduanya menampilkan kemesraan seperti itu rasanya antara sakit dan bahagia bercampur.
Masih melihati mereka dari kejauhan. Terlihat jelas karena seluruh dinding butik tersebut bagian depannya adalah kaca. Keduanya tampak bahagia, aura wajah Satrio tak bisa berdusta. Sosok Dewi cukup mampu menggeser nama nya yang lama bertahta di hati pria tersebut.
Dan lagi-lagi lembaran-lembaran tisu berjatuhan seusai Mega menyumbat ingus yang keluar dari hidung dan air mata yang tak kunjung berhenti jua.
"Jalan pak! Kita ke rumah sakit."
__ADS_1
BERSAMBUNG