
Keesokan hari.
"Papa..." teriak Rania yang berlari mendekat kepada Dewa dan meminta gendong depan.
"Eits, papa kan baru aja sembuh sayang," ucap Mega yang ngilu melihat Dewa menggendong Rania.
"Nggak apa-apa," jawab Dewa menahan sakit meskipun Mega dan ibu Rahma tertawa kecil.
"Syukurlah kamu sudah pulang sayang," sahut ibu Rahma yang hanya bisa mengelus bahu putra nya berulang karena tidak mungkin mencium pipi kanan dan pipi kiri putra nya.
Dert dert
Tidak lama suara ponsel Dewa berbunyi dari nomor yang tidak ia kenal. Dewa menempelkan benda pipih persegi panjang itu di telinga nya. "Hallo..."
"Hahaha..." tawa Gaston membahana. "Hai, aku dengar kamu sudah keluar dari rumah sakit kawan. Sekarang tolong dengarkan suara siapa ini," ucap Gaston yang kemudian mendekatkan ponselnya ke Sheila yang sedang dia sandera.
"Dewa..." suara Sheila yang kedua tangan nya tengah diikat oleh tali tambang begitu juga dengan seluruh tubuhnya yang kemudian di dudukkan di kursi dan diikat pula.
Dewa cukup panik namun dia harus terlihat tenang.
Gaston kemudian mendekatkan kembali ponsel itu di depan mulutnya. "Hahaha ... Kamu sudah dengarkan suara siapa itu? Apa kamu tidak berniat menyelamatkan dia?"
"Tidak perlu Dewa!" sahut Sheila setengah berteriak supaya Dewa mendengarnya.
"Diam!" sentak Gaston kepada Sheila. "Kemari lah pemilik hotel Mediterania yang merusak rencanaku semua," imbuh Gaston. Dia kemudian menutup ponselnya.
"Siapa?" tanya Mega.
"Em, nggak, nggak ada apa-apa. Aku harus ke hotel sekarang."
__ADS_1
"Kamu kan baru aja pulang dari rumah sakit," ujar ibu Rahma.
"Nggak apa-apa kok ma. Aku harus pergi sayang," pamit Dewa kepada Mega.
Dewa kemudian pergi menuju tempat dimana Gaston menyandera Sheila.
"Lepaskan dia!" Teriak Dewa.
"Hahaha, akhirnya kamu datang juga." Gaston yang tak membuang-buang waktu dan langsung memberikan pukulan ke arah Dewa namun dengan cepat kedua tangan Dewa sigap menangkis. Perkelahian sengit antara Gaston dan Dewa terjadi. Dimana Gaston berhasil meringis terkapar padahal sebelumnya dia berhasil membuat Dewa kalah. Namun di akhir Dewa berhasil meraih benda laras panjang dan di pukulkan ke Gaston hingga dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Sheila..." Dewa yang kemudian melepaskan tali tambang yang menjerat tubuh Sheila.
"Dewa, kenapa kamu menolong saya?"
"Sudah jangan banyak tanya. Lebih baik kita cepat pergi dari sini," ucap Dewa dengan kedua tangan yang sibuk melepas tali tambang pada Sheila.
Keadaan cukup genting, karena Dewa takut jika teman-teman Gaston berdatangan. Dewa dengan segera melajukan mobilnya dan mengantar Sheila pulang.
Sesampainya di rumah Sheila.
"Aku harus segera pulang Sheila," ucap Dewa yang masih duduk memegang setir mobilnya yang masih menyala.
"Dewa, turun lah sebentar. Hujan nya lebat sekali, minimal keringkan bajumu supaya Mega tidak banyak tanya." Sheila yang berusaha membujuk Dewa.
"Okay," jawabnya berpikir apa yang dikatakan Sheila ada benarnya. Ketimbang Mega banyak bertanya. Dewa akhirnya mematikan mesin mobilnya. Turun dari mobil bersama Sheila.
Setelah Sheila membuka kunci rumahnya dan keduanya masuk. "Kamu tunggu di sini ya, aku ambilkan handuk dulu dan buatkan minuman hangat untuk kamu." Sheila kemudian masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju, barulah dia membuat minuman hangat untuk Dewa. "Ini kamu minum, supaya badan kamu nggak kedinginan." Sheila yang memberikan cangkir teh hangat untuk Dewa.
"Terimakasih Sheila." Dewa yang kemudian menyeruput secangkir teh hangat tersebut. Namun sekitar lima menit kemudian kedua mata Dewa berkunang-kunang dan sesekali mengusap tengkuk leher. Tubuhnya mendadak panas dan perlahan mulai berkeringat.
__ADS_1
"Kenapa Dewa?" tanya Sheila mendekat namun Dewa masih memijit pelan kening bagian tengahnya dengan ibu jari.
Sebaliknya dengan dua mata Dewa yang melihat sosok Sheila seperti istrinya, yakni Mega. Dewa masih bergeming dan semakin jelas melihat sosok wanita yang berdiri di hadapannya adalah Mega. Nafasnya juga mulai berantakan dan bertambah meningkat suhu tubuh hasrat bercinta nya setelah meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Sheila. "Sayang..." lirih Dewa dengan nafas yang sudah tak karuan. Tangannya terulur dan langsung meraih kepala bagian belakang Sheila untuk di dekat kan padanya, lalu diciumnya bibiir Sheila yang membuat Sheila shock namun sadar jika obat perangsang yang dicampurkan ke dalam minuman Dewa bereaksi dengan sangat cepat.
Ya, Sheila dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman Dewa hingga membuatnya seperti ini.
Sheila tanpa penolakan, bahkan dengan suka rela memberikan semuanya untuk Dewa. Karena kesempatan seperti itulah yang dia inginkan. Bahkan dia sangat lama menanti hal tersebut terjadi.
Dewa yang sudah dirasuki obat double purpose oleh Sheila tidak menghiraukan betul apakah wanita itu adalah istrinya atau bukan. Terong hijau panjang nya sudah tidak tahan dan mencari tempat pelampiasan. Keduanya pun melakukan penyatuan dimana yang di tahu Dewa sosok Sheila adalah Mega istrinya. Maka dari itu dia tidak sungkan untuk menyirami dan membuahi rahim istri nya yang dia pikir akan memberikan adik untuk Rania.
Sedangkan di lain tempat. Mega tampak khawatir dengan keberadaan suaminya yang sudah malam belum pulang juga. "Kamu kemana sih?" lirihnya sembari berjalan mondar-mandir di area taman belakang sembari kesal pada Dewa yang tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
Namun saat Mega hendak naik menuju anak tangga, dia berpapasan dengan Satrio, yang membuat keduanya saling bertatap wajah dan menghentikan langkah.
Dua bola mata mereka bertemu, dimana Satrio mendadak kelu dan beku. Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Namun lagi-lagi sosok Mega tidak bisa dia lenyapkan begitu saja meskipun sudah sekuat tenaga dia coba.
Mega kemudian melanjutkan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Berbeda dengan Satrio yang masih melihati punggung sosok wanita tersebut hingga dimana keduanya saling berpandangan kembali saat Mega membuka pintu kamar dan sadar jika pandangan Satrio belum teralihkan sejak tadi. Mega dengan cepat menyudahi, dia masuk kamar dan menutup rapat pintu itu, dimana untuk satu menitan punggungnya dia sandarkan sembari menarik nafas panjang dan dia keluarkan perlahan karena tidak biasanya Satrio menatap nya seperti itu.
Mega kemudian merebahkan tubuhnya, setelah mencoba berulang kali lagi melakukan panggilan kepada suaminya. Namun sayang masih tetap sama, nihil dan tidak jua Dewa mengangkat sambungan telepon darinya.
Tujuh jam kemudian, tepatnya pukul 02.00 WIB. Dewa yang sudah membuka mata nya perlahan, setelah tumbang dari pergulatan panas di atas ranjang dengan Sheila.
Sedangkan terlihat punggung bercahaya Sheila dimana Dewa berusaha memeluk punggung tersebut yang dia kira adalah Mega yang tengah tidur di sampingnya dengan posisi memunggunginya.
Perlahan jari berikut lengan kekar itu menyentuh pelan punggung Sheila, hingga membuat tubuh Sheila menggeliat dan membalik posisi nya dimana Dewa langsung berteriak.
"Aaaaa..." teriak Dewa dengan nafas tersengal nya.
BERSAMBUNG
__ADS_1