
"Masih berani kamu bicara seperti itu Sheila?" Mega yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya.
Sedangkan Sheila, menyentuh pipi yang mungkin terasa kebas karena tamparan keras Mega yang tanpa ampun mendarat di pipi nya. "Apa aku salah?"
Mega hampir tidak percaya, karena Sheila merasa tidak berdosa dengan apa yang dilakukan nya. "Menurut mu?" Mega menjambak rambut Sheila dengan kuat hingga Sheila meringis.
"Aw..."
"Sudah sayang, tahan emosi kamu. Kamu sedang hamil," ujar Dewa menyuruh Mega menghentikan amarahnya.
"Kamu mau biarkan wanita ini begitu saja?" tanya Mega tidak terima. Karena hampir saja rumah tangganya bagai abu, setelah api membakar kayu dan menjadi arang.
"Tapi kamu sedang hamil. Kita lepaskan saja dia. Yang terpenting semua sudah terbukti, jika dia tidak sedang mengandung yang katanya darah daging ku."
"Tapi dia sudah menjebak mu dan aku tidak terima itu!" pekik Mega bersamaan dengan tarikan kuat pada rambut Sheila.
"Aw..." Membuat Sheila meringis dan berteriak kesakitan.
Sheila gelap mata, tidak terima perlakuan Mega kepada nya. Rencana nya untuk mendapatkan cinta Dewa hancur. Sheila tidak menyangka jika Dewa bekerja sama dengan dokter Farhan dan melangkah sejauh ini. Dia dengan cepat memberontak dan melepaskan jambakan Mega, Mengambil alih kendali dan dengan cepat menusuk perut Sheila dengan gunting yang berada di meja kerja dokter Farhan.
"Agh..." Ringis Mega kesakitan dengan perut tertancap gunting yang ditusukkan Sheila. Tidak lama teriakan Dewa menggema. Laki-laki itu melemas, nyawanya bagai tercabut melihat perut istrinya mengalir cairan merah kental.
"Mega..."
Sheila ketakutan. Melihat apa yang dilakukan nya. Kecemburuan nya karena mendengar Mega tengah hamil, membuatnya tidak rela jika Mega dan Dewa bahagia.
Dokter Farhan langsung menarik dua tangan Sheila ke belakang. "Dasar wanita gila!" cetusnya.
Mega ambruk dan sudah tidak sadarkan diri.
"Mega bangun Mega!" teriak Dewa takut melihat keadaan istrinya yang bersimbah darah dan masih tertancap gunting di bagian perutnya.
Dokter Farhan kemudian mencabut gunting pada perut Mega. Dewa ngilu melihatnya. "Cepat kamu bawa istri kamu ke rumah sakit! Cepat!" teriak dokter Farhan yang tidak ingin Mega tidak tertolong.
"I-iya Farhan," jawab Dewa tergagap. "Aku akan buat perhitungan kepada kamu Sheila," ancam Dewa tidak ikhlas pada perbuatan Sheila kepada Mega. Dia langsung menggendong Mega masuk mobil ambulans yang sudah siap di klinik tersebut.
Ya, klinik dokter Farhan tidak memiliki peralatan untuk operasi besar seperti yang terjadi pada Mega. Maka dari itu Mega harus segera di bawa ke rumah sakit supaya ditangani dengan cepat.
Tidak lama mobil Dewa melesat sampai di area parkiran rumah sakit. "Suster ... suster ...". teriak Dewa yang meminta perawat yang berjaga untuk segera menangani istrinya.
__ADS_1
Semua terkejut melihat pasien dalam gendongan Dewa. Baik dokter dan suster langsung membawa Mega ke ruang ICU setelah mendengar langsung penjelasan Dewa mengapa perut pasien mengeluarkan banyak darah.
"Sayang kamu kuat, sayang." Tangis Dewa berderai saat dokter dan beberapa suster masuk menutup ruang ICU.
Pikiran Dewa semrawut tidak karuan. Memikirkan nasib nyawa istrinya di dalam. Dewa kemudian menelepon Satrio. Memberitahukan apa yang terjadi kepada Mega.
"Apa?" Satrio hampir tidak percaya mendengar apa yang disampaikan kakak nya lewat sambungan seluler. Ponselnya luruh, hampir terjatuh. Isi kepalanya tidak kalah khawatirnya dengan Dewa, suaminya.
"Satrio, ada apa?" tanya ibu Rahma yang berjalan mendekat ke putra nomor dua nya.
"Mega masuk ICU karena terjadi pertengkaran dengan Sheila. Sheila menusuk perut Mega dengan gunting, ma."
"Apa?" Ibu Rahma syok berat. Tidak lama diikuti suara gelas jatuh ke atas lantai.
Pyar
"Mega..." lirih ibu Rahma menaruh telapak tangan nya pada dada. Nyeri sekaligus ngilu membayangkan nya. "Ayo kita ke rumah sakit Sat." Air mata ibu Rahma sudah menetes dan buru-buru mengambil tas di kamar nya lalu pergi dengan Satrio ke rumah sakit.
Di dalam mobil, perjalanan menuju rumah sakit, ibu Rahma mencoba menghubungi pak Hendarto suaminya. Tidak kalah terkejutnya, Pak Hendarto tak bergerak sejenak, lalu terduduk dan masih tidak menyangka masalah hinggap bertubi-tubi di rumah tangga putra nya. Pak Hendarto lalu bergegas menuju rumah sakit.
.
.
"Bagaimana sayang?" tanya ibu Rahma dengan mata yang tidak berhenti menangis dan memeluk Dewa.
"Dokter belum keluar ma," jawabnya apatis tak ada daya.
Satrio juga sama sedihnya. Mengapa di hari yang sebentar lagi dia akan menikah. Banyak sekali masalah silih berganti.
Tidak lama pak Hendarto juga datang. Ketiganya saling menguatkan dan berdoa semoga hasilnya sesuai harapan.
Lima belas menit kemudian, Dokter keluar dari ruang ICU dengan raut wajah lelah. Dewa sudah takut dan tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan dokter.
Lain halnya dengan Satrio. Dia malah tidak ingin menyiakan bertanya pada dokter tentang kondisi Mega. "Bagaimana dok kondisi pasien?"
"Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkan janin dalam perut pasien. Keadaan pasien masih kritis. Pasien mengeluarkan banyak darah dan sekarang membutuhkan transfusi."
Semua terisak tangis. Mendengar jika calon adik Rania tidak terselamatkan.
__ADS_1
"Pa, mama tidak jadi menimang adiknya Rania, pa," ucap ibu Rahma menangis di dada suaminya.
"Mama sabar ya, yang terpenting Mega selamat, ma."
"Ambil saja darah ku dok," jawab Satrio yang mengetahui jika golongan darahnya dan Mega sama.
"Baik, silahkan anda ke ruang laboratorium terlebih dahulu. Biar perawat memeriksa golongan darah anda, apakah sesuai atau tidaknya dengan yang dibutuhkan oleh pasien."
"Iya Dok, terimakasih," jawab Satrio yang kemudian mengikuti apa kata dokter dan menjalankan langkah-langkah pemeriksaan darah dan ternyata cocok.
"Bagaimana sayang?" tanya ibu Rahma setelahnya Satrio kembali.
"Syukurlah ma, darahku cocok dengan darah Mega. Dan mudah-mudahan Mega bisa melewati masa kritisnya."
"Amin..." jawab ibu Rahma lirih tak bertenaga.
"Terimakasih ya Sat," lanjut Dewa.
"Iya kak."
Mereka kemudian bertanya kepada dokter lagi. Bagaimana keadaan Mega.
"Hari ini, kondisi pasien masih sama. Hanya saja darahnya sudah tercukupi. Namun masih pada tingkatan kritis karena pasien belum menunjukkan respon apa-apa."
Mereka bertiga tidak ada yang menjawab. Raut wajah ketiga orang dewasa itu tak bersemangat dan tampak letih.
Dewa tidak berhenti menitikkan air mata. Rasanya mereka bertiga sama, namun Dewa lah yang paling merasa hancur sekaligus bersalah kepada Mega. "Semua salah Dewa ma, semua salah Dewa," ucapnya bersamaan dengan deraian air mata. Meletakkan dahi nya pada lengan yang dia tumpu kan pada dinding rumah sakit. Menyembunyikan air matanya, meratapi apa yang terjadi dengan istrinya.
"Sudah, sudah. Semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah berdoa. Semoga Mega cepat siuman, sembuh dan kembali berkumpul bersama kita," sahut pak Hendarto yang menenangkan Dewa.
Hingga di hari berikutnya. Dokter menyatakan jika pasien koma karena waktu dimana Mega seharusnya terbangun. Matanya tetap terpejam dan responnya rendah.
"Nggak mungkin dok! Nggak mungkin!" teriak Dewa tidak percaya.
Ibu Rahma menangis histeris setelah mendengar hasil pemeriksaan dokter di hari selanjutnya.
Satrio juga tak kalah sedih. "Mega koma?" tanyanya pelan pada dirinya sendiri. Tidak percaya.
"Mega... Sayang bangun sayang." Dewa yang ingin masuk ruangan namun dokter masih belum memperbolehkan nya. Menunggu keluarga supaya agak lebih tenang, barulah dokter akan mengizinkan satu persatu masuk ke dalam ruangan dengan pakaian khusus.
__ADS_1
BERSAMBUNG