Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Mega bangun dari koma


__ADS_3

"Mega..." Sepasang mata ibu Rahma membelalak seketika. Memperhatikan lebih dekat jika benar apa yang dikatakan oleh cucu nya.


"Sayang, kamu bangun," ujar Dewa bahagia tidak terkira.


Setelah jari Mega yang bergerak-gerak pelan. Dua mata Mega juga membuka perlahan. Menatap suaminya, putrinya dan juga ibu mertuanya.


Tidak lama dokter dan perawat datang, setelah Dewa memanggil mereka. "Akan saya periksa dulu ya pak, bu." Dokter kemudian memeriksa Mega, dimana belum ada sepatah kata pun keluar dari mulut Mega. "Ibu Mega bisa dengar saya?"


Mega mengangguk pelan dan memberi kedipan mata.


"Apa yang di rasakan ibu?" tanya dokter lagi.


"Saya kenapa?" tanya Mega terdengar parau.


"Ibu mengalami koma selama satu minggu. Dan ibu sudah tidak bangun lagi setelah kami berhasil mengoperasi perut ibu."


Mega kemudian memutar otak nya. Mengingat apa sebetulnya yang terjadi pada nya.


Setelah cukup lama dokter memberi ruang untuk Mega mengingat. Barulah dia bertanya. "Apa anda sudah mengingatnya?"


Mega mengangguk.


"Bagus, apa kepala anda terasa pusing? Atau ada keluhan lain nya pada bagian tubuh anda?"


Mega menggeleng.


"Baiklah kalau begitu." Dokter kemudian berbicara kepada Dewa. Dan menyatakan jika istrinya telah melewati masa koma nya.


Dewa sujud syukur bersamaan dengan tangis nya. Setelahnya memeluk mama nya dan mereka berpelukan dengan rasa bahagia, karena telah mengembalikan Mega seperti sedia kala.


"Mama..." panggil Rania yang menggenggam jemari mama nya.


Mega menatap putrinya dan sangat rindu dengan Rania.


"Sayang, akhirnya kamu bangun dan kembali." Dewa yang mengecup lembut kening Mega, lalu membelai puncak kepala istrinya.


"Aku mau minum." Mega yang merasa tenggorokan nya kering dan sangat haus.


"Iya." Dewa kemudian menyetel tempat tidur Mega. Barulah dia memberikan minum kepada istrinya. Dewa tak berhenti mengelus rambut Mega dengan tatapan haru.


"Syukurlah..." ucap ibu Rahma dengan mata berkaca-kaca. Mama keluar dulu ya Dewa. Mama mau kabari seluruh keluarga. Terutama Satrio, supaya dia tidak jadi menunda pernikahan nya dengan Dewi.

__ADS_1


"Iya ma."


"Satrio ... Menunda pernikahan nya?" tanya Mega.


"Iya, dia menunggu kamu bangun. Karena tidak mungkin dalam keadaan kamu koma dan keluarga kita sedang ada duka, dia tetap melangsungkan pernikahan nya.


Mega terdiam. Lalu teringat jika dirinya juga tengah hamil saat insiden Sheila menusuk perut nya. "Bagaimana dengan adik Rania?" Mege menyentuh perutnya.


"Sayang, terbangun nya kamu dari koma adalah yang utama. Kamu jangan pikirkan itu. Sudah sangat jelas, jika janin dalam perut kamu tidak bisa selamat. Tapi kita bisa atur ulang lagi masalah kehamilan kamu. Kita bisa membuat adik untuk Rania lagi jika kamu sudah sembuh dan kembali sehat." Panjang lebar Dewa memberi pengertian meskipun terlihat sekali jika Mega sangat sedih dan terpukul. "Sudah jangan sedih ya," ucapnya.


Rania sangat rindu kamu. Dia memanggil terus nama kamu. Hampir setiap hari dia menangis dan selalu bertanya mengapa kamu tidak kunjung bangun.


"Mama..." panggilnya sendu. Dimana Dewa meletakkan tubuh putrinya naik ke atas tempat tidur mama nya. "Rania senang sekali mama bangun."


"Mama juga sayang."


"Mama bangun pasti mencium bunga kesukaan mama, iya kan ma?" celetuk Rania dengan polosnya.


Mega mengangguk, untuk supaya Rania senang.


Meskipun anggukan nya, membuat Dewa mengusap tengkuk lehernya. Sangat mengerti jika istrinya iya -iya saja dengan apa kata putrinya supaya Rania bahagia.


"Om Catlio yang memesan nya dan menyuruh Lania membawa nya untuk mama," imbuhnya membuat Mega melirik ke arah Dewa.


Ibu Rahma kemudian menghubungi Satrio. Dimana jawaban putra nya itu malah terkait ketidak pulangan nya ke rumah karena sedang berada di kota Dewi, karena Dewi sakit dan di rawat di rumah sakit.


"Bukan itu sayang," lanjut ibu Rahma yang malah tidak mempertanyakan apa yang disampaikan putra nya.


"Lalu ada apa ma?" tanya Satrio dari jauh di kota Dewi.


"Mega sudah bangun sayang."


"Apa?" Satrio yang menoleh ke arah Dewi berikut papa David dan mama Giani. "Mega sudah bangun dari koma nya?" tanya nya yang membuat Dewi, papa David dan mama Giani terbelalak dan tidak sabar segera mempertanyakan kepada Satrio.


"Iya. Kamu tidak perlu menunda pernikahan kamu dengan Dewi sayang."


"Iya ma." jawab Satrio haru dan menutup panggilan teleponnya.


"Apa benar yang kamu katakan itu tadi, Honey?" Dewi yang menggebu ingin segera mendengar jawaban dari mulut pangeran nya.


Satrio mengangguk.

__ADS_1


"Itu berarti..." Dewi belum menyelesaikan kalimatnya. Namun Satrio dengan cepat melengkapi kalimat Dewi.


"Itu berarti kita tidak jadi menunda pernikahan kita."


Dewi yang sangat senang nya. Memeluk pria itu dengan balasan yang sama.


Baik papa David dan mama Giani juga merasakan kebahagiaan serupa. Bisa menyaksikan jika Dewi begitu mencintai Satrio melebihi apapun bahkan lebih dari nyawa putrinya sendiri. Mereka bisa melihat itu.


"Syukurlah, papa dan mama senang mendengarnya," sahut papa David yang kemudian perlahan Dewi melepas pelukannya kepada pria yang di damba nya sejak lama.


"Iya pa. Sudah jangan menangis lagi," lirih Satrio mengusap jejak basah di pipi calon istrinya dengan ibu jari.


Dewi tersenyum cerah. Terharu sekaligus sendu. Tidak hentinya senyumnya terbuka lebar.


"Calon pengantin nggak boleh sakit," ledek Satrio dimana Dewi langsung mencubit gemas dada bidang milik Satrio diikuti tawa kecil keduanya.


"Sakit ku juga gara-gara kamu," sanggahnya tidak terima.


"Iya, iya maaf. Ini masih betah di rumah sakit? Atau pulang?"


Dewi tersenyum malu. Ya, mungkin Satrio sangat pintar mendeteksi, tidak seharusnya dia dirawat dan diinfus seperti ini. Sakitnya adalah demam biasa. Kata observasi sengaja dia pakai supaya pria itu datang menjenguknya dan memeluknya. Padahal, kata tersebut digunakan jika demam sudah tiga hari atau lebih. Guna mendeteksi apakah demamnya mengacu pada penyakit demam berdarah atau tifus. Seharusnya, cukup minum obat dokter di rumah dan rawat jalan, tubuh sudah oke. Namun Dewi memilih meminta di rawat dan di infus karena dengan sengaja dia tidak mau makan.


"Jadi kamu tahu aku membohongi mu? peace," Dewi yang memberikan telapak tangan nya untuk dia adu pelan dengan telapak tangan Satrio.


Satrio geleng-geleng kepala dengan tindakan calon istrinya. Setelahnya Satrio memeluk Dewi. "Kamu sangat ahli mengelabuhi," lirihnya tepat ditelinga Dewi yang membuat Dewi tertawa geli.


Hingga papa David dan mama Giani ikut tersenyum dan tertular oleh kebahagiaan mereka.


"Maafkan mama ya Sat, mama ikut sekongkol," sahut mama Giani.


"Satrio bisa mengerti kok ma."


"Biasa, perempuan ahli dalam bersandiwara, benar begitu kan Sat?" sahut papa David yang kemudian membuat mereka semua tertawa kecil.


Ruangan itu kembali menghangat. Tercipta suasana berbanding terbalik dengan hari-hari sebelumnya. Hari dimana tangis setiap hari menyelimuti Dewi.


Keluarga Dewi kemudian mengurus kepulangan putri nya dari rumah sakit. Dewi tidak berhentinya melingkarkan dua tangan nya pada tubuh Satrio. Bergelayut manja meletakkan kepala nya di bahu Satrio sembari jalan keluar dari rumah sakit.


Sampai di dalam mobil pun, Dewi masih tidak melepas tangan nya dari pria itu. Semakin dia usap-usap lembut pipi sebelah kiri Satrio dan membuat Satrio risih dan geli.


"Mau sampai kapan aku di gini in?" protes Satrio yang membuat Dewi nyengir. Membuat papa David dan mama Giani malu sendiri dengan sikap putrinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2