Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Gaston


__ADS_3

"Apa-apa an sih?" Dewa yang dikagetkan oleh pekikan dari puluhan sepeda motor yang kesemuanya jika dilihat dari perawakannya adalah sejenis preman atau brandal.


Satu persatu sepeda motor itu mulai menghentikan laju kendaraan roda empat Dewa.


"Gila, siapa mereka?" paniknya Dewa malam itu, melihat para pria begajulan, bertato layaknya preman. Namun jika dilihat dari puluhan orang itu.


Fix.


Mereka bukan sekelas preman pasar yang tukang palak para pedagang di tanah Abang.


Satu diantara nya berlagak dengan sangat murka jika dilihat dari tatapan nya. Namun karena gelap, Dewa belum bisa pastikan mereka siapa? dan apa tujuan nya menghadang jalan pulang nya?"


"Aku harus segera hubungi Satrio. Suruh bawa temannya. Karena aku nggak mungkin hadapi mereka sendiri. Gila ... ini sih gila. Mana mungkin aku bisa menghajar mereka semua. Satu lawan belasan orang. Bisa-bisa dead tidak bisa memeluk istri ku di rumah," lirih Dewa yang berusaha menghubungi Satrio namun ponsel Satrio tertinggal di kamar dan dia sedang bermain catur bersama papa nya. "Sat, kemana sih kamu? Giliran emergency aja, susah banget dihubunginya," keluh Dewa yang sejak tadi menempelkan ponselnya di telinga.


Dewa dengan cepat berkirim pesan kepada Satrio. Bersamaan dengan ketukan keras di jendela mobilnya.


"Keluar! Cepat keluar!"


"Ada apa? Siapa kalian?" tanya Dewa seperti tidak takut, padahal dia takut jika malam ini dia death karena dihajar belasan orang ini yang dapat dipastikan dia kalah telak.


Bugh


Satu pukulan langsung dilayangkan ke perut Dewa yang membuat Dewa meringis kesakitan. Dewa berusaha melawan, namun sayang berhasil ditangkis oleh pria berpakaian layaknya brandal itu.


Tangan Dewa dipelintir hingga dia berteriak sakit dan meminta di lepaskan. Namun sialnya, semakin dia mengerang kesakitan, semakin keras bajingan itu melintir tangannya.


Hingga mendekat lah seorang pria yang ternyata adalah pria yang sering mengganggu Sheila.


Bugh


Dia memukul pipi Dewa hingga hidung Dewa mengeluarkan cairan merah kental perlahan.


Dengan terus kedua tangan Dewa ditarik dan dipelintir dari belakang oleh sala seorang pecundang itu. Sementara pria yang suka dengan Sheila bertubi-tubi melayangkan pukulan ke wajah Dewa hingga Dewa tidak berdaya dan tidak memiliki tenaga sedikit pun.


"Mau jadi jagoan kamu?" Pria yang tidak suka jika Sheila ternyata sangat mudah melunasi hutang-hutangnya dan gara-gara pria yang kini dipukulinya. "Aku peringatkan ya kamu, jika kamu terus membantu Sheila. Aku bisa lakukan lebih dari ini," ancamnya dengan penuh penekanan, menjambak rambut ikal Dewa hingga dia merintih samar bersuara. "Satu lagi, jangan main-main kamu pakai acara laporkan saya ke polisi segala. Kamu pikir kamu siapa? Hah?" Pria itu melempar kepala yang dicengkeram rambutnya. Membuat Dewa terhuyung hingga terjatuh tergeletak di aspal jalan malam itu karena tidak berdaya.


Seluruh Wajah Dewa lebam dan banyak darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Membuat pria itu tidak sadarkan diri di tengah dinginnya malam.


Jalanan sepi karena gerombolan preman yang sengaja dibawa oleh pria yang bernama Gaston itu dengan sengaja menutup akses jalan yang seharusnya dilalui oleh Dewa saat pulang kerja.


Membuat Dewa memilih akses jalan lain tanpa curiga sedikit pun. Hingga membuatnya melintas di jalan yang sepi dan jarang sekali ada orang lewat berlalu lalang di jalan tersebut. Kendaraan tidak ada yang berani melewati jalan tersebut karena rawan begal dan gelap.


Di sisi lain.


Mega tampak gelisah sedari tadi. Naik turun tangga dengan perasan cemas, karena tidak biasanya Dewa pulang larut malam. Terlebih sudah pukul 23.00 WIB. Dan baru sekali ini terjadi. Karena biasanya, selepas Maghrib atau bahkan sebelum Maghrib dia sudah sampai di rumah.

__ADS_1


"Kamu kenapa Mega?" tanya pak Hendarto kepada menantunya yang sejak tadi gelisah.


Berbeda dengan Satrio yang memilih diam dan tidak bertanya kepada Mega.


"Tidak biasanya pa, kak Dewa belum pulang. Aku hanya cemas," jawab Mega dengan terus menghubungi Dewa.


"Ada apa sih?" tanya ibu Rahma yang terbangun karena mau ambil air minum di dapur.


"Ini ma, kak Dewa belum pulang. Padahal nggak biasanya lho, jam segini dia belum sampai rumah," jawab Mega yang tidak terlepas dari rasa cemas.


"Lho, bukannya kamu tadi siang ke hotel?"


"Iya ma, tapi katanya memang bilang, kalau ada janji sama desain interior. Jadi pulang agak terlambat."


"Kamu sudah hubungi dia?"


"Sudah tapi tidak diangkat-angkat. Perasaan Mega nggak enak ma," jawab Mega dengan pikiran ini itu nya.


"Udah, kamu tenang aja. Mungkin sebentar lagi dia sampai," sahut pak Hendarto yang masuk ke dalam rumah selesai bermain caturnya dengan Satrio.


"Coba kamu hubungi resepsionis, mana tahu Dewa memang masih ngobrol sama desain interior itu di hotel."


Mega terdiam. Sengaja dia tidak mau menghubungi bagian resepsionis. Karena nama Sheila tertulis nyata di pikirannya. Hingga dia malas dengan wanita itu.


"Em..." Belum Mega memberikan jawabannya. Semuanya sudah dikejutkan oleh teriakan Satrio yang berlari keluar kamar dengan panik.


"Pa ... gawat pa," panik Satrio dengan ponsel di tangan nya.


"Gawat apanya?" jawab ibu Rahma tertular panik Satrio.


Begitu juga dengan Mega, yang semakin bertambah paniknya.


"Tenang Satrio ada apa?" sahut pak Hendarto.


"Kak Dewa dalam bahaya. Ini katanya ada belasan preman dan menghadang jalan nya. Satrio disuruh bawa teman pa, karena tidak mungkin mengalahkan mereka Jiak hanya berdua," dengan sangat panik mereka semua saat mengetahui berita tersebut.


"Dewa..." Ibu Rahma mendadak nyeri bagian jantungnya. Dimana pak Hendarto langsung memanggil bibi untuk menemani ibu Rahma.


"Ma, mama harus tenang. Dewa nggak akan kenapa-napa ma. Sudah papa tinggal dulu sama Satrio. Papa akan hubungi polisi. Jadi mama tenang ya," dengan sangat panik pak Hendarto berucap.


Keadaan semakin genting. Karena Mega sudah menangis dan ketakutan. Takut jika Dewa suaminya kenapa-napa.


"Ayo pa." Satrio yang kemudian pergi dengan papa nya.


Namun belum jauh mereka melangkah. Mega berteriak. "Aku ikut," diucapnya dengan deraian air mata.

__ADS_1


"Kamu di rumah aja. Bahaya Mega." Satrio berusaha memberi pengertian ke Mega. Namun Mega bersikeras ikut hingga pak Hendarto dan Satrio tidak bisa mencegahnya.


Ketiganya pun akhirnya berangkat. Dimana pak Hendarto juga sudah menghubungi polisi untuk berjaga di area jalan menuju hotelnya.


Mobil yang dilajukan oleh Satrio dengan cepat melesat. Waktu yang seharusnya tiga puluh menit dia sampai, karena malam dan jalanan lengang membuat hanya memerlukan separuh waktu untuk menempuhnya.


"Dimana kak Dewa pa?" tanya Satrio yang dua matanya tidak luput menyusuri tepi-tepi jalan.


Begitu juga dengan Mega, yang tak kalah mengedarkan semua matanya untuk menjelajah dan menembus gelapnya malam dengan pencahayaan yang temaram.


"Kita sudah sampai hotel lho pa, tapi tidak ada kakak." Membuat semua bertambah panik. "Apa kita perlu masuk hotel dan bertanya pa. Mana tahu kak Dewa pamit tadi."


"Tanya security saja," jawab pak Hendarto dengan sepasang mata tidak berhenti melihat sekeliling.


Mobil mereka kemudian berhenti di depan hotel Mediterania. Satrio kemudian bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga, pukul berapa Dewa keluar dari hotel malam tadi?


Setelah dijawab oleh petugas hotel. Satrio kembali melajukan mobilnya untuk menyusuri jalan.


"Apa mungkin dia nggak lewat jalan ini?" tanya Mega yang membuat keduanya menoleh. Dimana Mega sejak tadi menghubungi ponsel Dewa, berikut mama mertua nya untuk mempertanyakan misal suaminya sudah pulang apa belum. Dan jawaban mama mertuanya selalu belum hingga menambah kekhawatiran Mega malam itu.


"Tapi ngapain Dewa lewat jalur yang sepi?" Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala pak Hendarto.


"Iya juga sih pa? Tapi nggak ada salahnya kita coba."


"Iya kamu benar Sat, lebih baik kita coba lewat sana," sahut Mega yang tidak berhenti mengeluarkan air matanya.


Dimana Satrio sesekali memperhatikan Mega dari kaca spion. Terlihat sekali jika perempuan yang dulu nya memuja nya dan memberikan seluruh cinta hanya untuknya. Kini berbelok arah dan terlihat jelas sekali, Mega sangat mengkhawatirkan Dewa yang kini menjadi suaminya.


Perempuan itu menangis sejak tadi, ketika mendengar nama Dewa dalam bahaya.


"Itu mobil Dewa Sat," tunjuk pak Hendarto tembus ke kaca depan mobilnya.


"Iay pa," jawab Satrio yang mempercepat laju roda kendaraan nya.


Mega shock dan histeris. Tangisnya bertambah dengan meraung memangil-manggil nama suaminya.


Mobil pun berhenti. Semua keluar mobil dan hendak menolong Dewa tak terkecuali Mega.


"Dewa..." panggil pak Hendarto yang langsung mengecek denyut nadi putranya.


"Kak, kak Dewa..." sahut Satrio dengan jantung yang berdegup tidak karuan dan melihat sekeliling dimana kedua sisi jalan hanya semua belukar yang tumbuh tinggi dengan liar.


"Sayang kamu nggak apa-apa kan?" tangis Mega yang memangku kepala suaminya dan mencoba membangunkan Dewa, dimana suaminya sudah babak belur dihajar brandal jalan pasukan Gaston.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2