
"Aku nggak apa-apa sayang."
"Jangan bohong."
Dewa tersenyum getir. "Ya, kakak kamu tadi mengancam aku. Jika satu kali lagi aku membuat kesalahan. Dia tidak segan-segan pisahkan aku dari kamu."
Mega terkekeh hingga menutup mulut nya. "Percayalah, dia hanya menggertak kamu."
Dewa geleng-geleng kepala. "Kakak kamu itu nggak pernah berubah, selalu saja menggertak dan mengancam orang. Satu lagi, main pukul sesuka hati. Temperamen."
Membuat Mega tertawa kecil. Mendengar keluh kesah suami nya terkait kakak nya yang tidak berubah.
"Mungkin kalau punya istri baru dia berubah."
"Bagaimana mungkin? Orang cintanya diambil sama sepupu kamu."
"Salahnya sendiri, bukannya dia sudah menceraikan Zahrin?"
"Sudahlah, jangan bahas kak Akhyar."
"Kapan kakak mu itu kembali ke Jerman?"
"Kenapa? Kok tanya nya begitu? Dia kan baru datang?"
"Nggak apa-apa sih, jangan sampai saja dia lama-lama di sini. Yang ada wajah suami kamu ini babak belur misal tahu kalau gugatan cerai kamu belum kamu cabut di pengadilan agama."
"Oh ya?"
"Beda lagi kalau kamu meneruskan nya?"
"Kok begitu jawab nya?"
"Ya habis nya. Kamu nggak pernah percaya sama aku."
"Sudahlah, jangan bahas Sheila lagi. Aku cukup sakit hati kamu melakukan..." Mega yang belum menyelesaikan kalimat nya tiba-tiba di bungkam dengan telapak tangan Dewa.
"Jangan dilanjutkan," cetusnya sembari melotot yang membuat Mega malas.
Dewa kemudian meraih janggut istrinya yang melengos. Dia kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya seperti ingin mencium nya. "Aku rindu kamu," ucapnya membuat Mega mencubit gemas dada suaminya.
"Sorry ya aku ganggu," seru Satrio bersamaan dengan sepasang mata Mega dan Dewa yang menatap nya.
"Nggak sama sekali Sat." Dewa yang kemudian berjalan mengarah ke adiknya.
"Mana Rania?" tanya Satrio mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun tak menjumpai keponakan nya itu.
"Rania sama mama dan papa. Tadi ada di sini. Sepertinya ke rumah Tante Olivia. Kamu dari mana?" Dewa yang menyingkap sedikit kemeja yang dikenakan nya. Melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Dari jenguk Dewi."
"Kenapa dia?"
"Sakit."
"Sakit apa?"
"Demam biasa sih. Sudah sembuh kok."
"Terus bagaimana pernikahan kamu?"
"Tetap berjalan." Satrio yang berdiri di sisi tempat tidur Mega. "Bagaimana keadaan kamu, Mega?"
"Alhamdulillah, aku udah baikan Sat."
"Syukurlah. Aku harap kamu bisa hadir di acara pernikahan aku dan Dewi."
"Iya, pasti."
"Aku turut sedih, perihal janin kamu yang tidak selamat karena insiden kemarin."
Mega tersenyum, meskipun dia sendiri juga sedih.
"Sudah, jangan bahas itu. Nanti kamu barengan sama Dewi aja hamilnya. Kita cetak sama-sama dan barengan honey moon dengan mereka." Kelakar Dewa yang membuat Mega dan Satrio tertawa.
__ADS_1
.
.
Sedangkan di hotel Mediterania.
Banyak sekali komplotan kawanan Gaston dikerahkan guna beraksi yang sekedar mengusik ketentraman Dewa.
Para kawanan tersebut membuat keributan kecil dengan melempari kaleng minuman kosong ke dua penjaga keamanan yang berjaga di depan hotel Mediterania.
Dimana disengaja oleh Gaston. Karena dia ingin sedikit saja membalas Dewa karena telah memenjarakan Sheila.
Komplotan kawanan Gaston akhirnya beradu fisik dengan dua penjaga hotel. Dimana banyak dibantu staf hotel karena kawanan Gaston berjumlah lebih banyak dibanding penjaga keamanan.
Mereka semua beradu fisik yang berakhir pada kekalahan oleh dua penjaga keamanan karena komplotan kawanan Gaston main keroyok.
Dimana sirine mobil polisi menggema karena sebuah laporan dari pihak hotel. Membuat komplotan kawanan Gaston kalang kabut melarikan diri dengan motor berknalpot berisik mereka.
Dert ... Dert
Suara ponsel Dewa yang bergetar. Dewa kemudian mengangkat panggilan dari staf hotel miliknya. "Iya ada apa?"
"Ada komplotan preman pak, dua penjaga keamanan kita tiba-tiba dihajar sama mereka tanpa tahu apa sebab nya. Mereka mencari ribut terlebih dahulu dengan kita. Begitu kata dua penjaga keamanan setelah saya tanya.
"Apa?" lirih Dewa bisa menebak jika Gaston lah dalang nya.
"Kamu bawa dua penjaga keamanan kita ke rumah sakit ya. Saya tidak mau ada apa-apa dengan mereka."
"Siap pak."
"Satu lagi. Untuk beberapa hari ini. Perketat penjagaan. Kalau perlu, tambah keamanan dengan merekrut orang baru."
"Baik pak."
Dewa yang kemudian menutup ponsel nya. Mendengus kasar dan mengepalkan kedua tangan nya. "Apa sih mau kamu Gaston?" lirihnya berbicara.
"Siapa kak?"
"Gaston buat masalah di Hotel."
Dewa menggeleng. "Semua gara-gara Sheila."
"Gara-gara kakak berwajah tampan, selalu care sama semua wanita. Ya wajar aja Sheila menaruh rasa."
"Aku nggak habis pikir sama wanita. Yang ada kakak ngeri mendengar nama Sheila."
Satrio tersenyum geleng-geleng kepala. "Ngeri tapi mau juga," ledek Satrio yang belum mengunci bibirnya.
"Apa an sih kamu? Itu juga dengan cara menjebak ku."
Satrio masih tertawa tanpa suara. "Ya, mudah-mudahan aja aku terhindarkan dari perempuan seperti Sheila."
"Amin."
"Trus bagaimana itu masalah hotel?"
"Entahlah, apa mau nya? Pria itu tak tersentuh hukum. Kata Farhan ayahnya memiliki kolega di kepolisian. Maka dari itu Sheila bisa bebas bersyarat dan tidak meringkuk di dalam sel."
"Sheila bebas?"
Dewa mengangguk. "Rasanya juga tidak terima dia bebas. Mega sudah kehilangan calon buah hatinya. Dia harus koma kurang lebih satu minggu lama nya. Membuat aku, kamu, Rania dan mama papa kacau balau. Kamu bahkan hampir menunda pernikahan kamu. Iya kan?"
Satrio manggut-manggut. "Sudah lah kak, itu ujian nama nya. Ke depan nya kakak harus hati-hati saja dengan yang nama nya perempuan."
"Iya," lirih Dewa.
.
.
Keesokan hari.
Orang suruhan Gaston sengaja mendatangi rumah sakit dimana Mega di rawat. Mengintai hingga Dewa keluar meninggalkan Mega barulah orang suruhan Gaston masuk ke dalam ruang rawat Mega.
__ADS_1
"Siapa kamu?" teriak Mega takut.
"Diam! Atau saya akan bertindak lebih dan kamu bisa celaka," ancam dari orang suruhan Gaston.
Mega diam penuh ketakutan. Berteriak memanggil kakak nya dalam hati untuk segera datang.
Benar saja, Akhyar mengintai dari luar. Apa yang dilakukan pria berjaket kulit berwarna hitam dan bermuka beringas menakutkan itu.
Pria itu tampak menghubungi seseorang. Gaston hanya menyuruh, mengusik siapapun yang berhubungan dengan Dewa tanpa melukai mereka. Menakut-nakuti istrinya tanpa melakukan kekerasan. Pria berjaket kulit berwarna hitam itu kemudian pergi setelah masuk dan cukup membuat takut Mega.
Akhyar mengikuti pria itu. Memberi tahu Mega jika kakak nya tengah membuntuti pria yang keluar dari ruangan nya. Akhyar menghubungi Zahrin untuk menemani Mega di rumah sakit.
"Apa?" tanya Zahrin saking terkejutnya Akhyar menyuruhnya ke rumah sakit pagi-pagi.
"Tidak ada waktu lagi Zahrin! Cepat ke rumah sakit! Temani Mega! Karena tadi nyawa nya terancam." Akhyar dengan cepat menyudahi sambungan telepon nya. Hingga membuat Zahrin bertanya-tanya ada apa.
"Siapa?" tanya Regi karena istrinya terdiam setelah menerima panggilan.
"Mas Akhyar menyuruh ku ke rumah sakit. Katanya nyawa Mega terancam." Zahrin memasang wajah bingungnya.
"Ya udah pergi aja. Anak-anak biar aku yang urus."
"Hah?" tanya Zahrin tidak percaya.
"Kenapa?"
"Kamu nggak marah? Biasanya ngomel-ngomel."
"Akhyar pasti punya alasan, mengapa kamu di suruh menemani Mega. Sepertinya ini ada kaitan nya dengan penusuka@n Mega."
Zahrin mendadak takut.
"Kenapa?"
"Merinding juga sih, seperti apa sih wanita yang diam-diam cinta sama Dewa? Sampai gila melakukan hal diluar batas yang membuat nyawa Mega hampir tak selamat." Zahrin yang tiba-tiba bergidik ngeri.
.
.
Di lain sisi.
Akhyar terus membuntuti pria yang mengancam adiknya. Dia tidak akan biarkan siapa pun yang akan mengancam jiwa adik perempuan satu-satunya.
Akhyar menaiki mobilnya. Mengikuti pria yang menaiki sepeda motor dengan temannya yang sudah menunggu di depan rumah sakit.
Sampai dimana mereka seperti memasuki kawasan yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Akhyar mengendap-endap hingga bisa memasuki markas mereka. Betapa terkejutnya. Melihat adik iparnya, Dewa tengah beradu fisik sendirian di keroyok habis-habisan oleh komplotan mereka.
Akhyar tidak tinggal diam. Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung menolong Dewa dengan memukul kepala Gaston dengan besi panjang hingga Gaston terkapar.
Hiak
Preng
Hiak
Teng
Bugh
Bugh
Suara perkelahian fisik mereka menggema. Satu persatu kawanan Gaston yang berjumlah belasan itu tumbang dengan besi yang berada di tangan Akhyar.
"Ayo buruan kita pergi dari sini!" pekik Akhyar kepada Dewa untuk tidak buang-buang waktu lagi segera berlari.
Akhyar membawa Dewa naik mobilnya menjauh dari markas tersebut.
Hingga akhirnya dia menepikan mobil nya saat sudah memasuki kawasan padat penduduk.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Akhyar marah. Sangat yakin ada yang masih belum diceritakan adik iparnya itu kepadanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG