Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Aku tersiksa Mega


__ADS_3

"Da da papa..." celoteh Rania yang sudah sampai sekolah play groupnya.


"Da da sayang. Cup." Dewa mengecup kening putrinya. "Rania belajar yang pinter ya," imbuhnya.


"Ciap papa."


"Sayang, aku sama Rania turun dulu ya," pamit Mega yang mencium punggung tangan suaminya.


Dewa kemudian meraih puncak kepala Mega dan dikecupnya agak lama. Setelahnya perlahan dia lepas dan Dewa masih mengusap kecil pipi kanan istrinya.


"Da da papa..." Rania yang melambaikan tangan ke papanya.


Begitu juga dengan Dewa. Membuka kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangan yang sama seperti yang dilakukan putrinya, sembari melajukan mobil yang dikendarainya.


.


.


Sampai di hotel Mediterania.


Dewa tidak tenang berada di ruang kerjanya. Pikirannya tertuju pada Mega sepenuhnya. Dia langsung menghubungi lewat sambungan seluler karena Dewa yakin, jika Mega senggang dan pasti kesepian menunggu Rania selesai belajar.


Dert dert


"Hallo sayang," jawab Mega yang langsung menempelkan alat komunikasi jarak jauh itu di telinga nya.


"Kamu sedang apa?" tanya Dewa yang ingin sebenarnya sepanjang hari bersama istrinya dan enggan membiarkan wanitanya kesepian.


"Ini aku sedang menunggu Rania sayang. Rania kan sedang belajar di kelasnya."


"Oh, sayang ... apa menurutmu permintaan putri kita perlu dikabulkan?" tanya Dewa sebelum menanyakan kekhawatiran nya terkait keberadaan Satrio.


Mega tertawa kecil. Dulu, Dewa sering menginginkan untuk menambah momongan saat Rania masih usia dua sampai tiga tahunan. Namun sekarang, mereka sampai lupa jika ternyata Rania juga butuh teman yang kedepannya untuk dijadikan dia saudara.


"Kok tertawa?" sahut Dewa yang mendengar tawa kecil Mega.

__ADS_1


"Boleh," jawab malu Mega yang padahal tidak di depan suaminya. Namun dua pipinya terlihat merah dengan sendirinya hingga dia menutup mulut dengan telapak tangan nya.


"Oh ya sayang, apa disana ada Satrio?" tanya Dewa cukup ragu sebenarnya.


Yang tidak lama senyum Mega sirna. "Maksud kamu apa sayang?" Mega yang bingung apa maksud suaminya.


"Em, enggak. Ya udah kalau gitu. Nanti kita ketemu di rumah sakit ya."


"Iya sayang," jawab Mega yang merasa Dewa terlihat aneh. Teringat saat malam hari dia tengah terpejam. Suaminya memeluk erat seperti takut kehilangan.


.


.


Siangnya.


Kedatangan Mega dan Rania ke rumah sakit ternyata lebih sampai terlebih dahulu. Mega yang tengah membelikan Rania air mineral di mini market terlihat oleh Satrio yang baru datang.


Hingga keduanya bertemu, Mega terkejut dengan tangan kanan Dewa yang dibalut perban.


Mega tetap ingin hubungan terjalin baik, meski mereka tidak berjodoh menjadi suami istri. Setidaknya, tidak meninggalkan dendam di hati laki-laki itu.


"Tangan kamu kenapa?" Mega melirik tangan Satrio yang terbalut perban.


"Nggak apa-apa," Satrio yang mengalihkan penglihatannya dari wajah Mega yang menyiksa hidupnya.


"Kenapa?" desak Mega.


Satrio langsung menarik lengan Mega dan diajak nya wanita itu untuk bicara berdua tanpa ada orang berlalu lalang.


Sayangnya, Dewa yang baru datang bisa melihat mereka dan berlari mengikuti keduanya tanpa sepengetahuan Satrio dan Mega.


Satrio yang sudah tidak kuat menahan perasaannya, tidak perduli Mega istri kakaknya. Dia langsung meraup bibiir Mega tanpa jeda. Tidak membiarkan wanita itu bernafas sedetik pun karena saking gila nya Satrio tidak bisa seperti dulu lagi dengan wanita itu. Mega yang berstatus istri sah kakaknya, membuat dia terhalang untuk sekedar ngobrol omong kosong berdua.


Bersamaan dengan bola mata Dewa yang berkaca-kaca berikut kepalan di dua tangannya. Ingin memukul adiknya, namun sengaja tidak Dewa lakukan. Karena dia ingin tahu sejauh mana Mega menggenggam cintanya.

__ADS_1


Mega kemudian berhasil mendorong dada bidang Satrio hingga tubuh mereka berjarak.


Plak


Sesal Mega terpaksa harus menampar pria yang dia beri gelar kata baik sebelumnya. "Kamu sudah gila Satrio," murkanya Mega terlihat sekali di raut wajahnya.


"Aku tidak peduli kamu istri kakak ku. Aku juga tidak perduli dengan status mu yang menjadi kakak ipar ku. Aku tidak peduli Mega," tegasnya Satrio tak kalah mengejutkan Mega.


"Sat, aku mohon. Agar kamu mengikhlaskan aku dengan kakak mu. Demi Rania. Aku mohon Sat." Mega yang meraih jemari Satrio dengan sangat dia menginginkan agar pria yang berdiri di hadapannya kini, rela dengan pernikahannya dan Dewa.


"Kamu pikir itu mudah? Dan apa kamu tahu ini kenapa?" Satrio yang menunjukkan luka perbannya.


"Kenapa?"


"Aku meremas pisau makan tadi pagi. Kamu dengan sengaja menyiksa aku dengan kemesraan kamu dengan Dewa," dengan lancangnya Satrio memanggil Dewa tanpa embel-embel kakak.


Tubuh Mega melemah saat mendengar apa yang baru saja Satrio katakan. Dadanya mendadak sesak dan pandangannya meredup. "Apa yang kamu lakukan?" suara serak Mega yang terkesan tidak mau itu terjadi pada Satrio.


"Bukankah kamu tidak perduli pada ku lagi. Kamu tahu aku tersiksa dengan pernikahan kalian. Aku tersiksa Mega!" kerasnya kalimat terakhir Satrio membuat Mega terenyuh kehabisan kata-kata.


"Aku harus apa Sat? Aku ingin hubungan kita tetap terjalin baik walau tidak bersama."


"Mudah sekali ucapkan itu. Setelah apa yang sudah kamu lakukan kepada ku. Membohongi ku selama lima tahun," teriak Satrio kesal.


"Demi kuliah kamu tidak berantakan. Supaya kamu bisa mengejar apa yang menjadi impian nomor satu kamu," tukas Mega yang tak kalah panjang lebar dalam menjelaskan.


"Kamu pikir aku senang? Dengan cara seperti ini? Dengan kamu diambil oleh Dewa dan sekarang berlanjut status menjadi istri sah nya. Dan apa tadi pagi? Rania meminta adik. Awas saja kalau kamu menuruti nya," ancaman Satrio yang tidak perduli di dengar atau tidak nya oleh Mega. Namun yang jelas dia tidak suka.


"Sat, kamu bukan suamiku. Jadi kamu tidak berhak atas hidup ku, apalagi mengancam aku," dengan cepat Mega membalas ancaman dari Satrio terkait permintaan Rania.


Satrio kemudian mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Mega. "Katakan kalau kamu tidak mencintai ku. Katakan! Katakan Mega!" Sorot mata mereka bertemu. Dan terlihat sekali jika Mega belum sepenuhnya memusnahkan cinta diantara mereka. "Kamu tidak bisa jawab kan? Karena aku yakin, di hati kamu paling dasar ... Masih terukir nama ku dan kamu tidak bisa tepis itu." Sangat yakin sekali Satrio mengatakannya. Membuat Mega tidak tahu harus berbuat apa. Selain menghindari kekasih yang telah berstatus adik ipar dimata keluarga.


Satrio lantas pergi meninggalkan Mega yang masih terngiang dengan apa yang keluar baru saja. Terlihat sekali jika kekecewaan Satrio akan sulit sembuh jika begini keadaanya.


Sementara Dewa. Cukup merasakan patah hati untuk kali kedua memergoki mereka berbuat yang tidak seharusnya. Meskipun pada akhirnya Mega memberi tamparan untuk adiknya, saat Satrio mulai kurang ajar pada istrinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2