
"Hikz ... hikz ... hikz." tangis Dewi pecah. Dewi menutup wajahnya dengan dua telapak tangan nya. Berusaha menyembunyikan suara tangisnya. Namun tetap bersuara.
Satrio merengkuhnya dan memeluknya. Bola mata nya juga berkaca-kaca. Tidak menyangka, hari bahagia yang tinggal menghitung hari, rupanya berakhir dengan kata tertunda. "Kita hanya menunda nya, Han. Bukan berarti kita nggak jadi menikah," lirih Satrio supaya Dewi mengerti apa maksud nya.
"Tapi sampai kapan? Kapan Mega bangun dari koma nya? Iya kalau paling cepat hitungan hari, kalau hitungan bulan dan tahun? Apa kamu akan menunggu dia bangun?" Hati Dewi meronta menunjukkan betul jika dia tidak terima. Mengapa harus Mega yang menjadi acuan untuk Satrio menikahinya.
"Honey, tolong kamu mengerti. Mama, papa dan seluruh keluarga besar tidak ada bersitan bahagia di wajah mereka. Apa kamu tega? Melihat mereka sedang bersedih dan kita melaksanakan akad ditambah resepsi mewah dan tentunya bahagia."
"Akad saja. Nggak usah pakai resepsi." Dewi masih berharap Satrio menyetujui nya.
"Nggak, aku lebih baik menunda nya. Agar semua juga merasakan bahagia. Percayalah, tidak ada kata tidak jadi, aku hanya menunda nya."
Dewi terisak-isak saat Satrio kekeh mempertahankan pemikiran nya.
"Lagi pula tidak masalah menurut ku. Sekarang atau nanti, ujung nya kita juga akan bersama. Hanya kamu sabar atau tidak nya."
"Kamu egois, kamu tidak memikirkan perasaan saya dan mama papa." Dewi yang masih menyuarakan ketidak ikhlasan nya.
"Jalan tengah nya menunda, aku tidak membatalkan!" Nada intonasi bicara Satrio yang mulai bertambah. Berharap Dewi bisa mengerti apa yang kini dirasakan oleh keluarga besar nya.
"Ini hanya keputusan mu kan? Biar kedua orang tua kita yang menentukan baiknya bagaimana?"
"Lantas kamu mau menikah dengan siapa? Aku, atau mereka?"
Dewi tidak berhentinya menjatuhkan buliran jernih. Tetesan demi tetesan rasanya sakit, padahal baru saja dia akan merasakan bahagia dengan segera menikah dengan pangeran impian nya yang telah lama dia damba. Namun ternyata, hatinya harus teruji kembali. Dan lagi-lagi, nama Mega lah yang menjadi dasar keputusan Satrio hari ini.
"Okay ... up to you," lirihnya pasrah.
Satrio kemudian menemui papa David dan mama Giani. Dia menjelaskan dasar menunda nya pernikahan nya dengan Dewi.
"What?" pekik papa David karena sudah mengundang semua kolega nya.
Sama pula, mama Giani dibuat ternganga, sementara Dewi hanya sesenggukan dengan sisa tangis yang tak pernah berhenti sedari tadi. Air matanya terus keluar tanpa mau berhenti.
"Satrio minta maaf pa, Satrio tidak bermaksud membatalkan. Satrio hanya menunda nya."
"Tapi sampai kapan?" pekik Papa David lagi.
Satrio tertunduk beku. "Sampai istri dari kakak saya bangun dari koma nya, ma, pa."
Papa David menghamburkan nafasnya kasar. Terdengar ketidakrelaan jika diartikan nya. Papa David berkacak pinggang sembari geleng-geleng kepala. "Papa benar-benar tidak mengerti, apa hubungan nya pernikahan kamu dengan istri dari kakak kamu?"
"Jelas ada ma, pa. Satrio ingin semua keluarga juga merasakan kebahagiaan jika Satrio dan Dewi menikah. Namun jika keadaan nya masih seperti ini, dimana mama dan papa begitu juga keluarga besar tengah bersedih ketika salah satu anggota dari keluarga kami sedang koma. Apa iya mereka akan bahagia? Yang ada kebahagiaan Satrio tidak utuh. Hanya Satrio dan Dewi yang merasa bahagia. Dan Satrio nggak mau seperti itu."
Papa David lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar. Tidak mengerti dengan pemikiran calon menantu nya.
Sedangkan mama Giani membelai rambut putrinya. "Dewi yang tabah ya," ucap mama Giani.
__ADS_1
Dewi langsung berlari menuju kamar nya. Tidak perduli dengan keberadaan Satrio. Bahkan pamitnya untuk kembali ke kota nya, Dewi acuhkan. Wanita itu tidak mengantarnya dan berpisah di Bandara seperti sedia kala.
.
.
Sedangkan di lain tempat.
Sheila di interogasi oleh penyidik. Namun dia tidak mengaku. Dokter Farhan tidak kurang cara. CCTV di sudut ruangan nya akan menjadi bukti dari kejahatan Sheila.
"Lepaskan aku!" teriak Sheila berontak saat digelandang paksa masuk ke dalam sel. "Awas kamu Farhan, Dewa dan kamu Mega!" teriaknya membuat semua mata penghuni sel mengarah ke Sheila.
"Heh! Diam! Berisik tahu!" bentak dari salah satu tahanan lain yang terlihat garang.
Kedua bahu Sheila terangkat. "Arrrrgh..." Sheila yang kemudian mendorong tahanan mak-mak garang itu hingga keduanya saling bergulat fisik saling mendorong dan saling menjambak.
Sedangkan tahanan lain bersorak-sorak riuh menyaksikan mereka berdua.
"Berhenti! Ada apa ini? teriak petugas sel melerai mereka berdua. Namun sayang, keduanya sudah beradu bahkan rambut keduanya sudah acak-acakan dan sudut bibir keduanya juga mengalir cairan merah kental.
Sheila kemudian dibawa keluar, dipisahkan dari tahanan yang baru diajak nya berduel.
Kilatan sepasang mata mereka masih bertukar, seolah pergulatan fisik antar keduanya akan mereka lanjutkan saat mereka bertemu nanti.
Sheila bahkan tidak ada takut-takutnya. Padahal pipi mulusnya sudah berjejak tanda lebam karena di pukul oleh penguasa tahanan wanita tadi.
Setelah dia di pindahkan di sel lain dan di huni seorang diri. Tidak lama teman Sheila membesuk nya.
"Sheila..." lirih Dina yang membawakan Sheila baju ganti dan perlengkapan yang dibutuhkan.
"Semua karena wanita itu, Din," geram Sheila.
"Kamu juga salah Sheila, kamu menjebak suami nay. Wajar saja wanita itu marah."
Brak
Sheila menggebrak meja lalu bangkit. "Kalau kamu kesini cuma mau menasehati ku. Sebaiknya kamu pulang. Karena kamu tidak tahu apa-apa."
"Okay ... kamu tenang ya," ucapnya sembari menarik pelan lengan Sheila supaya duduk kembali. "Memangnya apa yang kamu lakukan? Sampai kamu harus tidur di penjara?"
"Aku menusuk pakai gunting perut wanita itu, perut dimana yang katanya wanita itu hamil lagi anak Dewa. Hahahaha..." seringai licik dari Sheila yang kemudian dia tertawa keras.
Berbeda dengan Dina yang ternganga sekaligus merinding dengan perbuatan teman dekat nya itu. "Apa kamu sudah tidak waras? Kalau wanita itu mati kamu bisa di penjara seumur hidup Sheila."
"Aku tidak peduli. Aku tidak bisa memiliki Dewa, dia juga harus merasakannya."
Dina geleng-geleng kepala. Rasanya makhluk hidup di depan nya sudah berubah semenjak Dewa kembali ke Indonesia. "Kamu tidak mencintainya. Kamu hanya terobsesi dengan ingin memiliki Dewa."
__ADS_1
"Aku mencintai nya Dina," lirihnya dengan air mata berkaca. Dimana bahana tawa menjadi tangis pelan dari mulut Sheila.
"Kamu harus sadar Sheila, kamu harus lupakan Dewa. Jika sosoknya sudah mustahil kamu jangkau. Terlebih sekarang kamu ada di sini, bagaimana kalau hukuman mu berat? Bagaimana kalau seumur hidup kamu tidur dan meringkuk kedinginan dikerangkeng jeruji besi hitam itu?"
Sheila menangis. "Tolong aku Dina," lirihnya tersadar dan meresapi apa perkataan Dina.
"Bagaimana cara aku menolong mu?"
"Cari tahu apa wanita itu selamat atau tidak?"
"Lalu?"
"Kabarkan kepada ku, jika dia selamat, kabari Gaston untuk membebaskan aku dari sini."
"What? Kenapa kamu harus libatkan laki-laki itu?"
"Tidak ada pilihan lain. Hanya Gaston yang bisa membebaskan aku. Dia yang dari dulu menginginkan aku."
"Kamu akan menyerah dan menikah dengan nya?"
"Tidak ada pilihan lain. Aku juga tidak mau menghabiskan waktu ku di tempat ini."
Dina yang menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan. "Akhirnya kamu dengan dia juga. Tapi mengapa harus seperti ini cara nya?"
"Ayolah Din, kamu mau ya," pinta Sheila sangat, supaya Dina mau Memberi tahu Gaston dan membebaskan nya.
"Iya, nanti akan aku sampaikan kepadanya." Sheila yang kemudian bangkit dan pamit.
.
.
Sesampainya Satrio di rumah.
Hatinya teriris mendengar Rania menangis keras memanggil-manggil mama nya.
"Mama ... Mama ... Mama dimana ma?" tangis Rania yang tidak kunjung berhenti biarpun ibu Rahma sudah membujuk nya.
"Rania ikut om ya." Satrio berusaha menenangkan Satrio.
"Nggak mau, Lania mau nya sama mama. Mama nggak pulang belhali-hali om," jawab nya terpotong-potong karena bersamaan dengan tangisnya.
Satrio tetap menggendong nya. Meskipun semakin keras tangis keponakan perempuan nya itu memanggil-manggil mama nya. Satrio membawanya pergi bermain ke Mall untuk mengalihkan perhatian Rania yang mencari mama nya. "Kita beli es krim kesukaan Rania ya?" tanya Satrio yang dijawab tangis pilu dari keponakan nya.
"Om, mama kemana? Kenapa mama nggak pulang-pulang?"
BERSAMBUNG
__ADS_1