Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Aku nggak bisa


__ADS_3

"Kamu dari mana saja?" tanya Dewa yang sudah pulang ke rumah karena khawatir dengan istrinya yang sejak tadi dihubungi namun Mega tidak mengangkat nya.


"Dari rumah sakit," jawabnya yang kemudian masuk ke dalam bathroom membasuh wajah dan matanya yang sembab karena banyak menangis.


Sedangkan di lantai bawah. Satrio membawa Dewi saja untuk makan malam bersama.


"Hai... Dewi," sapa ibu Rahma yang senang sekali bertemu calon menantunya kembali.


"Malam Tante," balasnya dengan mencium punggung tangan ibu Rahma.


"Malam sayang, Tante jadi senang deh, kalau Satrio sering-sering ajak kamu kesini. Oh ya, hari ini tadi sudah melihat-lihat gaun pengantin apa belum?"


"Sudah Tante."


"Trus bagaimana? Apa kalian sudah pesan?"


"Iya, sudah Tante. Nanti seluruh keluarga akan ada fitting bersama. Menggunakan kebaya seragam untuk akad nikah."


"Syukurlah, trus rencana kamu bagaimana Sat, di kota nya Dewi atau jadi satu di sini sayang acaranya?"


"Iya, kata mama Giani dan papa David, tetap ada dua acara ma. Di kota nya Dewi juga, karena mereka keluarga besar dan banyak juga teman bisnis papa David."


"Oh, begitu. Mama ikut aja. Trus kamu pilih mana? Di hotel Tante kamu atau hotel kakak mu acara akad dan resepsinya."


"Di hotel kakak aja. Nanti akan aku sulap hotel kakak seperti yang kamu inginkan," sahut Dewa yang menuruni anak tangga bersama Rania.


"Iya, nanti biar saya ajak Dewi lihat dulu ke hotel milik Tante dan milik kakak. Biar Dewi yang putuskan, karena aku ikut aja apa mau dia."


"Halo tante..." sapa gemas Rania.


"Halo sayang, kamu cantik sekali. Nama kamu siapa?" balas ramah juga dari Dewi.


"Lania Tante," jawabnya masih belum jelas huruf R nya.


Namun semua tersenyum mendengarkan ocehan Rania. Satrio juga dengan cepat meralat dan memberitahu Dewi nama putri dari kakaknya itu adalah Rania.


"Oh, Rania. Rania cantik sekali sih," ucapnya gemas dengan terus memandangi bocah manis usia lima tahun itu.


"Tante juga, aku suka lambut Tante. Cully kayak boneka Balbi," balasnya membuat semua terkekeh tanpa terkecuali.


Tidak lama Mega turun dan cukup terkejut jika ternyata Satrio membawa Dewi ikut makan malam.


"Hei..." sapa ramah Dewi kepada Mega.


"Hei..." jawab Mega memaksakan tersenyum dan menatap Dewi. Kedua mata mereka bertatap, Dewi kagum dengan kelembutan Mega yang langsung mengambil alih Rania dari gendongan suami nya. Sementara Mega sebaliknya, melihat sosok Dewi dengan segala kesempurnaan yang melekat padanya.


"Ya udah yuk, kita makan malam dulu." sahut ibu Rahma karena melihat pak Hendarto sudah keluar kamar dan menuju meja makan.


"Wah... ada calon mantu ternyata," celetuk pak Hendarto menambah suasana hangat malam itu.


"Eh, iya om. Satu Minggu ini saya masih di sini. Untuk hari setelahnya, barulah saya kembali ke kota saya hingga acara pernikahan kami."


"Tapi kamu siap kan? Kalau setelah menikah akan tinggal bersama kami di sini?" imbuh pak Hendarto.


"Siap om, saya juga juga sudah berunding banyak dengan calon suami, kalau saya sudah putuskan berhenti bekerja. Dan kemungkinan membantu suami mengurusi hotel yang baru di bangun nya. Atau nanti buka butik untuk mengisi kekosongan saya. Atau apalah, karena saya paling tidak bisa diam dan menganggur," jawab Dewi lancar dan setiap kata yang keluar membuat Mega selalu terkesima dengan wanita yang akan dipersunting mantan kekasihnya.


"Baguslah, om senang mendengar nya. Rumah ini cukup besar dan lebih dari cukup untuk kalian tempati. Dan dari dulu, om sama Tante ingin semua nya kumpul jadi satu biar ramai. Lebih tepatnya tidak ingin pisah dengan cucu," jelas Pak Hendarto dengan tertawa kecil setelahnya.

__ADS_1


Dewi bisa mengerti, Satrio sedikit banyak sudah menjelaskan tentang keluarganya.


Mereka semua sibuk menikmati hidangan makan malam yang tersedia. Sampai dimana kata-kata larangan Dewi kepada Satrio membuat semua mata tertuju pada pasangan yang sedang kasmaran di meja makan.


"Honey, ini terlalu pedas buat kamu. No, kamu sebaiknya ini saja," ucapnya yang kemudian mengambilkan menu yang lebih tepat untuk Satrio.


Membuat semua dapat merasakan jika Dewi sangat tulus menyayangi Satrio. Mega bahkan terhenyak, karena dia pikir Dewi tidak mengetahui hal itu, namun sebaliknya.


"Wah... kamu memang pintar Sat mencari calon istri. Dewi sampai hafal betul lho, tingkat kepedesan yang pas buat perut kamu," goda ibu Rahma dengan senyuman di bibirnya.


"Hehehe..." Dewi tersipu malu, saat ibu Rahma berkata demikian.


"Mama jadi nggak sabar, kalian cepat menikah. Apalagi cepat punya anak dan cucu mama bertambah." Ibu Rahma tidak hentinya berkhayal jauh ke depan.


"Mama kamu ini begini nih, nanti kalau kalian sudah menikah, beda lagi, nggak sabar nimang cucu," imbuh pak Hendarto yang membuat Dewi terus tersenyum malu dan bisa merasakan, jika keluarga calon suaminya sangat baik dan menerima keberadaan nya.


Makan malam pun berakhir. Namun tidak kebersamaan Satrio dengan Dewi. Mereka masih menikmati malam dengan melihat bintang di taman belakang sembari bermain catur.


Sesekali terdengar gelak tawa canda keduanya, saat Mega ke dapur untuk mengambilkan Dewa air mineral. Mega dapat merasakan jika Dewi mencintai Satrio tulus. Sepasang matanya masih tidak berhenti menatap kemesraan mereka dari jarak jauh.


Mega kembali ke kamarnya.


"Kamu kenapa?" tanya Dewa kepada istrinya.


"Enggak, aku nggak apa-apa."


"Kamu aneh sayang dua hari ini."


"Aneh?" Dahi Mega berkerut menatap suaminya.


"Iya, kamu aneh semenjak mendengar Satrio memutuskan menikahi Dewi."


"Tapi aku yakin, setitik ada rasa tidak rela bukan? Jika pada akhirnya dia memutuskan untuk lebih cepat pulih dan bangkit hingga nanti dia bisa move on lebih cepat."


"Apa an sih?" Mega yang tidak suka dengan bercandanya Dewa. Menudingnya terang-terangan walau itu benar semua.


Dewa tersenyum geleng-geleng kepala.


.


.


Keesokan harinya.


Saat semuanya makan pagi bersama.


"Memangnya kapan rencana kamu mengajak Dewi ke hotel kakak?" tanya Dewa kepada Satrio yang duduk di hadapan nya yang terhalang meja makan.


"Hari ini bisa? Kakak sibuk nggak?"


"Enggak. Ajak aja Dewi ke hotel kakak."


"Okay... nanti aku kirim pesan ke kakak, kalau mau berangkat."


Dewa mengangguk.


Dimana makan pagi seperti biasanya selesai. Masing-masing berangkat dan memulai aktivitas pekerjaan nya.

__ADS_1


Dan setelah Dewa sampai di hotel Mediterania. Berselang satu sampai dua jam, Satrio dan Dewi memasuki hotel milik kakak nya.


Dewa dan Dewi berjabat tangan. Dewa mengajak Satrio dan Dewi berkeliling hotel Mediterania. Dewa banyak menjelaskan dan bertanya seperti apa konsep yang diinginkan Satrio dan Dewi saat nanti pernikahan mereka.


"Jujur aku bingung sih kak, sebenarnya sudah aku pasrahkan semuanya kepada Satrio untuk acara yang di kota ini. Tapi Satrio bersikeras dan semua tergantung aku karena dia sangat percaya dengan apa yang aku pilih," ujar Dewi kepada Dewa di sela-sela mereka berkeliling hotel.


Dewa tertawa kecil. Sangat mengerti sifat adiknya. Setelah berkeliling hotel, Dewa masih menjamu adiknya dan calon istri dari Satrio itu untuk menikmati hidangan ringan hotel dan pemandangan andalan di sudut utara hotelnya yang bernuansa alam dengan bebatuan dan gemericik air yang mengalir di bawah sana.


Tidak lama Mega dan Rania datang.


"Papa..." teriak Rania berlari yang kemudian di tangkap Dewa dan di pangku nya.


"Rania sudah pulang sekolah?" Dewa yang menyingkap kemejanya, melihat arloji dan sepertinya putrinya lebih pagi pulang sekolahnya dari jadwal biasanya.


"Hem..." angguk nya.


"Tumben?" tanya Dewa heran, karena tidak biasanya.


"Iya, ibu gurunya ada rapat sekolah. Jadi satu jam lebih awal pulang nya," sahut Mega.


Dewa bisa mengerti.


"Kalau kakak mau keluar sama Mega dan Rania, kita bisa pamit." Satrio yang tidak mau menganggu waktu mereka.


"Oh, enggak. Kita nggak ada rencana kemana-mana. Tapi mendadak saya mau mengajak kalian makan bersama. Bagaimana Dewi? Hitung-hitung supaya kita lebih akrab saja, karena sebentar lagi kamu menjadi bagian dari keluarga kami," ajak Dewa kepada keduanya.


"Okay, aku sih yes, nggak tahu dengan adik anda?" ujar Dewi menjawab ajakan calon kakak iparnya.


Dengan berat, Satrio mengangguk. Jujur dia tidak berharap makan siang ini sebenarnya. Tapi karena kakaknya setengah memaksa, membuat dia ikut saja apa kata kakaknya.


"Ya udah yuk, kita berangkat." Dewa yang kemudian bangkit berdiri. Berjalan menggendong putrinya menuju parkiran bersama Mega.


Mereka semua kemudian berangkat. Tidak butuh waktu lama, dua mobil sedan hitam mengkilat itu sampai di restoran telaga biru.


"Owh... jadi kita ke sini? Ini sih restoran kesukaan Satrio," ujar Dewi dimana rambut tergerai nya tertiup angin.


"Sama, ini juga restoran kesukaan istri saya, Mega."


"Really?" Dewi terheran.


"Ya." Dewa mengangguk.


Namun saat semua hendak masuk restoran, lengan Dewa sengaja ditarik oleh Satrio dan diajak nya bicara empat mata sebentar. "Maksud kakak apa sih?" tanya Satrio kesal.


"Kakak nggak punya maksud apa-apa. Sebaiknya kamu cerita hubungan kamu dengan Mega dan cinta segitiga diantara kamu, Mega dan kakak. Biar dia nanti tidak makan hati jika tahu kamu sering dekat-dekat dengan Mega."


Satrio bertambah geram dengan kakak nya. Tatapan Satrio cukup kesal dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya.


" Kamu pikir kakak tidak tahu. Dewi hanya pelampiasan bukan? Kamu tidak benar-benar mencintainya."


"Ini cara ku untuk move on dari pernikahan kalian."


"Nggak masalah, tapi alangkah baiknya kamu cerita kepada Dewi."


"Aku nggak bisa."


BERSAMBUNG

__ADS_1


"


__ADS_2