Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Mega hamil


__ADS_3

"Istri saya hamil dok?" tanya nya masih belum pulih dari rasa terkejut yang di derita nya.


"Iya pak, ibu Mega hamil. Ibu Mega juga sama terkejutnya dengan bapak," jawab dokter.


Dewa tersenyum.


"Untuk lebih jelasnya, bapak periksakan istri ke dokter spesialis kandungan."


"Baik dok, terimakasih."


"Kalau begitu saya permisi ya pak."


"Silahkan dok."


Dewa dan Satrio masih bertukar tatap. Dewa masih belum bergerak menyingkap tirai biru di depan nya. Tentu ada Mega di dalam nya dengan kebimbangan yang sama.


Pertama.


Baru saja dia memasukkan berkas gugatan cerai nya kepada Dewa.


Kedua.


Sekarang harus mendapat kabar jika dirinya tengah mengandung anak suaminya.


Mega hampir tidak percaya. Lalu apa yang harus dilakukan nya? Melanjutkan untuk bercerai dari Dewa? Atau kembali membina rumah tangga dengan nya namun ada bayang-bayang Sheila dan tentu bayi dalam kandungan Sheila juga.


Apa?


Apa yang harus dilakukan nya?


Tidak lama tirai biru disingkap Dewa. Langkahnya ragu mendekat dan ingin menyampaikan apa yang didengarnya biarpun Mega sudah tahu juga. Kebimbangan merasuki detik itu juga. Langkahnya terhenti karena Mega melengos dan enggan melihat nya. Membuat Dewa terdiam kehilangan kata-kata.


"Selamat kamu hamil lagi Mega," sahut Satrio getir sebenar nya. Namun tetap harus dia katakan, karena kebekuan antara Mega dan Dewa tak juga cair. Itulah mengapa dia berinisiatif membuka kata.


"Terimakasih Sat," jawab nya sendu. Tak ada gambaran kebahagiaan padahal harusnya itu kabar menggembirakan untuk mereka.


Ya, adik Rania memang tengah dinantikan oleh keduanya. Namun sayang, kabar akan kehadirannya seperti tidak tepat waktu bagi Mega dan Dewa. Ada sosok Sheila, yang mengobrak-abrik dan memperenggang hubungan keduanya.

__ADS_1


"Selamat ya kak, Rania mau punya adik," ucap Satrio lagi kepada kakaknya sembari menepuk pelan pundak kakaknya yang masih bergeming dan belum beralih.


"Terimakasih Sat."


"Kalau begitu aku permisi." Namun belum sampai melangkah pergi dan baru membalik punggung. Satrio harus dikejutkan lagi dengan apa yang dikatakan Mega.


"Aku mau pulang sama kamu," ucap Mega serak.


"Sayang... tolong jangan pergi. Apa kamu tidak bisa membicarakan semua ini baik-baik. Kamu sedang hamil. Dan aku khawatir kalau kamu tinggal di rumah lama seorang diri." Dewa yang tidak menyerah mengupayakan Mega untuk tidak pergi.


Mega masih diam. Hanya tetesan-tetesan buliran jernih yang berbicara.


"Tolong kamu pulang ya, kamu hamil sayang. Mama, papa, Rania pasti bahagia. mendengarnya," bujuk Dewa yang sama pula haru nya.


"Lalu urusan Sheila bagaimana?"


"Iya, aku akan cari jalan keluarnya. Aku yakin sekali ini kelicikan Sheila. Tapi aku mohon, untuk kamu percaya sama aku. Aku akan buktikan sayang. Tolong ... pulanglah." Dewa yang meraih lima jari kiri Mega. Menggenggam nya erat meminta istrinya kembali ke rumah bersama nya.


"Kamu selesaikan dulu urusan Sheila," jawab Mega sembari melepas pelan genggaman Dewa pada tangan nya.


"Kamu hamil sayang, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Pulang," bujuknya lembut supaya Mega luluh.


Sedangkan Satrio memejamkan mata, sebagai tanda dia setuju dengan apa yang disampaikan Dewa kepada Mega.


Lama untuk Mega bisa menata apa yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya Satrio lah yang menautkan tangan keduanya. Menumpuk tangan mereka bertiga. "Mega, mungkin takdir menginginkan kalian tidak berpisah. Maka dari itu Tuhan menghadiahkan kalian malaikat kecil lagi di tengah-tengah rumah tangga kalian. Kamu harus kembali, pulang. Aku yakin kak Dewa bisa menyelesaikan masalah Sheila. Kali ini aku sudah ikhlas. Aku sudah terima, melihat kalian bersama dan bahagia. Apalagi sebentar lagi aku menikah. Kalian harus berdiri di sampingku dan Dewi dengan wajah bahagia. Kali ini aku benar-benar rela. Aku tak akan menyisakan ruang cinta untuk mu lagi Mega. Kamu milik kak Dewa. Komitmen diantara kita benar-benar aku anggap selesai, bersamaan dengan mendekati hari pernikahan aku dengan Dewi begitu juga sebentar lagi hadirnya adik Rania." Satrio sungguh membuat haru Mega dan Dewa.


Dewa mengusap bahu adiknya berulang. Menatap pria itu lebih dewasa dari nya. "Thanks Sat," ucapnya.


Begitu juga dengan Mega. Rasanya apa yang dikatakan Satrio ada benar nya. Tidak mungkin dia bersikeras bercerai dalam keadaan hamil. Mega yang mengangguk saat suaminya menatapnya.


Dewa langsung merengkuh memeluk istrinya. Membelai rambut Mega yang tergerai. "Terimakasih sayang," ucapnya kehabisan kata-kata karena saking bahagia.


Satrio tersenyum melihat pemandangan di hadapan nya. Mulai detik itu juga. Dia harus melepas komitmen antara dirinya dan Mega. Biarpun sejak awal kehadiran nya dari Inggris Mega sudah melepas komitmen diantara mereka. Baginya belum benar-benar usai, karena dia masih tidak siap dan mudah menerima begitu saja.


Namun tidak kali ini. Hadirnya adik Rania di rumah tangga Mega adalah bukti cinta keduanya. Terlebih kabar nya di dapat saat hubungan mereka genting dan nyaris tak terselamat kan.


Bersamaan pula dengan dekatnya hari pernikahan nya dengan Dewi. Meskipun tidak dipungkiri, keputusan ini berat namun harus dia jalani. Mengganti nama Mega dengan nama Dewi. Menggeser Mega dari skala prioritasnya dan mengutamakan Dewi adalah segalanya. Harus dia terapkan mulai sekarang. Karena Satrio tidak mau setengah-setengah mengambil langkah.

__ADS_1


Dewa memeluk Satrio setelahnya. Mengusap punggung adik laki-laki nya. "Terimakasih Sat," ucapnya atas pengorbanan yang dilakukan oleh adik nya.


"Sama-sama kak."


Dewa kemudian mengajak pulang Mega kembali ke rumah nya.


"Mama..." teriak Rania berlari dan memeluk Mega. "Mama, kemana aja? Lania nggak mau mama pelgi lagi," ucapnya terbata-bata karena diikuti tangis pecah dari Rania.


"Ush... ush... ush... sudah ya nangisnya, nanti kalau Rania nangis terus. Hilang cantiknya anak mama," kata Mega yang membelai rambut selembut sutra putrinya. "Mama, nggak akan tinggalin Rania lagi. Mama akan terus menemani Rania," imbuhnya dengan menempelkan lima jari mungil putrinya di pipi Mega.


"Mama janji?" Rania yang memberikan jari kelingking kanan nya.


Mega tahu betul jika itu adalah cara pada umumnya untuk membuat janji entah itu dilakukan oleh orang dewasa, remaja atau anak kecil seperti Rania. Mega tertawa kecil. Karena Rania sudah semakin pintar. "Iya mama janji, mama nggak akan pergi-pergi lagi," berbarengan dengan kelingking Mega yang ditautkan ke kelingking putri nya.


"Yeay...hore..." Rania yang kemudian melompat-lompat karena saking gembiranya. Mega dan Dewa tertawa.


Begitu juga dengan ibu Rahma yang perlahan mendekat yang kemudian memeluk menantunya. "Mama senang kamu kembali, Mega."


"Iya ma, Mega minta maaf."


"Dan ada kabar yang mengejutkan buat mama dan Rania," sahut Dewa yang membuat ibu Rahma bertanya-tanya.


"Kabar mengejutkan? Kabar apa?" tanya ibu Rahma.


"Mega hamil ma," jawab Dewa dengan senyum yang terukir di bibirnya.


Ibu Rahma kemudian menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya. "Mega hamil?" Bola matanya yang bergeser mengarah ke Mega.


"Iya ma, Mega hamil," jawab Mega dengan tersenyum pula diikuti anggukan.


"Rania, Rania mau punya adik lagi," kata ibu Rahma kepada cucu perempuan nya.


Rania yang ternganga kemudian melompat-lompat lagi setelah mendengarnya. "Ye ye ye ye...Rania mau punya adik. Hore..."


Semua kemudian tertawa melihat Rania bahagia.


Namun tidak lama Satrio berlari-lari dan langsung mengecup pipi mama nya. "Satrio nggak ada waktu ma, Satrio berangkat ya."

__ADS_1


"Eh, kamu mau kemana?" tanya ibu Rahma yang tidak dijawab oleh Satrio yang buru-buru berlari ke garasi.


BERSAMBUNG


__ADS_2