Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Gaston berencana membebaskan Sheila


__ADS_3

"Pa, papa nggak serius kan dengan ucapan papa?" tanya Dewi setelahnya mereka sampai rumah.


"Apa menurut kamu papa bergurau?" Papa David yang hendak pergi dari hadapan putrinya.


"Papa benar-benar akan batalkan pernikahan aku dengan Satrio?"


"Terpaksa. Itu juga karena calon suami kamu terlalu arogan. Tidak berperasaan memutuskan semuanya sepihak hanya karena salah satu anggota keluarga yang menurut papa itu tidak lah penting guna berlangsungnya acara pernikahan kalian," tegas papa David yang malah curiga dengan alasan Satrio.


Dewi tertunduk lesu. "Aku hanya minta papa berunding dengan keluarga nya Satrio. Bukan membatalkan pernikahan kami," lirih Dewi supaya papa nya mengerti.


"Dengan keluarga kita dihina oleh dia. Apa kata semua kolega papa? Acara pernikahan tidak jadi di gelar dengan waktu yang tidak dapat di tentukan karena kakak ipar sekaligus mantan kekasih Satrio sedang koma. Begitu? Hah?"


"Dewi tidak mau berpisah dengan Satrio pa."


"Kamu wanita terhormat Dewi. Papa sekolahkan kamu tinggi-tinggi tidak untuk mengemis cinta nya Satrio. Banyak laki-laki seperti Satrio. Ratusan, ribuan kalau perlu. Kalau perlu papa kenalkan kamu dengan anak dari teman papa."


"Aku nggak mau pa. Dewi maunya sama Satrio." Dewi yang kemudian lari menuju lantai dua kamar nya.


"Dewi ... Dewi!" panggil papa David kepada putrinya.


Dewi membanting kasar tubuhnya di atas ranjang. Menangis tersedu-sedu tidak karuan. Pernikahan yang sudah di depan mata dan sebentar lagi terlaksana, ambyar begitu saja.


Kamu bahkan tidak tanya keadaan ku.


Kenapa kamu tega dengan aku Han...


batin Dewi meronta. Memandangi layar ponsel yang ingin menghubungi Satrio. Namun urung.


Beberapa jam kemudian. Dewi mengurung diri di kamar dan mogok makan.


"Dewi... Dewi... buka pintunya sayang, ini mama." Mama Giani yang mengetuk pintu kamar putri nya.


"Masuk ma," sahutnya dari dalam.


Mama Giani kemudian membuka pintu kamar putri nya. "Papa sudah menunggu di bawah, kita makan malam ya."


"Dewi nggak lapar ma."


"Kamu harus makan. Nanti kamu sakit."


"Hikz ... hikz ... hikz." hanya tangis Dewi yang bersuara pelan. "Ma, bagaimana kalau dalam dua kali dua puluh empat jam, Satrio tetap pada keputusan nya menunda pernikahan? Dewi nggak mau ma."

__ADS_1


"Kamu harus percaya kepada Satrio. Mama yakin, Satrio akan berubah pikiran dan melanjutkan pernikahan kalian."


"Apa itu benar ma?"


"Iya sayang," jawabnya getir menatap putrinya tersakiti oleh pangeran yang diidamkan oleh Dewi sejak lama. "Sekarang kamu makan ya?"


Dewi mengangguk luluh.


Meskipun hatinya sangat ragu. Karena sampai detik ini saja, Satrio tidak berupaya mengkomunikasikan kembali pernikahan mereka.


.


.


Dua puluh empat jam berlalu.


Gaston sangat marah mendengar apa yang disampaikan Dina kepadanya.


Brak


Suara telapak tangan Gaston menggebrak Meja dengan kekuatan penuh sekaligus geram. "Kurang ajar laki-laki itu! Berani-berani nya memasukkan Sheila ke dalam penjara."


"Aku harus buat perhitungan dengan pemilik hotel Mediterania itu."


"Sebaiknya jangan. Sudah cukup Sheila yang masuk ke dalam sel tahanan. Jangan menambah lagi masalah."


Gaston mendengus kasar. "Apa kamu sudah periksa keadaan wanita itu?"


"Belum. Aku belum mencari informasi dimana wanita itu di rawat."


"Kita cari informasi sama-sama."


Dina mengangguk dan keduanya berangkat. Gaston dan Dina akhirnya pergi mencari informasi di hotel Mediterania. Namun sepertinya semua tidak ada yang tahu, jika istri dari pemilik hotel tempat mereka bekerja tengah mengalami insiden berdarah. Istrinya di tusuk oleh Sheila.


"Sebaiknya kamu antar dulu aku bertemu dengan Sheila di kantor polisi," perintah Gaston kepada Dina.


"Okay, kalau begitu kita membesuk Sheila saja dulu."


Gaston kemudian memutar roda empatnya. Membawa mobilnya menuju kantor polisi dimana wanita kesayangan nya di tahan di dalam sel.


"Sheila. Ada yang besuk," seru dari petugas sel yang kemudian mengeluarkan Sheila.

__ADS_1


Sheila kemudian keluar di dampingi petugas sel yang berjaga.


Sheila sebenarnya enggan menemui pria itu. Tapi tidak ada cara lain selain meminta tolong kepada Gaston.


"Sheila..." lirih Gaston yang langsung mendekap wanita itu. "Kamu tenang aja my princess, aku akan membebaskan mu." belainya pada rambut belakang Sheila yang menutup punggung wanita itu.


Sheila melepas pelan pelukan Gaston. Sheila kemudian duduk berhadapan dengan pria yang jujur sangat di benci nya. Laki-laki itu hanya dia manfaatkan guna menarik perhatian Dewa saat itu. Sialnya, semua seakan menjadi bumerang dan kini dia mau tidak mau, suka tidak suka akan menerima semua kesepakatan dengan Gaston.


Pria itu pasti akan meminta cinta darinya. Syarat pernikahan pasti akan di diproklamirkan oleh Gaston kepada nya. Perjanjian-perjanjian barter guna terbebasnya dirinya, sangat mahal harga nya. Memberikan seluruh hidupnya kepada pria yang sama sekali tidak dia cintai, malah sebalik nya. Dia benci.


"Bagaimana keadaan kamu di dalam sini?" tanya Gaston tidak seperti biasanya. Sifat garang nya berubah lunak dan apa yang dia tanyakan terdengar lembut untuk sampai diterima oleh Sheila.


"Kamu lihat sendiri, bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja," jawab Sheila sebal.


"Kamu sabar dulu ya, aku dan Dina sedang mencari informasi tentang istri dari pemilik hotel Mediterania itu." Gaston yang mengusap berulang pipi kanan Sheila.


Sheila mengangguk pasrah.


"Aku yakin proses nya tidak akan lama my princess. Dan aku tidak akan biarkan kamu berlama-lama di sini. Tidur di sel yang pengap. Kasihan sekali kamu."


"Terimakasih."


"Okay, aku dan Dina sebaiknya pergi dulu. Segera akan aku urus si bajingan Dewa itu. Karena telah membuat kamu masuk ke dalam sel ini."


"Jangan kamu apa-apakan pria itu! Aku hanya kamu bebaskan aku dari sini. Dan aku akan turuti semua kemauan kamu."


"Apapun? ... Ya, ya. Dina sudah cerita semuanya. Dan aku senang mendengarnya. Kita akan menikah setelah kamu bebas. Bukankah itu janji kamu?"


"Iya."


.


.


Sedangkan di rumah sakit.


Dewa menggenggam erat jemari istrinya. Mengecupnya berulang. Membelai puncak kepala wanitanya dengan sangat lembut penuh perasaan. "Kapan kamu akan bangun sayang?" tanya nya lirih dengan air mata mengambang.


Memandangi bagian perbagian wajah istrinya. Tidak tega jika Mega menanggung rasa sakit nya sendirian. "Harusnya aku yang terbaring di sini, jangan kamu. Harusnya aku sayang. Biar aku saja yang menggantikan rasa sakit yang kamu derita. Rania memanggil-manggil terus nama kamu. Apa kamu tidak merindukan dia? Apa kamu tidak rindu pada ku?" lirih Dewa yang terus berbicara kepada Mega walau Mega tidak mendengar apa yang dia katakan. "Bangun sayang, bangun," ulangnya dengan kata yang sama. Meskipun terdengar sia-sia.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2