Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Rumah baru Akhyar


__ADS_3

"Dasar tidak becus! Kerja begitu saja pakai acara ketahuan!" sentak Gaston menggebrak meja pada anak buah yang melaporkan jika pengintaian mereka diketahui pria yang mencolok Dewa kemarin.


Salah satu anak buah Gaston melaporkan lagi, jika beberapa hari ke depan akan ada acara pernikahan adik dari Dewa. Namun acara di gelar di kota si wanita. Dan selang tiga hari, barulah acara akan di gelar di hotel Mediterania.


Sudut bibir Gaston terangkat. Matanya memicing penuh licik. "Bagus, sebaiknya kita tenang dulu aja. Kita buat kegaduhan di acara tersebut."


"Di kota si wanita bos?" tanya salah satu anak buah.


"Ya, buat keributan di tengah acara tersebut. Di dua kota."


Sedangkan di rumah sakit.


Setelah berkonsultasi dengan seorang dokter yang menangani Mega. Mega akhirnya dibolehkan pulang. Akhyar membawa adiknya dan Rania ke rumah yang baru di belinya.


Sementara Dewa, membicarakan kepada keluarga nya terkait Gaston yang harus di waspadai. Barulah nanti dia akan menyusul Mega setelah membahas semuanya.


"Lho, memangnya kita mau kemana kak? Jalan pulang kan lurus, kok belok?" tanya Mega yang bingung dengan kakaknya kok bisa lupa.


"Kamu nanti pasti akan tahu."


"Tahu? Tahu apa?" lirih Mega. "Oh, kakak beli rumah baru?"


"Lihat aja sendiri nanti."


Mega yang tersenyum simpul.


Sementara Akhyar berfokus pada melajukan mobilnya. Hingga kemudian mobil tersebut mulai melipir dan sudah ada penjaga keamanan yang membukakan pintu saat mobil kakak nya itu tengah membunyikan klakson.


Mega cukup terkesima dengan perubahan kakak nya. Dari perubahan penampilannya. Dan sekarang perubahan pada setiap apa yang melekat di kakak nya.


Mobil melaju ke garasi dan berhenti. Mega turun dan berjalan di samping Akhyar sembari mengedarkan pandangan. "Setelah aku berkeliling, hanya satu yang kurang kak."


"Apa?"


"Kakak tinggal mencari istri. Pengganti kak Zahrin."


Akhyar mengusap kasar rambut Mega yang baginya masih anak kecil. "Kamu ini bisa aja."


"Kakak pasti akan merasa kesepian. Rumah sebesar ini hanya kakak yang menghuni." Mata Mega yang masih beredar dan belum berhenti.


"Makanya kakak ajak kamu tinggal di sini."


"Nggak mungkin di perbolehkan sih kak sama mertua Mega. Karena mertua Mega ingin terus dekat dengan semua cucu nya."


"Oh, begitu."

__ADS_1


Sedangkan di tempat berbeda.


"Apa? Kok ngeri Wa?" protes ibu Rahma saat dia selesai bercerita jika kemungkinan bisa terjadi dipernikahan Satrio terkait apa yang akan dilakukan Gaston.


"Iya ma, kita hanya harus berjaga saja."


Mereka berempat saling bertukar tatap.


"Jadi Mega dan Rania di bawa Akhyar ke rumah nya?" tanya ibu Rahma.


"Iya ma."


"Duh pa, kok jadi begini sih. Merembet ke acara pernikahan nya Satrio," keluh ibu Rahma yang tidak tenang setelah mendengar banyak hal yang terjadi karena ulah pria berbahaya itu.


"Kita ikut apa yang disarankan Dewa saja ma. Memperketat pengamanan. Pengecekan saat masuk ke dalam hotel. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Tentunya Satrio punya cara. Iya kan Sat?"


"Iya pa, aku juga sudah hubungi Dewi. Meskipun awalnya mereka syok juga. Tapi mereka siap memperketat pengamanan. Papa David sudah siapkan semuanya. Gabungan tim dari kepolisian dan Brimob akan dikerahkan untuk memperketat berlangsung nya acara pernikahan kami. Baik di kota Dewi dan di kota ini."


"Baguslah kalau calon mertua kamu mengerti."


"Iya ma, papa David dan mama Giani mengerti. Meskipun awalnya mereka terkejut, tapi papa David yakin pasukan bersenjata pasti punya cara untuk melindungi acara pernikahan kami nanti."


"Syukurlah kalau begitu. Mama agak tenang."


"Yah, sepi deh rumah," ujar Ibu Rahma sedih.


"Hanya untuk sementara kok ma."


"Salam buat Akhyar, Mega dan Rania ya."


"Iya ma."


Dewa kemudian berangkat menuju rumah istrinya. Namun setelah dua puluh lima menit perjalanan dan sampai di depan rumah istrinya. Rumah tampak sepi. Dewa kemudian melakukan panggilan kepada Mega. Dia menempelkan ponsel nya di telinga. "Hallo..."


"Iya sayang," jawab Mega.


"Rumah kok sepi. Aku ketuk-ketuk pagar kok gak ada yang jawab?"


"Astaghfirullah... Aku lupa sayang, kak Akhyar sudah beli rumah baru. Akan aku kirim pesan alamat rumah nya.


"Astaghfirullah sayang. Baiklah aku tunggu." Dewa yang kemudian menyudahi panggilannya kepada Mega. Menekan tanda merah di layar ponsel tersebut. Dan memasukkan benda pipih persegi panjang itu ke dalam saku celana nya.


Ting


Sebuah pesan hinggap. Dewa membaca pesan alamat yang dikirimkan Mega kepada Dewa. Dengan cepat Dewa memasuki mobil dan melajukan ke alamat tersebut.

__ADS_1


Tiga puluh menit perjalanan, Dewa akhirnya sampai. Cukup terkejut dengan perubahan pada kakak dari istrinya. Dimana dia harus di sambut oleh penjaga keamanan yang bertanya lebih dulu kepada Akhyar setelah dia sampai pada pagar tinggi yang menjulang.


"Silahkan pak Dewa," seru salah seorang penjaga keamanan.


"Okay pak terimakasih," balas Dewa yang masuk halaman rumah baru Akhyar dan sudah disambut oleh Mega dan putri nya.


"Papa..." teriak Rania yang meminta gendong kepada Dewa.


Dewa kemudian menggendong putrinya dan mengecup puncak kepala Rania dan juga kening Mega. Ketiganya kemudian memasuki rumah. "Kok kamu sudah jalan-jalan sih?" Dewa khawatir dengan istrinya.


"Nggak apa-apa, kan jalan nya pelan. Lagi pula aku juga nggak betah, kalau tiap mau kemana-mana harus menunggu bibi atau kak Akhyar yang mendorong kursi roda."


"Iya udah, tapi hati-hati."


"Iya," jawab Mega yang sedari tadi belum lepas dari bergelayut manja sambil berjalan ke kamar mereka.


"Kamu sudah sampai Dewa?" tanya Akhyar yang berpapasan dengan mereka.


"Iya kak, baru aja."


"Kak, kakak nggak pengen gitu. Lihat aku sama kak Dewa begini?" ledek Mega kepada Akhyar dengan senyum-senyum.


Akhyar mendengus halus.


"Makanya dong kak, cepat cari istri. Biar hati kakak nggak sepi," imbuh Mega.


Akhyar hanya geleng-geleng kepala, setiap kali adiknya menyuruhnya untuk segera menikah. Akhyar kemudian mengambil sebuah foto yang dia selipkan di sebuah buku dalam laci nya. Foto yang selalu dia simpan dan bawa kemana pun dia pergi. Ya, foto Zahrin. Akhyar terus memandangi foto tersebut. Penyesalan nya terkait menceraikan wanita itu tidak sembuh dengan cepat. Lima tahun di Jerman pun. Otak nya berjibaku dengan pekerjaan yang diemban. Berusaha keras melupakan atau melenyapkan semua memory yang tersimpan, namun sial, nyata nya bayangan wanita itu masih menjerat nya dan malah membelenggunya semakin kuat.


"Kenapa sesalku tak pernah terbayar oleh satu kesempatan saja?" lirihnya dengan bola mata berkaca-kaca, menatap rembulan di ujung sana seolah dekat dan memperhatikan kita. Tapi sayang, itu hanya fatamorgana. Zahrin hanya bayangan masa lalu nya. Tak akan pernah menjadi mas depan nya.


Entahlah.


Ingin nya takdir berbicara lain dan karma yang sudah dia dapat atas sesalnya melepas komitmen dengan wanita itu selesai.


Tapi bagaimana?


Seakan mustahil dan tidak mungkin.


Regi berdiri di samping wanita itu penuh dengan segudang cinta dan perhatiannya.


Seketika rasa sepi yang tengah dia dera buyar. Setelah tanpa sengaja atau Mega sengaja untuk memamerkan kemesraan nya dengan Dewa menjalar.


Ya, dia tengah melihat Mega dan Dewa tengah bercumbu mesra di balkon kamar mereka. Akhyar lantas masuk ke dalam kamar nya. Karena sepertinya Mega akan terus membuat nya iri dan menyuruhnya segera mencari istri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2