
"Saya sakit apa dok?" tanya Mega setelah di periksa.
"Anda sedang stres dan terlalu banyak pikiran. Apa anda sedang ada masalah?" tanya dokter.
Raut wajah Mega terlihat resah. Tidak dipungkiri jika pernikahan Satrio dengan Dewi yang sebentar lagi terlaksana mendominasi pikiran dan menyiksa batinnya.
Apa-apa an kamu Mega?
kata tanya yang selalu dia ulang untuk memarahi dirinya.
Perasaan apa ini?
Kenapa aku seakan tidak rela jika Satrio menikah dengan wanita pilihan nya?
Harusnya aku kan bahagia?
Ada apa ini?
Tidak, aku tidak mungkin masih mencintainya.
Aku sudah memiliki segalanya.
Dewa.
Rania.
Kenapa malah pikiran ku tertuju pada laki-laki itu?
Padahal biasanya, semuanya berjalan normal. Aku tidak sekalang kabut hari ini.
Mega yang berjalan keluar dari rumah sakit. Memeluk dirinya sendiri dengan pikiran kacau.
Dert ... dert
Tidak lama suara ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari suaminya. "Hallo..." jawab Mega mengangkat sambungan telepon dari Dewa.
"Sayang, katanya mama, kamu pergi ke rumah sakit? Kamu kenapa? Sakit mu bertambah parah?"
"Nggak apa-apa. Aku sudah selesai dan hendak pulang," jawab Mega tidak seperti biasanya. Terdengar lemah tidak bergairah. Dewa dapat merasakan nya, jika istrinya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu tunggu di situ, aku jemput. Aku nggak ingin kamu kenapa-napa."
"Nggak usah, aku pulang naik taksi online saja."
"Sayang..." Dewa yang belum selesai bicara. Namun sudah terdengar bunyi tut tut tut, panggilan sengaja di putus oleh istrinya.
Dewa hanya bisa bernafas pasrah. Lain halnya dengan Mega. Yang terus memijit dua pelipisnya bergantian karena berdenyut semakin hebat.
Mega tidak langsung pulang. Dia kembali ke telaga biru. Berdiri dan berjalan pelan mengitari tempat dimana Satrio dan Dewi berpelukan. Menyematkan cincin yang mungkin itu cara Satrio melamar wanita nya.
Ingatan nya masih segar tertuju pada semua hal dan dua nama yang berbisik keras mengusik ketentraman jiwanya sedari kemarin. Isak tangisnya semakin terdengar menyayat dan terasa pilu. Seakan tidak sanggup jika melihat Satrio nanti bersanding di pelaminan bersama Dewi. Lalu terus-terusan menegur dirinya sendiri dengan merutuki pertanyaan apa-apa an ini, selalu begitu. Mega bahkan tidak bisa mengendalikan rasa apa yang berkecamuk setelah mendengar Satrio memutuskan menikah.
"Sudah ku duga, kamu tidak rela kan aku menikah?" Pertanyaan bagai sambaran petir itu terdengar dan membuat Mega terkejut.
Satrio berdiri di samping kursi kayu panjang.
"Sat..." Mega masih tidak percaya dengan keberadaan pria itu.
"Kenapa? Kaget saya bisa ada di sini?" Satrio masih berdiri dan menyimpan dua telapak tangan nya pada saku celana melipis yang dikenakan nya. Pandangan nya juga masih lurus ke depan, menatap air telaga meliuk terhempas angin yang tiada henti. Sedangkan Mega yang sudah menatap batas pipi kanan pria itu sedari tadi.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Mega sembari mengusap kasar dua sisi pipi nya dari jejak basah air mata.
Mega bingung dan raut wajahnya timbul kepanikan mendadak. "Em, iya aku kurang sehat semalam," jawabnya tergagap.
"Sakit apa?"
"Demam tapi sekarang sudah sembuh."
"Sudah ke dokter?" tanya nya manis untuk sampai diterima pada telinga Mega yang semakin menambah timbunan luka.
"Ya, baru saja," jawabnya singkat. Namun ada perasaan senang karena merasa dipedulikan.
"Lalu apa kata dokter?"
"Aku hanya stres ringan. Kepalaku pusing."
"Syukurlah ringan, tidak seberat yang pernah aku rasakan," jawabnya dengan mata saling bertatap, tersirat rindu namun sulit mengaku. Mustahil tidak ada cinta yang tersisa.
Ada.
__ADS_1
Meskipun prosentasenya terbagi antara Dewa, Rania dan pria yang kini duduk disampingnya dengan sikap yang dingin. kedua tangan nya terlipat di dada. Bisa diartikan membatasi diri dan tidak ingin terjebak kembali dengan pergulatan batin pada cinta lama. Mega dapat merasakan nya.
"Selamat kamu akan menikah," kata Mega meskipun berbanding terbalik dengan hatinya.
"Aku yakin, kamu pasti berat menerima keputusan ini." Dua bola mata mereka bertatap kembali. Mega sulit menelan saliva nya. Tenggorokan nya terasa tercekat detik itu juga.
"Berat?" Mega geleng-geleng kepala menepisnya. "Jujur aku bahagia, kamu menemukan Dewi yang segera akan kamu nikahi." Mendadak menyesal dan ingin menangis saja rasanya. Namun tidak mungkin dia lakukan karena Mega juga tidak ingin terlihat egois ujungnya.
"Kamu bohong," ucap Satrio yang membuat Mega terisak tangis. Menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.
Begitu juga dengan Satrio. Masih bergeming dan belum berusaha meraih Mega atau minimal menenangkan supaya tangisnya tak semakin menjadi.
Tangan Dewa masih terlipat di dada. Namun tidak matanya yang tidak pandai berdusta. Matanya jujur dan mengeluarkan air mata juga.
Cukup lama, mereka berperang pada batin masing-masing. Perlahan meredakan sendiri kesedihan yang di derita hati mereka berdua.
"Bukankah kamu sering menyuruh ku untuk move on. Ini cara ku."
Mega mengangguk berulang, dengan tangan tanpa henti menyeka ingus berikut jejak basah yang menggenang. "Iya, abaikan kesedihan ku karena haru. Aku hanya akan merasa kehilangan mu, terdengar egois dan tidak berpihak pada hati mu yang tersakiti seorang diri. Baiknya memang kamu dengan Dewi," ucap Mega dengan terbata.
"Kamu pikir aku senang dengan semua ini?" ucap Satrio terdengar sedih.
Mega menatap bola mata pria itu. Begitu sebaliknya. Semuanya berat, rumit, pelik.
"Kamu juga tidak ingin kita bersatu, kamu berat di Dewa dan Rania. Aku bisa apa?"
Mega sesenggukan.
"Lain halnya kamu mau berjuang, mengorbankan mereka dan kembali pada ku. Itu tidak sulit untuk ku tapi sulit untuk mu."
Mega menggeleng jika itu mustahil untuk dia lakukan. Apa kata semuanya? mertuanya, keluarga besar yang sejak awal mendukung penuh pernikahan Dewa dan diri nya. "Aku hanya butuh waktu. Aku yakin bisa, aku bisa menerima kenyataan pahit antara kita. Ini semua takdir." jawabnya terjeda setiap sengguk dari tangisnya.
Satrio tidak berubah tempat. Tidak pula merubah letak tangan yang masih nyaman di atas dada nya. Hanya saja pergolakan batinnya, nyata terasa menyiksa dari setiap jawaban Mega yang membohongi dirinya sendiri. Tidak dipungkiri, kakaknya juga mencintai wanita di samping nya. Cinta segitiga ini tidak sesederhana untaian kata Mega yang menyuruhnya pergi begitu saja menanggalkan nama nya.
Tidak.
Namun semua bermakna dalam, sulit untuk dijalani keduanya biarpun status Mega sudah menjadi istri dari kakaknya. memiliki anak perempuan bernama Rania, buah dari kecelakaan mereka. Yang jujur, cinta Satrio dan Mega sama besarnya dan bisa bersatu jika Dewa tidak menghalanginya. Rania tidak ada diantara mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1