Melepas Komitmen

Melepas Komitmen
Bertengkar


__ADS_3

"Apa istri kamu marah? Aku jadi tidak enak Dewa. Gara-gara kamu membantu aku banyak, Kamu jadi berantem dengan istri kamu."


"Kamu tenang aja, merajuknya dia nggak akan lama," ujar Dewa yang padahal bertolak belakang dengan sebenarnya.


Padahal semalam saja, Mega udah menyuruh aku tidur dengan Rania gara-gara Sheila.


batinnya yang jujur dia resah nanti hukuman apa lagi yang akan diberikan Mega padanya.


.


.


Siang hari.


Dimana Mega dan Rania sudah kembali ke rumah. Mega dengan sengaja mempersiapkan makan siang untuk pergi ke hotel suaminya. Sengaja dia lakukan, karena dia resah. Biasanya suaminya menyempatkan bertanya apakah sudah sampai rumah atau belum, seusai selesainya pembelajaran di sekolah Rania. Namun hari itu tidak.


"Ma, aku titip Rania ya," kata Mega kepada ibu mertuanya, melihat Rania asyik bermain dengan ibu Rahma.


"Mama mau kemana?" tanya Rania.


"Mama mau ke hotel papa sayang. Rania sama Oma di rumah ya," ucap Mega kepada putri nya supaya tidak merengek meminta ikut pergi dengan nya.


"Oke mama ciap," jawab Rania dengan memberi tanda hormat kepada Mega yang membuat ibu Rahma dan Mega tertawa.


"Pinter," balas Mega dengan mengusap rambut pada puncak kepala putrinya. "Ma, Mega berangkat ya," pamit Mega yang kemudian mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Iya kamu hati-hati ya."


"Iya ma, assalamualaikum."


"Wa Alaikum salam."


Mega kemudian naik taksi online menuju hotel Mediterania. Karena sengaja ingin meminta maaf karena perkataanya tadi saat di kantor polisi yang seperti anak kecil yang mungkin membuat Dewa jengkel kepadanya.


Sementara di tempat lain. Dewa tengah beristirahat makan siang bersama Sheila. Dimana membahas permasalahan yang tadi sempat tertunda dia pertanyakan terkait laporannya di kantor polisi. Mereka cukup santai berbicara banyak hal sambil menikmati makan siang mereka sembari melihat pemandangan di bawah sana. Suara gemericik air mendominasi, menemani mereka siang itu.


"Terimakasih ya pak, ambil aja kembaliannya." Mega yang baru sampai di depan hotel Mediterania.


"Terimakasih mbak," jawab supir taksi online kepada Mega.


Mega kemudian segera masuk ke hotel. Dimana sapaan untuknya dari dua petugas keamanan pun dilayangkan kepadanya.

__ADS_1


Mega kemudian masuk ke loby dan tidak menjumpai Sheila di sana. Dimana seorang staf hotel mengatakan jika Dewa dan Sheila tengah menikmati makan siang di sudut utara hotel.


"Terimakasih ya mas," ucap Mega yang kemudian berlalu dari hadapan staf laki-laki itu.


Mega berjalan menuju sudut utara hotel dimana yang diberitahukan oleh staf tadi, tidak sangka karena Mega merasakan Dejavu seperti waktu dulu awal pernikahan nya dengan Dewa. Dimana, Arumi masih segalanya dan dia hanya istri yang akan dicerai setelah Rania lahir ke dunia.


Kalau dulu Mega pergi dan tidak menjatuhkan rantang makan siang yang dibawanya. Lain halnya sekarang, dimana rantang itu terlepas dari pegangannya karena melihat Sheila mengusap sudut bibir suaminya dengan sehelai tisu ditangan nya.


Mega cukup tercengang dengan kedekatan mereka berdua yang sedikit banyak benar firasatnya, jika Sheila dan Dewa menjalin hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan.


Dewa yang terkejut melihat istrinya yang membeku dengan raut wajah kecewa lebih tepatnya. "Mega," lirihnya melihat Mega yang berdiri sekitar empat sampai lima meter dari nya dan Sheila.


Mega memutar punggung dan berjalan cepat. Dikejar lah oleh Dewa yang berusaha meraih pergelangan tangan istrinya.


"Sayang kamu dengerin aku dulu sayang." Sambil terus berjalan, Dewa berusaha menjelaskan.


Sedangkan Mega cukup menyesal mengapa dia harus datang dan mencoba meminta maaf, karena ternyata yang dilihatnya membuat matanya sakit.


"Sayang tunggu dulu, aku bisa jelasin karena kamu salah paham." Dewa yang menghadang dan berdiri di depan istrinya dengan kedua tangan yang dia rentangkan. "Kita bicara di rumah kerja, nggak enak dilihat staf hotel."


"Kalau sama Sheila biasa? nggak apa-apa dilihat oleh staf hotel? owh... jangan-jangan memang semua staf hotel kamu sudah pada tahu kalau kamu ada kedekatan khusus dengan resepsionis baru kamu itu?"


Dewa menghembuskan nafasnya. Mencerna setiap tuduhan istrinya yang tidak berdasar dan terlalu mencurigainya. "Kamu ini apa-apa an sih sayang? Kamu ngomong apa sih?" Dewa berusaha mengajak istri masuk ke dalam ruang kerja nya.


"Kamu tenang dulu, setelah kamu tenang, aku baru akan jelasin semuanya," pinta Dewa yang mendudukkan istrinya.


Mega masih diam tanpa kata. Terlihat sedih bercampur kecewa namun Mega pandai menyembunyikan nya.


"Sekarang aku tanya kamu ngapain kesini?" Dewa yang duduk jongkok menyentuh jemari istrinya yang duduk di long sofa.


"Aku bawain kamu makan siang," jawab Mega cepat.


"Trus Rania sama siapa?"


"Rania sama mama."


"Sayang, aku kan udah bilang. Jangan kamu tinggal-tinggal Rania. Mama kan baru aja sembuh. Kamu kan mama nya, harusnya kemana pun kamu pergi. Kamu ajak dia dan jangan sembarang kamu tinggal seperti hari ini lagi. Aku nggak suka." Dewa yang menegur Mega karena tidak seharusnya dia menitipkan Rania.


Dengan ditegur seperti itu saja, dua bola mata Mega sudah berkaca-kaca. Padahal juga niatnya demi suaminya. Namun bagi Dewa apa yang dilakukannya seolah tidak pernah benar dimata nya.


"Trus, sekarang kita bahas Sheila. Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan. Aku dan Sheila hanya membahas terkait laporannya dia hari ini tadi di kantor polisi yang tertunda. Satu karena kamu datang dan menuding aku macam-macam. Dua, setelah dari kantor polisi aku langsung bertemu dengan arsitek dan membahas rencana memindahkan restoran ke ruang yang lebih terbuka. Makanya kenapa? Aku mengajak dia membahasnya pas makan siang ini. Tapi kamu malah menuduhku memiliki hubungan khusus dengan Sheila. Aku jawab nggak ada, selain memang kita teman waktu di kampus. Dan saat di hotel. Dia cukup profesional kok," imbuh Dewa yang panjang sekali menjabarkan kepada Mega terkait Sheila.

__ADS_1


"Trus kenapa dia mengusap segala sudut bibir kamu dengan tisu? Dan menurutku itu nggak etis sih jika kalian nggak dekat." Mega yang setelah menanyakan hal itu langsung mengalihkan matanya dari suaminya.


Nafas Dewa berhambur pelan. Bisa merasakan jika istrinya terserang jealous karena Sheila memang tidak kalah cantik darinya. Biasalah perempuan. Insecure, takut suaminya tergoda oleh wanita lain dan mengabaikan dirinya.


"Nggak bisa jawab kan?"


"Ya, itu kan Sheila yang melakukan nya. Bukan aku. Yang penting suami mu ini setia sayang. Suer... Sheila bukan tipe aku. Murni aku hanya bantu dia. Karena aku kasihan melihat dia dijambak, dicakar-cakar pokoknya serba kasar pria itu memperlakukan Sheila. Apa kamu yang sama-sama wanita tidak kasihan?"


Mega dengan kesal yang dia tahan. Terus saja Dewa membicarakan Sheila dan Sheila. Semenjak kehadiran Sheila, dia dan suaminya sering ribut hanya gara-gara wanita itu.


"Udah ya, aku nggak mau kita sering ribut gara-gara Sheila."


"Kan kamu yang mencari gara-gara. Kamu rela berkorban bantu dia sedemikian rupa."


"Astaghfirullah sayang... kan aku udah jelasin."


"Ya tapi tetap aja, mana tahu wanita itu punya niat tersembunyi yang kamu tidak ketahui?"


"Astaghfirullah sayang, nggak baik kamu berprasangka buruk sama dia."


"Ya aku takut aja, kalau kamu entah melakukan apa waktu dulu setelah aku tinggal saat berdua di kamar hotel dengan Arumi," jawab Mega dengan tidak begitu lancar saat berjajar demikian. Memutar memory pahit yang pernah dia lihat sebelumnya.


"Arumi? Kenapa jadi ke Arumi?" tanya Dewa dengan dahi penuh kerut.


"Udah lah, aku mau pulang." Mega yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Tunggu, tunggu. Tolong kamu jelasin apa yang kamu katakan tadi. Aku benar-benar nggak mengerti sih? Arumi ... waktu dulu ... kamar hotel. Apa sih maksud nya?"


"Masa lalu, nggak perlu dibahas." Mega yang hendak enyah, namun Dewa masih menarik pelan tangannya hingga tubuh Mega membentur pelan tubuh suaminya. Membuat wajah keduanya bertemu. Terkikis jarak, dimana tersirat rasa penasaran pada bola mata Dewa, namun tidak pada Mega yang sedikit banyak susah menelan saliva.


Padahal tiap hari tidur bersama, tapi entah mengapa? setiap menatap suaminya, Mega tidak berdaya. Ada getaran yang harusnya sudah terbiasa, namun tidak siang itu.


Berbeda.


"Katakan," pinta Dewa pelan. Dimana aroma mint yang keluar dari mulut suaminya menguar.


Mega mencoba merenggang. Sebenarnya dia tidak ingin mengungkapkan hal ini. Satu, karena sudah lampau. Dua, karena nama Arumi sudah bukan segalanya lagi bukan Dewa. Namu karena Dewa ingin tahu. Mega akhirnya berbicara dimana dia pernah terluka parah atas perlakuan suaminya. Dimana memang suaminya pernah bimbang diantara dua wanita saat itu. Arumi dan dirinya. "Aku perna datang ke hotel ini, tapi itu masih di awal pernikahan kita. Seperti hari ini. Aku bawain kamu makan siang, tapi ternyata kamu dengan Arumi di kamar hotel yang entah kamu melakukan apa bersama dia. Makanya aku tidak ingin, jika kamu mengulangnya dengan Sheila." Mega cukup sulit mengatakan nya. Dengan terang-terangan dia terserang rasa takut jikalau Sheila akan melakukan hal yang serupa.


Deg.


Otak Dewa perlahan memutar ingatan nya. Tersadar, jika apa yang dia lakukan ke Mega dulu memang sangat keterlaluan dan melukai perasaannya. Itu masih sebagian kecil yang diketahui Mega. Ya, sekarang dia sudah bertaubat atas semua hal yang dia pernah perbuat kepada Arumi dan ingin menjadi suami terbaik untuk Mega. "Ja-jadi..." Bibir Dewa mendadak kelu. Menatap wanitanya penuh kasih dan memeluknya. Ternyata Mega menyembunyikan apapun yang menyakitkan dari yang dia perbuat kepadanya. "Aku minta maaf," ucap Dewa yang kemudian meraih kepala istrinya untuk dia sandarkan pada dada nya. Dimana retina mereka bertemu hingga bibiir keduanya pun begitu. Bermain lembut saling menuntut. Tidak ingin terlepas hingga keduanya ada kata puas.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2