Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Ancaman Akhyar


__ADS_3

"Pa, sebaiknya kita turun di sini aja deh," pinta Satrio kepada papa David.


"Lho, kenapa?" jawab papa David.


"Satrio malu deh pa, lihat tingkah Dewi kayak begini."


Mama Giani dan papa David tertawa. Keduanya melirik Dewi yang nyengir kesal dengan calon suaminya. Karena sedari tadi. Dewi tidak berhenti untuk menggoda nya.


"Apa kamu berencana langsung pulang?" tanya papa David.


"Satrio ambil jadwal penerbangan paling akhir pa, nanti malam."


"Bagaimana kalau kamu melihat persiapan pernikahan kalian yang di sini?" tanya papa David lagi.


"Boleh, tapi Dewi bagaimana? Sudah sehat apa belum?"


"Dewi sudah sehat kok pa, kan obat aku udah ada di sini." Dewi yang melirik dan bergelayut manja meletakkan kepalanya di bahu Satrio yang bersandar pada jok mobil. Ya, keduanya duduk di kursi penumpang bagian belakang. Dewi bahkan belum melepas kedua tangan yang melingkar di tangan Satrio.


Papa David kemudian membawa Satrio ke sebuah hotel mewah. Hotel berbintang lima yang akan menjadi tempat resepsi mereka di kota Dewi. Begitu juga acara akad nya, berada di sebuah masjid besar di dekat rumah Dewi.


.


.


Sedangkan di lain tempat, tepatnya di rumah sakit.


"Sekarang kamu makan ya?" Dewa yang mendaratkan bubur dari rumah sakit ke mulut istrinya.


Mega meringis, perutnya nyeri saat kunyahan pertama berhasil masuk ke rongga mulutnya. "Nggak tahu, perutku nyeri."


"Aku panggilkan dokter biar di periksa."


Tidak lama dokter memeriksa Mega. Dokter mengatakan jika itu adalah hal biasa. Karena perut Mega baru mencerna makanan padat kali pertama setelah koma. Karena biasanya, asupan makanan Mega berbentuk cairan yang dimasukkan lewat selang infus.


"Kalau begitu saya permisi ya pak Dewa. Kalau ada apa-apa, silahkan hubungi perawat."


"Iya Dok terimakasih."


Tidak lama setelah dokter dan perawat keluar. Datanglah seorang pria dengan berkaca mata hitam dan berpakaian rapi masuk ke dalam ruang rawat Mega.


Baik Mega dan Dewa dibuat tercengang dengan penampilan pria tersebut. Pria itu masih berdiri menatap Mega dari ambang pintu.


"Kak Akhyar..." lirih Mega dibuat pangling dengan penampilan kakaknya.


"Kenapa kamu? Ada apa dengan kamu sampai kamu terbaring di sini?" jawabnya seraya mendekat dan kemudian memeluk adiknya erat. "Kata Zahrin kamu koma? Apa itu benar?"


Mega masih belum menjawab. Akhyar juga masih rindu dengan adik perempuan satu-satunya. Membuat dia enggan melepas pelukan nya.


"Kenapa diam?" barulah Akhyar melepas pelan pelukan nya. Akhyar kemudian menoleh dan menatap Dewa. Dimana membuat Dewa kembang kempis nafasnya. "Kamu apakan adik ku?" tanya nya Akhyar kepada Dewa.


"Kak..." Mega yang tidak mau Akhyar memukul suaminya, jika tahu bagaimana detailnya persoalan rumah tangga nya dengan Dewa. "Kenapa kakak nggak bilang-bilang kalau mau pulang?"


"Jika Zahrin tidak aku paksa bercerita. Mungkin kakak tidak akan tahu kalau kamu katanya koma dan baru tersadar. Pantas saja. Akhir-akhir ini firasat kakak buruk tentang kamu. Jadi benar, kalau ternyata kamu terbaring di sini."


"Ah, sudahlah kak. Yang terpenting sekarang aku sudah bangun dan aku sebentar lagi kembali pulih. Jadi kakak sudah tidak perlu khawatir lagi."


Akhyar yang menatap tajam Dewa. Dia memiliki keyakinan, jika apa yang terjadi dengan adik perempuan nya, pasti bermula dari pria yang kini berdiri tidak jauh dari nya.


Akhyar masih memperlakukan Mega seperti anak kecil. Dia bahkan masih mengecup kening Mega tanpa peduli ada sosok suaminya yaitu Dewa yang tengah menatap mereka.


"Kapan kakak datang?"

__ADS_1


"Kakak dari bandara langsung kesini. Mana keponakan kakak?"


"Rania sedang ikut mama mertua. Dia pulang sebentar, mungkin nanti sore mereka berdua kesini lagi dengan papa mertua sehabis pulang kerja."


"Kamu diperlakukan baik oleh dia kan?" lirik Akhyar tanpa tedeng aling-aling bertukar tatap dengan Dewa yang seketika menatapnya pula.


"Kakak apa-apa an sih?" redam Mega supaya kakak nya tidak terus-terusan memojokkan Dewa, suaminya.


"Lho, dengan kamu bisa terbaring di sini. Itu tandanya dia lalai jaga kamu Mega."


"Kak..."


Runyam nih.


batin Dewa.


Bisa kena bogem nih.


Misal tahu semuanya tentang apa yang membuat Mega tertusuk gunting yang dilakukan Sheila.


imbuhnya dalam hati.


"Dewa minta maaf kak."


"Awas saja, aku akan cari tahu semuanya. Adik ku tidak mungkin mengaku apa yang kamu lakukan terhadapnya. Tapi tidak pada ku. Sebentar lagi, aku akan tahu semua nya," ancam Akhyar yang membuat Dewa susah menelan saliva nya.


"Kak, aku mohon jangan apa-apakan suami aku. Kak Dewa nggak salah. Jadi aku mohon ya, kakak jangan buat tanda lebam keunguan di pipi suami Mega," pinta Mega kepada Akhyar.


Membuat Akhyar mendengus kasar.


"Sayang, aku permisi dulu ya. Biar kamu dan kakak kamu leluasa untuk mengobrol nya."


Mega mengangguk.


"Iya, Gaston lah yang membebaskan Sheila," jawab dokter Farhan dari sambungan seluler nya.


"Mudah sekali dia terbebas," lirih Dewa.


"Ya, ayah pria itu memiliki pengaruh besar di kepolisian. Makanya, Sheila mencari perlindungan kepadanya. Itu yang aku dengar. Trus apa rencana kamu?"


"Nggak ada. Mau bagaimana lagi? Mega juga sudah bangun dari koma nya."


"Apa kamu tidak takut kalau Sheila berbuat nekat lagi?" tanya dokter Farhan.


"Untuk ke depan nya saya yakin tidak. Gaston tidak mungkin cuma-cuma mengeluarkan Sheila. Laki-laki itu pasti meminta sesuatu dari Sheila. Jadi saya yakin, dia tidak akan lagi berani menganggu Mega."


"Okay, kalau kamu yakin untuk itu."


"Terimakasih untuk informasinya."


.


.


Di rumah sakit.


Banyak sekali keluarga besar berkumpul silih berganti untuk menjenguk Mega.


"Syukurlah kamu sudah bangun dari koma, Mega," ucap Zahrin dan juga Regi yang berdiri di sisi tempat tidur pasien.


"Terimakasih kak."

__ADS_1


Sedangkan di luar ruang rawat, di bagian rumah sakit lain nya. Akhyar mencerca berbagai pertanyaan untuk Dewa.


"Bagaimana Mega bisa tertusuk guntiing di bagian perut nya? Dan katanya, dia juga tengah hamil muda hingga akhirnya dia terbaring koma." tanya Akhyar serius kepada Dewa.


"Semua salah saya kak," jawab Dewa yang kemudian tertunduk lesu.


"Salah kamu apa? Jangan sedari tadi kamu minta maaf dan hanya minta maaf tanpa aku tahu bagaimana adik ku bisa koma."


Dewa kemudian menjelaskan bagaimana kronologi nya. Meskipun secara garis besar, Akhyar bisa menyimpulkan, jika Dewa lah penyebab semuanya terjadi."


"Kamu...!" geram Akhyar menarik kemeja depan yang dikenakan Dewa dengan begitu kuat nya. Kilatan murka juga tak kalah tersirat dari bola matanya.


"Kakak boleh pukul saya," ujar Dewa yang siap dihajar oleh kakak iparnya.


Namun Akhyar malah mendorong pria itu hingga Dewa terhuyung dan mundur beberapa langkah dari posisi berdiri nya.


Dewa lagi-lagi hanya bisa pasrah.


Sedangkan dada Akhyar belum reda dari gemuruh nya. "Berulang kali aku sudah peringatkan kepada kamu. Tapi satu kali lagi, kamu sakiti Mega. Aku tidak akan segan-segan pisahkan kamu dari dia," ancam Akhyar penuh penekanan lalu pergi dan kembali ke ruang rawat Mega.


"Mas Akhyar..." Zahrin terkejut dengan sosok Akhyar yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Mega.


"Iya kak, kak Akhyar pagi tadi sampai di Indonesia," sahut Mega untuk menjawab rasa terkejut mantan kakak iparnya.


"Oh," jawab Zahrin yang bola matanya masih belum bergeser dari mantan suami nya yang membuat nya pangling.


"Bagaimana kabar kamu dan Regi, Rin?" tanya Akhyar.


Zahrin tersenyum canggung. "Seperti yang kamu lihat mas. Aku sama Regi Alhamdulillah sehat. Kita juga baik-baik saja."


"Syukurlah. By the way thanks, kamu akhirnya mengaku jika memang ada apa-apa dengan Mega."


"Iya mas, aku juga minta maaf ya Mega, kakak mu memaksa. Awalnya kakak nggak mau dia tahu jika kamu koma. Tapi karena ponsel mu juga tidak ada kabar. Wajarlah, kakak mu khawatir dan memaksa meminta penjelasan."


"Iya kak, nggak apa-apa. Meskipun sepertinya akan ada cekcok mulut antara kakak dan kak Dewa," lirihnya berbisik kepada Zahrin meledek kakak nya.


"Mama..." teriak Rania setelah membuka pintu ruang rawat Mega.


"Sayang... Sini."


Rania kemudian berlari kecil mendekat ke mama nya.


"Ini keponakan ku?" tanya Akhyar.


Mega mengangguk. "Iya kak, ini Rania. Yang biasanya kakak hanya bisa say halo di video call."


Akhyar kemudian berusaha menggendong keponakan nya. Namun sepertinya Rania malu karena tidak pernah bertemu sebelum nya. Membuat dia ingin turun dari gendongan Akhyar.


"Mega, kakak dan kak Regi permisi ya."


"Iya kak. Terimakasih."


Zahrin mengangguk. Dia juga pamit kepada ibu Rahma, pak Hendarto dan juga Dewa.


Begitu juga Akhyar, setelah bersalaman dengan mertua adiknya. Dia juga pamit pulang. Terlihat sekali, Akhyar bahkan tidak pamit Dewa dan terlihat acuh. Membuat Mega tidak enak pada mertuanya dengan sikap kakak nya.


Bukan tanpa dasar Akhyar bersikap demikian. Dia sudah dengar sendiri dari mulut Dewa terkait persoalan yang membelit rumah tangga adiknya, hingga adiknya koma.


"Sayang, kamu tidak di apa-apakan oleh kak Akhyar kan?" Mega yang memeriksa wajah suaminya berikut bagian tubuh lainnya, mana tahu Akhyar bermain kekerasan pada suaminya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2