
"Om Catlio..." panggil Rania saat tahu Satrio berjalan dengan seorang wanita di Mall yang sama.
"Rania..."
"Siapa?" sahut Dewa.
"Oh, Dewi, kenalkan ini kakak ku sama istri nya. Kak, kenalkan ini Dewi teman aku waktu kuliah di Inggris." Ketiganya kemudian berjabat tangan dan memperkenalkan nama mereka masing-masing. Dimana Dewa terlihat senang jika Satrio sudah mampir melupakan Mega.
Namun berbeda dengan Mega, tidak dipungkiri, jika ada perasaan bahagia saat tahu mantan kekasihnya akhirnya bisa memulai kembali mengenal wanita lain selain dirinya. Namun jujur, ada perasaan yang Mega sendiri tidak bisa menyebut itu apa nama nya.
"Kamu baru mau makan?" tanya Dewa.
"Iya kak."
"Ya udah, kalau begitu kita duluan ya. By the way, senang berkenalan dengan kamu Dewi," ucap Dewa.
"Terimakasih kak."
Mega hanya diam saja. Dia hanya tersenyum kepada wanita yang mungkin tengah dekat dengan mantan kekasihnya.
"Dada om Catlio..." Rania yang melambaikan tangan nya.
"Dada Rania..." balas Satrio.
Satrio kemudian makan bersama dan duduk berhadapan dengan Dewi. Dapat dilihat jelas oleh Mega yang berada di play ground dimana Rania tengah bermain.
Jujur aku senang Sat, akhirnya kamu bisa dekat dengan seorang wanita.
Kamu juga berhak bahagia.
Karena rasanya mustahil, untuk kamu memiliki aku.
batin Mega yang tengah memandang Satrio dan Dewi dari kejauhan. Dimana Satrio juga memandang Mega. Meskipun retina keduanya saling bertukar pandang dari kejauhan.
Dewa kemudian datang mendekat ke istri nya. "Kamu tidak sedang cemburu melihat mereka berdua kan?"
"Apa an sih?" protes Mega.
"Ya habisnya, dari tadi kamu melihati mereka berdua. Anak kamu panggil-panggil kamu, kamu bahkan tidak menoleh dan malah menyaksikan mereka berdua. Kenapa?"
"Em, enggak. Aku hanya bahagia saja melihat Satrio sudah menemukan cinta baru nya."
"Benarkah seperti itu?"
"Menurut mu?"
"Menurutku, kamu masih sedikit cemburu dengan keberadaan wanita itu," ledek Dewa kepada istrinya yang berakhir dengan cubitan gemas dari Mega pada perut suaminya dan gelak tawa dari keduanya yang saling melempar canda.
Satrio melihati Dewa dan Mega yang terlihat sekali jika rumah tangga mereka adem ayem dan bahagia. Lagi-lagi, seolah lupa jika kebahagiaan mereka benar-benar diatas penderitaan nya.
__ADS_1
Malam harinya.
Dimana jalan-jalan sudah usai dan mereka sudah berada di rumah. Dewa yang sedang beranjak tidur, tiba-tiba ingat jika Sheila tadi menghubunginya.
Dan apa bunyi pesan yang dikirim oleh Sheila, setelah dia tidak mengangkat panggilan darinya?
Hanya ucapan terimakasih karena telah menyuruh dokter Farhan ke rumah nya.
Dewa hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Sheila yang semakin kesini, semakin agresif.
"Hanya ingin mengucapkan terimakasih, dia harus menghubungi ku lebih dari sepuluh kali. Apa itu tidak berlebihan? Dia kan bisa langsung berkirim pesan saja," gumam pelan Dewa pada dirinya sendiri. Setelah melihat layar ponsel dengan pemberitahuan panggilan dan pesan dari Sheila.
.
.
Malam berganti dengan pagi. Dimana semuanya sudah berkumpul untuk sarapan pagi tanpa ada yang terkecuali. Semuanya duduk menyantap hidangan yang sudah dimasak oleh bibi sedari tadi.
Namun saat semuanya sibuk menikmati hidangan di atas piring mereka masing-masing, satu kalimat dari mulut Satrio membuat mereka berekspresi macam-macam. "Aku mau menikah ma." Empat kata itulah yang lolos dari mulut Satrio.
Mega sampai tersedak dan Dewa dengan sigap mengambilkan air minum untuk istrinya, setelah dia sendiri juga cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh adiknya.
Sementara ibu Rahma, ternganga dan terdiam untuk satu detik. Membeku dan hampir tidak percaya.
Sedangkan pak Hendarto, mengehentikan aktivitas mengunyah makanan yang belum halus di rongga mulutnya. Menatap putranya sama pula dengan istrinya, tidak dapat mempercayai, karena beberapa hari yang lalu, ia sempat menawarkan perkenalan dengan putri dari sahabat nya dan Satrio masih belum mau menikah katanya. Tapi mengapa dengan cepat dia berubah pikiran dan mengatakan yang berlawanan.
"Menikah?" ulang ibu Rahma.
"Iya ma."
"Satrio berubah pikiran pa."
"Okay... Dengan siapa?" tanya ibu Rahma.
"Dewi nama nya."
"Tapi mama belum mengenal nya," ujar ibu Rahma.
"Mama sama papa tenang aja. Dia perempuan baik-baik, dari keluarga baik-baik yang tidak punya kakak urakan," ucap Satrio yang dengan sengaja menyindir kakaknya Mega yaitu Akhyar yang tukang pukul dan main hajar layaknya orang yang tidak berpendidikan dan tidak mengenal sekolahan.
Mega setengah tertunduk. Dadanya bergemuruh, sadar jika Satrio tengah menyindir nya dan kakaknya. Rasanya, ingin menggeser kursi makan dan berlari ke kamar yang mungkin akan menangis. Karena pada dasarnya, dua bola matanya sudah berkaca-kaca saat pria yang masih dia labeli kata baik berkata demikian.
Namun sayang, tubuhnya tertahan. Cerca untuk nya dan kakaknya dia simpan. Mega meredam sendiri amarah yang sedari tadi memuncak dalam benak.
"Okay..." imbuh ibu Rahma. "Hanya itu?"
"Dia teman kuliah di Stanford University. Kita hanya beda kota. Sudah tentu dia wanita cerdas dan berkelas."
"Okay... Asal kamu mantap. Mama dukung kamu," jawab ibu Rahma sembari mengusap bahu putra nomor duanya.
__ADS_1
"Jadi karena wanita itu, kamu menolak untuk papa kenalkan dengan anak dari sahabat papa," lanjut pak Hendarto masih membahas wanita yang akan dinikahi putranya.
Satrio hanya diam.
"Kapan mama sama papa berkenalan dengan calon menantu mama?" tanya ibu Rahma.
"Bagaimana kalau nanti malam kita undang dia dan keluarganya makan malam di rumah? Karena dia bersama mama dan papanya sedang berkunjung ke rumah nenek nya."
"Oh ya? ide bagus. Ya udah, kalau begitu nanti malam kita undang keluarga mereka makan malam di sini. Mama jadi nggak sabar, menunggu nanti malam." Ibu Rahma yang senyum-senyum sendiri mengatakan nya. "Papa sama Dewa jangan telat ya, pulang ke rumah nya," imbuh nya.
"Siap ma," sahut Dewa dengan cepat sembari menikmati makan pagi nya.
"Mega kamu bantuin mama, persiapan menyambut tamu besar calon besan dan menantu kedua mama."
"Iya ma."
"Siapa tadi nama nya?"
"Dewi ma," jawab Satrio.
"Oh, iya, Dewi. Mama jadi penasaran seperti apa orang nya."
"Seperti model dan bintang iklan Luna Maya, ma."
"Oh ya? Kamu sudah tahu seperti apa orangnya? Ngaco kamu!"
"Mama lihat aja nanti. Semalam kita bertemu di restoran Jepang tanpa sengaja."
"Oh ya?"
"Ya..."
Ibu Rahma tertawa kecil. Dibuat penasaran dengan sosok perempuan yang akan dinikahi Satrio. "Trus-trus, rencana kamu bagaimana? Langsung menikah atau tunangan terlebih dahulu?"
"Satrio ingin nya cepat menikah aja ma, nggak perlu pakai acara tunangan. Melamar, persiapan lanjut menikah. Karena Satrio tidak ingin mendapat perlakuan yang sama." Satrio yang bangkit dari duduk nya, berpamitan kepada mama dan papa nya untuk berangkat bekerja.
Dewa dan Mega Sadar, jika kalimat terakhir Satrio tersebut ditujukan kepada mereka berdua.
Dewa dan Mega berikut Rania juga ikut serta pamit berangkat. Namun terjadi percekcokan kecil, pelan, halus namun cukup tegas dilakukan Dewa terhadap Satrio di garasi.
"By the way, selamat ya." Dewa yang menyalami adik nya dan belum dilepaskan juga tautan lima jari tangan mereka. "Namun tidak perlu kamu singgung-singgung masalah keluarga terutama kakak dari Mega," imbuhnya lirih yang kemudian Dewa melepaskan tautan jari kanan mereka berdua.
"Memang begitu kenyataan nya kan?"
"Tapi itu tidak perlu kamu katakan."
"Kenapa?" tanya Satrio seolah ingin tahu apa jawaban yang sudah dipersiapakan kakaknya untuk membela istrinya yang paling dia puja hasil dari merebut darinya.
"Sudah, sudah." Mega yang kemudian menarik lengan suaminya dan menyuruhnya menyudahi ribut mulut dengan Satrio.
__ADS_1
BERSAMBUNG