Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Malam pengantin kelabu


__ADS_3

"Duh, kenapa juga ini anak bertanya seperti ini?" Akhyar garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Andai saja Arsyla tahu kalau mamanya pernah menjadi istrinya dulu. Bagaimana ya perasaan Arsyla? Apakah dia akan benci aku? Apalagi jika dia sampai tahu kalau sejauh ini, hati ku masih menginginkan Zahrin, mommy nya. Pasti ini anak akan menasihati ku seperti Zahrin yang ngomel-ngomel tidak ada titik koma sembari berkacak pinggang karena pernah membuat mommy nya sedih." batin Akhyar yang sudah membayangkan Arsyla memarahi nya karena tahu jika mommy nya pernah di sakiti oleh nya.


"Kok papa A melamun?" tanya Arsyla yang sudah membuyarkan isi kepala Akhyar.


"Eh, maaf sayang. Kita masuk yuk," ajak Akhyar yang dengan sengaja tidak menjawab pertanyaan Arsyla. Karena kalau di jawab, ini anak akan bertanya terus dan terus yang menjadi sebab musabab dia memilih sendiri karena nama mommy bocah ini masih belum terhapus dari hati nya.


"Okay," jawab Arsyla yang menautkan jari-jari mungilnya dengan jari Akhyar.


Dimana sejak tadi Zahrin terus memantau mereka dari kejauhan. Zahrin bahkan tetap sama sebal nya, mengapa Arsyla begitu lengket dengan Akhyar padahal lama mereka tidak bersua, yang dia pikir anak perempuan nya itu akan lupa dengan sosok yang dia panggil dengan sebutan papa A. Yang terjadi malah sebalik nya. Arsyla yang dia kira lupa, ternyata rindu berat dan beberapa kali hari-hari nya dia habiskan dengan mantan suami nya.


"Kamu kenapa?" tanya Regi yang baru menemukan istri nya. Melihat Zahrin raut wajah ya tertekuk dan terlihat kesal.


"Nggak apa-apa," jawab Zahrin dengan desah@n nafas nya.


Regi kemudian melihat Akhyar dan Arsyla masuk ke dalam gedung hotel lagi. "Sudahlah, biarin mereka bernostalgia. Arsyla mungkin rindu sama Akhyar. Jadi biarin aja mereka bersama."


Bukan pertama kali nya Zahrin hampir tidak percaya jika Regi seperti tidak cemburu dengan kedekatan mereka berdua. Zahrin juga sudah tahu alasan nya mengapa Regi ringan mengatakan hal itu. Jika Regi dapat melebur perlahan-lahan rasa cemburu nya yang kemudian menjadi biasa saja saat melihat kedekatan mereka berdua. Namun tidak pada nya. Rasa kesal nya tidak sedikitpun berkurang saat Arsyla lebih memilih menghabiskan waktu dengan Akhyar ketimbang memilih menghabiskan waktu bersama nya atau Daddy nya.


"Sebenarnya dia anak nya siapa sih? Akhyar atau kamu?" kesal Zahrin yang kemudian melihat tangan nya di dada. Menatap Regi dengan tatapan tidak suka nya.


"Hahaha..." Regi terbahak. "Jika aku terus cemburu sama Akhyar, yang ada kita akan berantem terus dan tidak ada kata habis nya. Apa kamu mau seperti itu?"

__ADS_1


"Ya nggak begitu ... sayang," jawab Zahrin manja bercampur merajuk.


"Ya udah kita masuk yuk. Acara mau selesai," ujar Regi yang kemudian meraih pundak istrinya dan mengajak nya berjalan masuk.


Satu jam kemudian acara selesai. Tapi tidak pada hati Mega yang resah saat malam semakin larut hingga dia sendiri tidak bisa tidur entah karena apa.


Bibirnya berucap ikhlas. Hatinya juga sebenar nya. Namun wajar jika ada setitik gelisah dari hal-hal yang tadinya biasa akan menjadi berbeda setelah Satrio menikahi Dewi. Itu pasti.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Dewa dengan mata kantuknya. Menatap istri nya yang masih bersandar dan belum merebahkan punggungnya di kasur.


"Aku nggak bisa tidur," jawab nya lirih menutupi rasa apa yang sedang berkecamuk di dadanya, dia bahkan bingung.


Dewa kemudian mengelus-elus bahu istrinya. "Nanti kamu pasti akan terbiasa."


Mata Mega terkesiap. Menatap Dewa mengapa bicara seperti itu pada nya.


.


.


Berbeda dengan kamar pengantin yang aroma nya sudah semerbak wangi dari kelopak bunga mawar yang memenuhi kamar Dewi dan Satrio.


Dewi sudah mempersiapkan jiwa dan raga nya. Namun sayang, Satrio masih enggan menyentuh area terlarang yang harusnya halal untuk mereka lakukan malam itu.

__ADS_1


Kecanggungan yang diikuti kesedihan perlahan-lahan menjalar ke hati Dewi malam itu.


"Aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa melakukan nya sekarang." Kata-kata Satrio menolak halus Dewi saat seharusnya malam itu berakhir dengan kata bahagia.


Dewi hanya tertunduk. Tanpa mencari tahu apa musabab pria yang kini sudah sah menjadi suami nya itu enggan menyentuhnya.


Kata lelah adalah jawaban untuk pertanyaan yang dia lontarkan sendiri. Mungkin Satrio lelah dengan berbagai rentetan acara hari ini.


Namun hati kecilnya memberikan jawaban lain. Apakah karena wanita itu? Yang membuat dia memilih memejam kan mata ketimbang mengecap indahnya malam pertama.


Dewi mengingat betul saat pesta dansa beberapa jam yang lalu. First kiss pertama hingga bibir nya dan suaminya akhirnya bertukar saliva seolah penyatuan awal mereka sempurna dan akan berlanjut di atas ranjang malam ini dengan indah.


Namun sayang, semua hanya sebatas angan dan banyak pertanyaan sekaligus ketakutan-ketakutan pada diri Dewi yang menjalar panjang.


Dewi hanya bisa melihati punggung Satrio dengan nafas tidur pelan nya yang sampai telinga.


Hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan suami nya. Dan Dewi benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dilihat nya. Dia memilih duduk di tepi ranjang dengan air mata yang jatuh perlahan-lahan.


Yang harusnya dia mendamba pergulatan panjang di atas ranjang dengan kepanasan tingkat entah keberapa.


Nyatanya berbalik, dia duduk termenung dengan air mata berjatuhan. Dewi tidak mengerti sikap Satrio yang tadi nya seperti peduli dan terlihat mencintai. Malam itu terlihat malas bukan karena lelah namun ada hal lain yang berusaha Satrio sembunyikan. Meskipun Dewi sangat tahu jika pernikahan ini bukan perjodohan dimana kebanyakan banyak paksaan di dalam nya. Ini sama sekali tidak. Jika nama Mega adalah alasan nya. Lalu First kiss beberapa jam lalu apa maksud nya?


"Mega ... Mega," panggil pelan Satrio dalam tidur nya.

__ADS_1


Membuat Dewi terperangah. Dada nya mendadak nyeri dan sakit sekali. Air mata Dewi bertambah deras. Telinga nya tidak tuli dan dapat mendengar jika suaminya tengah mengigau dan menyebut nama Mega.


BERSAMBUNG


__ADS_2