Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Gaston versus Dewa


__ADS_3

Mega masih menangis histeris dengan memanggil-manggil suami tercintanya.


"Kita bawa ke rumah sakit Mega," ucap Pak Hendarto yang kemudian memapah putranya ke mobil Satrio. "Biar papa yang bawa mobil kakak mu," imbuhnya.


"Iya pa," jawab Satrio.


Dimana mobil melaju menuju rumah sakit. Mobil menembus gelap nya malam jalanan sepi tersebut yang sesekali terdengar suara serigala menggaung panjang dan tinggi karena sudah dini hari. Yakni pukul 01.30. WIB.


Hingga akhirnya mobil sampai di jalur kota menuju rumah sakit. Terlihat perih sekali, sepasang mata Satrio menyaksikan sejak tadi jika Mega benar-benar takut kehilangan kakaknya. Mega teramat mencintai Dewa. Dan semua terbukti dengan malam ini. Mega menangis deras memeluk suaminya dengan penuh rasa takut akan hal buruk terjadi pada kakaknya.


Satrio lagi-lagi harus berkorban demi kebahagiaan mereka. Dimana dia tidak diizinkan memaksa Mega untuk kembali kepadanya.


Mobil akhirnya sampai di pelataran rumah sakit. Dimana Dewa langsung ditangani di Unit Gawat Darurat.


Pak Hendarto kemudian mengabarkan ke istrinya jika Dewa sudah dibawanya ke rumah sakit. Meskipun ibu Rahma bertanya terkait keadaan Dewa. Pak Hendarto menyuruhnya untuk melihatnya sendiri besok.


"Sebaiknya papa pulang aja. Temani mama. Biar aku sama Mega disini yang jaga kakak."


Pak Hendarto masih terdiam. Cukup lama dia berpikir, akhirnya dia menjalankan saran Satrio karena besok dia juga harus ada meeting penting.


Satrio mencoba menenangkan Mega. Hingga tanpa sadar keduanya tidak ada kata benci dan saling ketus saat berbicara seperti hari kemarin lusa.


Satrio berhasil membuat Mega tanpa sadar menangis bersandar di bahu nya. Melihat Mega mengeluarkan air mata demi sosok Dewa. Mengapa hatinya seolah tidak terima?


Dokter kemudian keluar, dimana Mega dan Satrio langsung menghampiri dokter tersebut. Dokter mengatakan, jika Dewa akan segera dipindahkan di ruang rawat. Semua demi kondisi kesehatannya supaya segera pulih dan pulang.


Mega dan Satrio hanya bisa ikut saja apa kata dokter. Mereka berdua kemudian mengikuti Dewa yang terbaring di tempat tidur pasien dan tengah dipindahkan di ruang rawat.


"Sayang, bangun..." Mega yang sejak tadi tidak berhenti mengeluarkan air matanya melihat suaminya.


"Sudah Mega, kak Dewa nggak apa-apa? Kamu dengar sendiri kan apa kata dokter?" ujar Satrio supaya Mega tidak terus menangis.


.


.


Esok paginya.


"Kamu minum dulu nanti kamu sakit," ujar Satrio sembari memberikan bungkusan makanan pagi dan satu gelas plastik teh hangat untuk Mega.


"Aku nggak lapar," jawab Mega lemah.

__ADS_1


"Nanti kamu sakit. Siapa yang repot. Harusnya kamu urus suami kamu, kamu malah sakit. Kamu harus makan." Satrio dengan lembut memperlakukan Mega. Dia masih sangat perhatian kepada wanita itu meskipun banyak luka yang sudah dia terima dari keduanya.


Satrio masih membuka kan makanan tersebut dan menyuruh Mega untuk minum teh hangat, dimana sedotan teh tersebut dia masukkan perlahan ke mulut Mega.


Terlihat sekali jika Mega sangat tidak bersemangat karenna shock atas kejadian yang menimpa suaminya.


Tidak berapa lama lenguhan lemah Dewa terdengar. Pria itu menggerakkan jemarinya perlahan dan terlihat oleh Mega. Mega langsung mendekat di sisi tempat tidur pasien.


"Sayang kamu sudah sadar," ucap Mega yang membelai rambut kepala suaminya.


"Aku dimana?" tanya Dewa lemah.


Satrio langsung memanggil perawat dan mengabarkan jika kakaknya sudah sadar.


"Kamu tenang dulu, kamu sekarang di rumah sakit," ucap Mega terharu menatap suaminya.


Tidak lama dokter dan perawat datang. Memeriksa kondisi Dewa dan menyatakan jika Dewa baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius pada tubuhnya.


Setelahnya dokter keluar dari ruang rawat. Mega menyuapi suaminya. Dimana Satrio harus ikhlas melihat semuanya.


"Ceritakan pada ku bagaimana kejadiannya," celetuk Satrio disela-sela Dewa menikmati makannya.


"Iya, kok bisa kamu lewat jalur yang sepi seperti itu," imbuh Mega dengan rasa penasarannya.


Dewa akhirnya memilih diam dan menggeleng karena tidak ingin menambah pikiran Mega.


"Masak kakak tidak ingat apapun? Ini penting, karena aku akan buat laporan ke polisi atas kejadian semalam."


Dewa berpikir. Jika pria yang ada sangkut pautnya dengan Sheila ternyata punya kawanan preman yang sangat banyak. Dia tidak mau Mega, Satrio terlibat terlalu jauh dengan urusannya dengan pria itu. Apalagi sampai dilaporkan ke polisi. Perbuatan pria itu pasti akan menjadi.


"Ada apa sayang?" tanya Mega yang membuat Satrio menoleh. Masih risih saja telinganya melihat semua perhatian kekasihnya dulu kepada kakaknya. Mega dapat merasakan jika suaminya menyembunyikan sesuatu.


Dewa tetap menggeleng. "Nggak usah lapor polisi Sat," ucapnya.


"Tapi kak, semalam itu udah kejahatan serius. Coba lihat wajah kakak sekarang, semua babak belur. Dan coba kakak nggak kirim pesan ke Satrio. Kita semua udah nggak tahu kak, apa yang terjadi dengan kakak."


"Iya sayang, Satrio benar. Lagi pula setahu ku kamu tidak ada musuh. Barang kamu juga tidak ada yang hilang. Lalu mengapa kamu dihadang dan digebukin sampai babak belur begini?" tanya Mega dengan wajah seriusnya.


Dewa tetap pada pendiriannya untuk tidak mau berbicara yang sebenarnya terjadi.


"Apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Mega lebih serius, dimana wajah suaminya ditatap lebih dekat.

__ADS_1


"Nggak ada, aku juga nggak tahu," jawab Dewa pelan.


Tok tok


Suara ketukan pintu kemudian terdengar. Dimana ibu Rahma datang tanpa Rania. Sengaja ibu Rahma tidak mengajak Rania karena takut Rania menangis melihat papanya sakit.


"Dewa, kamu nggak apa-apa sayang. Mama takut terjadi apa-apa sama kamu," sedihnya ibu Rahma yang kemudian memeluk putranya.


"Dewa nggak apa-apa ma."


"Kok bisa begini? Dan kata papa kamu ditemukan lewat jalur sepi yang jarang dilalui oleh kendaraan. Apa itu benar? Ngapain lewat sana?" tanya ibu Rahma bersamaan dengan melepas perlahan pelukannya.


"Sudah ma, yang penting Dewa selamat."


"Nggak, nggak bisa. Harus dilaporkan ke polisi tindakan kriminal seperti ini. Mama nggak mau kejadian semalam terulang lagi," tegas ibu Rahma yang membuat Dewa tak bisa berbuat apa-apa. "Sat, kamu pokoknya harus usut tuntas dan laporkan mereka," imbuhnya.


"Iya ma."


.


.


Di tempat lain.


"Mau kemana kamu?" tanya Gaston yang menghadang langkah Sheila yang mau berangkat kerja.


"Bukan urusan kamu! Harusnya kamu tahu malu. Aku tidak akan Sudi mau sama kamu. Tapi kamu memaksa. Padahal hutang-hutang ayahku sudah lunas," ketus Sheila kepada pria itu.


Gaston merasa terhina. Dia langsung mencekik leher Sheila tanpa ampun hingga punggung Sheila dia tekankan pada dinding depan rumahnya.


Sheila yang merasakan tercekik itu berusaha melepaskan tangan kekar Gaston dengan kedua tangannya, sialnya tidak berhasil.


"Hei, memang nya siapa kamu? Kalau kamu masih angkuh dan menolak tawaran cinta ku, aku akan lakukan lebih dari semalam kepada pria pemilik hotel Mediterania itu," ucap Gaston yang membuat Sheila melotot.


Satu detik kemudian Gaston melepaskan cekikannya pada wanita yang menolak cintanya. Hingga membuat Sheila terbatuk-batuk setelahnya sembari memegang lehernya yang perih karena saking kuatnya pria itu mencengkeram lehernya.


"Apa yang kamu lakukan kepada dia?" teriak Sheila pada Gaston.


"Selama dia membantu kamu dan mencoba dekat kepada kamu. Aku tidak akan biarkan pemilik hotel Mediterania itu tenang hidupnya," ancam Gaston dengan mata tersirat dendam lalu pergi.


"Dewa..." lirih Sheila dimana isi kepalanya tertuju pada sosok Dewa yang dia yakini sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2