
Satrio masih terdiam. Jika dia bicara, Rania pasti akan semakin sedih mendengar nya.
"Om..." panggil bocah manis itu dengan tatapan menyedihkan saat menoleh ke Satrio.
"Om janji, akan bawa Rania menemui mama, tapi Rania nggak boleh menangis lagi. Rania harus makan dan bermain dulu. Baru kita akan menemui mama. Bagiamana?"
Rania mengangguk. Satrio menepikan mobilnya dan mengeringkan air mata keponakannya yang menggenang dengan tisu.
Setelahnya dia membawa Rania pergi ke play ground Mall dan berniat membuat hati Rania teralihkan.
Disitu Satrio berniat menghubungi Dewa lewat panggilan seluler. Namun dia melihat update terbaru Dewi dimana sepertinya dia tengah sedih dan galau.
Dewi juga mengganti foto profilnya, dimana yang biasanya terpampang foto dia dan Dewi, berganti dengan foto Dewi seorang diri dan tampak sekali jika perempuan itu tengah dilanda kegalauan luar biasa.
Namun Satrio hanya menatap layar tersebut tanpa berniat ingin berkirim pesan atau menghubungi calon istrinya itu. Satrio lantas menghubungi Dewa. Dimana Dewa setuju jika Rania dibawa menemui Mega ke rumah sakit.
"Rania... sekarang kita menemui mama ya."
"Benelan om?" tanya Rania girang.
Satrio mengangguk.
"Hore... ketemu mama."
Wajah Satrio meredup seketika. Melihat senyum Rania secerah mentari pagi, rasanya tidak tega. Jika nanti dia tahu, mama nya masih terbaring di tempat tidur pasien tak dapat berbicara kepadanya seperti sedia kala.
Satrio kemudian membawa Rania ke rumah sakit.
"Papa..." teriaknya memanggil Dewa. Wajah Dewa terlihat letih memeluk yang kemudian menggendong Rania.
"Mama mana pa?" tanya putri manis nya bagai langit runtuh saat itu juga.
"Rania mau lihat mama?" Suara parau Dewa menatap iba pada gadis kecil nya.
"He em pa," angguk nya.
Dewa kemudian membawa Rania melihat mama nya yang masih terbaring dengan alat-alat yang melekat pada tubuh Mega.
"Mama kenapa pa?" sedihnya Rania yang langsung menjatuhkan air mata.
Dewa tidak kuasa, pelupuk matanya ikut basah dan tak mampu menjawab pertanyaan Rania.
Hati Satrio tersayat melihat kesedihan kakak dan keponakan nya. Rasanya tidak mungkin, dia tetap bersikeras melaksanakan akad nikah. Sementara di dalam keluarga nya tengah dirundung duka.
"Mama..." Rania yang menangis di dekat mama nya. "Mama bangun ma, ini Rania."
Dewa dan Satrio terenyuh mendengar tangis Rania. Saling bertukar tatap dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan kesedihan mereka.
"Papa... Kenapa mama diam aja pa?" tanya bocah manis itu kepada Dewa.
__ADS_1
"Sayang, mama sedang tidur. Nanti Rania kesini lagi ya. Rania pulang sama om Satrio," bujuk Dewa supaya putrinya mau pulang dan tidak menambah kesedihan nya.
"Tapi besok Lania kesini lagi ya pa," jawabnya.
"Iya sayang. Oh ya, kakak lupa. Bukan kah satu minggu lagi adalah hari pernikahan kamu?" tanya Dewa.
"Aku menunda nya kak."
"Menunda? Lalu bagaimana dengan Dewi?"
"Dewi terang sedih. Tapi mana mungkin aku bisa melaksanakan pernikahan, jika keluarga kita tengah berduka. Mega koma. Baik mama, papa dan seluruh keluarga tidak mungkin bisa merasakan kebahagiaan. Makanya aku menunda nya."
"Kepala kakak penuh. Kakak tidak bisa berpikir jernih. Terserah kamu saja. Karena itu pernikahan kamu. Kakak tak punya kuasa untuk memutuskan hal yang berkaitan dengan pernikahan kalian."
"Iya kak."
"Lalu bagaimana dengan mama dan papa?"
"Aku belum bicarakan kepada mereka."
"Cepat bicarakan, karena itu menyangkut para tamu undangan."
"Iya kak, pulang dari rumah sakit ini akan aku bicarakan. Kalau begitu Satrio pulang."
"Iya, terimakasih."
"Sayang pulang sama om Satrio ya," ulang Dewa dengan kalimat yang sama.
"Anak manis papa, cup." Dewa yang kemudian mengecup kening putrinya.
Satrio kemudian pulang. Sementara Dewa di panggil untuk ke ruang dokter dan diberitahu terkait kondisi Mega.
"Maaf saya harus memanggil anda ke ruangan saya," ucap dokter yang menangani Mega.
"Iya Dok, bagaimana dengan kondisi istri saya."
"Kondisi pasien seperti yang anda lihat dan masih koma. semoga saja ada mukjizat yang membangunkan istri anda dari tidur panjang nya. Untuk kasus seperti ibu Mega, biasanya tidak lama dan dalam hitungan hari kembali pulih. Tapi sekali lagi dokter bukan Tuhan pemilik hamba nya. Kita sebagai dokter hanya bisa berusaha. Kasus serupa pernah terjadi dan belasan hari pasien biasanya tersadar. Nanti kita akan periksa lagi ya pak. Mohon pak Dewa bersabar." Dokter kemudian menjelaskan di layar terkait hal-hal yang menghambat cepatnya pemulihan kesadaran pada pasien. Dewa juga meminta kepada dokter untuk mengupayakan terbaik terkait fasilitas jika memang itu diperlukan oleh istrinya.
Setelahnya dokter menginformasikan kondisi kesehatan Mega. Sedikit banyak ada perasaan lega, meskipun kecil. Ada pasien pernah mengalami seperti hal nya yang di alami oleh Mega. Dalam hitungan belasan hari tersadar dan pulih kembali seperti keadaan semula. Dalam benak nya ada secercah harapan menyilaukan. Dimana pasti Tuhan memberikan kesembuhan untuk istrinya.
Sedangkan di rumah.
Satrio terkejut dengan kedatangan mama Giani dan papa David begitu juga Dewi.
"Sat..." lirih ibu Rahma yang memberhentikan langkah Satrio yang kemudian menyerahkan Rania kepada bibi.
"Apa benar yang dikatakan calon mertua kamu?" tanya pak Hendarto.
"Iya pa," jawab Satrio yang kemudian lesu dan tertunduk.
__ADS_1
"Sebaiknya tidak perlu Sat, kamu harus pikirkan juga kebahagiaan kamu dan Dewi. Mama, papa, Dewa merestui. Kalian harus tetap menikah," imbuh ibu Rahma.
"Enggak ma. Lagi pula hanya menundanya. Satrio tak berniat membatalkannya. Sekali lagi hanya menunda."
"Tapi Sat..." Pak Hendarto yang belum usai bicara dengan cepat di potong oleh Satrio.
"Maaf ma, pa, mama Giani dan papa David. Keputusan Satrio tetap sama. Satrio tidak akan merubah nya. Satrio juga sudah bicarakan kepada Dewi. Ini hanya tertunda. Bukan pembatalan." Bersamaan dengan bangkitnya Satrio dari duduk nya.
Papa David kemudian mengimbangi calon menantunya yang menurutnya semena-mena. "Jujur papa merasa terhina Sat, apa kamu tahu? Mau di taruh dimana wajah papa ini?" tegasnya tanpa bisa ditawar yang membuat Dewi tergemap.
"Pa, tenang pa..." pinta mama Giani kepada papa David.
"Tidak bisa seperti itu ma, kasihan Dewi. Papa sudah tahu semuanya. Dewi sudah cerita jika perempuan yang koma itu adalah cinta pertama dan cinta mati Satrio yang akhirnya menjadi kakak iparnya karena sebuah kecelakaan. Apa jangan-jangan putri kita hanya akan dijadikan tempat pelarian saja oleh Satrio? Papa malah semakin ragu dengan keseriusan Satrio." Amarah papa David yang semakin membuncah dan lepas kendali.
Membuat semua orang tercengang dan hanya bisa diam atas pernyataan papa David.
"Pak Hendarto. Maafkan saya, tapi saya menarik diri dan tidak rela jika putra anda semena-mena mempermainkan kami, mempermainkan hati putri kami. Jadi saya putuskan. Pernikahan Dewi dan Satrio lebih baik di kaji ulang. Bahkan akan saya batal kan dalam waktu dua kali dua puluh empat jam. Jika Satrio kekeh menunda nya. Lebih baik Dewi tidak dengan Satrio," tegasnya panjang lebar, tidak mau harga dirinya di injak-injak Satrio semena-mena.
"Papa..." Dewi bangkit dan berdiri juga dari duduk nya.
"Papa nggak mau dengar. Sebaiknya kita pulang."
"Pak David, kita bisa bicarakan baik-baik." Pak Hendarto yang berusaha menghalangi calon besan nya pulang.
"Anda dengar sendiri kan pak? Bagaimana jawaban putra anda? Saya tidak ingin putri saya dipermalukan. Dia wanita terhormat yang sekolahnya bapak tahu sendiri dimana. Sama terhormatnya dengan putra bapak dan keluarga bapak. Tolong itu diperhatikan pak. Dua kali dua puluh empat jam. Saya tunggu jawaban nya. Permisi." Papa David benar-benar tidak ragu lagi dengan perkataan nya. Lebih baik tidak bermenantukan Satrio, ketimbang harga dirinya dipermainkan oleh calon menantunya.
"Papa..." rengek Dewi yang tidak ingin papa nya bertindak sejauh ini. Namun tangan Dewi sudah digelandang keluar rumah Satrio. Dewi dan Satrio hanya bisa bertukar pandang. Dewi tidak punya kemampuan untuk melawan. Selain buliran jernih yang terus jatuh tak terelakkan.
Setelah kepergian papa David dan keluarga nya. Satrio di duduk kan bagaikan seorang saksi yang siap diinterogasi.
"Kenapa kamu putuskan sendiri Satrio?" tanya pak Hendarto yang tidak ada marah-marah nya. Tenaga nya tak bersisa, terkuras memikirkan masalah Mega yang koma, Dewa yang tak bersemangat hidup dan cucunya Rania yang menangis terus memanggil mama nya.
"Baru aku mau bicara dengan mama dan papa. Tapi keluarga Dewi sudah kesini."
"Terus bagaimana?"
"Keputusan Satrio tetap bulat. Satrio inginnya semua keluarga besar merasakan kebahagiaan. Tapi jika saat ini keluarga kita di rundung duka dengan Mega koma. Apa iya aku akan bahagia? Keluarga akan bahagia?" tanya Satrio kepada papa dan mama nya.
"Tapi bagaimana dengan gertakan papa nya Dewi."
"Aku sudah meminta Dewi untuk bersabar. Tapi jika itu keputusan papa David. Anggap saja aku dan Dewi tidak berjodoh ma, pa."
"Satrio..." Ibu Rahma yang meredam pemikiran putra nya.
"Ma, mama pasti nggak tega melihat kak Dewa dan Rania. Hati Satrio pilu ma, melihat Rania merengek meminta mama nya bangun. Nggak ... Satrio nggak mau turuti papa David. Keluarga kita tidak sedang baik-baik saja. Keputusan ku tetap sama ma."
"Tidak perlu resepsi besar. Akad saja."
"Sama saja. Aku hanya menunda. bukan membatalkan. Bagiku itu perkara gampang. Karena pada akhirnya aku juga akan menikahi Dewi. Kita tunggu dulu Mega bangun dari koma nya. Hanya itu ma," imbuh Satrio sedikit geram.
__ADS_1
"Apa kamu masih mencintai Mega?" Satu pertanyaan ibu Rahma lolos detik itu juga.
BERSAMBUNG