
"Masuk ke ruangan ku!" perintah Dewa saat tahu Sheila sudah berdiri di tempat kerja nya.
Tidak lama Sheila masuk setelah Dewa masuk ke ruang kerja nya.
"Duduk Sheila," titahnya dengan berkacak pinggang. Terlihat sekali jika Dewa resah dan gelisah jika mengingat semua hal yang terjadi dengan Sheila.
Sheila sudah selesai duduk dan hanya bisa menunduk.
"Sheila ... aku sudah ingat semuanya. Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku harus bertanya. Apa kamu memasukkan sesuatu ke minuman ku semalam?" tanya Dewa cukup dekat posisinya dengan Sheila.
Sheila masih menunduk dan buliran jernih satu persatu lolos terjatuh tanpa menyentuh pipi. Isaknya samar terdengar, membuat nafas Dewa berhamburan.
"Sheila jawab! Bukan menangis!" pekik Dewa yang bertambah kegelisahan nya.
"Kamu menuduhku? Padahal semalam aku sudah ingatkan jika aku bukan Mega?" suara Sheila yang tidak lancar menjelaskan nya.
"Aku tidak menuding mu, aku bertanya. Apa ... Kamu ... memasukkan ... sesuatu ke minuman ku?" ulangnya Dewa dengan nada intonasi yang sedikit pelan namun penuh penekanan.
Namun Sheila bukannya menjawab apa adanya secara terbuka malah tangisnya semakin bersuara. Yang membuat Dewa semakin tidak tega untuk mempertanyakan hal itu lagi kepadanya.
"Sheila..." Dewa yang menyebut nama Sheila dengan seluruh gigi mengerat dan terlihat frustasi. Nafas Dewa tidak berubah, masih terdengar berantakan dan terasa banyak penyesalan. " Okay... aku mohon maaf. Tapi satu hal, jika kamu hamil ... aku tidak akan bertanggung jawab karena aku sudah menikah dengan Mega dan punya keluarga. Dan ... semalam itu benar-benar aneh..."
"Kamu yang memaksa saya, tapi kamu malah menuding saya yang tidak-tidak," ucap Sheila dengan tangis sesenggukan yang tentu palsu dan sanggahan lebih cepat guna Dewa tidak berpikir macam-macam tentang peristiwa kemarin.
"Apa kamu bilang?" Dewa yang lebih dekat lagi bertanya kepada Sheila.
"Kamu menganggap saya Mega, kamu tidak peduli saya mengatakan jika aku Sheila. Dan sekarang, kamu bilang seperti itu." Sheila yang malah membalikkan keadaan supaya Dewa terlihat yang bersalah.
"Okay, kalau begitu kamu ikut saya." Dewa yang menggelandang lengan Sheila.
"Kemana?"
"Ikut saja!"
Dewa memasukkan Sheila ke mobil nya dan membawa nya ke rumah sakit. Dia ingat betul jika teman nya bernama Farhan adalah seorang dokter spesialis kandungan.
Di dalam mobil, Dewa mencoba menghubungi Farhan dan langsung menuju ke tempat praktek nya. Meskipun hati Sheila berkecamuk penuh pertanyaan mau dibawa kemana dia.
"Kita mau kemana Dewa?" entah pertanyaan yang keberapa kali yang ditujukan Sheila kepada Dewa.
__ADS_1
"Kamu diam aja. Aku akan cegah supaya kamu tidak hamil."
Sheila langsung ternganga. Upaya nya menjerat cinta Dewa akan sia-sia jika penyatuan terlarang semalam nya tidak menjadi benih dari buah cinta nya kepada Dewa. Karena jika mengingat rumah tangga Mega dan Dewa yang bermula dari tidak cinta dan menjadi cinta karena anak. Itulah mengapa, dia berani berbuat nekat melakukan perbuatan nya semalam dengan Dewa. Berharap cinta nya terbalas dengan hadirnya benih di rahim dia semalam.
Minimal, Dewa akan selalu ada ikatan dengan nya dan buah hatinya nanti.
Ya, Sheila berusaha mencari tahu apapun tentang Dewa setelah pria itu kembali dari Australia. Sebenarnya dia tahu semua nya tentang perjalanan cintanya dengan Arumi yang kandas dan tidak bermuara ke pelaminan. Namun dia hanya basa-basi mempertanyakan saat awal perjumpaan yang sudah dia rencanakan sedemikian rupa. Termasuk Gaston, video, dan pekerjaan nya menjadi resepsionis di hotel Mediterania adalah skenario Sheila.
"Yakinlah, aku tidak mungkin hamil Dewa," kilahnya supaya Dewa tidak memberi nya cekokan obat-obatan atau suntikan yang dimana bisa meluruhkan terjadinya pembuahan.
"Siapa yang bisa menjamin?"
"Em, tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil hanya gara-gara penyatuan kita semalam."
"Kamu jangan gila Sheila. Sudah dapat dipastikan kamu akan hamil. Aku yakin itu. Dan aku tidak mau. Ada hubungan apapun di antara kita kecuali pertemanan." Dewa yang bersikeras pada pemikiran nya.
"Tapi Dewa..."
"Apa?" sentak nya kacau karena dia sangat bingung dengan kekhilafannya.
Tidak berapa lama, mobil Dewa sudah terparkir di tempat praktek milik Farhan.
"Buruan keluar Sheila!" teriaknya tidak ada halus-halusnya dan sering mengagetkan Sheila. Belum lagi saat menutup pintu mobil, Dewa sangat kasar karena diselimuti frustasi.
Tidak.
Dia tidak harapkan hal itu terjadi.
Maka dari itu, dia harus berupaya keras supaya Sheila tidak akan pernah hamil darah dagingnya dan menghancurkan rumah tangganya dengan Mega.
"Saya mau bertemu dengan dokter Farhan dan saya sudah buat janji dengan nya," ujarnya kepada salah satu pegawai dokter Farhan.
" Maaf pak, silahkan ambil nomor antrian terlebih dahulu."
"Saya sudah buat janji mbak. Katakan pada dokter Farhan jika Dewa sudah datang dan sekarang berada di depan," ucapnya cepat sedikit membuat gaduh di klinik bersalin milik dokter Farhan dan membuat beberapa ibu-ibu hamil yang mengantri melihati nya bergantian.
"Tapi pak..."
"Farhan... Farhan..." panggil Dewa setengah berteriak dan mengetuk keras pintu ruang kerja dokter Farhan tidak aturan.
__ADS_1
Membuat beberapa pegawai berusaha meredam Dewa begitu juga dengan Sheila.
Tidak lama dokter Farhan membuat pintu ruang kerja nya, berikut ibu hamil yang sedang mengecek rutin kandungan nya pun ikut keluar dan sedikit merasa terganggu dengan tindakan Dewa pagi itu.
"Dewa..." lirihnya terkejut dengan seorang wanita yaitu Sheila.
Dewa langsung saja masuk ke ruang kerja dokter Farhan, meskipun dokter Farhan belum menyuruhnya untuk masuk. Hingga membuatnya geleng-geleng kepala dan segera menutup pintu ruang kerja nya.
"Gila kamu ya, pertama kali bertemu sudah bikin kegaduhan di tempat kerja orang," omel dokter Farhan kepada Dewa.
"Sorry, tapi masalahku lebih emergency."
Dokter Farhan berdecak diikuti gelengan kepala. "Memangnya apa masalah kamu?"
"Dia..." kata Dewa sembari menoleh ke arah Sheila yang hanya bisa diam dan menautkan jari jemari satu dan lainnya.
"Aku tidak mengerti."
Dewa semakin gusar, bingung bagaimana cara menjelaskan ke Farhan teman satu kampus di kota ini dulu tentang pergulatan ranjang nya dengan Sheila.
Masih dengan bahasa tubuh yang tidak jelas Dewa. Dari mengusap tengkuk nya berulang karena mulai berkeringat biarpun ruangan dokter Farhan sudah menghembuskan udara dingin yang dihasilkan dari pendingin ruangan. Belum lagi raut wajah bingungnya yang didominasi lebih dari sembilan puluh sembilan persen tergambar rasa frustasi yang teramat sangat terdapat banyak penyesalan.
"Beri dia obat supaya tidak hamil dan pencegahan terjadinya pembuahan pada rahim wanita ini," ucapnya lancar namun sangat miris terdengar di batin nya dan telinga dokter Farhan.
Dahi Dokter Farhan penuh dengan kerutan. Lebih tepatnya penasaran dengan apa yang terjadi pada Dewa.
"Aku tidak mengerti."
"Kamu tidak perlu mengerti Farhan!" sentak Dewa membuat kedua bahu dokter Farhan terangkat. "Sorry... Kamu ... cukup ... lakukan apa yang aku katakan."
"Tidak bisa seperti itu Dewa. Aku harus tahu apa yang terjadi dengan wanita ini. Aku saja bingung dengan apa yang kamu katakan. Pencegahan supaya tidak terjadinya pembuahan. Sungguh itu membingungkan." Dokter Farhan yang tidak bisa menafsirkan apa yang sedang di alami oleh teman kuliahnya itu.
"Begitu saja kamu bingung?" tanya Dewa heran. "Lalu aku harus menyebutnya apa? Menggugurkan ... bukan itu yang aku maksudkan. Semalam ... Baru saja saya menitipkan benih ke rahim dia atas dasar kekhilafan."
"What?"
Dewa langsung membungkam mulut temannya itu. "Sorry ..." Dewa yang kemudian melepaskan telapak tangan nya yang menutup mulut teman dokternya itu. "Apa kita masih lama basa-basi nya? Apa tidak bisa kamu berikan obat yang aku inginkan?"
Dokter Farhan masih menata ritme nafasnya. "Okay, sekarang aku paham. Aku akan resepkan obat penggagal kehamilan untuk wanita ini. Namun sedikit sakit ya nona, tapi saya yakin perut anda tidak akan sampai keram." Dokter Farhan kemudian menulis resep untuk Dewa dan memberikan nya. "Kamu tebus itu resep. Dan minum kan padanya. Aku yakin dia tidak akan hamil anak kamu," lirihnya berkata pada Dewa.
__ADS_1
"Okay, thanks." Dewa yang kemudian bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan dokter Farhan bersama Sheila.
BERSAMBUNG