
Mega tidak kuasa untuk bercerita kepada Satrio, rahasia yang diketahui nya selama ini tentang suaminya.
Dewa akan selalu beralasan seperti itu saat melakukan kekhilafan. Dulu saat dengan nya juga begitu. Mengira dia Arumi, namun dulu memang dia mabuk berat. Lain halnya dengan Sheila. Mega juga ada keyakinan, jika Sheila menjebak suami nya.
"Mungkin kamu memang tidak mau cerita. Okay.. nggak apa-apa. Itu hak kamu Mega."
Satrio masih menemani Mega dan tidak ingin membiarkan wanita itu sendiri.
Sedangkan di lain tempat.
Dewa murka kepada Sheila dan tidak segan mencekik Sheila.
"Dewa lepaskan!" ujar Sheila sangat sulit sembari meronta dan kedua tangan nya berusaha melepaskan tangan kekar Dewa yang tengah mencekik nya tanpa ampun.
"Kenapa kamu tega Sheila? Hah?" Semakin kuat Dewa mencekik leher Sheila.
Namun setelahnya Dewa sadar dan melepas kasar cengkeramannya. "Sekarang kamu katakan sejujurnya, kalau kamu tidak hamil dan mengaku lah ke Mega jika dalam perut kamu itu bukan anak aku Sheila." Kata-kata Dewa penuh dengan penekanan.
Sheila pura-pura menangis. Menggelengkan kepala nya. Tidak mau menjalankan perintah Dewa karena memang itu adalah bagian dari rencana yang disusun nya. "Kenyataan nya aku hamil anak kamu, Dewa."
"Cih! Tidak mungkin. Kamu sudah meminum obat penggagal hamil. Obat yang diberikan Farhan tidak mungkin main-main. Dan aku yakin itu."
"Terserah, tapi nyatanya aku hamil. Dan kamu tidak bisa menolak jika anak dalam perut aku adalah benih dari yang kamu titipkan malam itu."
Mendengar itu, kuping Dewa panas seketika. Telapak tangan kanan nya nyaris mendarat untuk memberi jejak kebas di pipi perempuan tidak tahu malu itu. Namun urung. Jika saja Sheila bukan seorang wanita. Mungkin akan sangat mudah Dewa melakukan nya. Lebih dari itu. Bisa.
"Kamu pikir aku percaya? Hah?" sentak nya dengan tingkat murka yang belum mereda.
"Dewa ini anak kamu." Sheila tanpa malu mencoba meraih tangan Dewa untuk menyentuh perut nya. Sandiwara yang apik untuk dimainkan oleh seorang Sheila.
Dewa malah mendorong perempuan itu hingga terhuyung. Air mata palsu yang sejak tadi dijatuhkan pun bertambah saat dia mendapat perlakuan demikian dari pria yang dicintainya. "Arrrgh!" Murka Dewa yang kakinya tak mau sia-sia. Menendang sofa milik Sheila lali pergi meninggalkan wanita itu.
Namun berbeda dengan wajah Sheila. seringai licik tersirat nyata saat Dewa pergi meninggalkannya.
Aku yakin sebentar lagi.
Sebentar lagi Dewa.
Mega akan meninggalkan kamu.
Kamu hancur dan memilih bersama ku.
Aku bisa pastikan itu.
__ADS_1
Dan perut ini.
Akan selalu menjadi senjata untuk mengancam kamu Dewa.
ucap pada batin Sheila.
Dewa Frustasi berat dan akhirnya datang ke tempat praktek dokter Farhan sekaligus teman nya. Dewa mengobrak-abrik semuanya. Ibu-ibu hamil yang sedang periksa kandungan mereka berlari keluar berhamburan membawa rasa takut. "Farhan! Farhan! Farhan!" teriak Dewa membuat dokter Farhan geram.
"Dewa apa-apa an kamu?"
"Kamu yang apa-apa an?" Bersamaan dengan dipepet nya laki-laki itu hingga punggungnya terbentur ke dinding. Masih tidak begitu saja. Kedua tangan Dewa menarik kuat seragam dokter yang dikenakan oleh Farhan. "Mengapa Sheila bisa sampai hamil?" keratan seluruh gigi Dewa membuat dokter Farhan ketakutan.
"Apa kamu akan menarik terus seragam ku?"
Dewa kemudian melepas kasar baju seragam itu dari cengkeraman nya.
"Cepat katakan Farhan! Kenapa Sheila bisa hamil?"
"Bukan kah kamu yang berbuat mengapa kamu tanya kepada saya?"
"Aku tidak sedang bercanda Farhan."
"Aku juga Dewa."
"Bukan kah waktu itu kamu sendiri yang beli obat dan meminumkan nya ke Sheila?"
"Iya," jawab Dewa sedikit reda amarah nya.
"Kamu pastikan dia menelan obat nya kan?"
Dewa mengangguk sembari mengingat dan berpikir. Apakah waktu itu Sheila benar-benar meminum nya? Karena setelah tahu jika Sheila wanita yang licik. Keraguan pada diri Dewa timbul hingga mendadak terserang takut, jika Sheila ternyata tidak menelan obat yang diberikan nya waktu itu dan berpura-pura meminum nya. "Sheila..." lirihnya semakin benci dengan wanita itu. "Brengsek kamu Sheila," pelan, namun cukup membuat nafas Dewa naik turun.
Membuat Dokter Farhan yang mendengarnya, seketika terangkat kedua bahunya.
Kaget.
Dewa mencengkeram bagian atas seragam Farhan kembali. "Waktu itu kamu periksa bukan? Bagaimana dengan perutnya yang sakit?"
Dokter Farhan mendelik takut.
"Jawab Farhan!"
"I-iya Dewa. Aku juga memeriksa nya waktu itu. Ta-tapi jika memang ingin lebih berhasil. O-obat itu..." Dokter Farhan yang tergagap dan sangat takut karena lalai mengatakan hal ini kepada Dewa.
__ADS_1
"Obat itu kenapa Farhan?" pekik nya tepat di wajah dokter Farhan yang memejamkan kedua matanya karena takut.
"Obat itu minimal harus diminum tiga kali," jawabnya lancar dengan lebih menguatkan pejaman matanya karena saking takut nya.
Bugh
Satu bogem mentah akhirnya mendarat juga tanpa diketahui oleh dokter Farhan. "Kenapa kamu tidak katakan itu Farhan?" pekiknya pelan lalu mendorong punggung laki-laki itu hingga tersungkur.
Suara dokter Farhan meringis kesakitan.
Dewa langsung pergi membanting pintu dan selalu menyebut nama Sheila dengan benci. "Kurang ajar kamu Sheila."
Semua staf yang bekerja di tempat praktek dokter Farhan pun tertuju kepada laki-laki itu.
Dewa frustasi. "Arrrrgh...!" marahnya memukul badan setir di depan nya. Menyandarkan punggungnya kasar pada jok mobil dan tidak tahu harus berbuat apa.
Sedangkan di lain tempat.
Satrio tidak bisa mencegah Mega yang mau memasukkan berkas gugatan cerai ke pengadilan agama. Satrio mengambil gambar Mega yang melangkah pelan memasuki kantor pengadilan agama via kamera ponselnya. Mengirimnya kepada Dewa.
Ting
Suara pesan dari Satrio ke ponsel Dewa akhirnya sampai dan diterima. Dewa membuka pesan yang dikirimkan adik nya. Dua bola mata Dewa membulat penuh tidak percaya. "Mega... Kamu serius dengan tindakan kamu ini," lirihnya yang kemudian menancap pedal gas dan mengebut menuju kantor pengadilan agama dimana kini Mega berada.
Namun sayang, Dewa kalah cepat. Dia kemudian menghubungi Satrio dan bertanya mereka ada dimana.
Ya, Mega dibawa ke rumah sakit oleh Satrio. Syaraf Mega melemah, tubuhnya hampir ambruk saat kembali menyerahkan berkas gugatan cerai nya.
Setelah menghubungi Satrio dan tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Dewa menyusul ke rumah sakit. "Bagaimana keadaan nya Sat?"
"Masih diperiksa dokter."
Tidak lama dokter pun keluar. "Keluarga pasien dari ibu Mega Aristia?"
Baik Dewa dan Satrio pun mendekat ke hadapan dokter.
"Saya suami nya dok," kata Dewa.
"Selamat ya pak, ibu Mega hamil. Dan sekarang kehamilan nya di usia sekitar empat Minggu."
Dewa ternganga. Antara harus sedih atau bahagia. Belum ada setengah jam, dia mengetahui istrinya memasukkan gugatan cerai, namun sekarang dia harus mendengar jika istrinya hamil adik Rania.
BERSAMBUNG
__ADS_1