Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Mencari Rania


__ADS_3

"Sayang, kamu disini juga? Mana Rania?" tanya Dewa kepada istrinya dan mencari keberadaan putrinya. Karena tidak mungkin Mega ke mall sendiri tanpa Rania.


"Aku tanya sama kamu sayang? Ngapain kamu disini sama Sheila?" Mega yang kemudian menyilangkan kedua tangan nya di dada. Menatap tidak suka Sheila. Dan Sheila tahu itu yang kemudian setengah tertunduk.


"A-aku dan Sheila..." Dewa tergagap sedikit bingung antara harus jujur atau tidak.


"Mau maka siang bersama?" Mega dengan tatapan yang bergeser dari suami lalu ke Sheila.


Dewa mengambil nafas dan mengeluarkan nya agak berat. Karena sudah dapat menangkap, jika istrinya kurang suka melihatnya dengan Sheila.


"Kok nggak dijawab?" tanya Mega datar.


"Iya, aku sama Sheila ada yang mau aku bicarakan," jawab Dewa ragu.


"Ya udah," jawab Mega singkat, dimana dia memutar punggung dan berlalu.


Namun Dewa mengejarnya. Sementara Sheila tetap berdiri di tempatnya dan masih bergeming.


Sedangkan Rania, yang tengah duduk sendiri di restoran cepat saji. Dimana dia duduk di ruang terbuka yang tidak jauh dari parkiran mall.


"Yah... telbang balonnya," keluh bocah itu yang kemudian mengejar balon yang dia letakkan di atas meja.


Karena dia duduk di ruang terbuka, membuat balon itu semakin ringan jauh terbang karena hembusan angin. Rania terus berusaha mengejarnya tanpa sadar sudah meninggalkan tempat duduknya jauh.


Sementara Dewa yang mengejar Mega dengan langkah cepatnya. "Sayang, kamu jangan seperti Satrio dong," ujar Dewa yang berkata demikian kepada istrinya.


Membuat Mega berhenti dan menatap suaminya. "Seperti Satrio?"


"Ya, seperti anak kecil."


"Jangan bawa-bawa Satrio dalam urusan ini."


"Ya habis nya. Kamu begitu. Aku sama Sheila cuma mau makan siang aja. Dan itu wajar dong sayang, mengingat aku sama dia saling kenal dan kita teman satu kampus."


Dahi Mega membentuk kernyitan. "Wajar?" Mega dengan tatapan tajam nya yang kemudian pergi meninggalkan suaminya.


Dewa menarik nafas dalam. Mengusap tengkuk leher yang dapat menangkap jika Mega cemburu dengan kebersamaan nya dengan Sheila.


"Sayang ... sayang," panggil Dewa yang memilih mengejar Mega. Ketimbang panjang urusannya dan berakhir tidur di luar kamar.


Mega yang terkejut, melihat Rania tidak ada di tempat duduknya. Dua matanya mengedar, hanya melihat tas Rania dan makanan yang belum terselesaikan oleh putrinya di atas Meja.


Nafas Mega berubah ritme. Dua matanya mengedar ke sekeliling. Namun tidak melihat sosok putri nya. "Rania ... Rania..." panggilannya panik dengan nafas yang berhamburan.

__ADS_1


"Kamu tinggal dia disini sendiri an?" tanya Dewa yang tertular panik Mega.


Mega tidak menjawab dan sudah berjalan bolak-balik untuk melihat sekitar. Namun keberadaan putrinya tidak tampak.


"Rania, kamu dimana sayang." Dewa yang bertambah kepanikan nya.


Sedangkan Mega, dengan perasaan panik mencoba bertanya ke siapa pun pengunjung mall namun tidak ada yang melihat Rania.


Membuat Dewa hilang kesabaran dengan tindakan Mega yang teledor. "Lain kali kamu nggak boleh tinggalin dia sendiri! Apa susah nya sih bawa Rania ke toilet?!" tegas Dewa menambah intonasi bicara.


Sementara Mega terus berjalan menyusuri dalam mall dan mempertanyakan kepada satpam mall namun tidak tahu menahu juga hingga Mega meminta tolong petugas keamanan itu untuk membantu mencari putri nya.


Kalimat yang sama keluar dari mulut Mega ke setiap pengunjung Mall. "Bu, lihat anak kecil nggak? pakai seragam sekolah, rambutnya lurus kecoklatan di kuncir kuda. Anaknya imut-imut lucu dan menggemaskan. Kira-kira tingginya segini," tanya Mega kepada hampir setiap orang.


"Oh, nggak tahu mbak. Nggak lihat mbak. Maaf ya."


"Kamu ini bagaimana sih? Jaga Rania saja nggak becus," kesal Dewa dengan berkacak pinggang setelah cukup lama berputar-putar mencari putrinya ke seluruh sudut mall, namun Rania belum juga ditemukan.


"Terus aja salahin aku. Semua juga gara-gara kamu," ketus Mega tak kalah emosinya.


"Kok aku?" Dewa yang tidak terima.


"Ya, coba aja kamu nggak datang dengan wanita itu. Aku juga nggak akan membuntuti kamu sampai ke toilet," imbuhnya tidak kalah marah-marah.


Mega menatap suaminya marah. Melengos dan pergi mencari Rania.


Dewa juga tak kalah frustasinya. Mencari keberadaan Rania dengan berpencar dari istrinya. Karena jika tidak begitu. Rania tidak kunjung bertemu dan debat mulut dengan istrinya berlanjut dan tidak kunjung usai.


"Rania," lirih Mega yang mengetahui putri nya sedang berjalan di area parkiran mobil. Mega kemudian melangkah cepat untuk menyusul putrinya. "Rania..." panggil Mega supaya putrinya berhenti dan menunggunya. Namun Rania jelas tidak akan mendengarnya, karena jarak mereka cukup jauh. Mega terus berlari.


Namun tidak lama ada mobil yang melaju cukup kencang dan membahayakan putrinya karena Rania tidak tahu jika ada mobil itu.


"Rania..." teriaknya lemas dan tidak bisa berkata-kata.


Banyak pasang mata menyaksikan Mega. Namun Rania berhasil diselamatkan oleh Sheila, hingga keduanya terjatuh di atas paving area parkiran mall tersebut.


Mega dengan cepat menghampiri. Dimana banyak pengunjung ikut berkerumun.


"Rania..." Mega memeluk erat putrinya.


"Mama, Lania takut," ucap bocah manis itu yang kemudian menjatuhkan air matanya dengan deras.


Sedangkan Dewa sudah mencengkeram kuat, kerah kaos bagian depan yang dikenakan pria mengendarai mobil itu. "Lain kali hati-hati ya," ucap Dewa dengan tulang rahang sekeras baja. Seluruh giginya mengerat, mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya.

__ADS_1


"Ma-maaf mas."


Dewa kemudian menghempas pria itu kasar hingga terhuyung dua langkah ke belakang.


"Kamu tahu kan ini area parkiran? Harusnya laju mobil anda bisa anda kondisikan. Punya otak kan?" geram Dewa dengan seluruh gigi yang belum dia renggangkan.


Pria itu hanya menunduk.


"Sudah Dewa, Rania sudah tidak apa-apa. Dia hanya kaget saja," ujar Sheila supaya keributan itu berakhir.


Amarah Dewa perlahan mereda. "Terimakasih Sheila, kamu sudah selamatkan Rania."


"Iya sama-sama. Aku kebetulan melihat aja."


"Sikut sama lutut kamu berdarah."


"Nggak apa-apa, nanti biar saya kasih obat merah."


"Aku minta maaf ya, aku harus antar anak dan istri aku pulang terlebih dahulu." Dewa yang kemudian menyuruh Mega dan Rania untuk bangkit.


"Sheila, terimakasih ya," ucap Mega.


"Iya sama-sama."


Dewa kemudian mengendong putrinya yang masih sesenggukan menangis karena ketakutan menuju mobilnya.


Sesampainya di mobil. Pria itu masih mengecupi area wajah beserta bagian kepala putrinya. Andai saja Sheila tidak datang dan menolong Rania, mungkin Rania sudah tertabrak mobil itu dan tidak bisa membayangkan jika tubuh mungil putrinya harus terbalut perban dan terbaring di rumah sakit.


"Cup sayang, Rania sekarang sudah sama mama papa." Dewa yang masih memangku putrinya dan meletakkan tubuh mungil putri nya itu depan dadanya.


"Takut pa," jawabnya dengan masih isak sengguk nya.


"Udah sekarang kita pulang ya." Dewa yang lembut dan terlihat takut jika putrinya kenapa-napa.


Dewa kemudian melajukan mobilnya. Keheningan sempat terjadi beberapa menit tanpa ada satu dua patah kata dari Mega. Hingga Dewa harus memberikan nasihat keras pada istrinya. "Lain kali jangan ceroboh! Itu anak, bukan barang. Main asal di tinggal aja. Nggak pikir panjang!" Intonasi Dewa yang kesemuanya adalah bentuk kemarahannya pada Mega.


Mega yang masih sedih dan belum pulih dari rasa terkejutnya. Membuat dia hanya bisa menunduk menyadari rasa bersalah nya. "Iya, maaf aku salah."


"Untung ada Sheila yang menolong, kalau enggak?" Dewa menoleh tajam menatap istrinya yang menghapus air mata dengan tisu.


"Jangan bisanya cuma nangis! Aku nggak mau tahu, lain kali juga kalau mau pergi-pergi kamu harus telepon aku," cetus Dewa marah terhadap istrinya. Padahal jelas-jelas Mega berusaha menghubungi suaminya namun tidak kunjung diangkat, membuat Mega berkirim pesan pada suaminya yang tak dibalas juga. Hingga akhirnya dia memutuskan mengiyakan rengekan Rania yang ingin makan es krim kesukaannya.


Namun Mega diam saja tanpa membantah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2