Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Mega pergi dari rumah


__ADS_3

"Iya, aku memang melakukan itu kepada Sheila," ucapnya yang kemudian Dewa tertunduk.


"Dewa..." ujar ibu Rahma kecewa dengan putra nya.


Sementara Mega semakin sakit ketika hal itu di akui oleh suami nya.


Sedangkan Pak Hendarto dan Satrio sangat kecewa jika dilihat dari gelagat nya. Sesaat mengalihkan pandangan mereka dari Dewa. Menata ritme nafas yang sejak tadi terasa sesak.


"Aku minta maaf Mega, tapi aku mengira nya itu kamu. Sumpah demi apa pun aku tidak bohong ma, pa, Sat, Mega," mohon Dewa kepada semua orang yang mengelilinginya. Berharap lebih percaya kepadanya ketimbang Sheila.


"Kebiasaan!" Satrio yang spontan menarik kaos pada bagian dada kakak nya. Menatap tajam dengan kilatan murka. "Kakak pasti mabuk berat lagi kan? Kenapa ceroboh dan nggak bisa jaga diri?"


"Aku minta maaf Sat. Tapi aku tidak sedang dikuasai alkohol. Seperti ada yang dicampurkan Sheila di minuman ku."


Satrio kemudian melepas kasar cengkeramannya. "Jadi itu benar?"


Dewa mengangguk.


Menambah kekecewaan pada semua.


"Tapi aku udah berusaha mencegah nya," satu pernyataan Dewa yang lolos keluar dari mulutnya. "Aku menyuruh teman dokterku, untuk menggagalkan pembuahan misal itu akan mengakibatkan Sheila hamil. Aku sudah mencegahnya sayang," ungkap Dewa yang meraih jemari Mega namun Mega tetap sama. Dingin dan enggan disentuh oleh suaminya.


Melengos.


"Jadi itu yang membuat kakak yakin, jika Sheila tidak akan mungkin hamil setelah kalian melakukan kekhilafan?"


Dewa mengangguk.


Berbeda dengan ibu Rahma yang geleng-geleng kepala, mengelus dada dengan perilaku putra pertama nya, yang selalu membuat jantungnya nyeri kapan saja.


Tidak berubah.


Selalu saja ada masalah terkait makhluk hidup bernama wanita.


Dewa kemudian menjelaskan kepada semuanya. Jika diam-diam Sheila mencintai nya semenjak dia dengan Arumi, apapun cerita Sheila kepada nya di jiplak tanpa dia tambah dan kurangi, begitu adanya. Sheila menjebak nya. Dewa sangat yakin itu, demi hancurnya rumah tangga dia dengan Mega, karena dengan begitu, Sheila bisa mendapatkan cinta nya.


Diterima logika.


"Aku permisi dulu ma, pa." pamit Mega yang tetap ingin pergi dari rumah.


"Mega..." ibu Rahma tidak kuasa menahan menantu nya.


"Mega minta maaf ma, Mega tetap pada keputusan Mega. Mega tidak bisa terima apa yang sudah dilakukan kak Dewa."


Ibu Rahma bisa merasakan. Percaya atau tidak, putranya berkhianat. Tidur bersama wanita lain saja, sudah meremukkan hati Mega. Apa lagi sampai ... mengira Sheila adalah Mega. Terlalu konyol apa yang dikatakan oleh Dewa dan sulit di percaya untuk diterima oleh akalnya.


"Sayang aku udah jujur semuanya. Dan kamu harus percaya itu. Tidak ada dusta yang terkandung di dalam pengakuan ku," imbuh Dewa yang tidak mau Mega pergi. Bersikeras menahan wanitanya.


"Untuk sementara, Mega pulang ke rumah lama Mega ma, Mega titip Rania, Mega pamit ma, pa." Mega yang kemudian mencium punggung tangan ibu Rahma dan pak Hendarto.

__ADS_1


"Mama tahu kamu butuh waktu sendiri. Tapi mama harap, kamu bisa memaafkan Dewa dan kalian bersama lagi. Demi Rania, Mega."


Pak Hendarto yang menarik nafas lalu menghamburkan nya. "Papa bisa apa? Kalau itu sudah keputusan kamu. Papa bisa merasa, jika hati kamu sakit Mega. Tapi papa harap, kamu tidak membuat keputusan yang salah. Jika kepergian kamu ingin menenangkan diri. Papa merestui, namun jika kepergian kamu dari rumah ini lantas membawa masalah kamu ke pengadilan agama, berarti secara tidak langsung kamu membiarkan wanita itu menang. Dewa sudah mengakui semua nya kan, tolong kamu pikirkan." Panjang lebar pak Hendarto memberi nasehat kepada Mega. Berharap semua di dengar oleh menantunya.


Mega kemudian pergi. Namun saat hendak memasuki taksi online, dia dikejar oleh Dewa dan mereka ribut mulut lagi. "Sayang apalagi yang perlu aku jelaskan? Berapa kali aku harus bilang kalau Sheila menjebak ku."


"Ya, mungkin Sheila memang menjebak mu. Tapi kamu memberi nya kesempatan kan? Berapa kali aku bilang, kamu tidak pernah mendengarkan. Untuk tidak sekedar dekat dengan Sheila, tapi kamu selalu memberi dia ruang, celah. Mana aku tahu kalau saat itu memang kamu memang tergoda oleh nya? Hati kamu, aku tidak bisa baca.


Dewa tak berkutik. Mendengar apapun yang dikatakan Mega.


Benar semua.


"Iya, aku menyesal sayang. Tapi aku mohon kamu jangan pergi," pinta Dewa sangat.


Mega kemudian masuk ke dalam taksi online. Tidak peduli permohonan Dewa yang sudah mengiba.


Dewa hanya bisa pasrah, memandangi taksi online yang ditumpangi istrinya. Dua bola mata nya tak luput dari berkaca-kaca. Kembali memasuki rumah dengan langkah gontai.


"Mama... Mama..." jerit tangis Rania sungguh menyiksa telinga nya.


Ibu Rahma berjuang membujuk Rania, namun Dewa lah yang pada akhirnya bisa menghentikan tangis putrinya karena ditinggal Mega.


Ya, ibu Rahma dan pak Hendarto sangat menyayangi Rania, maka dari itu Mega mengalah, tidak membawa Rania Tutut serta dengan nya. Lagi pula dia bisa berkunjung ke sekolah Rania kapanpun dia mau.


Saat ini dia butuh sendiri. Meresapi semuanya yang terjadi. Dewa yang dia pikir setia, nyatanya memberi luka yang tidak dia duga sebelumnya.


Mega yang sudah sampai di rumah lama nya. Masuk ke dalam kamar nya yang tidak pernah berubah. Terdapat foto mama nya, tersadar jika dia lama sekali tidak berkunjung ke makam mama nya.


.


.


Keesokan hari.


"Satrio..." lirih Mega yang terkejut saat melihat mantan kekasihnya itu sudah menyandarkan diri di body depan mobilnya.


Menatap nya.


Membuat nya kehilangan kata-kata karena mengapa dia.


"Biar aku antar kamu. Mau kemana?"


"Mau ke makam mama."


Satrio kemudian membukakan pintu mobil untuk Mega. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju makam.


Sesampainya di makam, setelah mengirim doa dan menaburkan bunga dan air mawar. Mega menangis bercerita dalam hatinya. Karena tidak mungkin dia menyuarakan apa yang di rasa karena ada Satrio yang berdiri di belakang nya. Hanya tangisnya, samar namun Satrio bisa rasa jika Mega merindukan mama nya.


Setelah cukup lama Mega berada di makam. Barulah Satrio meraih tubuh Mega. "Kita pulang ya," ucap nya. Tak lupa Satrio juga memberikan tisu kepada Mega. Entah ada apa dengan nya, tiga belas hari lagi adalah pernikahan nya dengan Dewi. Namun saat ini malah menemani Mega dan tak ikhlas membiarkan wanita ini sendiri dan sepi.

__ADS_1


"Kita kemana lagi?" tanya Satrio.


"Seharusnya kamu tidak perlu lakukan ini," jawab Mega setelah mengambil nafas panjang.


"Mana mungkin aku biarkan kamu sendiri? Aku akan mengantar kamu kemana pun kamu pergi, kalau perlu..." Kalimat Satrio yang belum berakhir, namun dengan cepat Mega memangkas nya.


"Kalau perlu apa?"


"Kalau perlu aku tidak pulang. Biar kamu tidak kesepian," candanya terdengar berlebihan. Yang membuat Mega melirik pria yang duduk di kursi kemudi itu.


"Jangan sampai kamu mengabaikan Dewi karena aku. Bukankah sebentar lagi pernikahan kalian? Bukankah harusnya kamu tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan kamu?"


"Aku sudah percayakan semuanya kepada Dewi. Kamu tidak perlu bahas itu. Sekarang aku antar kamu kemana lagi?"


"Aku mau ke sekolah Rania."


"Okay, kita ke sekolah Rania."


Perjalanan tidak serta merta hening. Satrio berusaha membuat wanita itu tersenyum. Namun seberapa dia mencoba, bibir Mega tetap terkunci dan menimpali seperlu nya.


Sesampainya di sekolah. Rania ternyata tidak masuk. Mega kembali dengan tangan hampa. setelah bertanya kepada guru nya.


"Kenapa?" tanya Satrio yang melihat wajah Mega lesu.


"Rania nggak masuk sekolah."


"Oh ya? Aku nggak tahu, karena aku berangkat pagi sekali dan melewatkan sarapan bersama." Saat dia ingin memberi tahu jika semalam Rania menangis dan mencari mama nya. Satrio urung mengatakan ke Mega. Tidak mau menambah beban pikiran wanita itu. Satu saja masalah Dewa belum terselesaikan. Akhirnya Satrio mengunci mulutnya yang hendak bersuara.


"Kita makan ya, kamu pasti belum sarapan."


Mega mengangguk.


Setelahnya mereka sarapan pagi. Satrio dikejutkan dengan beberapa berkas yang di letakkan di atas meja. "Apa itu?"


"Aku sudah putuskan Sat, aku memilih berpisah, melepas komitmen dengan Dewa."


"Kamu tidak sedang bercanda kan?"


Mega menggeleng.


"Kenapa kamu menyerah? Bukan kah selama ini kamu menggenggam erat cinta Dewa?Kamu bahkan memerangkap nya sendiri, memberi aku luka yang tak mungkin bisa aku obati, biarpun aku menikah dengan Dewi nanti. Kamu tidak akan pernah terganti, Mega. Dulu, kamu selalu menyebut nama Rania adalah pemersatu kamu dan Dewa. Sekarang mana? Aku bahkan tidak mendengar nya.


Buliran jernih tidak terasa jatuh begitu saja basah di pipi mulus nya. Satrio bahkan tidak mampu mengusap nya. Hanya mampu menatap wanita di hadapan nya dengan iba.


"Dia akan tetap sama. Aku yang tahu semuanya."


"Maksud kamu?" tanya Satrio serius.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2