Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Melepas Komitmen? Berpisah?


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" tanya Satrio yang sudah berusaha menenangkan hati Mega. Keduanya duduk di kursi kayu panjang tepi telaga biru, di bawah pohon trembesi.


Mega masih terisak-isak. Sengguk nya pelan namun terasa mengiris hati Satrio. Sangat yakin, jika Dewa pasti melukai perasaan wanita itu. Karena sangat tidak mungkin, Mega bisa menangis hebat seperti yang dia dengar.


Dert...


Dert...


Suara ponsel Mega sedari tadi tidak berhenti. Dewa terus mencoba menghubungi Mega. Namun tak sekalipun diangkat nya. Hatinya sakit, benar firasatnya, Sheila ternyata diam-diam suka kepada Dewa, suaminya.


Setelah melakukan panggilan puluhan kali Dewa akhirnya menyerah dan terbesit satu nama yaitu telaga biru. Dengan segera Dewa menuju telaga biru. Namun sayangnya, Mega sudah membuat janji dengan Sheila.


Awalnya Mega tidak mau mengangkat panggilan dari Sheila, namun akhirnya dia mau mengangkatnya. Disitu Sheila memohon, supaya Mega mau menemuinya.


"Mau bicara apa?" tanya Mega pelan namun hatinya cukup terluka.


"Aku mau minta maaf," ucap Sheila tentu dengan air mata palsu.


"Untuk?"


"Aku nggak tahu bagaimana menjelaskan nya ke kamu."


"Nggak apa-apa, jelaskan aja. Aku sudah siap mendengar nya."


"Aku..." Sheila menghentikan kalimatnya. Karena pasti akan membuat hati Mega hancur seketika.


"Aku apa?" tanya Mega dengan wajah takut sekaligus serius.


"Aku ... Aku hamil anak Dewa," ucap Sheila dengan bibir bergetar.


Mega geleng-geleng kepala. Buliran jernih menetes begitu derasnya enggan berhenti sedari tadi. "Nggak ... Nggak mungkin ... Nggak mungkin," jawab Mega menepis apa yang masuk ke telinga nya. "Kamu bohong kan Sheila?" Nadanya bertambah karena saking kecewanya.


Sayangnya kali ini Sheila menang dan geleng-geleng kepala. Meyakinkan Mega, jika diperutnya, ada benih milik suaminya. "Aku nggak bohong Mega, malam itu..." Sheila yang bercerita bagaimana bisa Dewa melakukan perbuatan terlarang itu dengan nya.


Tangis Mega semakin terdengar keras, rasanya Sheila tidak mungkin berdusta, apalagi sampai membohongi hal sebesar ini kepadanya.


Mega kemudian pergi dan menangis, namun Satrio meraih tubuh wanita itu dan memeluknya. Cukup lama keduanya berdiri terkikis jarak. Mega menyembunyikan wajahnya yang dia letakkan di dada Satrio. Satrio kemudian membawa Mega masuk mobil. Dia kemudian berbicara dengan Sheila dan bertanya ada apa semua ini.


.

__ADS_1


.


Malam semakin larut. Dewa resah dan terlihat sekali tidak tenang di dalam kamar. Menanti kepulangan Mega dan Satrio.


Ya, Satrio memberi tahu kepada kakak nya, jika Mega bersama nya. Dia butuh waktu untuk sendiri terlebih dahulu.


Sedangkan Mega, tatapannya sayu melihat telaga biru. Semua yang ada di depannya terlihat hitam, gelap, seperti hatinya kini yang berkabut karena pengkhianatan suaminya.


Satrio yang meletakkan jaket pada dua bahu wanita yang berdiri tanpa bergerak sedari tadi. Hanya hembusan nafas berat Mega setelah cukup banyak air mata terkuras sejak pertama setelah dia tahu semuanya. "Kamu bisa sakit, sebaiknya kita pulang. Suami mu sudah menunggu."


"Aku nggak mau pulang," jawabnya berat.


Satrio merengkuh wanita yang masih bergeming tak berpindah tempat itu. Tangis Mega kembali terisak dan membuat Satrio bisa merasa jika Mega sungguh teramat sakit. "Kita pulang ya," ulangnya dan kali ini Mega tidak menolak.


.


.


Bugh


Satrio tanpa basa-basi memukul Dewa dengan kemarahan yang sempat tertunda sejak tadi pagi.


Namun bukannya berhenti, Satrio mencengkeram kuat kaos kerah yang dikenakan kakak nya. "Jelaskan apalagi?" teriak Satrio dengan kemarahan tingkat tinggi.


"Pa, aku kok mendengar orang ribut ya." Ibu Rahma mengatakan kepada pak Hendarto saat dia terbangun dari tidurnya.


"Iya ma, kayak suara Dewa dan Satrio," jawab pak Hendarto yang terperanjat.


Keduanya kemudian turun dari ranjang dan keluar kamar mencari sumber suara.


"Hentikan!" teriak pak Hendarto yang melihat perkelahian fisik dua putra nya.


Satrio menghentikan pukulannya.


Baik ibu Rahma dan pak Hendarto tercengang melihat peristiwa malam itu. "Ada apa kalian?" tanya keras pak Hendarto kepada dua putra nya.


Sedangkan ibu Rahma membawa Mega yang sesenggukan menangis masuk ke kamarnya.


Dewa dan Satrio di dudukkan oleh pak Hendarto. Wajah Dewa sudah tidak karuan dan dua sudut bibir nya mengeluarkan cairan merah kental.

__ADS_1


"Ada yang bisa jelaskan ke papa?"


Baik Satrio dan Dewa masih tertunduk. Keduanya terlihat sangat berantakan dengan tatanan rambut dan pakaian yang sudah tidak karuan.


"Kamu Sat! Kenapa kamu pukuli kakak mu?"


"Papa tanya langsung aja ke kakak."


"Pa, semua salah Dewa. Tapi biarkan saya dan Mega yang menyelesaikan nya."


Satrio menoleh, menatap kakak nya dengan sinis. "Dengan kamu terus bohongi Mega hingga menghamili wanita lain? Hah ... Begitu?" Dimana Satrio kemudian berdiri dan hendak pergi.


Namun pak Hendarto mencegahnya. Meraih lengan Satrio dan menyuruhnya duduk kembali. "Apa kamu bilang?" Wajah pak Hendarto sangat serius menatap Satrio. Bola matanya terdapat banyak tanya dan jawaban jujur dari putra nya.


"Papa tanya kakak aja, Satrio malas." Satrio kembali bangkit dan meninggalkan mereka berdua.


Namun belum sampai pak Hendarto bertanya kepada Dewa. Teriakan Mega meneriaki nya dengan meminta tolong. Memberitahunya jika ibu Rahma syok berat saat dirinya selesai bercerita jika Dewa ada afair dengan resepsionis hotel Mediterania, Sheila nama nya sekaligus teman kuliahnya dulu di kota ini.


"Ma, mama..." Pak Hendarto mengguncang lengan ibu Rahma namun tidak ada jawaban.


"Kita bawa ke rumah sakit saja pa," ujar Satrio yang memapah mama nya ke mobil. Situasi sedikit genting, keributan kecil terjadi lagi antara Satrio dan Dewa. "Selesaikan urusan kakak! Jangan bisanya cuma buat masalah!" Larangan keras Satrio yang tidak memperbolehkan Dewa ikut ke rumah sakit.


Dewa kemudian bersimpuh di kaki Mega yang tengah terduduk di ujung ranjang. Buliran jernih perlahan jatuh menghiasi wajah keduanya. "Aku minta maaf," ucap Dewa yang masih bersimpuh di kedua kaki Mega yang tengah sesenggukan. Tangisnya bertambah parah. Belum ada yang keluar dari mulut mereka berdua selain untaian kata maaf Dewa yang menyesali semua nya. Namun setelah cukup lama, berulang kali Dewa mencoba membantu mengusap air mata pada pipi istri nya, berulang kali pula Mega menepis kasar dan enggan di sentuh oleh Dewa. "Kamu harus dengarkan dulu penjelasan dari aku," imbuhnya galau dan terdengar menyerah. Karena Mega tidak memberi kesempatan pada dia untuk bicara.


"Sheila hamil anak kamu. Kamu tega." Mega yang bangkit berdiri dan ingin menjauh tidur di kamar putrinya.


Namun Dewa berusaha meraih pergelangan tangan istrinya untuk tetap tinggal dan bicara empat mata dengan nya.


Tanpa darah tinggi.


Tanpa air mata.


Karena Dewa yakin, semua adalah siasat Sheila yang katanya mencintainya. Ingin menghancurkan rumah tangga nya dengan Mega. Jadi dengan membuat pernyataan dia mengandung buah hatinya. Sudah tentu Mega percaya, terlebih memang benar apa yang dilakukan nya ke Sheila. Namun sangat kecil kemungkinan Sheila hamil. Karena dia sudah upayakan untuk tidak terjadinya itu semua melalui dokter Farhan. Hanya saja Dewa bingung bagaimana menjelaskan ke Mega, jika kepala Mega saja sudah dipengaruhi oleh Sheila.


"Aku mau bicara," ujar Dewa yang tidak ingin Mega pergi.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah putuskan untuk kita melepas komitmen," jawab Mega tentu dengan sisa tangis yang dia tahan.


"Melepas komitmen? Berpisah?" tanya Dewa memperjelas apa yang dikatakan istrinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2