
"Kamu sudah datang Sat." Pak Hendarto yang merangkul pundak putranya.
"Iya pa," jawab lesu Satrio.
Tidak lama Dewa juga datang dan masuk ke ruang rawat mama nya. Dimana mama nya tengah dibantu oleh perawat untuk persiapan operasi.
"Papa..." panggil Rania yang langsung di gendong Dewa.
Sedangkan Mega. Masih belum berhenti menjatuhkan air mata walau wajahnya sudah di basuh air keran. Menatap wajahnya di pantulan cermin. Terdapat kebimbangan banyak terkait rumah tangga nya. Satrio yang dengan terang-terangan tidak begitu saja melepasnya. Membuat pikiran Mega kacau setelahnya.
.
.
"Ma, mama kuat. Mama akan baik-baik aja." Support yang diberikan oleh pak Hendarto kepada istrinya. Dimana dua putra dan menantu berikut cucunya Rania juga tengah memberikan semangat kepada ibu Rahma.
"Iya pa. Terimakasih."
Ibu Rahma kemudian dibawa ke ruang operasi. Dimana operasi cukup lama belum juga usai. Butuh waktu lebih dari tujuh jam untuk melaksanakan operasi tersebut.
Sampai operasi usai pun, ibu Rahma langsung di bawa ke ruang pemulihan karena masih belum sadarkan diri dan menjalani perawatan dibawah pengawasan.
Dokter juga menyampaikan hal baik, jika operasi berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan. Dan tumor yang ibu Rahma idap untung nya bukanlah tumor yang agresif dan membuat jaringan otak tidak berfungsi.
Namun jika operasi ditunda dan tidak dilakukan sama sekali, itulah yang justru akan membuat serius dan bisa menjadikan tumor tersebut menjadi kanker yang ganas.
Ibu Rahma masih dibaringkan di ruang perawatan. Dimana semua keluarga tidak diizinkan masuk terlebih dahulu kecuali perawat. Jika memang ada pihak keluarga menunggu, diperbolehkan hanya menunggu di luar ruangan atau akan lebih baiknya kembali esok.
Akhirnya mereka putuskan semua pulang terlebih dahulu. Awalnya yang pak Hendarto ingin menemani istrinya, dibujuk Dewa untuk pulang saja dan beristirahat di rumah. Itu karena Dewa melihat wajah papa nya sangat lelah.
.
.
Malam harinya.
Usai semua sudah sampai di rumah. Dewa yang membawa putrinya yang sudah lelap tertidur di mobil karena Rania tidak kuat menahan kantuknya.
Dimana Mega tengah turun ke lantai dasar. Membuatkan suaminya minuman hangat karena Dewa terlihat lelah.
"Beruntung banget ya dia, mendapatkan perhatian kamu yang sudah dia rebut dari aku," kata-kata Satrio, dimana dia yang tiba-tiba saja berdiri di samping Mega.
Membuat Mega menghentikan mengaduk gula supaya larut pada minuman hangatnya. Mega terdiam, menatap Satrio sebentar dan setengah menunduk. "Maaf aku harus ke kamar." Mega yang hendak pergi, namun Satrio tidak mengizinkan. Meraih dengan cepat jemari yang hendak membawa nampan.
Pandangan Satrio menyusuri wanita di depannya. Dari mata kaki Mega hingga ujung kepala dimana wanita yang dicintainya tetaplah menawan dimata nya.
Mega menggunakan pakaian tidur berbentuk kimono berwarna maroon berbahan satin. Terlihat sekali kesan seksi dan membuat dada Satrio bergejolak tida rela jika lekuk tubuh Mega dinikmati oleh kakaknya.
"Sumpah demi apapun, aku tidak rela kamu berpenampilan seperti ini di depan dia."
Membuat Mega bernafas berat menghadapi Satrio yang seperti anak kecil. "Dia suami aku, jadi dia berhak. Berbeda dengan kamu, yang malah tidak berhak mengucap itu."
__ADS_1
"Memangnya kita ada kata putus? Nggak kan?" Satrio yang tak mau kalah dalih yang Mega cetuskan.
"Sat, harus berapa kali aku bilang. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Mega berusaha keras membuka mata Satrio lebar-lebar. Jika mereka tidak mungkin bersama.
"Itu kata mu, bukan kata ku."
"Terserah." Mega yang kemudian menghempas setengah kasar tangan Satrio yang sejak tadi menggenggam nya. Pergi dari dapur dan membawa nampan berisi minuman hangat untuk suaminya.
Dimana Dewa menyaksikan yang terhitung kali ketiga mereka masih bernostalgia terkait perasaan masing-masing. Dewa langsung menutup pintu kamar pelan dan beranjak ke ranjang supaya Mega tidak menyadari nya.
Ceklek.
"Sayang, kamu minum dulu ya. Aku sudah buatkan kamu minuman. Supaya pegal-pegal kamu hilang."
"Terimakasih ya sayang, kamu tahu aja kalau punggung ku pegal-pegal." Dewa yang menyeruput minuman dalam cangkir yang dibuat Mega untuknya. "Oh ya, setelah mama pulang ke rumah. Bagaimana kalau kita liburan ke Bali."
"Liburan?"
"He em." Dewa yang menyeruput kembali minuman hangat tersebut dan meletakkan cangkir kosong itu di atas nakas. Memeluk istrinya dari belakang. "Kita kabulkan permintaan Rania," bisiknya di telinga Mega yang membuat Mega geli. Dimana keduanya berlanjut melakukan ritual tanpa desa@han. Saling menyatukan bibiir mereka dengan lembut. Saling menuntut kepuasan satu sama lain. Dan membuat jejak merah di leher keduanya.
.
.
Keesokan harinya.
Saat semuanya berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Sepasang mata Satrio membeliak saat melihat jejak merah tanda cinta Dewa di leher Mega. Hal serupa juga di lihatnya, di leher kakaknya. Tanda cinta Mega untuk Dewa. Seketika amarahnya memuncak. Karena lagi-lagi, mereka seperti sengaja membuat dia cemburu buta. Satrio meremas gelas di tangan kirinya hingga retak yang kemudian gelas tersebut pecah.
Mega dan Dewa yang bertukar tatap. Melihat Satrio yang bersikap demikian.
"Aku ke atas dulu." Satrio dengan cepat disusul bibi yang di suruh pak Hendarto untuk mengobati lukanya.
Ketiganya sepertinya paham terhadap tindakan Satrio yang sepenuhnya belum rela. Membuat mereka hanya bisa bernafas pasrah dan melanjutkan makan pagi nya.
Tidak lama makan pagi usai. Dimana semuanya berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk ibu Rahma.
.
.
Di rumah sakit.
Ibu Rahma tampak sedang di ganti infusnya oleh seorang perawat.
"Pagi Oma..." panggil Rania dengan bersemangat dimana Dewa mendekatkan wajah putrinya untuk mencium Oma nya.
"Pagi sayang..." balas ibu Rahma pada cucunya.
"Oma kepalanya di pelban. Oma cakit kepala?" dengan polosnya celotehan itu membuat tawa seisi ruangan.
"Iya sayang, Oma sakit kepala," jawabnya sembari melanjutkan tawa kecil yang belum berhenti.
__ADS_1
"Kalau om Catlio, tangan nya yang dipelban. Ya kan om?" Rania yang menoleh ke Satrio.
Sedangkan Satrio hanya terdiam dan setengah tertunduk.
"Astagfirullah... kenapa tangan kamu ini?" tanya ibu Rahma dengan cemas.
"Nggak apa-apa ma," jawab Satrio tidak bersemangat pagi itu.
Pak Hendarto kemudian menanyakan bagaimana kondisi istrinya. Apakah jauh lebih baik atau ada yang dirasa tidak enak pada bagian tubuhnya.
Namun ibu Rahma merasakan jauh lebih baik dan lebih ringan. Kepalanya juga tidak terasa berat dan yang biasanya sering mengalami pusing dan sakit kepala. Semenjak tadi pagi setelah sadar hingga di jam tersebut, ibu Rahma belum merasakan hal aneh di kepalanya. Malah sebaliknya. Ibu Rahma merasa lebih baik dan enakan pada bagian kepalanya.
Dewa mendapat panggilan dari hotel, terkait booking salah satu universitas yang akan menyelenggarakan acara wisuda. Dimana hotel Mediterania bekerja sama menyediakan tempat bermalam bagi keluarga calon wisudawan.
Dewa kemudian berpamitan sebentar untuk ke hotel dan akan kembali ke rumah sakit menjemput istri dan putrinya setelah pekerjaan nya selesai.
.
.
Namun saat Dewa sudah menjalankan mobilnya, seketika dia sadar tas Mega ketinggalan. Awalnya akan dia biarkan saja. Namun seketika Dewa ingat, jika istrinya pasti akan membutuhkan apapun terkait rengekan putrinya tentang bla bla bla bla.
Lagi pula bukan hanya dompet. Ponsel Mega juga berada di tas tersebut yang mau tidak mau membuat Dewa harus mengantar tas milik istrinya yang tertinggal di dalam mobil.
Dewa kemudian memutar roda mobilnya kembali ke area parkiran rumah sakit. Mengambil tas Mega dan berjalan ke ruang rawat mama nya.
Namun apa yang terjadi?
Lagi-lagi dia harus melihat Mega dan Satrio.
"Sengaja ya kamu? Membuat hatiku cemburu buta." Satrio tampak marah kepada Mega.
"Maksud kamu apa sih?" Mega yang malas pagi-pagi harus bertengkar dengan Satrio.
Satrio kemudian menyentuh leher Mega dengan kuat, menegaskan jika tanda merah di leher itulah yang membuatnya marah. "Ini apa? aku melihat juga di leher Dewa."
"Kak Dewa." Mega yang membenahi kata penyebutan Satrio kepada kakak kandungnya.
"Cih! Dia tidak pantas aku panggil kakak. Kakak macam apa? Yang merebut wanita yang akan dinikahi oleh adiknya."
Mega menoleh ke arah Satrio. Menatap pria itu dengan keras. "Dia tidak pernah merebut aku dari mu."
"Mega..."
"Satu hal yang kamu harus tahu. Awalnya, aku menganggap kamu adalah segalanya. Pria baik yang tidak akan bersikap bahkan bertindak seperti ini. Tapi aku salah, aku sudah kecewa dengan sikap dan perilaku kamu akhir-akhir ini." Mega yang kemudian pergi. Namun langkahnya kemudian berhenti karena ucapan Satrio yang tidak terima.
"Harusnya aku yang marah bukan kamu. Kamu tahu nggak sih? kalau aku begitu terluka dengan kalian yang memadu kasih secara nyata-nyata. Terlebih tanda merah di leher kamu itu. Membuat aku sakit Mega."
"Lalu aku harus bagaimana? menjaga perasaan mu, begitu?"
"Mega, tinggalkan Dewa. Aku janji nggak akan seperti ini lagi, jika kamu tinggalkan dia. Aku akan sama, seperti Satrio yang kamu kenal dulu," pinta Satrio dengan sangat yang tanpa sadar ada buliran jernih perlahan keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG