
Dewa takut untuk menjawab nya. Ya, tidak semua dia ceritakan waktu itu kepada Akhyar. Tidak semua saja, Akhyar sudah memberi ancaman tegas kepada nya. Bagaimana kalau dia mengakui perbuatan nya dengan Sheila? Meskipun itu dijebak oleh Sheila. Tapi tetap saja, benar kata Mega. Awal nya memberi celah dan ruang untuk Sheila dekat dengan nya, padahal berulang kali Mega selalu mengingat kan nya. Seolah Gaston menjadi momok yang tidak pernah membuat kehidupan nya tenang.
"Jawab Dewa!" teriak Akhyar penuh murka.
"Semua salah ku kak." Dewa yang tidak berani menatap kakak iparnya.
"Aku butuh penjelasan," tekan Akhyar pelan namun syarat akan makna.
"Semua bermula dari wanita yang bernama Sheila. Dia mencintaiku dalam diam, aku tidak tahu namun dia bertindak di luar batas."
Akhyar tercengang dan menoleh menatap Dewa tajam.
"Dia menjebak ku, memasukkan obat dalam minuman ku hingga..." Dewa yang tak sanggup melanjutkan untuk bercerita. Karena pertama. Akhyar pasti akan menambah jejak keunguan yang sudah diberikan Gaston pada pipi nya. Kedua, baginya tidak pantas untuk di dengar oleh kakak iparnya. Karena bisa-bisa, Akhyar murka dan turut campur bahkan bisa jadi, ancaman Akhyar benar-benar akan terlaksana.
Ya, Dewa kenal betul Akhyar. Akan sangat marah jika adiknya disakiti pria atau siapa pun melukai Mega.
Mendengar hal itu, seluruh gigi Akhyar mengerat kuat. Bola matanya terdapat kilatan api yang bergejolak. "Hingga apa?"
"Hingga aku menganggap Sheila, Mega." Dewa masih takut membuka aib diri nya.
"Lalu?"
"Kita..." Dewa berhenti lagi, namun Akhyar sudah bersuara lantang dan tidak terima.
"Bajingan kamu Dewa," tatapnya sembari menarik kemeja Dewa. Tidak lama menghempas kasar tubuh adik ipar nya hingga tubuh Dewa terpental mengenai body mobil.
"Aku lantas menyuruh teman dokter ku. Supaya Sheila tidak hamil. Berbagai upaya aku lakukan untuk Sheila tidak mengandung buah hatiku."
Darah Akhyar mendidih seketika. Bersamaan dengan kedua tangan nya yang mencengkeram badan setir.
"Lagi-lagi Sheila menjebak ku. Sheila juga mempengaruhi Mega dengan mengatakan jika dirinya hamil anak ku. Hingga akhirnya Mega tahu dan melayangkan gugatan cerai."
Akhyar menoleh ke Dewa. Menambah cengkeraman pada badan setir dan keratan pada seluruh giginya.
"Namun saat Mega memutuskan pergi dari rumah. Kabar kehamilan nya membuat kami berbaikan lagi. Dan aku berjanji akan membuktikan jika Sheila tidak hamil anak ku karena aku sudah mengupayakan nya ke salah satu teman dokter ku. Hingga akhirnya aku berhasil membuktikan jika Sheila tengah berbohong tentang kehamilannya. Membuat Sheila gelap mata dan mencelakai Mega, dimana berakhir dengan diangkat nya janin Mega karena tidak selamat dan Mega koma." Dewa yang lega setelah bercerita semuanya kepada Akhyar. Meskipun dia sangat takut akan apa selanjutnya yang dilakukan Akhyar kepada nya.
Laki-laki itu sudah jelas kekecewaan nya. Murkanya tidak bisa disembunyikan dan sangat terang-terangan.
Akhyar sedih dan kecewa. Terdapat banyak luka jika diartikan nya. Dia menghempas punggung nya di jok mobil. Tidak langsung membabi buta Dewa dengan tindakan anarkis nya. Dia masih meresapi apa yang dirasakan adik perempuan nya. "Aku salah, telah percaya kepada kamu Dewa," ucapnya berat dan setelahnya menarik nafas panjang lalu dia keluarkan dengan sangat berantakan.
Dewa hanya terdiam. Sadar betul jika semua yang terjadi adalah buah dari perbuatannya sendiri.
"Aku tidak akan rela Mega tersakiti. Dan pria seperti kamu. Rasanya akan terus menyakiti Mega tanpa henti. Nyawa nya akan selalu terancam jika dia dekat dengan kamu. Tadi saja, di rumah sakit dia dibuat takut oleh salah satu kawanan mereka. Itulah mengapa aku bisa sampai dan menolong kamu."
__ADS_1
"Ini bukan yang pertama kalinya. Aku pikir mereka akan mengusik ku, tidak pada istri ku. Tapi ternyata aku salah."
"Untuk sementara Mega bisa tinggal bersama ku. Sejujurnya aku ingin kalian berpisah. Tapi aku yakin Mega berat meninggalkan pria brengsek seperti kamu."
Dewa hanya bisa menelan ludah, saat lagi-lagi Akhyar tanpa henti mencerca nya.
"Lalu apa rencana kamu?"
Pertanyaan Akhyar membuat Dewa terkesima. Tidak sangka dengan kejujuran nya, membuat pria itu hanya marah dan kecewa. Tidak lagi memberi jejak memar pada bagian pipi nya seperti yang dulu-dulu dilakukan nya.
Entahlah.
Mungkin kasihan karena pipinya sudah perih akibat bermain tonjok-tonjokan dengan anak buah Gaston. Maka dari itu Akhyar tidak melakukannya. "Pria itu tak tersentuh hukum. Ayahnya memiliki kolega di kepolisian. Makanya dia bisa semena-mena bermain kekerasan. Sheila dengan mudah bebas karena di tolong olehnya. Maka dari itu dia tidak terima, karena aku memasukkan wanita yang dicintai nya ke dalam penjara."
Akhyar dibuat geleng-geleng kepala dengan rumitnya permasalahan rumah tangga adiknya.
Mega bahkan terlihat tegar seolah baik-baik saja dan seperti orang tidak memiliki masalah saat seharian kemarin dia menemaninya di rumah sakit.
"Aku akan bantu menjaga Mega dan Rania. Lainnya, kamu harus lebih waspada dan kamu harus belajar bela diri. Supaya kamu bisa melindungi diri mu sendiri."
"Aku juga akan coba untuk terus bernegosiasi dengan Gaston. Mana tahu dia menghentikan perbuatan tercela nya dan hubungan kami membaik setelahnya. Tapi entahlah. Aku pesimis untuk itu."
"Okay, kita ke rumah sakit. Dan setelahnya aku yakin, mereka akan membalas kekalahan dari peristiwa barusan. Kita harus siap-siap."
Akhyar kemudian menyalakan mesin mobil nya. Melajukan mobilnya mengarah ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya dengan cepat menemui Mega di ruang rawatnya. Meskipun Dewa ragu, masuk menemui istrinya dalam keadaan berantakan.
"Sayang kamu kenapa?" Mega langsung memeluknya dan meraba kedua pipi yang memar pada wajah suaminya.
Dewa menyentuh tangan istrinya yang meraba pipinya yang terluka, dengan segera memutus kepanikan istrinya dengan jawaban aku nggak apa-apa.
"Nggak apa-apa bagaimana?" Mega yang kemudian menggeser matanya kepada kakaknya. Sama berantakan nya. "Kalian berantem?" tanya Mega serius namun baik Dewa dan Akhyar tetap bungkam. "Kakak selalu main pukul. Apa tidak bisa kalian itu bicara baik-baik?" sentak Mega yang memarahi kakaknya.
"Ck, ini itu karena aku dikeroyok anak buah Gaston. Kakak mu yang malah menolong ku."
Mega tercengang. "Astaghfirullah... Kenapa Gaston tidak berhenti berbuat onar?"
"Aku sudah bahas ini dengan kakak mu. Nanti aku beri tahu semua nya. Kita sepertinya harus waspada dengan keberadaan Gaston yang kebal hukum."
Mega merinding. Begitu juga dengan Zahrin yang bulu kuduk nya berdiri.
"Kalau begitu aku pamit ya, Mega. Sudah ada suami dan kakak kamu," sahut Zahrin.
__ADS_1
"Iya kak, terimakasih," jawab Mega.
Zahrin mengangguk tersenyum. Setelahnya dia pergi keluar di temani Akhyar yang mengantar sampai ke depan.
"Terimakasih ya Rin," ucap Akhyar yang berjalan di samping Zahrin.
"Iya mas," jawab Zahrin singkat.
"Mana Arsyla? Kamu nggak ajak dia?"
"Dia sekolah mas. Lagi pula Arsyla sudah besar. Tidak mungkin juga ingat sama kamu. Apalagi minta gendong sama kamu."
"Iya, aku tahu. Aku hanya bawa oleh-oleh untuk dia dan Arsyad. Makanya aku tanya mana anak-anak kamu."
"Datang aja ke rumah, kasihkan ke anak nya sendiri."
"Boleh?"
"Asal tidak mencari ku dan berbincang berdua dengan ku di rumah, tentu saja boleh. Regi tidak mungkin cemburu." Zahrin yang menekan kunci mobilnya supaya terbuka.
Namun Akhyar tampak lebih sigap dan membantu Zahrin membukakan pintu mobil bagian kemudi yang akan di duduki mantan istrinya.
Hingga membuat Zahrin merasa canggung menit itu juga.
"Okay, next time aku ke rumah. Memberikan nya sendiri oleh-oleh yang aku bawa untuk Arsyla dan Arsyad," jawab Akhyar yang memperhatikan jika Zahrin tengah sibuk mengambil kotak obat.
"Iya. Itu obati luka kamu." Bersamaan dengan tangan Zahrin yang terulur memberikan satu kotak obat kecil, lalu dengan cepat menutup kaca mobilnya.
Membuat Akhyar tertegun. Sejenak terdiam terhadap perhatian kecil Zahrin.
Cuplikan-cuplikan kejadian masa lalu berterbangan di kepalanya. Berputar satu persatu bagai kaset yang sangat jelas diingatnya.
Begitu juga dengan Zahrin, tidak menyangka akan tetap sama perlakuan nya. Peduli dengan satu pria itu tanpa bisa mengacuhkan nya. Satu pria dimana keduanya pernah hidup bersama dan banyak drama di dalamnya.
Padahal Akhyar sudah berkelana lama di Jerman, tapi kembali nya yang tak dia sangka. Membuat dia bertemu lagi dengan sosoknya.
Zahrin yang masih melihati Akhyar dari spion mobil nya.
Brak
Hingga suara body depan mobilnya menyadarkan nya.
"Zahrin..." lirih Akhyar terkejut.
__ADS_1
BERSAMBUNG