
"Apa kamu meragukan aku?" tanya Satrio dengan tatapan dalam.
"Tapi bagaimana dengan papa? Yang berpikiran jika kamu mempermainkan hati putrinya."
"Aku pasrah. Tapi keputusan ku tidak berubah. Datangnya aku kesini tidak ada kaitannya dengan keputusan penundaan pernikahan. Percayalah, kemungkinan besar Mega akan cepat bangun dari komanya. Dan kita akan menikah."
Jujur Dewi tidak bahagia mendengarnya. Meskipun tidak bisa dibantah. Jika hatinya damai bisa menatap pangerannya dari jarak dekat dan kini menggenggam erat jemarinya.
"Sekarang kamu makan ya, aku tidak mau kamu sakit."
"Han... Kamu harus bicara ke papa, luluhkan hatinya, supaya dia mau menunda pernikahan kita. Dan yakinkan pula, jika bukan nama Mega, yang menjadi tolak ukur kamu menunda pernikahan ini. Namun murni karena kamu menginginkan semua keluarga kita merasakan kebahagiaan yang sama," lirih Dewi berat berkata demikian. Namun apa daya. Cintanya pada pria yang kini berada di depan wajahnya, mengalahkan segalanya.
"Iya, nanti aku bicara sama mama dan papa."
"Kami sudah mendengarnya," sahut papa David yang melihat cinta putrinya seluas samudra kepada Satrio. Papa David yang kemudian mendekat kepada keduanya. "Okay, mudah-mudahan wanita itu cepat bangun dari koma nya dan kalian segera menikah," imbuh papa David yang terlihat lebih legowo.
"Benar pa?" tanya Dewi dengan bola mata binar nya.
"Iya, papa akan membuat announcement, jika pernikahan kalian di tunda. Dan akan segera menyusul tanggal dan hari yang akan di tetapkan nanti di kemudian hari."
"Terimakasih ya pa, karena sudah mau mengerti keadaan Satrio," sahut Satrio.
Papa David mengangguk dan mengusap-usap punggung calon menantu nya.
"Terimakasih ya pa," sahut Dewi juga dengan haru.
"Iya sayang."
.
.
Beralih pada Sheila yang tengah makan siang bersama di dalam penjara.
Klonteng
Suara wadah makan berbahan stainless steel yang dipegang Sheila jatuh di atas lantai beserta makanan nya yang berserak.
Bugh
Diikuti suara tubuh Sheila yang terjatuh dan tersungkur di atas lantai.
"Aw..." ringis Sheila.
Bersamaan dengan tawa membahana dari semua para tahanan wanita yang tengah makan siang bersama. "Hahahaha..."
__ADS_1
Ya, kaki Sheila sengaja dibuat tersandung oleh Darti, mak-mak garang yang biasa ditakuti oleh para tahanan lain. Penguasa sel wanita yang kemarin bergelut dengan Sheila.
Sheila tidak terima dan berusaha melawan wanita berwajah sok jagoan itu. Dia berusaha mencekik wanita itu, meskipun pada akhirnya Sheila di tendang perutnya oleh Darti dan membuat Sheila ambruk dan tersungkur kembali.
"Hahaha..." tawa bahana dari semua para tahanan wanita yang tengah menyaksikan mereka bergelut. Mereka menyoraki jagoan masing-masing. Namun jelas, nama Darti lah yang paling di dengar, karena dia adalah tahanan paling ditakuti.
Sheila tidak menyerah dan amarahnya semakin bertambah. Dia bangkit dan menyerang cepat dengan mendorong keras Darti hingga punggung wanita itu dia pepetkan pada dinding, hingga terbentur lah kepala Darti pada dinding dengan sangat keras dan Darti meringis ambruk.
Tidak lama cairan merah kental pun keluar perlahan. Membuat Sheila ternganga tidak percaya. Nafas Sheila juga sengal dan terdengar sesak melihat Darti tidak sadarkan diri.
Tidak lama petugas sel datang dan melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini?" tanya nya keras dan mengedarkan mata ke semua para tahanan.
Sheila tertunduk.
"Sheila, apa kamu yang melakukan nya?"
Sheila tidak menjawab dan hanya mengaitkan sepuluh jemari nya.
Suasana mulai gaduh. Membuat petugas berteriak. "Diam!"
Petugas sel kemudian menghubungi dokter untuk memeriksa Darti. "Sheila! Ikut saya!" perintah petugas sel membuat Sheila terhenyak dan berakhir takut jika apa yang diperbuatnya kepada Darti akan menambah masa hukuman nya di dalam penjara.
Sheila di bawa ke ruang interogasi. Dimana Sheila berkata apa adanya. Membela dirinya. Jika Darti lah yang memulai nya. Dengan sengaja membuatnya tersandung hingga terjatuh di atas lantai.
Hingga dimana Sheila kemudian dibawa masuk kembali oleh petugas sel. Semua mata para tahanan tertuju padanya dengan kasak-kusuk yang jelas dilihat oleh Sheila.
.
.
Beralih di rumah sakit.
"Papa..." Rania yang kemudian di gendong oleh Dewa.
"Aku bawain mama bunga pa."
"Waw...bunga nya harum dan cantik sekali seperti mama," jawab Dewa.
"Apa mama sudah bangun pa?" tanya Rania dengan polosnya.
Dewa dan ibu Rahma saling bertatap.
"Sayang, bunga nya kita bawa ke mama yuk," sahut ibu Rahma.
Rania mengangguk.
__ADS_1
Ketiganya kemudian masuk ke dalam ruangan dimana Mega masih belum pulih dan sadar.
Rania menggenggam jemari mama nya. "Mama bangun ma, Lania bawakan bunga kesukaan mama kata om Catlio." Dengan polosnya, Rania berkata demikian.
Ya, sebelum pergi menemui Dewi. Satrio tengah memesan bunga mawar merah maroon segar kesukaan Mega. Pegawai florist langganan nya yang mengantar ke rumah tadi pagi.
Dewa tersenyum mendengar celoteh Rania.
"Setiap Lania kesini kok mama nggak bangun ma?" Rania yang coba mengguncang pelan lengan mama nya.
"Mama tidurnya pulas sayang," sahut ibu Rahma supaya Rania tidak kecewa.
Tidak lama dokter dan perawat datang hendak memeriksa Mega.
Rania dengan sangat tanggap nya mempertanyakan kepada dokter. "Pak dokter, mama Lania kenapa? Kok mama Lania tidul telus." Satu pertanyaan polos lolos dan menyentuh hati dokter yang tengah memeriksa.
Dokter kemudian menghentikan pemeriksaan nya. "Nama kamu siapa sayang?"
"Lania dok," jawabnya tidak jelas karena tidak bisa menyebut huruf R.
Ibu Rahma kemudian meralat dengan cepat dengan menyebut nama Rania dengan benar.
"Rania.." ulang dokter.
"He em dok."
"Rania, mama sedang beristirahat sayang, Rania berdoa ya, semoga mama cepat sembuh dan bisa bermain dengan Rania lagi," jawabnya mengimbangi suara bocah manis itu.
"Siap pak Doktel." Rania kemudian menengadahkan kedua telapak tangannya layaknya orang tengah berdoa. "Ya Allah, Lania mau mama cepal sembuh. Lania janji nggak akan nakal kalau mama bangun ya Allah," pintanya gadis manis itu yang membuat dada semuanya bergetar. Apalagi Dewa, Dewa nelangsa menatap putrinya yang berdoa seperti halnya demikian.
"Amin..." jawab dokter yang mengimbangi bocah kecil itu. "Sekarang, pak dokter mau periksa mama lagi ya."
"Iya pak Doktel," jawab Rania dengan wajah jauh lebih baik.
Dokter kemudian melanjutkan pemeriksaan nya. Dan setelahnya, dokter berbincang sebentar kepada Dewa membahas perihal kesehatan istrinya yang semakin hari memiliki progres. "Bapak yang tabah ya, saya permisi."
"Terimakasih ya dok." Dewa kemudian kembali masuk ke dalam. Dimana Rania dibantu ibu Rahma, supaya mama nya mencium bunga segar kesukaan mama nya.
Rania juga mengecup kening mama nya karena sangat rindu dengan suara mama nya.
Lebih dari lima belas menit, barulah jemari Mega perlahan bergerak.
"Pa, jali mama gelak pa. Mama bangun," seru Rania yang terkejut melihat nya.
Sepasang mata ibu Rahma dan Dewa langsung tertuju pada jemari istrinya yang benar kata Rania.
__ADS_1
Bergerak lemah.
BERSAMBUNG