
Di rumah sakit.
"Pa..." Suara lemah dari ibu Rahma yang sudah sadar.
"Mama sudah sadar," jawab pak Hendarto yang meraih jemari istrinya.
"Pa, Dewa pa." Ibu Rahma yang dadanya terasa nyeri saat ingin menyampaikan apa yang sudah di dengar nya dari Mega.
"Papa sudah tahu. Satrio udah cerita semuanya. Mama tenang ya, nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama. Papa yakin Dewa bisa menyelesaikan masalah nya."
Sedang di sisi lain bagian rumah sakit. Satrio tengah mengangkat sambungan seluler dari calon istrinya, Dewi. "Aku minta maaf ya, satu pun dari pesan dan panggilan mu seharian kemarin aku abaikan."
"Nggak apa-apa honey. Kalau boleh tahu memang nya kenapa?"
"Mama masuk rumah sakit."
"Apa? Memangnya Tante Rahma sakit apa?" Dewi yang langsung bangkit dari kursi kerja nya. Meninggalkan layar laptop di atas meja yang tengah di tatap nya.
"Em, penyakit mama kambuh," jawab Satrio yang belum bisa cerita ada apa sebenarnya, karena menurutnya, perbuatan kakaknya tidak pantas untuk di dengar oleh Dewi.
"Oh, terus sekarang bagaimana kondisi nya?"
"Sepertinya sudah baikan. Mungkin hari ini bisa pulang. Untuk hari ini, aku minta maaf ya, aku batal terbang ke sana. Aku percayakan semuanya kepada kamu. Aku percaya dengan semua pilihan kamu."
Raut wajah Dewi meredup, padahal hari ini adalah hari terakhir bertemu dengan Satrio setelah nanti keduanya dipingit. Tapi Dewi mencoba berlapang dada, lagi pula calon ibu mertuanya sedang sakit. "Lima belas hari lagi lho honey." Dewi yang mengingatkan Satrio untuk tidak lupa dengan hari pernikahan mereka.
"Iya, aku tahu." Satrio yang mengusap tengkuk leher nya. Otaknya bagai benang kusut, tidak tega membiarkan Mega menanggung rasa sedihnya seorang diri. Benar, saat ini dirinya tengah berbicara dengan Dewi, namun tidak pada dahi nya yang penuh dengan bayang-bayang wajah Mega. Dari tangis sengguk nya wanita itu yang hancur karena perbuatan kakaknya. Bibir wanita itu bahkan tidak ada pulasan senyum sedikit pun saat seharian kemarin bersama nya. "Han, sudah dulu ya."
"Iya, kamu baik-baik ya. Salam untuk Tante Rahma dan om."
"Iya nanti aku sampaikan." Satrio kemudian menutup panggilan telepon nya dengan Dewi.
Sedangkan Dewi tampak khawatir, jika kesehatan ibu Rahma akan menghambat hari pernikahan yang tinggal menghitung hari akan terlaksana. Perasaan Dewi akhir-akhir ini tidak menentu, sebenarnya dia terserang rindu terhadap pria yang sebentar lagi menjadi suami nya. Tapi apa daya, Satrio sudah berkata seperti itu.
.
.
Sedangkan di lain tempat.
"Mama kenapa nangis?" tanya Rania melihat Mega menjatuhkan air mata nya.
"Mama nggak nangis sayang, mama hanya kelilipan," tidak jujurnya Mega yang tidak ingin Rania akan bertambah sedih.
__ADS_1
"Memangnya kita mau kemana ma? Kok baju-baju Lania di masukkan kopel?"
"Nanti pasti Rania tahu, Rania sama bibi dulu ya." Mega yang kemudian berlalu pergi karena Dewa berusaha mendekat.
"Sayang... aku minta maaf." Kata-kata Dewa yang dianggap angin oleh Mega.
Mega tetap berjalan melintas di depan suaminya tanpa mau melihat, apalagi menatap seorang Dewa.
Mega kemudian memasukkan pakaian ke kopernya. Dewa tidak tahu harus berbuat apa. Jika dia pergi menemui Sheila sekarang, yang ada Mega keluar dan takut dia tidak ada kesempatan untuk bicara. Namun pendirian Mega untuk tetap diam tanpa kata, membuat kelimpungan Dewa dengan sendiri nya.
"Kamu mau kemana?" tanya Dewa saat tahu istrinya memasukkan pakaian ke dalam koper.
Mega tidak menimpali sepatah kata pun. bibirnya terkunci setelah mencetuskan keinginan untuk melepas komitmen diantara mereka berdua. Perpisahan, perceraian yang diinginkan Mega, tampaknya tidak main-main di dengar nya. Wanita itu lebih dari kata marah. Kecewa lebih tepat nya.
Dewa langsung menghentikan aktivitas kedua tangan Mega. Merengkuh wanitanya. Namun Mega berusaha berontak dan mendorong dada kekar suaminya, tetap saja sia-sia. Dewa lebih bertenaga dibanding tubuh mungil Mega. "Tolong kamu dengarkan aku. Semua yang dikatakan Sheila itu bohong. Sheila berdusta tentang kehamilannya, aku yakin itu."
Mega tetap diam dalam rengkuhan Dewa. Yang ada air matanya selalu jatuh tanpa mau berhenti biarpun Dewa berkata demikian.
"Tolong kamu bicara sayang, tidak ada kata melepas komitmen diantara kita. Aku tidak mungkin dengan Sheila. Aku tidak mencintai dia. Dia menjebak aku untuk hal itu." Dewa terus saja bersuara biarpun Mega diam seribu bahasa.
Mega akhirnya mendorong dada bidang suaminya hingga Dewa mundur dua langkah dari posisinya. Jengah dengan kata-kata suaminya yang tanpa dosa berbuat hal tercela kepada Sheila. "Kamu bisa jelaskan semuanya di pengadilan agama." Mega yang menutup rapat kopernya. Menurun kan dari ranjang dan hendak keluar kamar namun Dewa menghadang nya.
"Kamu benar-benar tidak mengerti apa maksud ku? Sheila membohongi kamu!" pekik Dewa karena Mega bersikeras pergi dan tidak mau mencerna apa yang dikatakan nya.
Fix, Mega lebih percaya kata-kata Sheila ketimbang kata-kata nya. Dadanya bergemuruh. Sejenak terlintas wajah Sheila di kepala nya dan penyesalan bertubi-tubi datang secara tiba-tiba.
"Sheila," geram Dewa dengan kepalan tangan kuat dan penuh.
Mega kemudian membawa Rania, dimana terjadi perselisihan dan tarik-tarikan terkait Rania.
"Mama... Lania nggak mau pelgi... hihihihi," tangisnya karena Dewa juga menangis saat memeluk Rania dan tidak boleh di bawa Mega.
"Ayo sayang," ajak Mega yang mau membawa Rania namun Rania dipeluk erat oleh Dewa.
"Enggak, Rania biar di sini. Sama, kamu juga nggak boleh pergi."
Tidak lama ibu Rahma, pak Hendarto dan Satrio memasuki rumah. Melihat tangis Rania yang menggema memanggil-manggil mama dan papa nya mencabik hati mereka semua.
"Mega kamu dengarkan saya dulu!" teriak Dewa yang berusaha menahan istrinya untuk tidak pergi.
"Mega..." panggil ibu Rahma yang berusaha mengajak bicara menantu nya baik-baik.
"Mega minta maaf ma, tapi Mega harus pergi," jawab Mega tentunya tidak lepas dengan air mata.
__ADS_1
Begitu juga dengan Dewa, ibu Rahma dan Rania.
"Tidak ada yang boleh pergi dari rumah. Kamu bisa bicara baik-baik dengan Dewa," sentak ibu Rahma kepada Mega namun tetap berderai air mata.
Ibu Rahma bisa mengerti perasaan menantu nya. Sedih dan hancur. Namun ibu Rahma juga tidak rela, jika keduanya berpisah dan Dewa malah dengan Sheila. "Maafkan mama Mega, mama sayang sama kalian, bukannya mama membela Dewa dan mengabaikan perasaan kamu. Kita bicarakan baik-baik ya," pinta ibu Rahma kepada Mega.
Namun sepertinya, hati Mega terlanjur terluka. Kepercayaan nya kepada Dewa bukan hanya luntur hingga akhirnya pudar. Lebih dari itu, hilang atau bahkan tak bersisa.
"Maafkan Mega ma, Mega butuh waktu sendiri."
Sangat lama sekali ibu Rahma menimbang. Ada benar nya yang dikatakan Mega. Dia memang butuh waktu sendiri. "Okay, Rania biar di sini ya, kamu dan Dewa selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin dan pikiran jernih."
Mega juga tidak segera menjawab. Menatap Rania dengan gambaran suram jika dia membawa nya pergi.
"Kamu juga jangan pergi. Aku bisa jelaskan semuanya. Aku akan buktikan, jika tidak ada benih saya di rahim Sheila." Dengan lantang Dewa bersuara.
Satu tangan kanan Satrio terkepal kuat dan penuh. Pernyataan kakak nya berlawanan dengan penjelasan Sheila yang sangat gamblang. "Sayangnya adik mu ini tidak yakin," jawab Satrio yang terlihat jelas berpihak pada Mega.
"Satrio."
"Jika menengok ke belakang. Apa yang kakak perbuat kepada Mega hingga kakak menikah dengan nya. Rasanya saya lebih percaya perempuan itu ketimbang kakak," sinis nya dengan jari telunjuk yang dia tekan kan pada dada kakak nya.
"Kamu nggak tahu apa-apa Sat!"
"Kakak yakin?"
Dewa terdiam dan tertunduk. Besar sebenarnya keyakinan nya. Namun mereka semua tidak akan percaya jika dia hanya mengumbar kata dan bukan fakta.
"Hehm," sinis Satrio. "Kakak nggak bisa jawab kan?"
"Sudah, sudah," lerai pak Hendarto karena kepalanya pusing memikirkan semua nya.
"Terus apa rencana kamu Dewa?" tanya pak Hendarto.
"Aku harus temui Sheila pa."
"Buat apa lagi? Sheila sudah cerita semuanya dan nggak mungkin bohong."
"Ada yang tidak dia ceritakan." Dewa resah, dia bingung bagaimana menjelaskan hal yang tidak pantas di dengar oleh telinga.
Yakin, setelah dia bercerita semuanya. Papa nya akan sangat marah, bisa-bisa mencabut hak-hak terkait kepemilikan hotel dan aset lain nya. Dewa hanya bisa mengacak kasar rambut nya. Kepercayaan keluarga kepadanya akan sangat dipertaruhkan ketika dia berbicara secara terbuka tentang kekhilafan nya kepada Sheila.
"Apa?" tantang Satrio supaya Dewa tidak berdusta dengan apa yang dia katakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG